
...π»π»π»...
Dhisti yang benar-benar tak enak hati kepada Luna kini berpikiran yang tidak-tidak. Bagaimana jika wanita cantik itu salah paham?
" Nona itu pasti berpikir jelek kepadaku. Astaga, semua ini gara-gara si brengsek Al" menggerutu tiada habis sembari meraup wajahnya di dekat toilet. Membuat Ridho yang kebetulan lewat di sana menghentikan langkahnya.
"Apa yang kau bicarakan?"
Deg
Dhisti menelan ludah saat bang Ridho menyela keresahannya. Mampus!
" Emmm, anu bang...kekasih Pak Al, datang sewaktu saya makan bersama beliau tadi. Saya.."
" Kekasih?" tanya Ridho mengulang dan tampak terperanjat.
Dhisti mengangguk muram, " Wanita yang tempo hari datang bersama Pak Al. Barusan datang!"
" Kenapa Dhisti pucet begitu?"
" Luna?" konfir Ridho menatap anak buahnya.
" Saya tidak tahu namanya Bang. Pokoknya dia wanita cantik yang kapan hari datang yang rambutnya panjang sebahu!"
Alih-alih menjawab, Ridho terlihat langsung ngeloyor pergi meninggalkan Dhisti yang melongo.
" Kenapa bang Ridho terlihat panik?"
Benar dugaan Ridho, Luna telah salah paham. Nampak dua orang yang ia kenal itu saling melempar tatapan tak bersahabat.
" Hey Lun! Astaga, kau juga kemari tanpa memberitahu!" Bersalaman juga cipika-cipiki macam biasanya guna melonggarkan situasi mencekam.
Namun Al yang berada di sana hanya diam sembari menghabiskan sisa minuman yang di bawa dhisti tanpa memperdulikan keduanya.
" Kenapa anak buahmu bisa satu meja dengan Al?"
Ridho yang melihat ketegangan kini meringis menatap Luna yang tampak cemburu.
" Kau jangan salah paham dulu. Tadi dia meminta di temani makan karena Al ini sedang complain. Kau tau aku dia ini mister perfeksionis. Iya kan Al?"
Namun yang di tanyai tampak bodo amat. Meski Ridho berbohong demi suasana yang lebih kondusif, namun Al terlihat tidak perduli akan hal itu.
" Aku pulang Dho. Dante sudah menungguku. See you next time!"
Usai membayar bill dan menolak Ridho menggratiskan makannya, pria itu pergi tanpa berpamitan dengan Luna. Membuat wanita itu menggebrak meja kesal karena lagi-lagi berdebat dengan Al.
Ridho yang masih berada di sana kini tampak ketar-ketir. Ia bingung harus mendukung siapa. Padahal, ia merupakan orang yang netral.
Al merasa Luna sudah berlebihan. Ia tak suka terlalu di atur. Lagipula, sudah sering ia tekankan jika antara dirinya dan Luna hanyalah seorang teman, tak lebih.
" Kau ini kenapa sih Lun?" tanya Idho menatap resah wanita cantik di depannya. Menaruh iba sebab ia tahu bila Al sedang marah kepadanya tadi.
" Kau kenapa tidak bilang jika dia berada disini sedari tadi?" lirik Luna masih mengatur napasnya. " Kau juga, kenapa mengizinkan karyawanmu itu duduk disini?"
Membuat Ridho berada di ambang kebingungan.
" Aku minta maaf, tapi aku bahkan juga tidak tahu jika dia akan kemari!" Membela diri agar Luna tak salah paham dengannya. Namun Luna malah semakin terlihat murung.
" Kau tahu Lun, dia sepertinya sedang galau karena di desak orangtuanya untuk menikah!"
" Apa katamu?" menatap lekat manik mata Ridho demi segumpal jawaban mengejutkan itu.
Pria bertindik itu kembali mengangguk meyakinkan. " Dia cerita sebab Puri dan Wisnu akan segera bertunangan. Tante Hapsari enggak mau Puri ngelangkahin kakaknya duluan. Apalagi papanya Al kan udah sakit-sakitan!"
" Apa kau serius?" tatap Luna semakin lekat ke arah Ridho.
Ridho mengangguk mantap mengiyakan. Membuat seringai tipis muncul dari bibir Luna.
" Sepertinya jalannya akan semakin mudah!" batin Luna senang bukan main.
Saat mereka masih larut dalam pembicaraan serius, munculah Dhisti yang membawakan segelas minuman dingin kepada Luna. Membuatnya wanita itu menatap Dhisti penuh maksud.
" Dho, bisa kau tinggalkan kami berdua?" seru Luna tanpa menoleh kepada Ridho yang kini terbengong-bengong.
" Apa maksudmu, apa yang mau kau lakukan dengan Dhisti?" sahut Ridho menaruh kecurigaan.
__ADS_1
Sebagai pria netral yang tak membela Al maupun Luna, Ridho yang tahu jika Luna mungkin saja cemburu , tentu ingin melindungi anak buahnya dari kesalahpahaman ini.
" Kau jangan salah sangka. Aku hanya ingin bicara dengan sesama wanita. Lagipula , tentu aku tidak akan mempermalukan diriku sendiri kan? " balas Luna yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Melihat kelogisan perkataan Luna, Ridho terlihat menimbang-nimbang. Tapi ya sudahlah, ia percayai jika wanita berkelas seperti Luna tidak akan mempermalukan dirinya sendiri di muka umum.
Dan saat Dhisti sudah berada di dekat Luna.
" Hey, bisa kita bicara sebentar?"
Deg
Membuat yang di ajak berbicara seketika mematung.
...----------------...
" Aku Luna!"
Dhisti tertegun menatap tangan bersih bercat kuku warna ungu pastel yang terlihat sangat menawan. Ia juga menatap wajah cantik dengan make up yang membuatnya takjub. Anda ia secantik itu, pasti Aris tak akan berpaling ke wanita lain.
Sejurus kemudian tangannya nampak terulur menyambut tangan cantik itu meski hatinya diliputi keraguan.
Tak jauh dari tempatnya duduk, ia sempat melihat ke arah bang Ridho yang menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui.
" Dhisti!" jawabnya malu.
" Luna!" sahutnya hangat yang membuat ketakutan itu perlahan sirna.
" Well Dhisti, aku senang kenal sama kamu. Karena kamu ini, merupakan orang yang berhasil bikin calon suamiku suka sama kinerja kamu. Kita pernah ketemu di apartemen Al kan?"
Membuat Dhisti kembali dirundung kekhawatiran karena tatapan Luna yang kerap berubah-ubah. Entah kenapa, ia takut jika wanita itu salah paham.
" Apa Luna juga tahu kalau aku dan Al..."
" Begitulah Al. Dia kalau sedang marah kepadaku, seringnya menggunakan orang lain untuk memancing kecemburuanku. Aku minta maaf akan hal itu kepadamu ya?"
Ia tersenyum canggung kala Luna tergelak manis. Merasa sedikit kesal karena sama seperti dugaannya jika Al benar-benar pria brengsek.
" Kami sedikit bertengkar beberapa waktu ini. Aku malah kuatir dengan kamu. Takut kamu baper dan akhirnya berharap. Padahal, dia cuman pingin aku cemburu!"
" Kau tahu kan, dalam setiap hubungan tak selalunya kita itu se frekuensi. Dan sebagai wanita, ku harap kau juga mengerti perasaan kita sebagai sesama perempuan!"
Dhisti yang di tatap lekat oleh Luna langsung paham arti tatapan itu. Sorot mata itu menegaskan jika Luna meminta Dhisti untuk tidak mendekati Al.
Kini dinding yang semula buram itu benar-benar terbuka. Luna memang salah paham dengannya.
" Maafkan saya nona Luna. Tapi saya dan Pak Al tak sengaja bertemu. Saya dan beliau tid..."
" Sssst, saya tahu. Sudahlah. Dia memang seperti itu, kekanakan. Aku akan mengejarnya nanti. Lagipula, sebentar lagi kami akan menikah. Mungkin dia juga stres akan hal itu!"
Dan dari pertemuan itu, Dhisti yang merasa kasihan kepada Luna akhirnya memantapkan diri untuk tak begitu meladeni Al. Bahkan, ia telah mengganti nomornya sebab pria itu tak henti mengirimkan pesan dan mengajaknya bertemu dengan ancaman yang berkaitan soal pekerjaannya di bang Ridho.
Namun ia tak peduli. Baginya, ia paham perasaan Luna. Bahkan ia tak bisa seperti Luna, yang sabar dengan sikap Al yang kekanak-kanakan. Andai ia mau sabar kepada Aris, apa dia masih bisa mendapatkan cinta itu?
Hingga, ia yang malam ini pulang dari bekerja melihat dua orang yang menyulut hasratnya untuk mencopet, nampak akan memulai aksinya.
" Kebetulan ada dia disini!" Bergumam seraya memastikannya kondisi aman terkendali.
Dhisti memperhitungkan, jika ia berhasil menyambar dompet yang kini menyembul dari balik sakit pria yang merangkul pinggang wanita sexy itu, semua tuntutannya bulan ini akan sedikit terbantu.
Meski Brio sudah mewanti-wanti, namun ia benar-benar tak memiliki pilihanmu lain. Ia terus berjalan dengan Hoodie juga masker yang sudah terpasang dengan baik. Berjalan santai hingga tak menimbun kecurigaan.
Dan sejurus kemudian.
Hrep!
Sial, dompet itu sesak saat di ambil.
" Heh, mau apa kau!"
Mampus. Laki-laki muda itu menyadari aksinya. Kini, dalam situasi mendesak yang ada, dengan cepat ia berusaha berlari namun teriakan masiv itu semakin membuatnya ketakutan.
" Copet!"
"Copet!"
__ADS_1
" Brengsek, harusnya aku tidak terburu-buru tadi!" mengumpati kebodohan diri sendiri yang salah memperhitungkan keadaan.
Tak hanya satu, tapi banyak sekali orang yang ikut mengejarnya. Napas yang terengah-engah menjadi penegas jika nasib busuk bisa saja menimpanya sewaktu-waktu.
Ia terus berjalan bahkan tak jarang menabrak orang-orang yang menjadi pejalan kaki di atas trotoar itu. Menaikkan kecepatan berlari atau hidupnya akan benar-benar tamat.
Tak di sangka, Al yang malam itu mengantar sang Mama ke shop kain untuk janjian dengan teman-teman arisannya, mendengar teriakkan masa yang ramai.
Pria itu reflek berjalan keluar lalu berniat melihat keributan yang ada itu.
" Copet!"
" Copet!"
" Hah copet?" Gumam Al memicingkan matanya lalu menatap sosok yang berlari menuju arahnya.
Melihat hal itu, Al spontan maju dan berniat menangkap si pembuat onar itu.
Dan sedetik kemudian.
" Kena kau!"
Al menarik tangan orang itu dan berhasil membuat si pencopet itu ketakutan.
" Lepas!"
Al sedikit tersentak demi mendengar suara yang seperti ia kenali itu. Membuat konsentrasinya teralihkan.
Bug!
" Arrgh!"
Copet yang melihat Al tak fokus langsung menendang perut bawah pria itu dan membuatnya berhasil melarikan diri. Para masa yang kini masih mengejar copet itu sebagian berhenti demi melihat Al yang kesakitan.
" Anda tidak apa-apa pak?" tanya seorang pria tua dengan wajah muram demi melihat Al yang berniat membantu mereka namun kini kesakitan.
Al menggeleng sembari meringis nyeri. Untung tidak kena biji lato- latonya. Jika tidak, habis masa depan dia. " maaf tadi copetnya..."
" Tidak apa-apa pak. Belakangan ini disini marak ada kasus copet. Tadi teman-teman sudah ada yang lapor polisi!"
" Ada apa Al?" Mama yang sekonyong-konyong datang membuatnya tersentak.
" Ada copet ma!"
" Copet? Malam-malam begini?" jawab Mama langsung heboh.
" Kamu kenapa, kok meringis?"
" Bapak ini udah nangkep tadi buk. Ee malah kena tendang. Copetnya kabur!"
" Hah, yang bener Al?" tanya Mama semakin panik.
" Enggak apa-apa. Tadi Al kaget soalnya suaranya kayak perempuan. Makanya syok dan lengah!"
Mama mengusap pundak Al dengan wajah khawatir. " Kejahatan makin banyak saja deh. Gini ini kalau harga-harga enggak stabil. Kejahatan ikutan naik!"
" Eh apa ini Al?" Mama melihat sesuatu yang terjatuh tepat di depan mereka. Membuat wanita itu reflek mengambil benda itu.
" Kalung Al!"
Al meraih benda itu. Terlihat memperhatikan secara saksama.
" Apa jangan-jangan milik pencopet tadi? Astaga Al, berarti pelakunya perempuan?" seru Mama heboh demi melihat kalung cantik yang tidak mungkin digunakan oleh kaum pria.
Al tercenung saat Mama menggumam. Dimana ia pernah melihat kalung itu?
.
.
.
.
Like anda coment donkπ
__ADS_1