
...🌻🌻🌻...
Puri yang mendengar jeritan sang kakak, langsung menoleh tegang. Membuat sang Mama turut membidik anaknya dengan sorot heran.
" Ada apa itu Pur? Kenapa kakakmu berteriak?"
Puri spontan mengendikkan bahunya. Tentu saja ia juga tidak tahu menahu soal itu. Bukankah ia masih ada disana menghirup udara yang sama bersama mamanya?
Oh, common mom!
Hingga, muncullah sosok jangkung berwajah keruh yang kini tampak membawa dua tentengan yang di kenali Puri, dan jelaslah duduk persoalan.
"Oh tidak, aku lupa jika aku..."
" Apa-apaan ini?"
Terlambat. Al sudah terlihat kesal sebelum Puri menyelesaikan ucapannya. Pria itu menatap adiknya seolah meminta jawaban menuntut.
" CK, kakak jangan marah dulu!" Puri kini berdiri mengambil alih situasi.
" Buang ini!"
" Tidak mau!"
Papa dan Mama kedua manusia beda umur dan jenis kelamin itu sampai saling menatap. Menyaksikan kakak beradik yang kini saling berperang.
" Kemarikan!"
GREK!
Puri merampas dua kantong berisikan barang-barang yang menurut Al sungguh aneh dan kurang jelas itu, lalu menepikannya ke samping sofa.
" Kau ini aneh aneh saja. Untuk apa tis..."
" Eiitttss!"
Meletakkan jari telunjuk ke depan bibir sang kakak yang berang. Membuat mata laki-laki itu membulat.
" Apa Mama dan Papa tahu, aku tadi bertemu wanita manis yang unik!"
Puri menarik jemarinya lalu memulai membeberkan perkara.
" Aku di tolong sama wanita itu saat aksi jambret tadi. Sialnya kau tidak tau namanya. Bukannya Nerima duit yang aku kasih, wanita itu malah minta aku ngebeli dagangan kakek-kakek sama penjual tisue. Ya udah aku borong aja semua. Itung itung buang sial. Tapi yang aku heran, kok ada ya Ma orang sebaik itu. Kalau aku pikir-pikir, aku ini seperti melakukan kata pepatah saja. Sekali tepuk, dua pulau terlampaui. Dia nolong aku, dan secara tidak langsung, sekaligus nolong orang yang sedari tadi dagangannya gak laku-laku itu."
" Apa?"
...----------------...
" Lu beresin toilet sebelah ya. Aku agak pusing Dhis!"
__ADS_1
Seorang rekan yang usianya lebih banyak darinya tampak kurang sehat. Dhisti yang di jam malam itu masih berada di mall untuk merampungkan sift-nya, terlihat menatap murung rekannya.
" Badanmu panas mbak. Kenapa nekat masuk sih kalau sakit?" Tanya Dhisti semakin murung menatap rekannya yang selalu membagi bekal sarapan untuk dirinya itu.
Wanita itu terbatuk beberapa kali, terlihat lemah dan tak berbohong. " Aku udah izin beberapa kali Dhis tempo hari. Aku bisa di pecat kalau aku..."
" Mbak, mbak Nita itu bener-bener sakit lho. Apa mereka mau tanggung jawab kalau ada apa-apa sama mbak Nita? Pulang aja mbak, nanti biar aku kasih tahu ke mas Ramdan!"
Nita menggeleng. Tentu saja ia tak berani. Ia sudah terlalu sering izin, ia tak mau sampai hal ini menjadi pertimbangan untuk dirinya dikeluarkan.
" Mbak dengerin aku!" Duduk tepat di samping bangku yang di gunakan Nita untuk menyandarkan kepalanya. " Kalau kita sakit bahkan sampai mati, paling-paling perusahaan cuman ngasih uang belasungkawa terus mereka dengan mudahnya cari pengganti kita!"
Membuat Nita membelalakkan mata.
" Aku gak nakut-nakutin. Maksud aku, jangan terlalu membela perusahaan. Pulang mbak, nanti aku yang izinkan. Mbak itu perlu istirahat. Minum obat terus tidur!"
" Tapi Dhis, aku takut kalau..."
" Dipecat?"
Nita mengangguk ragu sembari menatap Dhisti. Membuat Dhisti membasuh wajahnya kasar.
"Hanya perusahaan gendeng yang bakal mecat karyawannya yang izin sakit. Udah mbak, nanti aku yang bakal ngomong ke mas Ramdan!"
Dhisti tahu jika janda beranak satu itu kelelahan sebab waktunya habis untuk membanting tulang. Ia tahu jika sehabis bekerja di mall, wanita itu menjadi buruh cuci piring di warung makan lesehan.
" Udah, nanti aku yang bilang!"
Nita yang semula ragu akhirnya pulang. Tubuhnya memang benar-benar sakit sekali. Entah kapan terakhir kali ia berobat. Selama ini, ia memang sangat pelit kepada dirinya sendiri sebab ia tengah berjuang menafkahi anak semata wayangnya yang masih bersekolah.
Kini, Dhisti yang melihat Nita telah pergi, kembali mengerjakan tugasnya. Mengepel, membersihkan lantai-lantai itu hingga mengkilat bersama beberapa pegawai lain.
Tanpa lelah, tanpa menyerah, ia terus bekerja keras.
Ia kini juga terlihat mengerjakan tugas yang seharusnya di kerjakan oleh Nita. Berkali-kali mengelap keringat yang semakin bercucuran dari kulit keningnya.
Hingga, Ramdan sang supervisi yang bertugas memeriksa pekerjaan para anak buahnya, terkaget saat melihat Dhisti yang mengerjakan pekerjaan yang bukan job desk nya.
" Loh, kemana Nita? Kok kamu?"
Tanya laki-laki bujang yang bahkan usianya sangat pantas untuk memiliki seorang cucu.
" Tadi dia sakit. Saya baru mau mengizinkan mbak Nita ke bapak!" Ucap Dhisti menatap pria itu dengan terpaksa.
" Ke ruangan kamu sekarang!"
Dhisti terlolong tak percaya. Untuk apa dia diminta ke ruangan pria menyebalkan itu. Membuatnya berpikiran aneh-aneh.
Di dalam ruangan.
__ADS_1
" Jadi kamu yang memberi izin? Sok bertindak jadi supervisi kamu ?" Ucap Ramdan bersedekap dengan tatapan penuh arti.
" Saya tidak bertindak seperti itu Pak. Tapi mbak Nita emang benar-benar sakit!"
" Banyak omong kamu!"
Dhisti yang di tatap aneh oleh pria itu merasa risih. Dari pancaran sorot matanya, pria itu menatapnya dengan penuh selera.
Brengsek!
" Saya bisa maafkan kesalahan kamu saat ini, kalau kamu...."
Dhisti spontan menarik tangannya cepat sembari mendelik, manakala tangan kurang ajar Ramdan merambat ke lengan.
" Bapak jangan kurang ajar!"
Dhisti yang berada di ruangan itu berdua dengan Ramdan tentu harap-harap cemas. Ia tahu track record pria itu seperti apa. Sudah rahasia umum jika pria itu merupakan pria yang doyan wadonan.
" Alah, gak usah sok jual mahal kamu Dhis. Saya bisa bikin kamu naik jabatan dengan mudah kalau kamu mau. Wanita secantik kamu kenapa mau jadi tukang Pel?"
Merasa dirinya dalam bahaya, Dhisti seketika beringsut mundur dengan wajah jijik. Berupaya menyelamatkan diri.
" Sini kamu!"
" Lepas, jangan kurang ajar anda Pak!"
Meronta-ronta, memberontak ingin melepaskan diri dari jeratan pria yang mulai menciumi lehernya.
Membuat tampilan Dhisti acak-acakan.
TOK TOK TOK
Ketukan di pintu membuat secercah kelegaan timbul dalam hati Dhisti.
" Brengsek, ganggu aja. Awas kamu ya!"
Ancam pria itu menunjuk Dhisti yang ketakutan dengan rambut yang berantakan. Pria itu akhirnya berjalan ke arah pintu dengan dada kesal sebab aksinya terinterupsi.
Hingga, saat pintu itu telah terbuka. Terkejutlah dua manusia yang bernama laki-laki itu.
Ramdan yang terkejut demi melihat Alsaki, dan Alsaki yang terkejut demi melihat Dhisti yang keadaannya kacau.
" Apa yang kau lakukan?"
.
.
.
__ADS_1