
...🌻🌻🌻...
Sejurus kemudian, Nyonya Hapsari muncul dengan tampilan yang menurut Dhisti selalu cantik walau wanita itu sudah berumur.
" Dhisti!" pekik nyonya Hapsari terkejut. Sama sekali tak menduga jika Dhisti mau datang kerumahnya.
" Selamat pagi Bu! Apa kabar?" bertanya malu-malu.
"Saya baik, kamu gimana nak?"
Dhisti kaget saat ia tiba-tiba di peluk oleh sosok dengan wangi berkarakter itu.
" Kenapa aku jadi ingat Ibu kalau di peluk begini!" batin Dhisti yang matanya tiba-tiba mengembun saat tubuhnya di peluk akrab oleh Mama Al.
" Tante senang kamu kesini. Kamu cantik banget pagi ini!" puji Nyonya Hapsari jujur. Memegang kedua lengan atas Dhisti dengan menunjukkan wajah yang tersenyum ramah.
Lagi lagi, Dhisti malah tertunduk malu akan perlakuan hangat itu. Semakin membuatnya resah demi mengingat siapa dirinya sebenarnya.
Al nampak senang dengan interaksi Mamanya. Suatu hal yang tentu saja membuat segala kekhawatirannya sirna bukan?
" Al sengaja bawa Dhisti kemari karena Puri yang minta. Gak tau ada apa dengan mereka berdua ini!"
Bohong Al kepada sang Mama dengan wajah jenaka.
Nyonya Hapsari yang belum mengetahui jika anak bungsunya tengah mengalami patah hati itu, tentu turut terkekeh saat mendengar kalimat Al.
" Yang bener? Baguslah. Puri ini soalnya hobi banget keluyuran. Kalau dia mau dirumah seperti ini kan Tante jadi tenang!"
" Nanti Al janji makan siang dirumah sekalian ngantar Dhisti pulang!"
" Begitu? Ya udah nanti Mama kasih tau Papa kalau kita makan sih bareng. Kamu antar Dhisti ya Al, Mama masih belum selesai ngerawat Papa tadi. Dhis, Tante tinggal dulu ya!"
__ADS_1
Al akhirnya membawa Dhisti naik ke atas. Sepanjang perjalanan naik tangga, laki-laki itu bahkan tak berhenti melirik Dhisti yang tampak terpukau dengan rumahnya yang besar. Untuk pertama kalinya, Dhisti terlihat lugu jika begitu.
Usai tiba di lantai dua, Aku mengetuk pintu kamar adiknya itu sembari memanggil nama Puri tiga kali.
CEKLEK!
" Dhisti?" seru Puri yang terlihat senang meski matanya benar- benar bengkak pagi ini. Entah sudah berapa lama gadis itu menangis. Membuat Al tampak tegang saat ini.
" Kakak kenapa masih disini, cepat pergi sana. Ayo Dhis masuk, kita ngobrol di dalam aja!" usir Puri yang tak berani menatap kakaknya. Membuat suasana canggung.
" Iya udah sana masuk! Kabari aku kalau ada apa-apa. Dhis, aku tinggal dulu ya?"
Dhisti mengangguk meyakinkan Al jika ia dan adiknya akan baik-baik saja. Alsaki senang melihat adiknya mau mengakrabi Dhisti. Rasanya begitu damai.
Mood Alsaki yang senang karena Dhisti disambut baik oleh keluarganya kini berangkat dengan wajah cerah. Ia yang melihat Ari mengelap mobil di depan garasi terlihat memiliki ide.
" Ar antar aku ya. Mama sama Puri kayaknya hari ini kosong gak kemana-mana. Nanti siang kita balik!"
" Kenapa tuan terlihat sesenang itu?"
Â
Dhisti tercenung usai mendengar cerita dari Puri yang begitu membuatnya prihatin. Bagai di ingatkan kembali dengan riwayatnya yang bersama Aris, ia pun seolah kembali merasakan kesedihan itu dengan teramat.
Ia terus menatap murung seraut pucat tanpa make up yang terlihat begitu kacau kala menceritakan yang dia alami itu. Dan tidak tahu kenapa juga, rasanya Puri tak takut membagi ceritanya kepada Dhisti.
" Aku sengaja gak mau cerita banyak ke kak Al karena dia itu gampang marah kalau nyangkut soal aku Dhis. Pasti panjang urusannya kalau masalah itu soal aku atau soal orang yang dia sayang Dhis. Aku...takut banget kalau Wisnu dihajar sama kak A!" tukas Puri murung manakala mencurahkan segala kesesakan dalam hatinya.
Dhisti menghela napas sembari mengusap lembut lengan putih gadis cerewet itu.
" Aku tau rasanya jadi kamu Pur. Pasti rasanya perih, nyesek, bahkan gak sanggup ngelewati hari ini!"
__ADS_1
Puri tertegun saat ia mendengar suara bernada serius itu. Terasa sangat damai.
" Tapi Pur, entah kamu percaya atau tidak. Kata orang, jodoh itu sebenarnya merupakan cerminan diri. Jadi, kalau kamu sampai batal nikah sama Wisnu, itu artinya dia memang gak pas buat kamu!"
Puri kembali menyeka air matanya yang tak mau berhenti merembes saat Dhisti menyebutkan naman Wisnu.
" Sekarang bayangin gini, seandainya kamu tahu bobroknya Wisnu pas kalian udah nikah, apalagi punya anak? Apa nggak malah buat Mama sama Papa kamu jadi ikutan marah? Jadi ikutan sedih?"
Pilu makin menyerang relung hati terdalam Puri. Apa yang ia impikan, kini tak lebih dari sekedar gunungan cinta yang perlahan runtuh.
" Aku salut sama kamu yang gak gembar-gembor kemana-mana sehabis mengetahui jika pacar kamu begitu. Kamu udah cukup dewasa dalam hal ini!"
Ia menghisap punggung Puri yang terus saja bergetar karena tangis. Membiarkan gadis itu menangis hingga lega.
" Padahal Pur, kalau aku lihat kalian di rumah sakit kapan hari itu, semuanya benar-benar perfect! Gak ada cela sedikitpun. Tapi ya itulah hidup. Sawangan sinawang. Apa yang terlihat, belum tentu itu yang sebenarnya!"
Puri langsung menengadah. Sejurus kemudian ia tampak tersenyum getir. Membenarkan ucapan Dhisti yang kesemuanya benar soal hubungannya.
" Tapi jujur aku masih sayang sama dia Dhis!" sahutnya dengan suara parau.
" Itu pasti. Siapa sih yang bisa ukur kedalaman hati manusia Pur. Aku juga pernah kayak kamu gini. Tapi siapa mereka kok berani-beraninya bikin kita sedih? Mereka gak berhak ngelakuin itu Pur!" tutur Dhisti meyakinkan Puri jika kita mereka juga berhak bahagia meski tanpa laki-laki itu.
" Kamu cantik dan pintar Pur, punya segalanya ketimbang aku, jadi jangan sampai hanya gara-gara satu manusia jahat seperti itu, seluruh keceriaan, seluruh hal baik yang selama ini kamu tebarkan malah jadi ikut sirna. Keadaan memang sedang sulit, tapi badai tidak pernah lama!"
Puri tampak berkaca-kaca demi mendengar Dhisti yang rupanya begitu bijak. Puri tidak tahu, bahwa saat Dhisti mengatakan semua hal itu, ia juga sedang mengultimatum dirinya untuk tetap sabar demi kilasan ingatannya soal hubungannya bersama Aris.
.
.
.
__ADS_1