Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 8. Kunjungan Luna


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Al menatap lembayung senja di ufuk barat dari balkon ruang kerjanya, yang sorotnya hangat menentramkan hati. Sejenak mengistirahatkan otak dari kesibukan yang hari ini benar-benar menguras tenaga juga pikirannya.


" Sebaiknya kamu pikirkan usul Papamu. Jika keluarga kita dan keluarga Wijaya bersatu, perusahaan kita akan semakin berkembang dan maju nak!"


Mendadak risau demi teringat akan ucapan sang Mama selepas sarapan pagi tadi. Ia tahu, anak perempuan Hendra Wijaya merupakan wanita cantik dan merupakan rising star di bidang usahanya. Namun hingga kini, ia sama sekali tak menemukan getaran saat bersama wanita itu.


Hingga, saat ia sibuk menyeruput secangkir kopi di tangan kanannya, bayangan wajah Dhisti yang menggerogoti kepala lele mendadak muncul di pikirannya.


Oh sial!


Membuat Al seketika membasuh wajahnya karena bisa-bisa nya saat ia sedang serius dengan pikirannya, bayangan wanita itu malah datang merusuhi.


TOK TOK TOK


Pintu terketuk dari luar.


" Al, ini Mama!"


Membuat Al meletakkan kembali cangkir yang telah ia seruput separuh isinya.


" Masuk Ma!"


CEKLEK


" Belum selesai?" Tatap Nyonya Hapsari sembari memindai ruangan kerja putranya. " Ada Luna di bawah, kamu temuin gih, Mama gak enak sama dia. Masa' tiap kesini kamu tolak terus!" " Seru Mama dengan suara lembut khas keibuan.


Al menghela napas panjang" Al mandi dulu ya, gerah!"


Nyonya Hapsari mengangguk tanda mengiyakan ucapan putranya, wanita itu sejurus kemudian kembali turun guna menemui Luna yang ada di bawah seorang diri.


" Kamu tunggu sebentar ya, lagi mandi. Maklum, Al itu workaholic banget!"


" Iya Tante. Oh iya ini buat Tante. Ini rasa cake terbaru. Semoga Tante suka!"


Luna menyerahkan satu paper bag berisi empat box cake produksi perusahaannya. Sebuah cake sultan yang namanya telah membahana ke pelosok negeri.


" Ya ampun Lun ini favorit Tante. Tengkyu ya!"


" Sama-sama Tante!"


Luna yang cantik turut tersenyum ke arah Nyonya Hapsari dengan wajah anggun. Wanita yang jelas memiliki intelektual yang tak di ragukan lagi itu, memang menyukai Al sejak lama.


" Oh ya Tante, apa Al punya pacar? Maksud saya teman dekat? Soalnya saya tiap kirim pesan ke dia, jarang banget di respon!"


Nyonya Hapsari tersenyum demi mendengar kekhawatiran Luna yang menurutnya lucu.


" Maaf ya kalau Al jarang membalas. Tapi setahu Tante, dia tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun!"

__ADS_1


Luna terlihat berlega hati akan jawaban wanita cantik nan bersahaja di depannya itu.


" Kalau masalah balas membalas, Puri juga sering ngamuk karena jarang di balas sama kakaknya itu. Maklum...Al kalau udah kerja, fokusnya cuma di pekerjaan. Tante juga sering nelponin si Dante kalau ada urgent!"


Hati Luna semakin tenang manakala mendengar penjelasan dari wanita dengan sifat keibuan yang kentara itu. Menandakan jika posisinya masih aman.


Beberapa saat kemudian, usai mengisi waktu tunggu dengan mengobrol sana sini, Al yang di petang jelang malam itu telah mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, tampak turun dan semakin membuat Luna terpukau.


He's so handsome!


" Tuh dia. Al!"


Nyonya Hapsari memanggil anaknya yang baru turun dari tangga. Wajah pria itu biasa saja cenderung datar. Tak menunjukkan reaksi suka ataupun tidak suka. Semua serba abu-abu.


" Karena Al udah datang, kalian lanjut ngobrol dulu ya, Tante mau nengok papanya Al dulu!"


Luna mengangguk dengan sopan kala Nyonya Hapsari pamit undur diri. Kini, Al yang duduk di sofa depan Luna, tampak membuat hati wanita itu senang.


" Apa kabar Al, kamu... kayaknya sibuk banget akhir - akhir ini sampai gak ada waktu buat aku!" Tanya Luna yang mendominasi suasana.


" Aku baik. Kamu gimana?"


Luna terdiam sejenak meski Al tampak tak mau membahas perihal balas membalas pesan itu. Namun yang pasti, ia senang karena menurut Luna, Al kali ini lebih hangat kepadanya.


" Aku juga baik. Al.."


" Kamu masih sibuk ngga? Gimana kalau kita makan malam diluar?"


Al mendecah dalam hatinya. Ia bukan malas kepada Luna, tapi ia malas jika harus di gerumbuli oleh para wanita jika ia harus pergi keluar.


" Apa kau ingat Idho? Teman SMA kita. Dia beberapa bulan ini buka cafe besar. Kita bisa kesana sekarang!"


Al yang mendengar Luna menyebut nama salah satu teman sekolahnya kini menjadi sedikit tertarik.


" Idho yang sempat DO?"


Luna mengangguk dengan antusias.


" Apa kau yakin?"


Luna mengangguk kembali, " Dia pasti akan sangat senang kalau kau datang kesana. Dia sudah banyak berubah!"


Usai mempertimbangkan matang-matang tawaran Luna, ia yang mendengar jika temannya si mantan berandal kelas tengah membuka usaha kini tertarik untuk kesana.


Di perjalanan, Luna tampak tak berhenti tersenyum dengan hati yang begitu bahagia. Walau jarang, tapi ia masih bisa jalan bareng bersama laki-laki tampan itu.


Berharap ia bisa menikah dengan Al.


Seperti biasa, Al selalu berkamuflase dengan menggunakannya topi jika ia berada di luar. Hal itu ia lakukan agar membuat tampilannya tidak terlalu mencolok.

__ADS_1


Saat ia masuk ke sebuah tempat berlantai dua yang besar dengan cat monokrom yang futuristik itu, ia tersenyum saat melihat teman sekolahnya dulu tampak terbengong-bengong demi melihat ia dan Luna datang ke cafenya.


" What's app Mr. Brandal's? Remember me?" Cetusnya dengan wajah yang sebenarnya terharu. Sama sekali tak mengira jika pria yang dulunya menyandang sebutan MADESU ( Masa Depan Suram) itu, kini terlihat lebih baik dengan sebuah cafe yang begitu ramai.


Idho yang masih tak percaya dengan sosok yang kini berdiri didalam cafenya, tampak berjalan ragu ke arah Al dan Luna yang berdiri seraya tersenyum.


" Al, kaukah itu?"


Idho yang hatinya merasa terharu seketika ber-high five lalu memeluk Al melepaskan kerinduan.


Sudah bertahun-tahun mereka tak bertemu. Sejak Idho yang drop out karena ia yang miskin saat itu, terpaksa mau menjadi kurir barang terlarang dalam skala besar, demi membantu ekonomi keluarganya.


Alih-alih mendapatkan kesenangan, ia yang naas malah merasakan dinginnya hotel prodeo saat masih muda. Dari kejadian itulah, Al dan Idho tidak lagi lagi menahu satu sama lain.


" Aku tidak percaya jika kau masih ingat kepadaku Al!"


Idho tampak senang dengan kehadiran Al. Pria yang dulu menjadi satu-satunya penolong kala dia di bully itu, selalu mampu membuatnya tenang.


" Aku yang memberitahu tadi..." Seru Luna turut senang.


" Astaga Lun kau juga apa kabar. Kau makin cantik saja! Oh my Gosh, aku benar-benar tidak menyangka kalian akan kesini. Ayo-ayo kita duduk dulu, Dev tolong bawakan minum!"


Luna sangat senang demi mendengar Idho yang memujinya. Wanita itu tampak melirik ekspresi Al namun membuatnya kecewa. Al tampak tidak menimpali celetukan Idho soal dirinya yang cantik.


" Ngomong-ngomong, kemana kau setelah di penjara? Aku sangat penasaran dengan kisah hidupmu!" Tanya Al seraya menarik sebuah kursi di samping Luna.


Idho terkekeh demi melihat Al yang sangat antusias kepadanya. Jelas itu harus terjadi. Bagiamanapun juga, mereka yang memiliki kasta yang berbeda di masa lalu itu, memang pernah berkumpul bersama di sekolah.


Idho yang sangat juga pandai bermain basket saat SMA, akhirnya menjadi teman Al yang juga sama lihainya di cabang olah raga itu.


" Tenang-tenang, kita harus bernostalgia setelah ini. Sebentar, itu minuman mu sudah datang!"


Al mengangguk dengan memperhatikan Idho yang memang telah berubah dari segi penampilan, ia bahkan masih saja menatap teman lamanya itu dengan wajah takjub, saat seorang pelayan yang membawa tiga gelas berisikan minuman untuk tamu bos mereka itu telah datang.


Hingga, sebuah suara yang cukup familiar, membuat waktu yang ada serasa berhenti untuk sejenak.


" Silahkan Pak!"


DEG


Mata Al membulat sempurna sesaat setelah ia melihat ke arah pelayan, yang kini tengah sibuk menyajikan minuman ke mejanya.


" Astaga, kenapa ada wanita ini disini?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2