Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 92. Gangguan


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Sudah satu Minggu ini Dhisti menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Ia begitu menikmati perannya sebagai istri yang setiap hari mengurusi suaminya yang ternyata banyak maunya itu.


Alsaki juga sangat kecanduan dengan rasa masakan istrinya. Bahkan, Dante kerap terheran-heran saat melihat bos-nya membuka kotak bekal berwana merah jambu setiap siang di meja kantornya. Benar-benar menggelitik.


Tak hanya itu, mereka juga mendengar kabar jika Inka dan Brio telah mendaftarkan diri mereka ke kantor urusan agama untuk persiapan menikah.


Benar-benar berita yang membahagiakan bukan?


Saat sedang merebahkan diri untuk beristirahat sebentar, Alsaki yang melihat istrinya selesai keramas melirik dengan penuh tanda tanya.


" Udah keramas. Berarti dia sudah..."


" Sayang, kamu udah..."


Membuat sang istri mengerutkan keningnya demi mendengar pertanyaan yang di gantung itu.


" Udah apa?"


" Udah selesai itunya?"


" Itunya apanya?" jawab Dhisti gemas karena Alsaki malah memutar-mutar kala berbicara.


" Itu palang merahnya."


" Oh itu. Udah!" menjawab santai dan membuat Alsaki spontan merubah posisinya.


" Sejak kapan?" bertanya sedikit gencar sebab bagaimana bisa istrinya sesantai itu.


" Sejak kemarin" jawab Dhisti yang nampak biasa saja. Membuat suaminya semakin resah.


" Kenapa gak bilang?" terus memberondong pertanyaan sembari mendengus.


" Kenapa harus bilang?" mengernyitkan kening.


" CK, kamu ini ya?" semakin mendengus dengan wajah muram seraya menarik tubuh istrinya ke kasur.


Dhisti langsung tergelak saat dia kini di tarik paksa oleh suaminya, lalu di ciumi berkali-kali di area lehernya hingga membuatnya geli.


" Oke oke maaf, aku pikir kamu capek soalnya pulang telat terus. Jadi...." menjeda kalimatnya demi menyelesaikan tawanya.


" Tega-teganya kamu memperpanjang durasi puasaku!" memanyunkan bibirnya karena bisa-bisanya Dhisti sudah bersih tapi tidak memberitahu dirinya.


" Makanya mandi sana. Aku tunggu di meja makan ya?" mengecup pipi yang suami agar tak merajuk.


Alsaki langsung bersemangat mandi saat ia sudah mendapatkan lampu hijau jika malam ini ia boleh memakan istrinya. Ihiir!


Selama beberapa hari ini, Dhisti bahkan gencar membaca artikel seputar hal itu. Berteman dengan Inka yang kadar gesreknya ada diatas dirinya, membuat Dhisti sedikit banyak akhirnya tahu urusan enak-enak itu.


Segalanya kini telah diberikan oleh Alsaki, sudah seharusnya bukan ia harus melayani suaminya dengan segenap hati, jiwa serta raganya.


Ia kini memilih pakaian dinas yang tak terlalu terbuka, namun masih terlihat sangat sexy. Sejurus kemudian Dhisti terlihat berjalan menuju ke meja makan sembari menunggu suaminya selesai mandi.


Tiga puluh menit kemudian, Alsaki yang melihat istrinya sibuk di meja makan dengan menggunakan pakaian yang membuat gairahnya naik itu, seketika meneguk ludah.


Oh God!


" Apa ini, kau sengaja ingin menggodaku, hm?" menciumi pundak kuning itu seraya memeluk Dhisti dari arah belakang. Membuat perempuan itu merasa geli.


" Makan dulu mas! Aduh, geli tau!" mengelak sebab tangan nakal Alsaki malah beralih meremas bokongnya.


" Setelah itu kamu yang aku makan!" bisik Alsaki yang sedetik kemudian mengecup bibir istrinya cepat.


Dhisti tersipu malu tatkala mendengar suaminya mengatakan hal itu. Benar-benar niat deh.


Namun saat keduanya asyik makan. Bel unit apartemen miliknya berbunyi.


" Biar aku aja!" seru Dhisti yang hendak meninggalkan meja makan.


" Nggak, nggak! Kamu masuk dulu, ambil jaket atau apa. Iya kalau yang datang Puri atau Mama, kalau laki-laki?"


Membuat Dhisti langsung paham.


" Ya udah, mas buka dulu ya, aku ambil kimono dulu!"


Alsaki lantas berjalan menuju ke arah depan. Dan saat ia membuka pintu apartemennya, ia langsung menghela napas sebab yang datang ternyata Dante.


" Waduh, kenapa dia datang kemari? Bisa gagal acaraku!" langsung bergumam resah dalam hatinya.


" Siapa mas?" teriakan dari dalam semakin membuat Alsaki meneguk ludahnya. Jelas ia tak akan lagi bisa mengusir laki-laki itu.


" Eh Dante? Kebetulan kamu datang. Saya tadi masak banyak lho, ayo ikut bergabung!"


" Tuh kan. Apes banget. Kalau sama istriku pasti dia ditawari makan!"


" Emmm sayang, Dante sebenarnya akan segera perg..."


" Terimakasih sekali atas tawaran anda nona, kebetulan saya memang sedang lapar." sahut Dante serta tersenyum. Dan jujur, ini pertama kalinya bagi Dhisti bisa melihat deretan gigi Dante yang putih bersih, karena laki-laki itu ternyata bisa tersenyum.


" Ternyata dia bisa tersenyum juga!" Dhisti membantin saat membalas senyuman Dante yang durasinya begitu pendek. Sungguh hal yang langka.


Membuat Alsaki menahan giginya dengan cuping hidung mekar sebab kesal kepada assistenya yang datar itu.


" Pas banget dong kalau gitu. Mas, suruh Dante masuk. Ayo kemari!" seru Dhisti yang senang dan langsung mempersilahkan pria kelaparan itu masuk tanpa memperdulikan suaminya yang dilanda keresahan.


" Apa yang mau kau lakukan? Kenapa kau datang kemari dan..."


" Bukannya anda tadi meminta saya datang kemari untuk mengambil berkas yang harus saya bawa rapat besok!"


Damned! Alsaki bahkan lupa jika dia sendiri lah yang telah meminta Dante untuk datang.


Sungguh sial.


" Tapi kenapa kau malah mau makan disini? Kau bisa menolaknya kan?" masih bersikeras menyalahkan Dante yang berpotensi mengganggunya malam ini.

__ADS_1


" Saya memang sedang lapar tuan. Bukankah anda sendiri yang mengatakan jika tak baik menolak rezeki. Lagipula nona Dhisti sudah berkali-kali menawari saya dan selalu saya tolak. Saya hanya ingin menghormati istri anda!"


" CK, alasanmu Dan!"


Membuat Alsaki semakin kesal saja.


.


.


Dante terlihat menghabiskan seporsi makanan itu hingga bersih tanpa merasa bersalah. Pria dingin itu tak tahu jika dibalik sikap ramah Dhisti, ada sosok laki-laki yang menggerutu dan sedang di landa keresahan, sebab niat buka puasanya sepertinya bakal terancam tertunda kembali.


Sial.


" Oh ya bos. Ada satu hal yang mau saya tanyakan!"


" Apalagi?"


" CK besok saja Dan!"


" Tapi ini hanya sebentar. Saya harus berangkat pagi sekali besok tuan. Saya takut tidak keburu!"


" Mas, gapapa kamu temani dulu saja Dante. Aku juga masih mau nelpon Inka bentar!"


Alsaki semakin kesal kepada assistenya yang malah memperpanjang durasi secara terang-terangan.


Brengsek juga si Dante.


Dan sialnya, waktu yang di katakan Dante sebentar ternyata berakhir di jam sebelas malam. Oh Shiit!


" Astaga dan, kau ini benar-benar brengsek. Lihat itu!" menunjuk ke arah jam dinding yang menunjukkan waktu yang cukup malam.


" Ada apa bos. bukankah nona Dhisti sudah mengizinkan anda tadi!" mengelak bak diplomat ulung.


" Izin kepala mu. CK, makanya menikah, biar kau tau rasanya siksaan batin itu seperti apa!"


Marah-marah padahal Dante justru membantu keteledorannya dalam menyiapkan beberapa hal yang musti di bawa pada pertemuan penting besok.


Seperti biasa, Dante akhirnya pulang dengan wajah yang tak memiliki ekspresi.


" Saya pulang dulu tuan!" pamit Dante membungkuk hormat.


" Kenapa tidak dari tadi?" menjawab dengan sangat kesal.


Usai memastikan assistenya itu telah menghilang dari balik pintu, Alsaki kembali ke kamarnya dan langsung lemas saat melihat Dhisti sudah memeluk guling.


.


.


Dante tidak pernah tahu bila Alsaki sedang di dera sakit kepala yang teramat , yang di sebabkan oleh hasrat yang tertunda. Sudah gagal unboxing di malam pertama, kini dia harus kembali gagal untuk buka puasa.


Sebenernya si Dante tidak salah-salah amat sih, pria itu justru menolong Alsaki sebab besok dia harus bertemu dengan orang penting.


Dokumen penunjang yang seharusnya sudah siap, ternyata belum Alsaki siapkan sebab ia sibuk di acara televisi Z tempo hari.


" Diam dan patuhi perintahku!"


DEG


" Siapa dia, kenapa dia bisa ada didalam mobilku?"


Dante melirik seorang wanita muda dengan rambut pendek yang membawa sebilah pisau untuk mengancamnya, dengan tatapan penuh selidik.


Wow, apa-apaan ini? Seorang wanita asing yang tidak ia kenal, telah menyusup dan kini malah berani mengancamnya di dalam mobilnya.


" Kenapa aku harus mematuhimu?" jawab Dante yang masih terlihat tenang yang seolah tak terpengaruh oleh apapun.


Pria itu malah kini menjalankan mobilnya di bawah ancaman senjata tajam itu dengan wajah santai. Ia bahkan sedikit memuji keberanian gadis itu dalam hatinya.


" Besar juga nyalinya!"


" Berhentikan mobilnya brengsek!" hardik wanita itu yang kini mengalungi leher Dante menggunakan lengannya. Membuat Dante sedikit lebih tegang sebab dua benda kenyal milik gadis itu kini tak sengaja menggesek punggungnya.


Damned!


" Sial, siapa dia sebenarnya?" membatin resah sebab sepertinya gadis itu seperti perampok profesional.


Alih-alih menurut, Dante malah menginjak pedal gasnya dan menaikkan kecepatan mobilnya. Membuat gadis itu semakin mengeratkan cekikannya.


" Berhenti brengsek!"


Dante masih berusaha melesatkan kendaraan itu menuju area yang lebih ramai. Semua itu ia lakukan sebab kini ia sadar, jika perempuan itu pasti merupakan komplotan penjahat yang biasanya melakukan kejahatan di malam hari.


SREK!


" Awh sial!"


Meski terasa sangat perih, Dante masih kuat membatin saat mengatakan hal itu.


" Berhenti atau kuhabisi nyawamu!"


Dante akhirnya memberhentikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi, saat gadis itu sudah berani melakukan hal yang lebih ekstrim.


Sialnya, Dante yang berhenti di sebuah kawasan sepi itu, melihat jika area itu merupakan kawasan yang biasa di jadikan mangkal preman.


Sial!


" Turun!" perintah gadis itu yang masih menggunakan senjatanya untuk mengancam Dante.


" Keluarkan dompetmu!"


Dante yang masih tenang sebenarnya justru membuat gadis itu malah semakin ketar-ketir. Beraksi seorang diri kadang malah menimbulkan boomerang bagi Agatha.


" Kenapa kau tidak bilang jika kau butuh uang. Kenapa harus mengancamku seperti ini. Buang-buang waktu saja!"

__ADS_1


Dante meraba saku celananya seraya menyindir Agatha yang masih mengintimidasi menggunakan sebilah pisau itu


" Bacot lho, sekarang mana dompet lo?"


Tangan Dante terulur untuk menyerahkan dompet itu, namun saat Agatha hendak meraihnya, Dante buru-buru menggantungkannya ke udara.


Dan sejurus kemudian.


" Ambil kalau bisa!"


BUG


" Awh, brengsek!"


Gadis itu kontan memekik tatkala Dante langsung memukul tangan yang semula menggenggam sebilah pisau itu, agar senjata itu tak lagi digunakan untuk mengancamnya.


Membuat benda itu seketika terpelanting ke aspal.


Geram akan sikap Dante yang malah mempermainkannya, gadis itu langsung berlari lalu menendang Dante menggunakan sepatu bootsnya dengan gerakan tak terbaca


DUG


" Argh!"


" Rasakan itu!"


Dante meringis saat wajahnya terkena tendangan keras yang di layangkan oleh gadis itu. Dante meraba bibirnya yang kini terasa pedih. Benar-benar tak mengira jika gadis itu ternyata kuat juga. Ia bahkan sampai mundur dua langkah kebelakang usia di tendang oleh Agatha.


" Akan ku buat kau menyesal karena telah berani mempermainkanku!"


" Hya!!"


Gadis itu kembali maju, menendang dan berkelahi dengan Dante yang akhirnya mau tak mau harus melawan berandal betina itu dengan tangan kosong.


Meski cukup takjub akan ketangkasan gadis itu, namun Dante tetap harus memberi pelajaran pada penjahat kecil itu sebab telah berani mengusiknya.


BUG


BUG


Perkelahian itu imbang, Dante yang bibirnya kembali terluka kini terlihat semakin geram terhadap Agatha.


Namun saat Dante hendak membalas Agatha , tangis seorang anak bayi membuat keduanya mengakhiri perkelahiannya itu tanpa perjanjian.


Apa itu?


Keduanya masih dalam keadaan tersengal-sengal, saat mereka sama-sama menajamkan pendengarannya guna mencari sumber suara itu.


" Suara anak siapa itu? Apa kau mendengarnya?" tanya Dante serius. Sejenak mengabaikan jika dia dengan Agatha sedang bertengkar.


" Aku tidak tuli brengsek!" ketus gadis itu yang sebenarnya juga penasaran kenapa ada anak kecil menangis di jam semalam ini.


Keduanya akhirnya malah berpencar demi mencari sumber suara yang semakin dekat kala mereka mengarah ke sisi timur. Dan saat Agatha melintas di depan tumpukan kardus yang belum di angkut oleh petugas kebersihan itu, terkejutlah dia manakala melihat bayi yang menangis di dalam kardus.


DEG


" Astaga!" Agatha seketika memekik manakala melihat sesosok bayi malang yang sepertinya sengaja di tinggalkan oleh orangtuanya.


Mata Dante turut membulat manakala melihat anak yang kecil yang kini di datangi oleh gadis perampok itu.


" Bayi? Astaga, kenapa ada bayi di dalam kardus seperti itu?"


Bocah dengan mata jernih yang sepertinya masih berusia satu tahun lebih itu menangis didalam kardus besar. Tapi anehnya, bayi perempuan itu seketika terdiam saat melihat Dante dan gadis itu kini menyentuh tubuhnya.


" Ma - ma!"


"Pa- pa!"


DEG


Membuat Dante dan gadis itu kontan mendelik.


"Astaga gerimis, cepat kita bawa anak ini kesana!" menunjuk ke emperan toko yang sudah tutup.


Dante buru-buru menggendong anak itu sebab gerimis tiba-tiba muncul. Dan saat anak itu telah berpindah kedalam gendongan Dante, Agatha melihat secarik kertas di dalam botol itu.


...Siapapun kalian yang menemukan dan membaca surat ini, saya percaya bahwa anda adalah orang baik. ...


...Tolong rawat anak saya. ...


" Sial!" gumam Agatha yang detik itu juga langsung mengumpat.


" Ada apa?" sahut Dante demi melihat ekspresi Agatha usai membaca secarik kertas itu.


" Kau baca saja sendiri!" menyegarkan kertas itu kepada Dante dan membuat wajah Dante seketika muram.


Melihat jika ini akan menjadi sumber permasalahan baru untuknya, gadis itu seketika berniat untuk kabur.


Namun bayi itu malah menangis kembali saat Agatha mulai membalikkan badannya. Membuatnya seketika menghentikan langkah.


" Ma - ma!"


" Ma - ma!"


Oh tidak, sepertinya bayi itu mengira jika dia adalah induknya. Dan entah kenapa, hati nurani gadis itu tergugah.


" Kemarikan!" meminta Dante memberikan bayi itu kepadanya.


Dante yang melihat Agatha meraih tubuh si bayi, hanya bisa pasrah sebab bayi itu terus menangis dan minta di gendong.


Namun saat Dante berniat untuk pergi, bayi itu juga terlihat menangis kembali.


" Pa- pa!"


DEG

__ADS_1


Kini, dua manusia yang baru saja berkelahi itu akhirnya tahu, jika si bayi telah mengira bila mereka berdua merupakan orangtuanya.


__ADS_2