Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 103. Kabur


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Mama mertua Numero Uno itu akhirnya memesan sebuah alat penguji kehamilan, dengan menggunakan jasa perusahaan transportasi yang menyediakan jasa beli barang dan di antar.


Wanita yang sudah banyak memakan asam garam kehidupan itu meyakini bila dalam perut Dhisti sudah tumbuh embrio.


Puri dan Nyonya Hapsari yang kini menunggui Dhisti di luar pintu benar-benar harap-harap cemas. Terlihat tak sabar untuk mengetahui hasil pemeriksaan sederhana itu.


Alsaki yang masih teler terlihat tak berdaya dan masih berada di atas kasurnya. Ia bahkan tidak tahu menahu soal apa yang di lakukan Mama dan adik perempuannya itu.


CEKLEK!


Bunyi daun pintu yang terayun, membuat dua makhluk berjenis kelamin perempuan itu akhirnya spontan bangun, lalu segera menyongsong Dhisti yang kini berdiri di ambang pintu.


" Gimana?" tanya Puri tak sabar. Seolah ia ingin segera mengetahui kebenarannya.


" Dua!" Dhisti menjawab dengan mata berkaca-kaca.


" Apanya?" balas Puri yang bloon dan tidak paham dengan maksud kakak iparnya itu.


" Garisnya dua! Aku positif!" jelas Dhisti dengan bibir bergetar.


Membuatnya Puri langsung melompat kegirangan. Pun dengan Nyonya Hapsari yang kini senang tiada tara.


" Yeee!! Aku mau jadi aunty!!!" Puri memekik kegirangan dan tampak melupakan sedikit problema yang kini sedang dalam hidupnya.


Gadis itu sejurus kemudian berlari menuju ke arah kakaknya yang tengah terkapar.


Nyonya Hapsari meraih benda mungil itu, lalu melihat dua garis merah yang tercetak jelas dan sejurus kemudian memeluk menantunya dengan perasaan haru.


" Terimakasih Dhis, Mama bakal jadi Oma nanti!" kata Nyonya Hapsari yang menangis haru.


Sementara Alsaki yang kini terhuyung-huyung sebab Puri tak hentinya mengusel dirinya, terlihat tak paham dengan apa yang sedang di rayakan adiknya itu.


Pria itu tampak seperti orang bodoh.


" Kau ini kenapa seperti belatung tomat busuk sih Pur? Aku ini sedang pusing!" gerutu Alsaki yang belum mengetahui kabar gembira tersebut.


" Ihh, bangun makanya. Orang lagi seneng dia malah kek orang mati. Istrimu hamil itu!"


" Apa?" menjawab syok bahkan langsung melempar selimut yang semula menutupi seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Tak berselang lama, nyonya Hapsari yang masih merasa terharu datang menuju ke tempat dua anaknya yang sedang ribut, lalu mengusap punggung besar anak sulungnya dengan wajah bahagia.


" Jangan gampang marah-marah, udah mau jadi papa setelah ini! Selamat Al, istri kamu hamil!"


Membuat Al langsung membetulkan posisi duduknya sebab entah mengapa tiba-tiba matanya terasa panas.


" Mama gak bohong kan?" balas Alsaki yang kini memeluk mamanya.


" Mama yakin kamu ini kena sindrom karena istri kamu lagi hamil muda. Hah, itu tandanya kamu sangat mencintai istri kamu Al. Mama bangga sama kamu!" jawab nyonya Hapsari mengusap lembut punggung Alsaki penuh kebanggaan.


Alsaki yang di peluk mamanya langsung menoleh dan menatap istrinya yang kini menyodorkan sebuah tespeck.


" Kami akan segera menjadi orang tua ma?" tanya Alsaki kembali kepada sang Mama.


Wanita yang masih cantik di usianya yang tak lagi muda itu mengangguk seraya terharu. Sukses membuat mata Alsaki mengeluarkan air mata.


...----------------...


Waktu yang berjalan menggilas apapun dengan keangkuhannya, membawa banyak sekali kejadian yang beraneka. Puri semakin kesini semakin kesepian. Bagai di telan bumi, Ari bahkan menghilang tanpa kabar usai pertemuannya pada pernikahan Brio dan Inka beberapa waktu yang lalu.


Puri yang semakin aktif dan produktif sengaja menyibukkan dirinya sebab rasa hatinya benar-benar galau.


Kemana perginya Ari? Apa pria itu membohonginya? Sungguh brengsek sekali andai semua dugaannya itu benar adanya.


Membuat pria itu sedikit tersentak.


" Gak dari mana-mana. Oh iya Pur, papa perhatikan kamu kok pulang malam terus akhir-akhir ini. Jangan seperti ini, bahaya di luar!" kata Hendra tampak serius akan kekhawatirannya.


Hebat sekali orang itu, malah menjadikan Puri sebagai alasan kemarahannya.


" Kebetulan lagi lembur pa. Mau di pakai orang dinas kebudayaan buat show di luar negri. Jadi musti kejar deadline!" terang Puri jujur.


" Ya sudah, papa sengaja nungguin kamu pulang tadi karena cemas. Kamu cepat masuk sana!"


Puri mengangguk.


Meski merasa aneh, namun Puri akhirnya tak mempermasalahkan hal itu. Mungkin papanya sudah berubah dan kini mau memperhatikan dirinya.


Dhisti yang hari ini di temani periksa oleh Al begitu merasa bahagia. Meski, ia menjadi kasihan sebab tak menyangka jika hal seperti ini bisa terjadi.


Alsaki malah merasakan tak enaknya masa kehamilan trimester pertama, yang mustinya di alami oleh ibu hamil. Seperti mual, teler, tak berselera makan, juga lebih sensitif terhadap bebauan.

__ADS_1


" Ini wajar dan memang kadang terjadi pada beberapa kasus. Syndrom kehamilan simpatik ini bisa menghilangkan seiring berjalannya waktu!"


Mereka akhirnya tenang usai mendapatkan penjelasan akurat dari sang dokter. Alsaki tak mempermasalahkan hal itu. Ia memang pernah membatin dalam hatinya di satu malam saat menatap wajah istrinya yang waktu itu tengah terlelap karena tidur.


Ia berkata dalam hatinya, andai waktu bisa diputar, ia ingin menemukan Dhisti lebih cepat agar dia tak lagi menderita. Ia juga berkata dalam hatinya dan berjanji untuk selalu rela menderita dan berkorban demi istrinya itu. Ia ingin selalu menggantikan kesulitan Dhisti jika bisa.


Dan tidak tahunya, Tuhan malah mengabulkan keinginannya itu dalam waktu beberapa bulan saja.


" Selamat ya Dhis, emang bibit unggul dah. Doain aku biar cepat nyusul dapat Brio junior ya. Aku sama dia lagi sama-sama program berhenti merokok!"


Inka yang mendapat kabar menggembirakan itu turut merasa bahagia atas karunia yang di terima Dhisti dan Alsaki.


Al juga semakin membiasakan dirinya dengan tidak memakai pengharum ruangan sementara waktu. Kehamilan memang seajaib ini rupanya.


Hingga kehamilan Dhisti yang menginjak trimester kedua, rasa mual yang semula membelenggu perlahan menghilang. Alsaki juga kembali di minta oleh Delta Group untuk menjadi brand ambassador produk susu kehamilan bersama sang istri.


Ya, perusahaan manufaktur yang terkenal itu tengah meluncurkan sebuah produk baru.


Dan berita kehamilan Dhisti, rupanya membawa berkah serta Rizki untuk Alsaki yang namanya kian tenar.


Dhisti yang semula tak tahu apapun soal entertainment, kini secara tak langsung wajah dan namanya sering wara-wiri di televisi karena diminta menjadi bintang iklan beberapa produk. Tak ayal, nama mereka kian bersinar di jajaran nama bintang iklan.


Namun di lain pihak, Desi yang malam itu benar-benar tak tahan lagi dengan siksaan Hendra Gunawan yang masih saja terus menggaulinya di saat perutnya semakin membesar, terlihat berpamitan untuk membeli susu kepada mbok Enok.


Iklan yang barusan ia lihat di televisi, dimana Alsaki dan Dhisti yang menjadi modelnya, benar-benar memberinya inspirasi.


Alih-alih membeli susu, rupanya Desi berniat ingin kabur. Wanita itu keluar dari kediaman Gunawan tanpa membawa apapun selain dompet yang berisikan sejumlah uang, dan ATM yang berisikan tabungan gajinya beberapa bulan ini.


Ia seperti orang yang ketakutan dan frustasi.


" Berhenti disini saja pak!" katanya kepada supir taksi yang barusan ia naiki.


Desi bingung harus kemana. Ia terlihat stress akibat perlakuannya Hendra yang seperti binatang akhir-akhir ini.


Desi benar-benar ketakutan. Perempuan malang itu akhirnya pergi untuk mencari kost-kostan sementara sebab ia tak memiliki apapun saat ini.


Dan, saat malam ini Hendra ingin masuk ke sebuah gudang yang nyaris tak pernah di kunjungi oleh siapapun kecuali dirinya. Ia yang mendapati tempat yang bisanya ia gunakan untuk mencabuli Desi itu kosong seketika bingung.


Ia berdalih minta dibuatkan kopi oleh mbok Enok sembari menanyakan dimana Desi.


" Waduh Gusti, kok saya malah lupa kalau mbak Desi tadi izin pergi beli susu hamil katanya. Tapi, kok sampai sekarang belum kembali ya?"

__ADS_1


Membuat Hendra Gunawan mendelik.


__ADS_2