Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 79. Kok cemburu?


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Nyonya Hapsari yang mendengar putrinya memekik, sontak menatap dengan wajah heran dan bingung.


" Kenapa Mama gak nyari pembantu lain aja sih?" ketus Puri menyalahkan sang Mama.


Ada apa ini? Bukankah Puri tidak pernah mau tau untuk urusan itu sebelumnya.


" Kamu ini kenapa Pur?" bertanya dengan nada kaget.


Bukannya menjawab, gadis itu malah langsung pergi menuju ke dalam rumahnya kembali. Sungguh aneh bukan?


Ari yang terlihat membantu Desi membawakan barang bawaan, kini perlahan mengajak gadis itu untuk menemui nyonya Hapsari.


" Selamat Pagi Bu, bagaimana kabar anda? Perkenalkan ini Desi. Dia yang siap untuk menggantikan tugas bik Inah. Des, kenalkan ini Bu Hapsari, beliau yang bakal memperkerjakan kamu!" seru Ari memperkenalkan dan sejurus kemudian memberikan kode bagi Desi untuk menyapa calon majikan.


Desi buru-buru menyalami tangan wanita itu dengan wajah sungkan.


" Perkenalkan Bu, saya Desi!" ucap Desi meraih tangan mulus calon majikannya.


Di sela perkenalan diri itu, Ari yang tadi sempat melihat Puri ada di sana, kini bertanya-tanya kenapa gadis itu cepat sekali hilang.


" Perasaan tadi nona Puri ada disini. Apa aku salah lihat?"


" Panggil saya Bu Hapsari saja ya, sama kayak Ari manggil saya gitu. Kamu istirahat dulu saja, Ar kamu tunjukkan kamar Desi kalau gitu ya. Kita bicara nanti, kalian pasti capek!"


Sungguh beruntung mereka yang memiliki majikan seperti Nyonya Hapsari. Tidak semua majikan mau memperlakukan pegawainya dengan tutur lembut seperti itu.


Namun ketika wanita itu hendak masuk kedalam menyusul si bungsu, Ari tampak mengatakan sesuatu yang membuatnya langkahnya terhenti.


" Emm Buk, ini ada titipan dari ibu saya!" kata Ari nyaris lupa.


Nyonya Hapsari seketika membalikkan badannya lagi saat Ari memanggilnya. Titipan?


" Apa ini Ar?" bertanya sewaktu menerima sebuah bungkusan yang sudah di tata rapih dan cantik.


" Ini bolu sama prol tape, sama ada dodol klasik. Buatan ibu saya sendiri. Maaf Buk, makanan kampung, tapi kalau tidak saya sampaikan..."


Namun Nyonya Hapsari keburu terpana dengan tampilan makanan otentik itu. Mendengar kata bolu tape membuat wanita itu lupa segalanya.


" Ya ampun Ar, kenapa Ibu kamu repot-repot?" meski tak enak hati, namun jauh dalam relung hatinya wanita merasa senang.


Sejujurnya, Nyonya Hapsari memang sangat suka dengan makanan bercita rasa klasik macam itu. Apalagi, makanan itu di olah sendiri, pasti citarasanya lebih lezat daripada yang dia beli.

__ADS_1


" Semoga Ibu suka. Maaf Bu, hanya ini yang bisa ibu saya berikan!" Ari berkata sedikit malu.


" Ini makanan kesukaan saya dan suami saya. Makasih ya, sampaikan ke Ibu kamu!" balas nyonya Hapsari jujur.


" Ya sudah, kamu bawa Desi masuk kalau gitu!"


Ari mengangguk lalu mengajak Desi pergi menuju ke kamar yang bakal di tempati oleh gadis itu. Namun saat melintas, Ari sempat melihat Puri yang wajahnya masih saja kesal.


" Kenapa masih saja begitu wajah nona Puri?"


...----------------...


Sore harinya, Alsaki yang duduk bersama Puri memanggil Ari yang kebetulan melintas di depan mereka.


" Ar, udah datang kamu?" sapa Alsaki yang merasa kebetulan sekali.


Yang di panggil langsung mengangguk sembari tersenyum. Namun satu hal yang membuat fokusnya teralihkan, yakni sikap Puri yang acuh.


" Sudah tuan. Tadi pagi kami sampai!" membalas dengan balasan yang selalu santun.


" Kami?" batin Alsaki. Bukannya Puri sudah balik dulu?


Alsaki mengangguk menepikan sedikit tanda tanya itu, " Kamu lagi sibuk nggak, saya ada perlu sama kamu?"


"Perlu, ada perlu apa? Tumben tuan Alsaki berkata serius."


" Tidak tuan, saya sedang tidak sibuk!"


" Kalau begitu kemarilah sebentar!"menunjuk sofa kosong di depan Puri, sebab ingin mengajak Ari ngobrol.


Ari langsung melangkah dengan tatapan yang masih tak lepas kepada Puri yang sibuk dengan ponsel juga bolpoin nya. Hadis itu terlihat kembali dingin seperti zaman dulu dia baru masuk.


" Jadi begini!" Alsaki terlihat memulai pembicaraannya dan membuat Ari kembali fokus, " Saya akan segera menikah bersama Dhisti kamu tahu kan?"


Laki-laki itu mengangguk meski sebenarnya ia tidak terlalu paham.


" Saya memasrahkan Puri untuk mengurusi semuanya. Saya minta tolong kamu bantu Puri ya, bantu apa aja. Intinya kamu sama dia saya tugaskan untuk mengurusi acara ini biar bisa lancar!"


Namun yang di bicarakan sama sekali tak menggubris. Membuat Ari kikuk.


" Dan satu lagi, kamu jangan fokus jadi supir Mama dulu selama aku tugaskan buat hal ini, Mama udah oke. Kamu fokus bantuin Puri ya. Nanti ada bonus buat kamu. Jaga adik saya selama saya kurang bisa memonitor dia, kamu paham maksud saya kan?"


Ari seketika mengangguk paham. Ia turut merasa lega pasalnya Alsaki jadi menikah juga dengan Dhisti. Gadis yang sejauh pandangan serta penilaiannya, merupakan orang baik.

__ADS_1


" Apa ada lagi tuan?"


" Tidak itu saja!" balas Alsaki tersenyum.


Saat hendak pergi sebab ada sesuatu yang hendak ia urus, Puri baru bersuara dan sukses membuat semua orang saling menatap.


" Kakak yakin nyuruh dia buat bantuin aku? Pacarnya juga kerja disini loh sekarang? Apa nggak rewel pacarnya nanti?" sindir Puri dengan pandangan yang masih tenggelam pada ponselnya.


Membuat Alsaki mengernyit.


" Pacar?" kata sang kakak tak mengerti.


" Oh, jadi nona Puri masih kesak kepadaku gara-gara Desi? Astaga, kenapa bisa jadi begini sih?" resah Ari yang akhirnya tahu. Wanita itu sungguh mahkluk kontradiktif ya?


" Desi bukan pacar saya nona!"


" Terus apa?" sergah Puri yang terlihat kesal, marah dan tak suka dan seketika membuat suasana bagai di dalam medan pertempuran.


Alsaki langsung melirik Ari dan adiknya yang terlihat kesak itu secara bergantian.


"Sebenernya ada apa dengan mereka?" membatin aneh dengan isi kepala tak habis pikir.


" Sudah-sudah, kenapa kalian malah berdebat?" Alsaki tentu langsung menengahi ketidakjelasan itu.


Namun baru saja situasi panas mereda, sumber malapetaka itu malah kini hadir di tengah-tengah mereka.


" Selamat sore tuan!" sapa Desi.


Ya, Desi berada di sana karena memang diminta oleh Ari untuk menyapa anak sulung Nyonya Hapsari, jika tugasnya di belakang sudah selesai.


Membuat Puri langsung membuang mukanya.


" Tuan, perkenalkan ini Desi. Desi ini teman saya di kampung. Kebetulan Ibu membutuhkan tenaga kerja beberapa hari lalu. Desi ini kebetulan juga baru kena PHK, jadi saya rekomendasikan." berkata sambil melirik Puri yang mencelos.


" Hi Desi, saya Alsaki. Semoga kamu betah ya!"


Puri langsung melirik kakaknya kesal. Kenapa dirumah ini semua orang berlaku ramah kepada rivalnya itu? Ia mendecih kesal.


" Terima kasih banyak tuan!" Desi mengangguk sopan terhadap Alsaki.


Detik itu juga, Puri langsung ngeloyor dengan hati kesal dan sukses membuat Alsaki bertanya-tanya.


" Ada yang nggak beres. Kenapa lagi dia?"

__ADS_1


__ADS_2