Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 58. Selamat jalan


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Pagi jelang siang ini, Inka berniat mengunjungi kakek karena takut beliau akan curiga. Namun apa yang terjadi di depan matanya, kontan mematahkan ketenangan yang ia bangun untuk mensugesti diri sendiri.


Dengan tergopoh-gopoh, Inka yang melihat banyak kerumunan di depan kediaman kakek Dhisti, sontak berlari membelah barikade beberapa manusia yang bingung sebab penasaran ada apa di depan sana.


Brio yang juga tak hentinya menautkan kedua alis demi rasa ingin tahu, kontan turut berlari.


Mata Inka membelalak manakala ia melihat Kakek yang sudah tak sadarkan diri di lantai dengan posisi kepala yang kini pangku oleh Lukman.


" Pak, Kakek kenapa?" tanya Dhisti panik kepada Lukman. Pria yang tadi bermain catur bersama kakek Dhisti.


" Sa- Saya tidak tahu In. Tadi ada wanita, asistennya Alsaki katanya tadi, dia datang kesini dan bilang kalau Dhisti ada di penjara, terus kakek begini dan...." Lukman bahkan tak mampu meneruskan ucapannya.


Inka langsung mengumpat dengan hati yang teramat marah. Apa-apaan laki-laki itu? Apa begini caranya?


"Ya sudah, cepat kita bawa kakek kerumah sakit. Ayo mobilku ada di depan!" seru Brio tergesa-gesa yang takut kalau-kalau penyakit kakek Dhisti kumat.


Di rumah sakit.


Brio, Inka serta Lukman tampak tegang dan cemas saat menunggu dokter yang sedang ada di dalam. Berharap semoga tidak terjadi sesuatu terhadap kakek.


Namun, baru saja mereka menghaturkan doa untuk keselamatan Kakek, ketiganya malah dibuat heran dengan kemunculan sang dokter yang hanya berselang beberapa menit dari waktu mereka masuk.


Tim medis yang keluar dengan raut wajah sulit di artikan itu sukses membuat ketiga manusia disana tampak terkejut. Kini, ketiga manusia itu tampak berdiri menyongsong kedatangan dokter dan timnya yang nampak murung.


" Ada apa dok, kenapa anda bertiga keluar secepat ini?" tanya Inka cemas dan memberanikan diri demi membaca ekspresi sang dokter yang tampak murung.


" Pasien tidak tertolong. Diagnosa kami... beliau terkena serangan jantung!"


DUAR!


Maka Inka seketika merasa tak bernapas detik itu juga demi kalimat yang barusaja keluar dari bibir sang dokter


...----------------...


Dhisti yang semula memeluk lututnya sembari merenung, kini akhirnya menoleh saat petugas di kantor polisi datang dan membuka kunci sel.


" Ada yang ingin bertemu, silahkan!" tutur petugas itu dengan wajah datar.

__ADS_1


Dhisti mendadak bingung. Biasanya jika ada yang datang untuk membesuknya dibawa masuk, kenapa kini dia yang harus keluar?


Ia mengikuti langkah petugas itu dengan hati bertanya-tanya. Siapa sebenarnya yang datang?


Hingga saat ia telah berada di luar, maka jelaslah sudah apa yang menjadi rasa penasarannya.


"Inka?" sapanya melihat Inka yang matanya sembab yang duduk di samping Brio.


" Dhis!"


Ia semakin bingung saat melihat Inka mendadak menubruknya lalu menangis terisak. Membuatnya semakin bertanya-tanya.


" In, ada apa ini?" tanya Dhisti lagi dengan wajah yang semakin penasaran. Kenapa Inka menangis?


" Yang sabar Dhis. Kakek...."


.


.


Dengan mendapat pengawalan dari pihak berwajib, ia tak lagi mempedulikan tatapan penuh keherananan dari para tetangga yang terkejut dengan kedatangan Dhisti yang kini berlari menuju rumah duka.


Saat ini, di samping jasad yang telah terbujur kaku, Dhisti menangis dengan penuh penyesalan. Sama sekali tak mengira jika dia telah di tinggalkan kakeknya untuk selama-lamanya.


" Kakek, aku sudah pulang kek. Kenapa kakek ninggalin Dhisti seperti ini kek? Kakek maafin Dhisti kek!" ia berucap dengan suara tercekat dan dada yang terasa sesak.


Tubuh Dhisti bergetar kala ia memeluk tubuh kaku kakek demi melupakan kesedihan. Lihatlah, kenapa takdir benar-benar kejam terhadapnya? Kenapa persoalan datang tak kenal rasa kasihan?


Meski hati para pelayat dipenuhi oleh rasa keingintahuan, namun apa yang mereka lihat di depan sangat menyentuh hati mereka. Membuat mereka semua bungkam meski mata merek tak lekang menatap polisi yang berjaga di belakang tubuh Dhisti.


Yang mereka tahu, Dhisti merupakan yatim piatu yang selama ini hidup dengan kakeknya. Dan sepertinya, ada beberapa warga yang belum gabu jika Dhisti tersandung masalah kriminal.


Inka yang ada disana benar-benar turut merasa terpukul, hancur dan juga pilu. Tak mengira jika pencobaan yang datang bertubi-tubi, benar-benar turut menggerus kesabarannya.


" Sudah Dhis, jangan terlalu seperti ini, kasihan ko punya kakek!" mama Chiko mengusap punggung Dhisti yang masih saja bergetar akibat isak tangis.


Satu-satunya orang yang ia miliki, kini telah pergi dan tak mungkin kembali. Lebih menyakitkan lagi, ia benar-benar tak percaya jika Alsaki lah yang membuat kakeknya mengalami serangan jantung.


Beberapa jam kemudian, ia kini mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Kakek dengan penjagaan yang masih terus terjadi. Keadaan ini benar-benar sulit untuk di jelaskan. Dhisti bagai mati rasa terhadap apapun. Terlebih rasa cinta.

__ADS_1


Satu-satunya rasa yang ia miliki saat ini adalah kebenciannya dan sakit hati. Ia bisa terima jika Alsaki tidak menerima perlakuannya yang menyimpang dari norma, ia sadar itu. Tapi, kenapa Alsaki meminta seseorang untuk datang dan memberitahukan hal ini kepada kakek?


Ia benar-benar tidak terima akan hal itu.


" Dhis, udah. Lo jangan seperti ini terus, kasihan kakek di sana. Gue sama Brio bakal ngurus urusan ini. Lo yang sabar, kita lagi usaha buat cari duit agar Lo bisa cepat bebas!" Inka terus berusaha mengusap punggung sahabatnya itu, memberikan kekuatan bagi kawan karibnya.


Dhisti terlihat tak menyahuti sekata pun. Tatapannya kosong, nanar menatap gundukan tanah bertabur bunga yang di dalamnya terpendam jasad kakeknya.


Hatinya bagai mati, rasanya juga sudah punah, senyumnya raib bersama jiwa kakek yang sudah melesat ke nirwana.


" Gue sama Brio janji bakal segera bebasin elo!" kata Inka kembali dengan wajah murung.


" Gak usah di bebasin In. Aku bebas juga untuk apa? Aku udah gak punya siapa-siapa lagi" serunya tiba-tiba dengan tatapan yang masih kosong. Tak tahu akan kemana hidupnya setelah ini.


Kini, gadis itu berdiri lalu berbalik menatap Inka dengan mata yang bengkak usai mengatakan hal itu. Inka bisa melihat sorot mata penuh kekecewaan. Membuat gadis itu turut merasa prihatin.


" Mungkin ini nasibku. Terimakasih In, aku pergi!" ucap Dhisti dengan wajah yang kehilangan harap.


Air mata Inka spontan jatuh begitu saja tatkala Dhisti menyentuh pundaknya sesaat sebelum Dhisti melangkah. Sungguh ironis, disaat kakeknya baru saja dikebumikan, sang cucu harus kembali kedalam tahanan sebab ia harus kembali melanjutkan bentuk pertanggungjawabannya, atas tindakan yang dia lakukan.


" Dhi..."


Brio mencekal tangan Inka yang hendak mengejar Dhisti. Sedetik kemudian laki-laki itu menggeleng ke arah Inka dengan wajah sedih.


" Dia pasti pingin sendiri saat ini. Semua ini berat untuk Dhisti. Tapi gue percaya jika dia itu kuat!" tutur Brio yang juga merasa sangat terpukul atas semua hal yang menimpa Dhisti.


Ia tahu, tak ada suatu hal di dunia ini yang terjadi karena kebetulan. Brio percaya jika semua hal yang terjadi pasti memiliki alasan.


Inka yang tak kuat menahan rasa sedihnya kini spontan memeluk tubuh Brio. Sungguh, ia juga hanyalah wanita yang juga memiliki titik lelah, juga membutuhkan sebuah sandaran.


Brio yang memang sudah sangat lama menyukai Inka, kini membalas pelukan Inka lalu mengusap punggung gadis itu sembari menatap ke arah makam dengan perasaan campur aduk.


" Terimakasih kek. Karenamu Inka tak lagi menjaga jarak kepadaku. Selamat jalan! Aku akan membantu cucumu sebisaku. Semoga jiwamu tenang disana!"


Brio percaya, sesulit apapun keadaan, seberat apapun permalasahan, hikmah selalu ada mengikuti. Tinggal bagaimana kita melihat, dari sudut pandang mana kita mau meneropong.


.


.

__ADS_1


__ADS_2