
...🌻🌻🌻...
Semalam Ari sering bangun, sebab gadis itu masih sering meracau yang tidak-tidak dan bahkan membuatnya bolak-balik terkesiap bagai ibu-ibu yang terjaga saat memiliki bayi baru lahir.
Singkat kata, Ari kurang tidur. Dan saat baru beberapa jam bisa memejamkan mata, gadis itu malah mengeluarkan sura yang benar-benar berisik dan membuatnya ingin menenggelamkan diri ke dasar bumi detik itu juga.
" Apa yang kau lakukan?" Puri memekik sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Lihatlah, bahkan gadis ceroboh itu bahkan tidak ingat dengan dirinya sendiri.
" Anda sudah sadar nona?" yang dicurigai justru bertanya dengan nada cemas.
" Sadar?"
Puri berpikir sambil buru-buru meraba seluruh tubuhnya dan mendapati pakaiannya masih lengkap melekat disana. Syukurlah.
Tapi tunggu dulu, apa dia mengira jika Ari berbuat yang tidak-tidak terhadapnya? Membuat laki-laki itu terlihat terkejut.
" Saya tidak melakukan apa-apa terhadap anda nona. Anda semalam terlalu banyak minum dan mabuk!" mencoba memberikan klarifikasi bahkan sebelum si ceroboh itu bertanya.
"Saya juga minta maaf karena telah memberitahu tuan Alsaki karena saya khawatir dengan kondisi anda. Beliau meminta saya untuk tidak membawa pulang anda terlebih dahulu karena Bu Hapsari pasti sedih!" seru Ari menyuguhi wajah murung .
" Astaga, apa yang sudah aku lakukan?" baru tau jika dia telah melakukan kebodohan. Kini Puri tertegun merenungi dirinya.
" Bagiamana keadaan anda saat ini nona? Apa anda membutuhkannya sesuatu, saya akan belikan minum. " bertanya dengan raut khawatir bahkan menepikan rasa kepalanya yang sebenarnya teramat pusing.
Bukannya menjawab, Puri malah kembali tertegun. Ia semakin terpesona dengan sikap berbudi luhur yang dimiliki Ari. Pria baik yang beberapa waktu ini berhasil membuatnya mengerti bahwa kelebihan materi bukanlah indikator utama dalam berhubungan.
Ia sedang mabuk, dan laki-laki itu masih bisa menjaganya seperti ini tanpa memanfaatkan kesempatan untuk memuaskan syahwatnya.
" Kenapa kau tidak membawaku pergi ke suatu tempat?" menatap Ari dengan rasa hati yang begitu bersyukur.
" Maaf nona, saya takut terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Maksud saya..." langsung meralat ucapannya sebelum Puri salah mengartikan. " Saya takut akan terjadi fitnah!"
Luar biasa!
Lihatlah jawaban yang baru saja keluar dari bibir pria ganteng itu. Sangat amat menjaga kehormatan Puri sebagai perempuan. Membuatnya malu karena malah berlaku bodoh.
Puri menatap lurus wajah Ari yang ketar-ketir kala mengatakan hal itu. Jika ia bersama pria lain, Puri yakin jika malam yang semalaman telah terlewati, pasti yang terjadi tak hanya tidur saja.
" Anda semalam juga muntah terlalu banyak!"
" Apa? Jadi aku muntah di depannya? Oh my God!!" merutuki diri sebab kini ia malu.
__ADS_1
" Atau...jika anda sudah merasa lebih baik, kita bisa pulang sekarang!"
" Jangan!"
Ari langsung tersentak manakala Puri menyergahnya dengan begitu keras.
" Maksudku, kita jangan pulang dulu, sebentar aku akan menelpon kak Al dulu. Kita musti seragam saat kasih alasan ke mama nanti!"
Maka Puri mencoba mencari-cari isi tas yang ada di bawah jok mobil yang ia gunakan untuk tidur. Ia tak boleh pulang dengan keadaan kacau begitu.
" Dapat!" tukasnya senang saat menemukan ponselnya.
Sejurus kemudian, gadis itu langsung menghubungi sang kakak dengan wajah ketar-ketir.
Tak berhasil, Puri mencoba kembali men-dial nomor tersebut, sebab ia sebenarnya juga takut kena marah Alsaki.
" Hal..."
" Apa kau sudah sadar anak nakal?"
Membuat yang di tanya langsung menatap Ari yang juga menunggu dengan harap-harap cemas.
" Kak!" merengek manja. Ia tahu jika kan sangat menyayangi dirinya.
" Cepat pulang, Mama sedang pergi di antar Dante. Semalam aku bilang kalau kau ada syuting dadakan jadi berterimakasih lah kepada kakakmu yang tampan ini!"
" Aaa makasih banget kak. Sayang kak Al!" membalas terkikik-kikik seraya menirukan gaya kartun berkepala botak asal negeri Jiran.
Membuat yang berada di ujung telepon langsung mencibir.
Ari turut tersenyum saat melihat Puri akhirnya bisa kembali tertawa. Meski ia tidak tahu apa yang sedang mereka obrolkan, namun melihat Puri tersenyum lepas seperti itu tidak tahu kenapa malah membuatnya terhipnotis.
" Hah, kak Al bilang aku ada syuting mendadak semalam, dan kamu diminta ngantar aku. Udah paham kan musti menjawab apa nanti saat di tanya mama?" bertanya tersenyum memberi pengajaran kepada sekutu.
Ari mengangguk sambil tersenyum. Tak ubahnya orang lain yang merasakan kelegaan, Ari turut mengembuskan napasnya usai menjawab hal itu.
" Kenapa kau menatapku begitu Ar? Aku memang cantik kalau habis bangun tidur!"
" Maaf nona, tapi..."
" Tapi apa?"
" Bibir anda..."
__ADS_1
Senyum penuh kesombongan itu perlahan lenyap manakala ia mengarahkan wajahnya ponsel, dan terlihatlah bekas kerak air liur yang membuat gadis itu malu bukan kepalang.
Tidak!!!!!
...----------------...
Semakin dekat dengan hari H, semakin sibuk pula manusia-manusia yang diberikan tanggung jawab untuk mengurus beberapa hal yang berbeda.
Alsaki juga sudah memindahkan Dhisti ke apartemennya yang kini dihuni oleh Inka yang tak henti-hentinya berlaku norak sebab takjub akan keindahan serta kecanggihan beberapa perabot disana.
Mereka juga sudah meminta mama Chiko yang tengah dilanda kesusahan untuk menempati rumah lama Dhisti. Ya, wanita berkulit gelap yang dulunya sering membantu Dhisti itu kini mendapat perhatian dari Alsaki.
Bahkan, Sauki serta Dani akhirnya bisa mendapatkan pendidikan yang layak sebab mereka juga kini sudah tinggal di yayasan milik pria tampan itu.
Warga di komplek tempat dimana Dhisti tinggal, tak banyak yang tahu jika dia akan dinikahi oleh pria kaya yang notabene merupakan direktur perusahaan, serta seorang artis juga influencer terkenal.
Kehidupan garis keras lintas lapisan masyarakat kelas bawah itulah yang menjadi penyebab Dhisti tak terlalu mengenal orang-orang disana.
Pekerjaan yang sering dilakukan di malam hari, serta terbatasnya waktu untuk saling bersua, membuat mereka jarang berbicara satu sama lain. Begitulah kehidupan di kota.
Tak hanya itu, Alsaki juga meminta Dante untuk mengundang anak-anak yang dulu pernah menjadi perhatian Dhisti untuk diundangkan gelaran acara pernikahan mereka nanti.
Yes, definisi dari merayakan kebahagiaan dalam arti sesungguhnya.
Puri yang juga menjadi lega karena sudah bisa memutuskan hubungan yang sebenarnya masih ragu untuk dia pungkasi itu, menjadi tahu bila dirinya terlalu berharga untuk menangisi seorang pengkhianat.
Desi yang beberapa waktu yang lalu sempat cemburu dan menuduh Ari yang tidak-tidak, langsung bungkam saat ia mendapatkan kemarahan dari laki-laki pujaannya itu.
" Kalau niat kamu disini bukan bekerja, lebih baik kamu pulang Des. Aku ngajak kamu kesini bukan karena apa-apa. Yang pertama aku kasihan sama kamu, yang kedua karena majikanku kebetulan membutuhkan tenaga kerja baru, dan gak ada yang lebih dari hal itu."
Membuat hari-hari Desi langsung di kerubungi oleh kecanggungan yang tak mau enyah tiap dia berpapasan dengan Ari.
Harus dia akui , jika nyonya Hapsari sangat baik terhadapnya namun ia tak bisa membohongi diri jika ia sempat mengira jika Ari mengajaknya karena ingin dekat dengannya.
Percaya diri secara berlebih-lebihan memang sangat kurang baik. Dan sejak saat itu, Desi semakin merasa iri kepada Puri.
.
.
.
Menyempatkan Up walau hanya satu bab, karena author masih ada pelatihan dari pemberdayaan perempuan di wilayah author yang musti author ikuti.
__ADS_1
Hari ini merupakan hari terakhir dan insyaallah besok udah bisa up lebih dari satu. 😁
Buat yang merasa novel mommy panjang dan gak sat set, ingat lah satu hal ini, setiap penulis memiliki ciri khas tersendiri. Dan dari perbedaan itulah, kita bisa melihat indahnya keragaman.