
...🌻🌻🌻...
Semalam, Nita meminta tukar sift dengan dhisti agar lusa wanita itu bisa mendobel hari libur. Hal itu terjadi sebab Nita berkata jika dia akan ada keperluan yang menyita waktu agak lama. Maka Dhisti libur sehari sebelum waktunya.
Usut punya usut, Dhisti dan Inka berniat melakukan operasi hari ini. Hari dimana ia bisa full untuk menjalankan aksi nekatnya itu. Urusan bulanan Dhisti sudah beres. Kini, tinggal dia yang harus ganti membantu Inka untuk mengumpulkan setoran di akhir bulan.
Namun suatu hal yang tak ia sangka mendadak membuat gadis itu melongo dan kaget dalam waktu bersamaan. Suara bisik - bisik di ruang tamu kontan membuat Dhisti bangkit dari tidurnya. Semakin dekat langkahnya, semakin terdengar celoteh ria di sela gelak ringan.
Oh my God!
" Pantas saja... saya merasa seperti pernah melihat anda. Saya jadi merasa terhormat sekali kalau begini!"
Suara kakek terdengar ramah juga bersahabat.
"Maaf kalau sewaktu anda kemari, saya kurang memperhatikan anda."
" Hah? Alsaki? Gimana bisa dia ada sini sih?" Jeritnya dalam batin yang begitu syok.
Suara kakek bahkan terdengar benar-benar sungkan dan malu. Jelas menegaskan bila lelaki tua itu amat menghormati tamunya kali ini.
Ah sial!
" Jangan di ambil hati. Saya ini benar-benar ingin menepikan diri dari keramaian yang sering membuat saya tidak nyaman kek. Itu tidak jadi masalah buat saya!" Sahut Al nampak begitu karib dengan kakek.
" Apa? Mereka bahkan mengobrol dengan begitu akrab. Kakek, Jangan percaya dulu. Pria itu sesungguhnya sangat menyebalkan!"
Panik Dhisti demi melihat Al yang malah akrab bersama sang kakek yang terlihat senang.
Kakek bahkan berbicara dengan Al menggunakan bahasa formal dan sangat lembut. Sangat berbeda saat berbicara dengan Aris.
Tunggu dulu, apa pria itu sudah mengatakannya yang sebenernya kepada Kakek jika dia merupakan artis terkenal?
Di sela meriah obrolan keduanya, mata layu kakek tak sengaja menangkap sebuah objek yang berdiri dengan seraut kaget di ambang pintu.
" Dhisti, kau sudah bangun? Astaga...kenapa kau tidak bercerita kepada kakek kalau orang yang kau bawa kemari adalah tuan Alsaki. Aduh, kakek jadi sungkan!"
Al tersenyum penuh arti kala melihat Dhisti yang tampak tersentak dari lamunannya. Sementara yang di tatap justru bertingkah sebaliknya.
" Kemarilah. Rumah kita yang jelek ini di datangi tamu istimewa, ayo kemarikan tanganmu!"
Namun yang diajak ngobrol justru melempar tatapan sengit kepada Al yang duduk santai di depan kakeknya. Ia juga melihat Dante yang masih saja diam laksana patung.
__ADS_1
" Kenapa kau kemari?" sengit Dhisti tak mempedulikan sang kakek yang memintanya menyalami Alsaki.
" Nak, apa yang kau katakan? Sopanlah sedikit kepada tamu kita!" Tutur Kakek dengan wajah tak setuju. Harap-harap cemas dan takut Alsaki tersinggung.
Melihat kakek yang semakin membela pria ganteng itu, Al semakin merasa jumawa. Ihiir!
"Sebenarnya...kami ada sedikit kesalahpahaman, dan untuk itu saya datang kemari!"
Kakek menatap Al sungkan. Pria di depannya itu benar-benar sopan. Sudah kaya, sopan, dan yang paling penting, laki-laki itu mengatakan jika dia mengenal Dhisti dengan baik.
Laki-laki tua itu pasti semakin merasa senang.
" Astaga, apa cucuku membuat anda celaka?" Kakek benar-benar panik. Takut kalau-kalau cucunya kembali bertingkah impulsif.
Alih-alih menjawab kegelisahan sang pria uzur, Al justru melancarkan rencana tambahan.
" Emm kakek, boleh saya meminta sesuatu?" Tanya Al memulai aksinya. Membuat Dhisti sontak menatap senyum tengik itu dengan sorot penuh selidik.
" Apa nak?" Jawab kakek muram dengan wajah harap-harap cemas.
" Saya ingin berbicara serius dengan Dhisti!"
.
.
" Kenapa kau memecat pak Ramdani?" Cetus Dhisti yang akhirnya memecah kesunyian yang ada.
Dengan sangat terpaksa Dhisti menyanggupi permintaan itu sebab sang kakek benar-benar memaksa. Orang tua dari Ibunya itu selalu begitu. Suka akan orang-orang yang terhormat , dan ingin memanfaatkan kesempatan langka itu dengan sebaik-baiknya.
Ia yang juga sudah membersihkan dirinya kini mendakwa Alsaki yang duduk santai di depan sofanya yang pucat. Di jaga penuh oleh manusia kayu yang kakunya bukan main.
" Aku hanya ingin balas budi. Lagipula, bukankah pria itu sudah kurang ajar kepadamu?"
" Apa, kurang ajar? Kau yang kurang ajar. Memecat orang seenaknya. Tapi iya juga sih, tapi dia itu tulang punggung!"
" Kamu tidak tau apa-apa, aku saja yang berurusan langsung tidak masalah kenapa kau malah sibuk. Pokoknya kembalikan pak Ramdan ke pekerjaan semula!"
" Gadis ini benar-benar menantangku ya?"
Dramatis. Dhisti sudah sangat kesal namun Al masih bertahta di senyum angkuhnya.
__ADS_1
" Berani sekali kau memerintahku ya?"
" CK, aku tidak sedang memerintahmu, aku minta tolong!"
" Kau dengar Dan, aku bahkan tak mendengar kata tolong dari mulutnya!"
Membuat Dhisti semakin geram demi sepenggal sindiran yang memang benar adanya.😜
Saat masih sibuk melempar tatapan sengit, kakek sekonyong-konyong datang dengan membawa ketan hangat berisi parutan kelapa juga kedelai bubuk. Membuat situasi mencekam itu sedikit melanggar.
" Tidak usah diberikan kek, orang seperti dia mana doyan!" Tukas Dhisti masih dengan sorot mata tak ramah. Mencibir kesal demi teringat akan semua perlakuan Al yang kerap semena-mena itu.
" Apa yang kau katakan. Apa kakek pernah mengajarimu untuk berbicara tidak sopan macam itu?" Sergah kakek dengan sorot mata kecewa.
Membuat Al menahan tawa sebab sekutu uzur di depannya itu lebih memihak kepadanya.
Yes!
" Sepertinya kakekmu lebih paham cara memperlakukan tamu ketimbang cucunya!" Bisik Al menyeringai menatap Dhisti yang makin kesal.
Dhisti tidak tahu, tujuan Al sebenarnya melakukan semua itu adalah karena ia ingin membalas semua kebaikan Dhisti kepadanya, terlebih kepada adiknya.
Ia merasa pria semacam Ramdan itu perlu dibinasakan secepatnya. Apalagi, tidak tahu kenapa juga Al merasa semacam tak rela saat melihat Dhisti di sakiti.
Entahlah, mungkin laki-laki itu hanya bersimpati. Namun tidak tahu juga, apa yang tersembunyi di balik hati.
" Tidak apa-apa kek. Tapi, bolehkah saya meminta izin membawa Dhisti untuk menyelesaikan kesalahpahaman kami?"
" What?"
" Ah boleh nak, tentu saja boleh. Tapi...jangan di apa-apa kan ya? Saya cuman punya dia!" Hasut kakek dengan wajah secerah mentari.
Benar-benar sulit di percaya. Kakek sangat ramah dengan pria menyebalkan itu.
" Begitu urusan kami beres, saya akan mengantar balik Dhisti. Masalah ini cukup kompleks, jadi kami harus mendatangi lokasi!Al berucap sembari menikmati ketan hangat yang rasanya boleh juga itu. Melirik Dhisti yang bibirnya sudah manyun lima senti.
" Apa cucuku melakukan kesalahpahaman fatal?" Tanya kakek cemas dan tampak tak menyadari seringai licik Al.
" Tentu saja, kakek bisa bertanya dengan ajudanku ini. Jadi... bersiap-siaplah sekarang!" Melirik Dhisti yang wajahnya menahan kesal yang teramat.
"Benar-benar pria licik!"
__ADS_1