
...🌻🌻🌻...
" Sekali lagi saya berterimakasih atas bantuan kamu Dhisti. Maaf saya tidak bisa ikut mengantar kamu pulang. Suami saya kurang sehat dirumah. Beliau juga belum tahu kalau saya barusaja mengalami kejadian seperti ini!"
Dhisti tersenyum manakala menatap Nyonya Hapsari yang melihat muram ke arahnya.
" Saya malah enggak enak jika harus diantar begini Buk. Saya bisa naik taksi sebenarnya." jawabnya tak enak hati demi perlakuan baik.
" Sudah jangan sungkan. Biarkan Al mengantar kamu. Salam untuk keluargamu dirumah. Saya duluan ya? Al, hati-hati kalau mengemudi!"
Al mengangguk saat pundaknya di tepuk lembut oleh sang Mama. Kini, Puri yang juga akan pulang bersama sang Mama turut berpamitan kepada Dhisti.
" Aku pulang dulu ya? Lain kali kita lanjutin obrolan kita tadi ya. Sekali lagi, thanks buat pertolonganmu ya. Bye Dhisti!"
Al yang mendengar ucapan adiknya seketika menjadi penasaran. Sedikit heran kenapa adiknya bisa begitu akrab dengan Dhisti.
Pria tampan itu menatap adiknya dengan tatapan ingin tahu. Namun yang di tatap hanya menjulurkan lidahnya sembari mengejek. Membuat Al gemas ingin mencubit.
" Silahkan nona!" ucap Ari membukakan pintu belakang seraya membungkuk.
" Aku duduk depan. Mau live di Instagram!" sahut Puri ngeloyor maju membuka pintu depan mobilnya.
Ari yang mendengar hal itu seketika meneguk ludahnya. Belum juga rasa malunya akibat kejadian tadi hilang, kini yang di khawatirkan malah asik duduk tanpa berdosa.
Astaga!
.
.
Kebisuan menyeruak di kabin mobil Alsaki. Tak ada yang berniat apalagi berminat untuk angkat bicara. Dhisti yang canggung usai di cium Al, dan Al yang kesal karena memikirkan Dhisti yang mau di propaganda oleh Luna tampak seperti manekin yang tegang.
Hingga, Al yang tak tahan dengan kebungkaman Dhisti akhirnya angkat bicara.
" Kenapa kau diam?"
Dhisti menoleh bingung. Menatap seraut kesal yang alisnya mengkerut. " Lalu aku harus apa?" sahutnya tumben pelan.
Membuat Al kikuk. " Ya...kau kan bisa bertanya apapun?"
Namun yang diajak ngobrol hanya diam. Ia benar-benar masih canggung dengan semua yang terjadi. Ia lebih memilih membuka ponselnya menggunakan tangan kirinya dan baru melihat jika ada banyak panggilan dari Inka.
18 Panggilan tak terjawab.
7 pesan.
" Lo dimana Dhis? Gue lihat berita ada kerusuhan di jalan utama. Lo gak kenapa-kenapa kan?"
__ADS_1
" Dhis, jawab dong. Bang Ridho gue telpon katanya elu belum datang. Elu dimana?"
" Gak usah izin ke Ridho. Udah aku izinkan tadi!" cetus Alsaki tanpa menoleh.
Dhisti sebenarnya cukup kaget akan hal itu. Tak mengira jika Al berpikir jauh hingga kesana.
" Aku lapar, belum sempat makan siang. Kita makan dulu ya?"
Lagi dan lagi, Dhisti tak memiliki kesempatan untuk sekedar menolak. Bagaimana mau menolak, pria itu bahkan langsung menekan lampu sen lalu membelokkan kendaraannya menuju restoran itu.
Al mematikan mesin mobilnya. Pria itu menarik tuas handbrake dengan tangannya yang kekar nan menyembulkan otot-otot lengannya yang kentara, membuat pria itu terlihat sangat maskulin.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Dhisti bersiaga sebab laki-laki itu mendadak mencondongkan tubuhnya tepat ke arahnya.
" Apa yang kau pikirkan. Aku mau membuka sabuk pengamanmu. Kau ini amatir tapi mesum juga ya pikirannya?" mendengus kesal demi sikap Dhisti yang antipati.
" Apa? Sialan, aku di katakan mesum!" hanya berani mengumpat dalam hati.
Al tampak mengenakan masker usai ia melepaskan seat belt milik Dhisti. Sejurus kemudian laki-laki itu mengenakan topi hitam dengan merk kenamaan, seperti biasanya.
Alsaki keren.
Pria itu sejurus kemudian turun dan mengitari mobil lalu membukakan pintu untuk Dhisti.
" Awas hati-hati!"
Dhisti yang menerima perlakuan manis Al spontan membandingkan hal itu dengan sikap Aris. Bukan perkara kemewahannya, tetapi attitude yang di tunjukan benar-benar lain. Wanita mana yang tidak senang dengan perlakuan ramah seperti itu.
" Tegakkan kepalamu, untuk apa kau menunduk?" tegas Al kepada Dhisti tanpa menoleh.
Dhisti mendengus sebab bisa-bisanya Al mengetahui bila dirinya menunduk malu.
Mereka duduk di tempat duduk yang berada di pojok. Tak ingin terlalu dilihat oleh orang sebab itu tak baik untuk Al.
Melihat pesanan masih akan dibuat dalam waktu yang lama. Al yang merasa kandung kemihnya penuh, pamit kepada Dhisti untuk buang air kecil.
" Tunggu sebentar dan jangan kemana-mana. Aku mau ke toilet!"
Dhisti mengangguk menyetujui tanpa mengatakan apapun. Entahlah, semenjak mendengar pengakuan Al yang gila itu, ia masih belum yakin akan semua yang terjadi.
Alih-alih senang. Ia kini malah merasa tak nyaman dan risau. Kasta, perbedaan kelas sosial. Apa kisah Cinderella itu nyata adanya?
Belum juga lamunan kisah negeri dongeng itu terpangkasi dengan wajar, sebuah suara milik pria yang sangat familiar membuatnya terkejut.
" Dhisti, ngapain kamu disini?" tanya Aris yang hendak mengantar minuman ke meja Dhisti.
Ia kaget demi melihat Aris yang mengenakan seragam hitam yang di dadanya terbordir logo restoran kenamaan itu.
__ADS_1
" Aris, kamu kerja disini?" jawabnya tak kalah kaget. Sedikit heran kenapa kini Aris mau bekerja di tempat seperti itu.
Namun bukannya menjawab, Aris yang syok saat melihat balutan tebal di tangan kanan Dhisti, terlihat reflek menarik lengan mantan pacarnya itu.
Dhisti yang seperti tersugesti, kini diam kala tangannya di geret menuju ke sebuah lorong dekat dengan jalan menuju pantry.
" Dhis, tangan kamu kenapa? Kenapa kamu kayak gini?" menyentuh tanah Dhisti dengan raut khawatir.
" Lepas!" sela Dhisti menarik tangannya yang di pegang oleh Aris. Menyuguhkan raut kecewa yang begitu kentara.
" Kamu di celakai orang? Kamu sama siapa kesini?" kejar Aris yang belum juga jera.
" Bukan urusan kamu Ris aku kesini sama siapa!"
Aris mendecak demi melihat Dhisti yang masih kesal kepadanya.
"Aku minta maaf Dhis. Aku tahu kamu pasti marah ke aku. Aku pantas mendapatnya. Aku...aku salah karena mutusin kamu demi Gabby!"
Dhisti langsung menatap Aris yang kini tertunduk muram." Baru tahu kalau kencan sama cewek cantik itu modalnya banyak? Kamu kerja disini buat Gabby kan?" tersenyum getir saat mengutarakannya kekesalannya.
Aris menatap Dhisti yang masih nampak kesal kepadanya dengan wajah penuh penyesalan.
" Dhis, aku bener-bener minta maaf sama kamu. Kasih aku kesempatan sekali lagi Dhis!"
Begitulah pria kelas kupret. Maunya dapat yang cantik tanpa banyak modal. Giliran melihat Dhisti lebih kinclong, kebakaran jenggot dia sekarang.
" Aku bakal ngelakuin apapun asal kamu mau balik sama aku Dhis, aku akan memutuskan Gabby!"
Dhisti tertegun saat tangan kirinya di pegang oleh Aris. Perasannya mendadak bimbang. Jujur, Dhisti tak tega melihat Aris yang kini matanya berkaca-kaca kala menatapnya. Kasihan bercampur sejumput rasa yang sejatinya belum hilang sempurna itu, berhasil membuat Dhisti gamang.
" Aku tahu kamu pasti masih sayang sama aku Dhis!"
Mendecak kesal karena Aris terlalu pede rupanya. Terbiasa dengan Al yang rapi juga Dante yang parlente, membuat Dhisti menatap prihatin Aris yang nampak semakin kurus.
Namun tanpa mereka sadari, ada tangan besar yang terkepal geram kala melihat keduanya berinteraksi dengan karib.
" Apa kau berniat membuatku mati karena menunggumu untuk makan?"
Dhisti yang melihat Alsaki berkata dengan intonasi tinggi seketika menarik tangannya dengan gugup lalu pergi menyongsong Al.
" Astaga, mati aku. Pria itu pasti memarahiku!"
" Maaf tadi aku..."
" Aku tidak butuh penjelasan. Cepat kembali, sudah kubilang kalau aku lapar. Beraninya kau keluyuran!"
.
__ADS_1
.
.