
...🌻🌻🌻...
Aris terbengong-bengong kala melihat sosok pria tinggi tegap yang mengenakan kaos hitam, masker, topi dengan bawahan jeans yang terlihat mahal. Laki-laki itu terlihat mengenakan sepatu boots yang ia taksir jelas berharga fantastis.
Menatap nanar pria yang tampak sukses membuat Dhisti takut dengan ultimatumnya. " Siapa dia? Apa bos-nya Dhisti?" bergumam seraya menatap dua sejoli yang berjalan beriringan.
Pria itu memilih postur yang lebih berisi darinya. Semua yang melekat pada tubuh pria itu juga nampak sangat berkelas. Sedikit menyesali tindakannya karena kini Dhisti harus kena marah bosnya. Begitu pikir Aris tak mengetahui yang sebenarnya.
Dhisti merunduk murung kala Al kini duduk dengan wajah keruh. Jelas menegaskan jika pria itu telah merajuk. Tapi apa salahnya? Makan tinggal makan.
Bruk!
" Cepat bersihkan tanganmu dari kuman itu!" ketus Al sembari melempar handsanitizer gel ke arah Dhisti.
" Kuman? Tunggu dulu, kenapa dia semarah ini sih? Padahal bisa kan dia makan duluan tanpa menungguku!"
Tangan kiri Dhisti terulur meraih benda yang di lempar oleh Alsaki. Tak mau menyela sebab pria itu jelas akan memarahinya lagi jika ia menolak.
Dhisti kesulitan membuka benda itu sebab tangannya yang sebelah kan terluka.
" CK, sini!"
Al yang melihat Dhisti kesulitan membuka tutup botol itu kini mendecak lalu mengambil sebuah tissue untuk sejurus kemudian mengelapkannya ke tangan Dhisti.
Dhisti menatap seraut yang kini di penuhi oleh kemarahan itu dengan tatapan bertanya-tanya.
" Kenapa, kenapa kau sangat aneh? Kadang bersikap baik, kadang menyebalkan seperti saat ini?"
" Hanya orang bodoh yang mau jatuh kedalam lubang yang sama. Keledai saja tidak sebodoh itu!" tutur Al dengan wajah yang masih bersungut-sungut.
" Dia ini kenapa sih?"
Membuat Dhisti akhirnya tahu jika Al pasti menyindirnya karena dia barusaja bertemu dengan Aris. Tapi kenapa Alsaki bisa semarah itu?
Mereka makan dalam diam. Dhisti makan dengan tangan kirinya secara perlahan dan enggan untuk berbicara lagi. Gadis itu menikmati makanan lezat itu dengan pikiran yang melayang atas ucapan Aris tadi.
Apa Aris serius dengan ucapannya?
Usai membayar bill mereka akhirnya pulang. Dalam perjalanan, Al yang masih marah nampak membisu. Sengaja ingin membuat Dhisti memohon maaf. Namun alih-alih membujuk atau meminta maaf, gadis itu malah terlelap karena kenyang.
" CK, kenapa aku bisa secemburu ini kepadanya?" Bergumam dalam hati yang resah saat mobilnya berhenti di traffic light.
" Apa yang kau bicarakan tadi. Apa dia memintamu kembali menjadi pacarnya?" ketus Al berbicara namun gengsi untuk menoleh.
" Hey, apa kau tuli?" timpalnya lebih keras.
__ADS_1
Al yang tak mendapatkan jawaban, akhirnya menoleh dan terlolong demi melihat Dhisti yang telah terlelap.
" Beraninya dia tidur seperti ini setelah membuatmu cemburu!"
Melihat wajah teduh yang kini memejamkan mata itu, tangan Al reflek terulur menyentuh pipi Dhisti. Laki-laki itu tersenyum menikmati pahatan indah karya sang maha tinggi.
" Kau pasti sangat lelah karena selama ini menjadi tulang punggung!" Al menarik senyuman kala ibu jarinya terlihat naik turun diatas pipi lembut Dhisti.
"Terimakasih Tuhan kau telah mempertemukan aku dengan wanita ini. Wanita yang mengajari aku untuk banyak bersyukur!"
TIN! TIN!
" Woy cepat jalan sialan!"
Alsaki sampai berjingkat manakala suara klakson terdengar menginterupsi.
" Brengsek!" makinya kesal karena moment romantisnya mendadak sirna akibat ulah supir yang tak sabar. Ia juga salah, dia kan masih ada di jalur pengendara.
...-----------...
Sementara itu, Inka yang kini berada di rumah kakek tampak mondar-mandir karena cemas. Ia yang mengetahui info adanya kerusuhan langsung melesat menuju rumah sahabatnya itu tanpa basa-basi lagi.
Kakek yang terus saja melihat update berita di televisi tentang jumlah korban luka-luka itu terlihat termangu. Nampak sorot mata penuh harap agar Dhisti tidak kenapa-kenapa.
Siapa itu?
" Dhisti! Kau kenapa?" pekik Inka yang melihat Dhisti turun dengan wajah meringis sebab tangan kanannya tak sengaja menyenggol pintu mobil.
Kakek yang mendengar Inka memekik kini turut meraih tongkat yang di belikan Al, lalu berjalan buru-buru dengan dada gusar.
Matanya langsung berkaca-kaca demi melihat tangan kanan Dhisti yang di balut perban memanjang hingga ke lengan. Baru hendak menyongsong Dhisti, pria tua itu juga nampak terkejut saat melihat Al yang baru turun dari mobilnya.
" Alsaki?" Inka yang syok memekik kembali.
.
.
" Astaga Dhis, jadi bener yang gue takutkan, elu juga kejebak di kerusuhan itu?" Inka bertanya muram saat Alsaki dan Dhisti telah duduk diatas sofa dan terlihat menceritakan sedikit tentang apa yang mereka alami.
" Kenapa bisa begini sih?"
Dhisti akhirnya membeberkan apa yang ia alami. Tentang dia yang sebenarnya bertemu Nyonya Hapsari secara tidak sengaja. Gadis itu berniat kabur dari aksi penjarahan yang brutal, dan saat hendak kabur, ia melihat seorang wanita yang di ancam oleh sebilah celurit. Membuat nuraninya tergugah.
Meski dipenuhi rasa takut, namun Kakek turut berbangga hati demi mendengar sepenggal kisah heroik itu.
__ADS_1
" Gue panik tau Dhis waktu elu enggak jawab panggilan dari gue tadi. Gue langsung meluncur kesini begitu kakek telepon tadi!"
Dhisti berusaha tersenyum meski tangannya mulai terasa ngilu dan nyeri. mungkin efek obat bius sewaktu di jahit tadi sudah hilang.
" Lagi-lagi, keluarga saya telah berhutang budi kepada Dhisti kek. Sungguh kami sangat berterimakasih!" tutur Al tulus menatap Kakek seraya tersenyum.
Mata tua nan teduh itu juga tampak berkaca-kaca. " Ini yang kakek khawatirkan. Meski Dhisti ini nampak kuat, tapi diluar sana banyak sekali kejahatan yang tidak kita sangka. Maafkan kakek karena tidak bisa menjaga kamu nak!"
Inka turut mengusap sudut matanya berkali-kali kala melihat pria tua itu menitikkan air matanya penuh sesal. Dhisti yang duduk diantara kakek juga Alsaki kini mengusap punggung kakeknya menggunakan tangan kirinya.
" Kakek jangan nangis. Dhisti enggak apa-apa kok, beneran. Keluarga Al benar-benar baik. Aku bahkan tidak membayar sepeserpun biaya rumah saki. Benar kan Al?"
Al tertegun menatap tangan Dhisti yang di perban, kini berada diatas tangannya guna mencari keseragaman kata.
" Psssst, ayo jawab!"
Alsaki terkesiap demi melihat Dhisti yang menggigit bibirnya demi memperingati Alsaki.
" Ah, benar kek. Dhisti benar. Selain itu, saya berjanji sama kakek untuk akan turut menjaga Dhisti!"
Membuat kakek langsung mendongak menatap wajah tampan Alsaki dengan tatapan terharu.
Namun reaksi yang berbeda justru terlihat dari dua wanita yang ada di sana. Dhisti mendelik, dan Inka terkejut sembari membuka mulutnya.
" Mak-maksud saya. Saya dan Dhisti kan sudah berteman. Kami akan saling menjaga, bukan begitu Dhis?" ucap Al tergagap demi melihat wajah-wajah bingung.
Dhisti tersenyum kikuk saat mendengar hal itu. Kenapa ia jadi grogi begini.
" Terimakasih nak. Semenjak kenal orang seperti kamu, jujur kakek tenang. Tapi, sebenarnya saya belum yakin. Apa kamu tidak malu berteman dengan orang miskin seperti kami?" Kakek menatap murung Alsaki.
" Kakek ini bicara apa? Jangan mengatakan hal itu lagi. Sudah ayo kakek cepat minum obat lalu istirahat. Ayo aku antar kek, Kakek sudah makan kan, hm?"
Kakek tampak tersenyum saat Al membantunya berdiri untuk masuk kedalam. Dhisti yang melihat kebahagiaan di wajah kakek turut menyunggingkan senyumnya.
"Emang beneran kalian berdua udah berteman?" selidik Inka yang kepo.
" Kamu nenyek?"
Menirukan logat laki-laki viral bergaya rambut cepmek dan membuat Inka seketika memiting leher Dhisti.
.
.
.
__ADS_1