Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 16. Kelakuan Puri


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Setibanya di warung.


" Ngapain lu tolak. Itu duit halal Dhis!"


Inka menggerutu demi merasai jika rekannya itu sangat bodoh. Uang sebanyak itu ditolak. Gila aja!


" Semua hal itu harganya In. Tapi gak semua- semuanya di jual juga. Termasuk pertolongan!"


Inka menghela napas panjang. Dhisti sedari dulu memang begitu. Cenderung memikirkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Sampai-sampai ia tidak sadar jika di manfaatkan oleh Aris.


" Astaga!"


Dhisti terlonjak kaget saat meja itu di gebrak Inka.


" Ada apa sih?" Dengus Dhisti kesal sebab Inka itu selalu saja membuatnya terkejut.


" Soto gue kemasukan laler ini. Buk....!"


...----------------...


Teriknya matahari kini berubah menjadi senja fajar yang hangat. Ya, laki-laki tampan bermata sipit itu telah kembali kerumahnya lebih cepat karena ia harus bertemu dengan satu orang penting, guna membahas beberapa materi untuk ia sampaikan ke universitas ternama.


Ya,. pria itu akan menjadi pembicara di sebuah seminar enterpreunership bagi kaula muda minggu depan.


Ia yang tadi pagi berangkat terburu-buru di jemput Dante dan membuat Al tak menggunakan mobilnya.


Hingga, ia yang teringat jika mobil itu masih penuh dengan pasir lupa untuk menghubungi auto care spesialis, kini berniat membersihkan mobil itu sebelum orang lain mengetahuinya.


" Ma, lihat kunci mobil Al nggak?" Tanyanya sembari melirik sana-sini.


" Mobil kamu kan di bawa Puri sejak tadi pagi!"


Apa?

__ADS_1


Membuat Al seketika menghela napas.


" Memangnya mobil dia kemana? Mobil nggak cuma satu kok malah bawa mobilku!" Menggerutu kesal. Takut kalau-kalau ia ketahuan jika mobilnya kotor dan penuh pasir. Jelas akan menjadi buntut panjang.


" Ya nggak tahu Al. Tunggu aja lah, paling sebentar lagi datang. Lagian kamu sih, mobil enggak cuma satu kenapa harus pakai yang itu!"


Mendengus tiba-tiba sebab mamanya malah membalik omongan.


" Kamu mau kemana? Baru datang kok udah mau pergi?" Tanya Papa yang sedang menikmati secangkir teh serta kudapan gurih di dekat istrinya.


Bertanya kepada sang sulung yang sudah terlihat segar dan rapih sore itu.


" Mau ketemu pengurus kampus. Minggu depan aku ngisi seminar di sana. Tadi aku belum bisa nemuin dia. Sekalian mau ke tempat Idho!"


" Idho? Idho teman kamu yang..."


Al mengangguk saat Mamanya masih menatap tak percaya. " Dia sukses lho Ma sekarang. Punya cafe besar di jalan XX!"


Nyonya Hapsari turut bangga mendengar hal itu. Mengingat jika teman anaknya itu merupakan anak kurang mampu dan pernah drop out. Menjadi bukti nyata jika akademisi itu bukanlah satu-satunya indikator meraih kesuksesan.


Saat mereka asik bercengkerama dan mengobrol membahas Idho, suara mobil yang datang serasa seperti angin segar bagi Al. Mobil kesayangannya sudah datang.


" Dari mana aja?"


Al yang melihat Puri muncul dengan wajah lelah tak kausa menahan diri untuk tak menodong pertanyaan seperti itu.


" Belom juga duduk udah di cecar pertanyaan!" Sahut Puri dengan wajah sebal.


Membuat Al terkekeh. Adiknya menggemaskan sekali jika ngambil seperti itu.


" Kakak dari mana sih, mobil penuh pasir. Kotor begitu. Aku lama karena ke auto care tadi. Mana mau kena jambret lagi. Untung di tolongin orang tadi!" Puri mendengus dengan wajah sebal kala menyampaikan serentetan kejadian yang nyaris membuatnya rugi.


Mendengar kata jambret, Nyonya Hapsari seketika menatap panik anak bungsunya.


" Kok bisa sih? Kamu nggak apa-apa kan tapi?"

__ADS_1


Puri mengangguk menatap Mamanya menenangkan. Namun, telinga Nyonya Hapsari agaknya masih waras untuk bisa mendengar semua kata-kata yang tadi terlontar.


" Tunggu dulu, apa tadi kamu bilang, mobil kakakmu penuh pasir?"


Membuat Al yang baru saja mengunyah sus keju itu di depan papanya seketika keseretan.


" Aku..."


Saat hendak menjelaskan tudingan yang pasti membuatnya dalam masalah itu , ponselnya mendadak bergetar dan membuat pria itu berlega hati.


Yes!


" Ya halo!"


Ketiga manusia disana tampak menatap wajah tampan yang kini fokus ke suara di ujung telepon.


"Oh anda sudah sampai, ya..ya saya sudah di perjalanan. Ya baik, oke!"


Puri terlihat mencibir kakaknya yang telah berbohong dan nampak sok sibuk.


" Aku pergi dulu ya. Udah di tungguin. Bye!"


Usia mencium pipi Mama, menyalami tangan papanya juga mengacak-acak rambut Puri yang membuat gadis itu ingin mencekik kakaknya, Al pergi dengan gelak tawa.


Senang sekali rasanya mengerjai Puri. Adik satu-satunya yang sangat manja, dan membuat bahagia karena selalu bergantung kepadanya.


Hingga saat ia membuka pintu mobil, lainlah air muka yang semula bergelak tawa itu.


" Astaga, apa ini?"


Al mendelik demi melihat berkantong- kantong tissue, serta beberapa mainan anak tradisional juga lato- lato yang menumpuk di atas jok mobilnya.


" Puri!!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2