Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 39. Karena aku menyukaimu


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Nyonya Hapsari menyeret anak sulungnya keluar saat Puri di dalam nampak asik mengobrol dengan dhisti. Membuatnya memanfaatkan kesempatan yang ada, untuk menggali informasi yang sudah sangat membuatnya penasaran.


" Jadi kamu kenal sama yang nolongin Puri. Kenapa kamu kemarin diam saja waktu Puri ngasih lihat foto itu?" tuding Nyonya Hapsari saat mereka berdua telah berada di tempat yang aman.


Meninggalkan Wisnu dan Dante yang terlibat obrolan serius seputar pekerjaan.


Al menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena pada akhirnya Mamanya tahu juga.


" Maaf Ma. Waktu itu...Al belum yakin soal..."


" Soal apa?" potong sang Mama cepat. Menatap anaknya yang tampak tertegun sedih.


" Ma, kayaknya Al suka deh sama Dhisti!"


"Apa?" Mata Mama melebar karena terkejut.


" Kalian memangnya kenal udah lama?" kejar Mama dengan wajah kepo.


" Ya, belum lama sih. Baru sebulanan ini lah kurang lebih!"


Al akhirnya mengungkapkan apa yang dia rasa kepada mamanya. Tentang pertemuan awalnya bersama Dhisti, tentang semua yang berkaitan dengan Dhisti juga perasaannya.


Terembus satu gelagat yang tak bisa Alsaki sembunyikan, yakni perasaan jatuh cinta pada pandangan pertama.


" Kamu memangnya sudah tahu keluarganya? Sudah tahu latar belakangnya? Maksud mama gini lho Al, Mama enggak ada masalah dengan keadaan sosial wanita yang kamu suka. Yang terpenting, bukan dari golongan kriminal atau orang yang punya track record jelek di masyarakat itu aja. Tapi, sebagai orang tua Mama juga berharap kamu ini mikirnya jangka panjang loh Al. Ya, Dhisti sih kelihatannya baik memang kalau menurut Mama."


Meski Mama belum mengatakan Ya, namun dari apa yang barusaja Al tangkap, jelas mengindikasikan bila tak ada kata keberatan soal perbedaan kelas sosial antara dirinya dengan Dhisti.


Jika Al sedang sumringah sebab sang Mama agaknya merespon positif perasaannya, lain halnya dengan Dhisti yang tampak resah saat berbicara dengan Puri.


Ya, Puri sengaja menggunakan waktunya untuk menginterogasi gadis yang sepertinya berhasil mengalahkan dunia sang kakek, kala kekasihnya sedang sibuk ngobrol bersama Dante.


" Udah takdir deh kayaknya Dhis!" ucapnya tiba-tiba yang membuat Dhisti mengernyit heran.


Dhisti yang diajak berbicara oleh wanita cantik yang nampak mahal itu terlihat rikuh. Selain baru pertamakali bertemu, Puri merupak orang yang lebih vokal darinya.


" Terimakasih untuk kiriman sembakonya Pur. Kamu ngasihnya... kebanyakan." tuturnya mencoba mengimbangi. Menggunakan topik pembicaraan soal kiriman paket sembako untuk dirinya beberapa waktu lalu.


" Hah, sembako?"


Dhisti turut mengerutkan kening manakala Puri tampak tidak nyambung dengan apa yang dia katakan barusan.


" Kakakmu yang ngeselin itu kan yang nganterin sembako kerumah Pur?" membatin demi melihat Puri yang tampak berpikir.


" Oh.. sembako, iya iya. Semoga bermanfaat ya!" jawabnya kikuk yang sebenarnya tidak tahu menahu soal sembako itu.


" Jadi kak Al ngasih sembako ke Dhisti. Ih mana gak bilang-bilang lagi, dasar! Tapi...gercep juga kak Al!" membantin seraya tekrikik-kikik dalam hati.


" Kamu udah lama kenal sama kakakku?" tanya Puri yang makin larut dalam obrolannya.


Dhisti menggeleng kikuk." Baru sebulan lebih ini!"


" Ceritain dong, gimana bisa kenal!"


Dhisti menghela napas panjang. Puri lebih cerewet dari yang ia sangka rupanya. Benar juga apa yang dikatakan Al beberapa waktu lalu jika adiknya itu merupakan sumber kerunyaman hidupnya selama ini.


" Apanya yang mau di ceritakan?"

__ADS_1


" Ya...awal bisa ketemu!" eyel Puri.


Dhisti akhirnya menceritakan asal muasal dia bertemu dengan pria empat ratus ribu itu tanpa tanggung-tanggung. Semua ia beberkan bahkan tanpa terkecuali.


" Apa, jadi kak Al waktu itu kabur kerumah kamu ya? Astaga?"


Dhisti melongo kala Puri menunjukkan wajah kesalnya yang tidak dapat di tutupi. Wanita ayu itu langsung berekspresi ingin memeras wajah kakaknya.


" Kamu kenapa marah begitu?"


Namun yang di tanya kini manyun.


" Aku tuh kesel sama Kak Al. Udah janji mau jadi brand ambassador produk temanku, dianya malah ilang. Pantes aja aku nyari kemana-mana enggak nemu!"


Dhisti tersenyum. Puri rupanya tak ubahnya seperti Inka yang ceplas-ceplos. Namun ia sedikit merubah sudut pandangnya terhadap Al. Pria itu rupanya jujur soal kejenuhannya di dunianya yang terkenal itu.


CEKLEK!


" Sayang maaf, aku harus balik ke kantor dulu. Kamu gak apa-apa kan aku tinggal?"


Wisnu yang masuk dengan wajah muram kini membuat Puri meninggalkan Dhisti untuk menyongsong kedatangannya.


" Kok mendadak, katanya hari ini free?"


" Tadi bang Dante kasih aku info soal pembuat branding yang bagus. Jadi aku mau beresin hari ini. Gapapa ya?"


Puri mengangguk sembari menatap mesra. "Ya udah gak apa-apa, tapi besok jadi dinner kan?"


" Jadi, pasti jadi!"


Dhisti yang melihat interaksi akrab keduanya sudah pasti bisa menyimpulkan bila mereka berdua merupakan sepasang kekasih.


" Aku pergi dulu. Dhisti, good well soon ya!"


Ia mengangguk seraya tersenyum canggung. Benar-benar masih tak percaya bila circle sosialnya seketika berubah manakala mengenal keluarga Al.


" Dhisti aku antar cowokku dulu ya?"


Dhisti mengangguk kembali kali ini seraya menyunggingkan senyum lebar. Benar dugaannya, orang tadi merupakan kekasih Puri. Benar-benar pasangan yang pas dan serasi. Satu cantik, satu ganteng. Dan yang paling penting, mereka sepertinya sama-sama berasal dari keluarga kaya raya.


Hah, apa kabar dirinya?


Sepeninggal Puri, ia yang ingin merebahkan tubuhnya seketika mengurungkan niatnya manakala sosok Alsaki masuk kedalam ruangan itu seorang diri tanpa mengetuk pintu.


Orang ini!


Membuatnya ketar-ketir.


Pria itu kini bersedekap lalu menatapnya lekat-lekat. Sorot matanya mempertontonkan kemarahan, kerinduan, juga rasa penyesalan.


" Kenapa dia menatapku begitu?" bermonolog sambil mengalihkan pandangannya.


" Lain kali berhentilah bersikap impulsif! Masih bagus tanganmu yang terluka. Jika tidak aku pasti akan..."


" Akan apa?" tanya Dhisti jengah saat mendengar kalimat yang tergantung. Membuat Al menghela napas guna menumpuk kesabaran sesaat sebelum menjawab.


" Aku akan membunuh orang yang membuatmu celaka tidak peduli siapapun itu!"


Deg!

__ADS_1


" Apa yang dia bicarakan? Kenapa jika serius dia semenakutkan begini?"


" Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa. Apa kau mengerti?"


Pacaran kemarahan itu bisa Dhisti lihat dengan jelas. Namun sedetik kemudian, sinar yang terpancar seperti sorot penuh kekhawatiran yang membuncah.


Dari sorot mata itu pula, bisa Dhisti rasakan jika Al bersungguh-sungguh kala mengucapkannya.


Yang di maksud Al bukanlah soal aksi heroik Dhisti yang cukup terpuji. Tapi sikap yang kurang perhitungan cenderung ceroboh itulah yang si sangsikan oleh Al.


Ya, usai menginterogasi sang mama terkait cara Dhisti saat menyelamatkannya tadi, bisa Alsaki simpulkan jika Dhisti merupakan orang yang impulsif.


" Kenapa kau bersikap seperti ini?" tanya Dhisti serius. Merasa begitu bingung dengan pria yang kini ada bersamanya itu.


Perkenalan yang mendadak, sikap yang mudah berubah-ubah, diktator, mengesalkan, tukang paksa. Semuanya. Kenapa Al melakukan hal itu?


" Karena aku menyukaimu!"


Mata yang melebar itu semakin tak percaya saat mendengar kata-kata manis itu. Menyukai?


Alih-alih pingsan karena syok, gadis bar-bar itu justru tergelak tanpa sungkan.


" Hahahaha!" Dhisti tergelak dan membuat Al mengernyitkan dahi.


" Apa kau bilang, kau...hahahaha!"


" Kenapa kau tertawa!" menatap kesal Dhisti lantaran menghancurkan momen keseriusan nya yang ia bangun dengan susah payah.


" Begini ya Tuan Alsaki yang tampan!" jawabnya sembari mengatur tawa yang tak mau berhenti.


Al seketika belingsatan manakala Dhisti menyebutnya tampan. Oh sial!


" Aku tahu kau ini pasti merasa berhutang budi kepadaku dan ingin membalas semua kebaikanku ini. Tapi meskipun aku ini bodoh dalam urusan berpacaran, tapi aku ini juga masih bisa kuat kok. Tidak usah mengucapkan kata-kata penghiburan untukku. Lagipula, kau ini kan kekasihnya nona Luna. Kalian sedang bertengkar dan kau menjadikan aku alat agar pacarmu itu cemburu kan? Hah kau ini payah sekali! Apa kau pikir aku akan percaya? Kau tidak akan semudah itu membuatku kenapa tipu!"


Dhisti tergelak kembali saat mengucapkan hal itu. Mengira jika Al sedang mendengungkan banyolannya yang basi itu kepadanya.


" Jadi kau anggap ucapanku ini lelucon?" cetus Al tersinggung.


" Ya jelaslah. Kau siapa, dan aku siapa. Kau tahu sendiri jawabannya!" sahut Dhisti masih tergelak.


Melihat keseriusannya di anggap sebuah lelucon, Alsaki tiba-tiba melakukan hal yang tak pernah Dhisti sangka.


Hrep!


Cup!


Maka, situasi yang semula di penuhi atmosfer jenaka itu, seketika berubah menjadi panas kala Al menarik tubuh Dhisti lalu mencium bibir wanita itu kembali dengan sangat dalam.


Saat hendak menarik kepalanya, tangan berotot itu semakin menekan tengkuknya dan membuat ciuman itu semakin dalam.


" Kenapa? Kenapa kau suka sekali menciumku tanpa permisi?"


Mata yang melebar itu bisa menyaksikan Alsaki yang begitu menikmati aksinya dalam melumaat dalam bibir tipisnya. Membuatnya sejenak terlena akan sentuhan lembut yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.


Membuat Dhisti seketika speechless usai ciuman itu di pungkasi.


" Jadi wanita itu mengatakan kepadamu hal yang tidak-tidak hah? Aku saja yang sudah lama kenal denganmu tidak kau percayai, tapi mengapa kau yang baru bertemu dengan Luna langsung bisa mempercayai omongan nya?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2