
...🌻🌻🌻...
Dokter tadi rupanya bertemu tuan Hendra di lorong dekat lift. Membuat mereka akhirnya berjalan bersama menuju ruangan. Namun Nyonya Hapsari yang tak sabar ingin melihat kondisi anak bungsunya, mengatakan kepada suaminya untuk tidak ikut. Toh suaminya nanti pasti juga akan memberitahu soal yang ia dapatkan kan?
Namun saat ia hendak masuk, pintu yang sedikit terbuka itu malah memperdengarkan suara dua anak manusia yang saling berbicara penuh emosional.
Dan apa yang barusan ia dengar. Sukses membuat sekujur tubuhnya mendadak lemas demi mengetahui sebuah kenyataan yang begitu mengejutkan.
Nyonya Hapsari lantas memilih untuk menyusul suaminya sebab ia yakin ia akan menjadi canggung jika langsung masuk ke dalam. Bayangan wajah anaknya yang begitu mengharapakan Ari benar-benar mengusik ketenangan hatinya.
" Sejak kapan kalian berhubungan nak?"
Ini bukan perkara Ari dan yang telah berani menyembunyikan hubungan mereka. Tapi masalah Dhisti saja suaminya hingga kini tak menganggap menantunya itu, apalagi jika mengetahui jika anak perempuannya menyukai Ari?
" Loh ma, Mama nyusul kesini? Katanya mau ketempat Puri dulu?" tanya tuan Hendra yang melihat istrinya berjalan melamun.
" Mama lebih penasaran sama apa kata dokter. Jadi Mama nyusul kesini!" bohong Nyonya Hapsari menyembunyikan kegundahannya.
" Oalah. Papa kira ada apa. Kata dokter, Puri stres. Makanya tensinya naik. Jaman sekarang hipertensi gak hanya nyerang orang tua saja ya ternyata. Anak muda bahkan bisa kena!"
Namun pikiran nyonya Hapsari justru melayang entah kemana. Hati wanita itu kini diliputi ketidaktenangan.
...----------------...
Dhisti terlihat mengomel kepada suaminya sebab gara-gara diajak bercinta tiada henti, ia sampai tak sempat membaca pesan mama mertuanya yang mengatakan jika Puri dirawat dirumah sakit.
Padahal, pesan itu telah dikirim di jam sebelas malam. Namun Alsaki yang sengaja men-silent ponselnya guna menghindari gangguan Dante, kini malah harus menerima efek domino dari perbuatannya.
" Pokoknya kalau sampai mama ngambek ke aku nanti, awas aja kamu mas!" ancam Dhisti yang kini sudah berada di mobil suaminya.
" Ya maaf sayang, habisnya kamu sih!"
Menyalahkan Dhisti yang setiap detik, setiap menit, setiap jam, bahkan setiap saat berhasil membuatnya bergairah.
" Nyalahin aku lagi. Kamu itu yang keterlaluan mas!"
" Udan tenang aja. Mama kan lebih sayang ke kamu ketimbang ke aku! Gak kira kamu di marahin!"
Setibanya mereka di rumah sakit, keduanya terlihat terburu-buru saat mulai melangkahkan kaki menuju ruangan dimana adiknya dirawat. Dan saat sedang berjalan beriringan, ponsel Alsaki bergetar!
📱" Maaf bos, saya mohon izin hari ini tidak masuk. Saya sedang ada kepentingan!"
" Kepentingan? Kepentingan apa? Tumben mendadak?" bergumam saat barusaja membaca pesan dari Dante yang membuatnya heran.
" Siapa?" tanya sang istri yang tentu saja penasaran.
" Si Dante izin gak masuk. Kalau gitu habis ini kamu temenin Puri ya disini aja ya. Aku harus ke kantor!"
" Iya, lagipula aku emang mau nemenin Puri kok!"
Keduanya langsung menuju ke lantai atas dimana Puri dirawat di dalam ruangan berkelas. Saat mereka masuk, keduanya mendapati Puri hanya bersama mamanya.
Puri terlihat masih tertidur sementara sang Mama terlihat membaca majalah rumah sakit.
" Mama!"
Nyonya Hapsari nampak senang saat melihat anak dan menantunya telah datang. Dhisti memeluk mama mertuanya dengan wajah menyesal sebab baru membaca pesan itu pagi ini.
" Maafin Dhisti ya ma, telat datangnya!" berkata muram sebab betul-betul tak enak hati.
" Nggak apa-apa, adik kamu udah mendingan kok!"
" Mama semalam sendiri?" tanya Alsaki yang kini bergantian memeluk sang Mama.
" Papamu baru pulang subuh tadi sama Ari. Mama minta mereka pulang karena kasihan. Semalam gak ada yang tidur karena Puri jaga Puri!"
Alsaki lantas menuju ketempat adiknya yang masih memejamkan mata dengan bibir yang masih pucat.
" Dia semalaman gak bisa tidur karena muntah. Salah makan apa coba dia."
Alsaki mengusap lembut lalu mencium kening adiknya penuh rasa sayang. Merasa menyesal karena baru saja memarahi adiknya kemarin pagi.
"Al, bisa kamu antar Mama sebentar?" pinta Nyonya Hapsari kepada anak sulungnya.
" Tentu ma. Sayang, kamu jaga Puri dulu ya?"
Dhisti mengangguk sambil tersenyum.
Selain karena kondisi Puri yang terus-menerus mengeluarkan isi perutnya, Nyonya Hapsari semalaman juga tak bisa tidur karena memikirkan anaknya itu.
" Kita mau kemana ma?" tanya Al saat mereka berjalan di lorong menuju lift.
" Al, sebenarnya mama hanya ingin berbicara sama kamu sebentar saja!"
Melihat seraut wajah yang mengandung keresahan itu, Alsaki langsung menghentikan langkahnya.
" Soal apa ma?"
" Soal...."
Nyonya Hapsari akhirnya menceritakan apa yang sempat ia lihat dan apa yang ia dengar tadi malam. Pembicaraan antara Puri dan Ari yang mengusik nuraninya hingga detik ini
Alsaki terlihat tidak kaget soal itu namun ia kini turut menjadi khawatir.
" Jadi benar ini yang kamu maksud kemarin Pur? Dugaanku rupanya tak meleset!" membantin sebab Puri pernah bertanya kepadanya soal cinta beda kasta.
" Mama saja masih stres memikirkan Dhisti yang masih tak di anggap oleh Papamu. Dan sekarang Mama benar-benar bingung karena adikmu itu kerap sakit jika pikirannya terbebani begitu keras Al!" seru Mama semakin muram.
Alsaki memeluk tubuh mamanya yang kini menangis. Ia tahu Mamanya pasti stress karena memikirkan suaminya yang pasti berang jika mendengar hal itu.
" Mama tenang aja. Semua ini udah Al pikir bahkan jauh sebelum Mama tahu!" berkata lembut agar sang Mama bisa tenang.
" Jadi kamu udah tahu kalau..."
" Enggak juga. Tapi Puri sempat kasih clue ke aku. Alsaki sebenarnya seneng Puri mau berubah mindsetnya. Tapi aku juga harus mencari tahu latar belakang Ari lebih jauh ma!"
" Pokonya Mama jangan banyak pikiran. Masalah ini biar jadi tanggung jawab Alsaki. Ari orang baik. Tapi Al tetap harus melakukan pendekatan nanti!"
Usai mengeluarkan unek-uneknya, nyonya Hapsari kini sedikit bisa tersenyum sebab merasa lega. Merasa bersyukur sebab Alsaki selalu bisa ia andalkan.
Beberapa waktu yang, Alsaki yang sudah berpamitan kepada sang adik, istri, juga mamanya, kini berniat meninggalkan rumah sakit untuk segera menuju ke kantornya sebab Dante sedang izin.
__ADS_1
Namun saat ia sedang berjalan melewati poli anak, ia terkejut manakala melihat Dante yang menggendong bayi dengan di temani oleh seorang Gadis cantik yang memiliki tindik di alisnya.
" Dante?" gumamnya seraya memicingkan matanya.
Ia lantas berjalan maju guna memastikan jika apa yang sedang dia lihat itu adalah benar adanya.
" Jadi ini yang kau katakan sebuah kepentingan?"
Membuat seorang pria yang kini berdiri di depan sana seketika membeku.
" Bos?"
...----------------...
" Apa kau bilang?"
Alsaki benar-benar terkejut saat Dante menceritakan soal dirinya yang menemukan bayi malang di teki jalan dengan kondisi memprihatinkan.
Agatha yang tak mengenal siapa pria tampan di depan Dante itu, hanya melirik sambil terus menggoyangkan tubuhnya agar Raina terdiam.
" Benar tuan. Saya menemukan anak ini saat saya sedang..."
Agatha langsung melirik Dante guna memastikan apakah pria itu akan mempermalukan dirinya atau tidak.
" Sedang apa?" tanya Al tak sabar.
" Sedang buang air kecil di tepi jalan karena tidak tahan!"
Membuat Agatha seketika menahan tawa sebab alasan yang di kemukakan cukup konyol.
" Ada untungnya juga kau kencing sembarang Dan. Kau jadi bisa menyelamatkan nyawa bayi ini. Lalu siapa dia?" menunjuk ke arah Agatha yang sibuk menenangkan bayi itu.
" Dia..." melirik Agatha yang seketika harap-harap cemas sebab takut jika Dante akan mengatakan soal siapa dirinya yang sebenarnya.
" Dia yang mengasuh!"
Membuat Alsaki seketika memicingkan matanya sebab curiga dengan perkataan Dante yang kurang lancar kala berucap.
" Lalu bagaimana rencana mu selanjutnya?" semakin tertarik dengan apa yang kini di alami oleh assistenya itu.
" Saya akan merawatnya dulu bos. Tidak tahu kedepannya nanti bagaimana. Jujur, saya merasa kasihan!"
Alsaki takjub dengan kemurnian hati Dante. Pun dengan Agatha yang juga terkesima dengan kebaikan hati pria yang kadang bisu itu.
" Oh iya, ngomong-ngomong bos kenapa bisa ada disini?"
" Puri masuk rumah sakit!"
" Apa?"
...----------------...
Ari yang kini berada di dalam kediaman Gunawan terlihat berdiam diri di meja makan khusus pekerja, dengan pikiran yang terus melayang kepada Puri.
Namun saat asyik melamun, ia tak sengaja melihat Desi yang saat ini tampak seperti orang kurang tidur.
" Kamu sakit Des?" bertanya dan membuat gadis itu setengah kaget.
" Kantung mata kamu item banget. Jangan sering begadang. Nanti kamu sakit!"
Mbok Enok yang baru datang dari berbelanja terkejut saat sudah melihat Ari di dalam rumah.
" Lho, mas Ari sudah balik? Gimana keadaan non Puri?"
" Masih lemas. Semalam malah muntah terus!"
" Memangnya non Puri kemana?"
Dua manusia itu seketika heran sebab Desi tampak tak mengetahui bila anak majikannya sedang dirawat dirumah sakit.
Siangnya, saat Ari diminta untuk menjemput Nyonya Hapsari, tuan Hendra Gunawan beralasan tidak ikut sebab dia mengatakan bila sedang sakit kepala.
Ari akhirnya pergi sendiri. Lagipula, ia memang sudah tak sabar ingin melihat kondisi gadis itu.
Saat mbok Enok sibuk di belakang, tuan Hendra mendatangi Desi yang tengah bekerja memungut pakaian kotor kamar satu ke kamar lainnya.
Dan entah apa yang dikatakan oleh pria itu, sejurus kemudian perkataan tuan Hendra berhasil membuat gadis itu langsung mengikuti pria itu menuju ke sebuah ruangan yang lumayan rahasia.
Desi yang baru masuk terlihat pias, dan langsung terdiam saat pria itu datang dan menatap wajah Desi dengan wajah penuh arti.
" Apa kau sudah tidak betah bekerja disini?"
Desi memejamkan matanya manakala pria itu mulai mendekat ke arahnya dengan perasaan takut.
...----------------...
Puri yang barusaja disuapi oleh Dhisti kini merasa lebih baik. Selain itu, kehadiran Inka yang selalu kocak membuat Puri sedikit terhibur.
" Aku heran dengan elo itu Pur. Duit banyak, kerjaan ada, ee masih bisa stres juga. Gimana kalau elo jadi gue? Pasti elo bakal cepet kena penuaan dini karena dengar bunyi token listrik bunyi mulu!"
Membuat Dhisti tergelak kencang pun dengan Puri. Gadis bermulut ember itu benar-benar gak ada matinya dalam berkelakar.
" Jangan stres- stress Pur. Hidup cuma sekali dinikmati aja. Kalau ada masalah, jangan cuma dipikir, tapi juga kudu di hadepin biar cepat kelar!"
Nyonya Hapsari lebih memilih untuk tak menanyakan hal itu kepada Ari maupun anaknya. Ia paham, jika cinta memang sering menghantam siapapun tanpa mengenal kasta dan rupa.
...----------------...
Tiga Minggu telah berlalu.
Selama itu juga Puri kini lebih sering memfokuskan diri kepada project-project nya bersama Tince yang membuatnya lebih sering keluar bersama Ari.
Selama itu pula, mereka menjalani backstreet tanpa adanya gangguan. Desi yang biasanya membuat onar kini kerap tak menampakkan batang hidungnya, sebab semakin sibuk saat satu orang pembantu lainnya ada yang resign.
Nyonya Hapsari yang mengetahui hal itu pura-pura tidak tahu. Baginya, tak ada hal yang lebih membahu selain melihatmu anaknya bahagia.
Dante kini mempekerjakan Agatha untuk merawat anak itu hingga waktu yang tidak bisa di tentukan.
Dante merasa hari-harinya sedikit berwarna dengan kehadiran bayi itu, sebab Raina yang ia rawat semakin gembul.
Ia juga sudah mulai mengurus administrasi untuk mengadopsi anak itu meski ia masih seorang bujangan. Entahlah, yang jelas saat ini Dante benar-benar tak mau kehilangan anak itu.
__ADS_1
Dhisti yang akhirnya tahu jika Dante mendapatkan bayi itu di pinggir jalan, bahkan sesekali meminta Dante untuk membawa anak itu ke apartemen agar dirinya tidak kesepian.
Agatha seminggu sekali meminta waktu kepada Dante untuk pergi dengan izin ada keperluan.
Dante yang beberapa waktu yang lalu sempat menaruh curiga saat Agatha pulang dengan wajah babak belur, mengira jika gadis itu mungkin kembali merampok.
Hingga, ia yang penasaran akhirnya mengikuti Agatha yang pagi ini meminta izin pergi seperti biasanya.
" Benar dugaanku. Ini pasti markasnya!" gumam Dante yang melihat Agatha masuk ke sebuah tempat terselubung yang mirip seperti bangunan terbengkalai. Mengira jika Agatha akan bertemu dengan rekannya yang mungkin selama perampok.
Namun tanpa Dante duga, ia yang semula berpikiran buruk soal gadis itu kini membelalakkan matanya manakala melihat Agatha yang di tempeleng keras oleh seorang pria berwajah garang.
PLAK!
" Aku memberimu waktu sudah sangat lama. Kemana kau selama ini hah? Kau jangan coba-coba untuk kabur atau aku akan membunuhmu!"
" Sudah aku katakan, aku tidak punya uang. Polisi berjaga dimana-mana . Bahkan sekalipun kau membunuhku, aku tetap tidak akan memberi sebab aku memang memiliki uang saat ini!"
" Kurang ajar!"
BUG
" Argh!!"
Dante seketika mendelik saat perut gadis itu di tendang dengan begitu keras oleh pria bajingan itu.
" Ingat Agatha, jangan berani coba-coba untuk kabur dariku!"
Agatha kini tampak di jambak dengan kepala yang terpaksa di dongakkan ke atas.
" Ingat itu!"
BRUK!
Melempar kembali tubuh Agatha hingga terjerembab ke lantai.
Pria biadab itu terlihat pergi meninggalkan Agatha yang kesakitan sesaat setelah menendang kepala Agatha. Membuat Dante barang.
Namun melihat banyaknya orang yang ada di sana, membuat Dante pergi sebab sadar jika dia pasti kalah jumlah.
Saat berada di dalam mobil, bayangan wajah Agatha yang meringis kesakitan benar-benar mengusik pikirannya. Kenapa Agatha bisa sampai dipukuli seperti itu?
" Kenapa gadis itu dipukuli ? Siapa mereka?" Dante terus bergumam bahkan pikirannya terus saja khawatir saat Agatha belum juga pulang.
Saat malam menjelang, Dante yang membiarkan Raina di ajak menginap oleh Dhisti kini menunggu Agatha pulang. Beruntung sebab Dhisti sesekali meminta Raina untuk tinggal bersama dirinya.
Dan tepat di jam sepuluh malam, gadis itu akhirnya kembali dengan badan yang penuh luka.
" Darimana saja kau?" tanya Dante yang berpura-pura tidak tahu kemana perginya Agatha.
Ruangan yang semula gelap gulita itu, kini menjadi terang benderang manakala Dante menekan saklar lampu yang kini berpijar terang.
" Minggir!" Seru Agatha yang benar-benar ingin tidur sebab tubuhnya terasa sakit usai di hajar.
" Kenapa dengan tanganmu, bibirmu? Siapa yang melakukan ini kepadamu?" tanya Dante resah yang melihat kondisi Agatha yang memprihatinkan.
" Tidak kenapa- kenapa. Minggir, aku mau istirahat!" elak Agatha yang sebenarnya malu jika Dante melihatnya dengan kondisi babak belur seperti itu.
Dante menghadang langkah Agatha dan nyaris membuat wanita itu menabrak dada bidangnya.
" Apa yang sebenernya kau kerjakan diluar sana?" tanya Dante dengan jarak yang begitu dekat. Membuat harum napas pria itu mengusik hati Agatha.
" Aku tidak ada kewajiban untuk menjawab semua ini kepadamu. Minggir!"
Namun gadis itu malah di dorong ke tembok oleh Dante saat sedang berusaha untuk pergi. Membuat mereka semakin tak berjarak.
" Tidak mulai sekarang. Kau adalah pegawaiku, jadi aku juga bertanggung jawab atas hidupmu!"
Membuat Agatha terdiam saat melihat manik mata penuh kobaran api kemarahan.
" Kemari kau!"
Agatha yang sudah tak memiliki daya akhirnya menurut saat Dante menggeret tangannya menuju ruang tengah.
Pria itu sejurus kemudian mendudukkan Agatha lalu mengambil sebuah kotak obat, dan mulai mengobati luka yang nyaris memenuhi seluruh wajah Agatha dengan penuh kehati-hatian.
" Awh!" ringis Agatha manakala kapas yang mengandung antiseptik itu mengenai kulit wajahnya yang koyak. Membuatnya terasa perih.
"Maaf, aku akan pelan!" kata Dante dengan wajah serius.
Dante dengan telaten mengompres wajah Agatha secara perlahan. Agatha yang sebulan ini baru melihat sisi lembut pria itu, menjadi sedikit merubah penilaiannya.
" Ternyata dia benar-benar baik!" membantin seraya menatap wajah Dante yang serius kala mengobati dirinya.
" Kenapa kau bisa seperti ini?"
Untuk pertama kalinya, Agatha mendengar suara lembut Dante yang membuatnya benar-benar ingin menangis.
Selama ini ia hidup tak tentu arah. Ia merampok sebab itu adalah tuntutan. Dan jika ia tak menyerahkan sejumlah uang, ia akan di gebuki seperti tadi.
" Hanya salah paham!" menjawab sekenanya.
" Kau jangan berbohong, aku sudah dua kali melihatmu pulang dengan keadaan seperti ini!" kata Dante sembari menautkan kedua alisnya karena kesal dibohongi.
Gadis itu akhirnya tersenyum sumbang.
" Sudah aku katakan jika aku sering berselisih paham saat di jalan. Kau tau kan siapa aku sebenarnya. Aku hanya orang yang terpaksa mengurus bayi karena takut di penjara!" mencoba berkelakar namun malah membuat Dante tercenung.
Dante merasa iba dengan apa yang di derita oleh gadis di depannya itu. Sejak pertama kali bertemu hingga sekarang, gadis itu memang sangat misterius. Bahkan ia baru mengetahui nama gadis itu saat ia memergoki Agatha di keroyok oleh sekumpulan preman.
" Kau berbohong!"
" Aku tadi melihatmu di hajar oleh sekawanan pria. Siapa mereka?"
Maka Agatha langsung membelalakkan matanya demi mendengar ucapan Dante.
" Kau membuntutiku?" tanya Agatha terkejut.
.
.
__ADS_1