Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 23. Sorot mata itu


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Ia melangkah dengan kaki lelah dan wajah putus asa. Sudah kadung berjanji kepada Ramdan untuk berbicara kepada Al, namun kenyataannya tak secuil kuku pun dari tubuh pria itu, yang bisa ia temui.


" Apa pria sibuk selalu seperti itu?"


Ia berjalan dan terus berjalan hingga melewati trotoar yang sebagian toko-toko yang berjajar telah menutup konsesi mereka.


Namun segala letih lesunya mendadak sirna demi melihat orang yang kini menimbulkan hasratnya untuk mencopet.


" Pas banget!"


Ia melihat seorang wanita yang terlihat berjalan usai turun dari mobil, dan terlihat hendak masuk menuju apotek besar yang buka selama 24 jam.


Dhisti langsung memasang tudung Hoodie yang ia kenakan, lalu mengenakan masker hitamnya sebagai bukti nyata jika ia akan menjalankan operasi mendadak demi target yang mendadak muncul tanpa ia cari.


Gadis itu memindai sekeliling guna memastikan kekondusifan situasi. Tidak terlalu ramai. Jika ia bisa melakukan hal itu dengan cepat, maka semua akan beres sesuai waktu yang ia punya .


" Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membuat hidupmu tenang brengsek!" Bergumam seraya menggertakan gigi dan bersiap mengambil ancang-ancang.


Ia berjalan mendekat ke arah wanita yang seringnya mengenakan pakaian kurang bahan itu.


Dan sejurus kemudian.


SREBB!


" Hey!"


Wanita itu memekik manakala tas branded yang semula dikenakan, kini berpindah tangan kepada Dhisti yang kini berlari kencang guna menyelamatkan diri.


" Maling! Maling!"


Dhisti yang kini di teriaki oleh wanita itu, terlihat memetakan keadaan dalam waktu sepersekian detik, dan mulai menambah kecepatan berlarinya.


" Sial!" Ia mengumpat manakala melihat beberapa orang yang merespon teriakan wanita itu dan kini turut berlari mengejarnya.


Ia benar-benar salah perhitungan. Seharusnya tak ada orang tadi, tapi kenapa masa yang mengejarnya ada lebih dari empat orang?


Dengan segenap kekuatannya, Dhisti berlari sembari memeluk erat tas yang menjadi tujuannya. Mensugesti diri agar lebih bisa menambah kecepatan atau dia tidak akan selamat.


" Berhenti woy!"


Ia semakin terengah-engah kala para pengejar itu tak jera juga. Namun sebuah kebencian dan rasa sakit hati, rupanya menjadi sebaik-baiknya pemantik kekuatan untuk Dhisti berlari.


Dhisti terus berlari bahkan sempat membuat beberapa pejalan kaki yang tidak tahu aksinya, nyaris tertabrak.


Ia yang semakin kehabisan tenaga kini terkejut saat sebuah mobil tiba-tiba muncul dari belokan dan nyaris saja mencumbu tubuhnya.


CIT!!

__ADS_1


" Aaa!"


Dhisti berteriak kaget saat sebuah bemper sedan mewah yang ia kenali kini berada di depan lututnya yang sedikit bergetar.


" Hey, apa kau tidak war..."


Ucapan pria itu terjeda saat kedua pasang mata milik Dhisti dan pria pengemudi mobil itu tiba-tiba bertemu.


DEG


" Seperti pernah lihat?" Gumam pria yang kini masih berada di depan kemudi dengan posisi mematung itu. Terpaku selama beberapa detik sesaat sebelum Dhisti melihat ke arah jalan untuk kabur.


" Sial, kenapa pria ini datang di saat yang tidak tepat? Bagaimana ini?" Dhisti bergumam dalam hati demi kebimbangan yang mendadak menguasai hatinya.


Al ada di depan mata, namun dia sedang dalam posisi di kejar masa. Jelas ini merupakan suatu kondisi yang tidak pas.


"Woy berhenti!"


Membuat Dhisti kembali berlari saat Al sudah menarik handle pintu mobilnya, kala teriakan itu kembali menyentak kesadarannya.


" Ada apa ini?" Tanya Al sesaat setelah ia keluar dari dalam mobilnya, yang membuat para pengejar itu mendelik saat tahu siapa yang sedang bertanya.


" Ini kan Alsaki!"


" Iya benar, dia orang yang sering ada di TV itu!"


Gumam para pria yang sedikit melupakan Dhisti, demi melihat sosok terkenal yang kini ada di depan mata.


" J-jambret Pak. Orang itu tadi jambret tasnya mbak yang itu!"


Tunjuk seorang pria itu kepada wanita yang kini menangis kebingungan.


Namun alih-alih iba kepada wanita itu, Al malah tercenung demi mengingat sorot mata yang cukup ia kenal, saat mobilnya nyaris menabrak pelaku jambret tadi.


" Siapa orang tadi, kenapa aku seperti mengenal?"


Di sisi lain, Dhisti yang berusaha kabur dan telah sampai di tempat yang aman, kini menjejalkan tas itu kedalam ranselnya untuk sejurus kemudian ia mencari ojek konvensional.


Ia harus pulang dengan selamat.


" Bang, ke gang kelinci dong!" Ucapnya dengan napas yang masih ngos-ngosan kepada kang ojek yang berwajah layu demi menunggu pelanggan.


" Alhamdulillah, dapat penglaris juga Tok. Jalan dulu ya!"


Dhisti terlihat harap-harap cemas. Ia bahkan meminta kang ojek itu untuk cepat-cepat memutar motornya.


" Cepetan bang, orang tua saya lagi nungguin obat yang saya bawa ini!" Bohong Dhisti yang sebenarnya takut jika para manusia tadi masih mengejarnya.


Nyaris saja ia di hajar masa dan sialnya ia juga bertemu dengan Al. Benar-benar kombinasi kesialan yang tak main-main.

__ADS_1


Ia yang kini telah berada di jalan dan sesekali menoleh kebelakang guna memastikan jika tak ada yang mengejarnya. Sedikit berlega hati sebab malam ini ia bisa merampungkan semua tugasnya dengan pacuan adrenalin.


Namun anehnya, bukannya takut akan apa yang ia bawa, gadis itu malah sibuk memikirkan soal tujuannya yang lain, yang belum ia capai.


" Dari mana pria itu tadi? Kenapa di jam semalam ini dia baru kembali. Ah sial, bagiamana dengan Pak Ramdan, mustahil aku kembali untuk menemuinya sekarang!"


.


.


Sementara itu, Luna yang telah berada di lantai dasar untuk pulang, kini mematung demi melihat Al yang datang dengan alis berkerut dan langkah yang tergesa.


" Al? Dari mana dia?"


Namun tak lama kemudian, pria itu juga tampak sedikit syok demi melihat Luna yang berdiri menatapnya lurus.


" Luna?"


" Aku dari apotek sebelah. Karena tiba-tiba teringat padamu, jadi aku sengaja kemari untuk mampir. Kupikir kau ada disini!"


Al terlihat memindai sekeliling tempat itu. Jika Luna ada di bawah, pasti Dhisti juga masih ada di sana.


" Kau mencari siapa?" Tanya Luna demi melihat Al yang tampak celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu.


" Tidak ada!" Bohong Al seraya tersenyum. Mana mungkin dia mengatakan soal Dhisti kepada Luna.


" Oh ya, tadi aku bertemu cleaning service panggilan di depan unit kamu. Dia ingin meminta bayaran kepadamu katanya. Tapi dia sudah pergi sekarang!"


Membuat Al tertegun. " Cleaning service? Siapa?"


" Gadis itu sangat mirip dengan karyawan yang bekerja di tempatnya Idho. Tapi...mungkin itu perasaanku saja!" Bohong Luna demi mengetes apakah Al mengetahui maksudnya atau tidak.


" Jadi Dhisti? Apa mereka berdua benar-benar telah bertemu?" Batin Al yang terlihat risau sebab mengapa Dhisti mencarinya?


Tunggu dulu, wanita itu cerdik juga, ia bahkan menggunakan alasan sebagai cleaning service panggilan. Membuat Al tekrikik-kikik dalam hati.


" Mungkin Dante lupa soal itu. Tadi siang aku memang memanggil seseorang untuk memberi apartemenku!" Timpalnya menutupi.


Luna hanya terdiam. Bukankah sudah ada petugas yang di sediakan oleh Land heaven group untuk tiap-tiap unit? Kenapa Al mencari tenaga lain?


" Al, cuaca sekarang sedang sangat dingin, apa kau tidak ingin menghangatkan badan sejenak?"


Al menatap tangan Luna yang kini meraba tubuhnya penuh maksud. Anehnya, pria itu tak bereaksi dan malah kepikiran dengan Dhisti.


" Atau...aku juga bisa memberimu kehangatan kalau kau mau!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2