
...🌻🌻🌻...
Di dalam jeruji besi yang dingin dan sunyi, Dhisti termenung memikirkan dirinya saat ini. Jika sudah begini, ia tak akan fight lagi. Untuk apa dia berupaya memecah persoalan jika satu-satunya alasan dirinya bertahan telah pergi untuk selamanya.
Persoalan yang menyerang seolah tak kenal kasihan, terus, dan bertubi-tubi silih berganti. Ia menghela napas panjang guna meredam segala bentuk kesesakan yang bersarang dalam relung hatinya.
Ia bahkan tak menyentuh sama sekali makanan yang diberikan oleh petugas sebab selera makannya telah menguap entah kemana.
Bayangan Aris yang meninggalkan dirinya, kemudian Alsaki yang memutuskan hubungan meski ia sendiri tak bisa menamai hal itu sebagai sebuah hubungan manis, namun semua yang diberikan oleh Alsaki benar-benar membuat dirinya jatuh untuk kedua kalinya.
Ia terluka, terlunta tanpa sarana.
Kini, dalam kegelapan yang ada, Dhisti mencoba memejamkan matanya dan berharap ia tak akan membuka matanya kembali.
Kenapa kau tidak memanggilku juga ya Tuhan?
...----------------...
BRAK!
Nyonya Hapsari serta Puri yang malam itu masih menonton tayangan berita bersama di ruang keluarga mereka, terkejut demi mendengar suara pintu yang di jeblak keras oleh Alsaki.
" Al, ada apa? Kenapa kam.."
" Papa mana?" memotong ucapan sang Mama dengan pertanyaan penuh emosi.
Nyonya Hapsari menatap bingung kepada anaknya yang terlihat kalap. Anak sulungnya itu terlihat begitu marah dengan sikap yang tak seperti biasanya.
" Al, kamu ini kenapa? Datang-datang langsung marah-marah!" seru Mama berdiri menyongsong sang anak.
" Ada apa ini?"
Yang di tanya tiba-tiba muncul dari arah belakang. Tampak belum menyadari kemarahan seorang Alsaki.
" Jadi itu alasan Papa menolak Dhisti? Karena papa pernah mau memakai jasa Dhisti demi naf su bejat papa, iya?"
DEG!
Nyonya Hapsari membelalakkan matanya manakala melihat Alsaki yang menghardik sang Papa dengan luapan emosi yang meledak-ledak.
" Alsaki, ngomong apa kamu!" timpal sang Mama yang menengahi posisi anak dan Papanya.
" Sudah berapa lama?" tanya Alsaki lagi menatap tajam sang Papa dan menepikan keberadaan Nyonya Hapsari.
" Apa yang kamu bicarakan Al?" jawab sang Papa yang mendadak pias juga bingung.
" Sudah berapa lama Papa main wanita di belakang Mama, hah?"
Puri yang semula hanya duduk karena syok, kini turut berdiri saat melihat kakaknya mencengkeram kerah baju sang papa, membuat suasana berubah menjadi tegang dan begitu mencekam.
Ari yang tak sengaja lewat di sana, bahkan langsung menghentikan langkahnya dan tanpa sadar menyaksikan pertengkaran keluarga majikannya.
" Alsaki, apa-apaan kamu? Cepat turunkan tanganmu, apa yang kau lakukan!" mama terlihat gencar melerai anaknya yang semakin muntab.
Kini, tuan Hendra mulai bisa membaca situasi yang memicu kemarahan sang anak. Jelas Alsaki sudah tahu jika dia dulu merupakan penjaja wanita.
" Inka udah cerita sejujurnya sama Al Ma. Al bodoh karena tidak mencari tahu dulu alasan Dhisti menjadi seorang pencopet. Mama tahu, Dhisti melakukan itu karena sebuah keterpaksaan Ma. Dia bahkan nyaris menjual keperawanannya kepada seseorang. Dan mama tahu orang itu siapa?" tampak mengatur napas yang mulai ngos-ngosan. Alsaki benar-benar sangat kecewa dan marah kepada sang Papa.
"Orang itu adalah Papa!"
DUAR!
Bagai tersambar guntur yang menggelegar, tubuh Nyonya Hapsari seketika mematung dengan mata yang langsung membulat sempurna, manakala mendengar penuturan dari putranya yang tampak menggebu-gebu.
__ADS_1
" Dengar Ma, ini semua salah paham. Papa bisa jelaskan!" jawab tuan Hendra yang mulai resah. Pria itu gelisah sebab kaget dengan ucapan putranya yang seolah menelanjanginya detik itu juga.
Nyonya Hapsari yang tak kuasa menahan air matanya saat melihat wajah pucat suaminya, kini berlari masuk kedalam. Ia sangat kecewa.
" Ma, tunggu ma!" tutur tuan Hendra gelisah yang kini mengejar sang istri. Mengabaikan kedua anaknya yang kini menatapnya penuh rasa kecewa.
Alsaki seketika melempar punggungnya ke sandaran sofa dengan rasa kepala yang mau pecah. Ya, pasca Inka menjelaskan semua yang terjadi, ia benar-benar seolah terlempar pada jurang penyesalan yang begitu dalam.
" Apa yang kakak bicarakan? Inka? Siapa Inka? " Puri kembali mengklarifikasi berita itu kepada kakaknya dengan muka bermuram durja.
"Inka adalah sahabat Dhisti Pur. Astaga, aku benar-benar telah menyakiti hati Dhisti. Dia pasti sangat membenciku saat ini!" ucapnya muram dengan hati yang benar-benar tak tenang.
Puri yang melihat kakaknya begitu terpukul, kini nampak larut dalam kesedihan. Gadis itu tampak memeluk kakaknya demi keadaan yang mendadak kacau.
" Kita harus minta maaf kak. Aku ikut!"
Di dalam kamar, Nyonya Hapsari yang benar-benar sedih dengan kesaksian Al kini merasa begitu kecewa dengan suaminya.
" Ma, maafin papa ma, papa khilaf dan itu terjadi sudah sangat lama, tolong percaya sama pa.." seru tuan Hendra masih berusaha menjelaskan kepada istrinya.
" Sudah lama? Berarti sekian tahun kamu telah membohongi mama pa! Apa papa sadar papa itu telah bawa penyakit kesini!" sahut Nyonya Hapsari begitu kecewa.
" Oh, jangan-jangan mutasi rekening beberapa tahun yang lalu yang sangat besar papa gunakan untuk kepentingan papa, iya?" tuding Nyonya Hapsari dengan tatapan penuh selidik.
Membuat Tuan Hendra seketika panik bukan kepalang.
" Ma, biar papa jelaskan dulu, tolong mama deng..."
" Perselingkuhan adalah kejahatan yang dilakukan dengan keadaan sadar. Mama sekarang paham kenapa papa di ganjar sakit seperti sekarang ini! Mama benar-benar kecewa sama Papa!"
" Ma, maafin papa ma, tolong maafkan papa!" tuan Hendra memohon di depan Nyonya Hapsari dengan rasa takut yang luar biasa. Bagaimana tidak takut, seluruh kekayaan yang dimiliki adalah sejatinya dari garis keturunan Nyonya Hapsari. Membuat tuan Hendra menjadi ketar-ketir.
...----------------...
Tepat pukul tiga dini hari, Dhisti yang mengerjap karena hawa yang mendadak begitu gerah terlihat terbatuk - batuk. Ia lantas bangun karena mendadak hidungnya menyerap asap yang begitu pekat. Membuat suasana menjadi tidak nyaman.
Oh ya ampun!
Membuatnya sontak berdiri dan menggoyangkan jeruji besi itu namun sia-sia. Pintu masih terkunci.
Dalam waktu sepersekian detik, ia juga mendengar jeritan dari gedung sebelah. Dalam penerangan yang begitu minim pula, ia kini semakin panik kala melihat banyak sekali orang yang berteriak-teriak minta tolong.
" Astaga, yang ini belum terbuka. Cepat buka pintunya!"
Ia semakin panik saat mendengar suara seseorang, yang sepertinya melakukan sweeping untuk penyelamatan semua manusia yang masih ada di dalam kantor polisi itu. Entah petugas atau sesama narapidana, ia tak bisa memastikan hal itu.
" Uhuk- uhuk!" napasnya mulai tersengal, tenggorokannya bagai di cekik, penglihatannya juga terhalang oleh kabut tebal yang membuat matanya semakin perih.
" Cepat buka pintu itu!"
Ia bisa mendengar suara seseorang yang bertitah untuk membuka selnya. Di sebelah kiri, si jago merah sudah tampak menjilati dinding yang beberapa bagiannya terdapat kayu sebagai aksen. Membuat situasi benar-benar tak terkendali.
Namun, tiba-tiba.
BRAK!
" Awas!"
Dhisti mendelik dan langsung berjingkat kala sebuah balok kayu yang sepertinya merupakan usuk dari bangunan itu, jatuh tepat di hadapannya dengan kobaran api yang menempel di seluruh bagiannya. Nyaris saja menimpa tubuhnya yang sudah bersimbah keringat.
Membuat jalurnya spontan terisolir.
" Astaga, bagaimana ini, damkar juga belum datang!" ucap seseorang terlihat panik saat melihat pintu sel Dhisti yang sudah pasti akan sulit di terobos.
__ADS_1
Dhisti yakin, jika orang itu hendak mengevakuasi dirinya, namun besarnya angin malam itu, semakin membuat api cepat merembet kebangunan yang lain.
Kebakaran yang terjadi secara mendadak di jam tidur itu, membuat petugas yang piket berjaga kalang kabut.
Dhisti menatap nanar api yang menari-nari di hadapannya. Semua terasa semakin sulit saat mobil damkar belum juga datang.
Ia kini tersenyum getir, mungkinkah harapannya untuk tak bangun lagi akan terwujud dalam hal lain?
Mata gadis itu langsung mengkristal sebab air mata yang sedari tadi ia tahan, kini menggenang di pelupuk matanya. Ia pasrah saat melihat satu persatu usuk itu kembali jatuh dan semakin memutus akses yang ada.
Ia semakin tak bisa bernapas. Matanya benar-benar perih. Ia juga perlahan- lahan mulai kehilangan keseimbangannya karena oksigen yang benar-benar minim.
" Kakek, apakah kita akan bertemu setelah ini?" batinya yang kini tersenyum kecut.
Namun, saat ia telah bersimpuh dengan hati yang benar-benar pasrah, suara teriakan dari luar jeruji membuat dia menengadah.
" Jangan masuk, bahaya!"
Sayup-sayup ia mendengar suara teriakan pria yang melarang seseorang yang cukup tinggi nekat. Entah siapa orang yang cukup bandel itu. Dhisti tak bisa melihatnya dengan saksama.
" Dhisti, bertahanlah!"
Mungkin penglihatannya sudah menjadi samar-samar, namun telinganya masih bisa mendengar dengan jelas suara seseorang. Alsaki? Apakah dia sedang berhalusinasi?
" Tuan jangan masuk, itu bahaya!"
Alsaki yang tak sanggup lagi melihat keadaan Dhisti, kini tampak menerobos masuk sesaat setelah ia menendang kayu besar itu. Pria itu nampak nekat dan mengabaikan keselamatannya.
" Hey, jangan nekat. Bahaya! Astaga orang ini!"
Dalam situasi yang benar-benar berbahaya, Alsaki memetakan keadaan dan melihat sebuah celah untuk menyingkirkan balok-balok berapi itu. Menepikan larangan orang-orang yang hanya berdiri dengan wajah bingung.
BRUAK!
Dengan kakinya yang kokoh, Alsaki tampak menendang benda itu dan membuat jalannya sedikit terbuka.
" Arrgh!"
Al meringis saat lengannya terkena bara api yang mencumbu kulitnya.
" Uhuk-uhuk!"
Melihat Dhisti yang semakin terbatuk- batuk, membuat emosinya benar-benar membara.
" Mana kuncinya! Cepat kemarikan!" seru Alsaki kepada petugas yang kini terlolong karena melihatnya tampak badas.
" Brengsek kau, kemarikan kuncinya, apa kau mau dia mati?"
Petugas itu sontak seketika terkesiap dan langsung melempar kunci itu tepat ke tangan Al usai di hardik oleh Alsaki.
Kini, dengan kondisi yang semakin lemah, Dhisti bisa melihat wajah tegang Alsaki yang membuka gembok besar itu dengan penuh ketergesaan.
" Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi padamu!" Al terus saja bergumam selama ia masih membuka kunci sialan itu.
Dan beberapa saat kemudian.
KLIK!
Gembok berhasil terbuka dan membuat Alsaki langsung masuk dan menyongsong suara tubuh Dhisti yang mulai kehilangan kesadarannya.
" Dhisti, kau masih bisa mendengarku? Dhisti!" Alsaki dengan wajah paniknya terus menepuk wajah Dhisti, berharap gadis itu masih bisa mendengar suaranya.
"
__ADS_1
.
.