
...🌻🌻🌻...
Ari tentu tak enak hati. Meski wangi Puri semakin mengusik, tapi ia masih cukup waras untuk menghindari gadis nakal itu. Mau seperti apapun juga, ia hanyalah pegawai wanita itu.
Puri terkekeh-kekeh lagi. Ia senang saat melihat Ari yang terlihat ketakutan begitu.
" Antar aku sini!" menunjukkan sebuah foto bangunan besar.
" Ke hotel?" tanya Ari mengerutkan keningnya.
Gadis itu mengangguk. " Aku ada pertemuan dengan lima teman baruku juga Tince. Ada pembahasan soal projects kita yang baru. Kamu tidak keberatan kan?" bertanya kepada Ari yang terlihat meragu.
Meski menyanggupi, namun Ari tetap menjalankan perintah itu dengan hati ketar-ketir. Takut kalau-kalau gadis itu kembali berbuat onar lagi.
Beberapa bulan dekat dengan gadis itu, membuat Ari tahu seimpulsif apa bungsu dari Hendra Gunawan itu.
Puri tak hentinya tersenyum saat melihat Ari yang tampak gelisah. Gadis itu juga menjadi candu saat menghirup aroma maskulin pria itu. Aroma yang begitu khas, dan berhasil mengusik batinnya yang gersang akan cinta.
Mereka tiba di sebuah hotel berbintang yang salah satu ruangannya telah di sewa oleh Tince juga para team-nya. Puri yakin jika acaranya Mamanya itu akan berlangsung sangat lama, membuatnya memutuskan untuk pergi sebentar.
" Kenapa kau diam disitu?" tanya Puri saat melihat Ari berhenti berjalan.
" Anda akan bertemu dengan seseorang kan? Saya bisa menunggu disini!" menjawab sopan seperti yang sudah-sudah.
Puri tergelak. " Kau sudah berjanji untuk menuruti keinginanku kan? Sekarang kau harus menemaniku!"
" Apa yang sebenarnya anda rencanakan nona? Kenapa anda membuat saya menjadi rikuh seperti ini?"
Membuat Ari akhirnya berjalan di belakang Puri bagai pengawal.
" Hy nek, wihhh sekarang bawa bodyguard terus ya!" seru Tince yang menyongsong kedatangannya dengan gaya yang selalu kemayu.
Ari langsung merinding saat melihat cat rambut Tince yang kini berubah seperti uban manula itu.
" Iya dong! Wanita cantik takut ada yang nyulik!" seru Puri yang membuat semua orang tertawa.
Ada lima orang selain Tince yang sudah hadir disana, total ada tujuh orang dan menjadi delapan orang jika bersama Ari.
Ari menjabat tangan semua rekan Puri, yang diantaranya terdapat dua orang laki-laki, tiga perempuan, dan satu makhluk jadi-jadian. Mereka terlihat ramah dan jauh dari kesan yang sombong.
" Eh nek, eike kesel banget sama tuh model yang kemarin. Belagu banget, masa batalin kerjasama gitu aja. Gak cocok harganya katanya!" Tince mengoceh kesal karena kini managementnya mengalami permasalahan.
" Terus belum dapat model yang baru?" tanya Puri resah. Ini adalah projects besar yang bahkan sudah menelan biaya yang tak sedikit.
" Ya nggak ada, mana ada kita bisa dapat artis dadakan. Mana yang baru-baru itu pada sok sok' an semua. Talenta belum mahir- mahir amat upah udah minta yang gede!" Tince menggerutu tiada henti sebab project mereka terancam molor jika juga jua menemukan model pengganti
Mereka tengah membuat projects konten bertajuk the Archipelago untuk etnis Jawa yang mengenakan pakaian adat berikut pengenalan kebudayaannya.
Selain itu, mereka juga butuh orang yang fasih berbahasa Jawa agar menimbulkan kesan alami.
Dan saat Tince bersama team termenung sebab gencar berpikir untuk menemukan solusi, ia melirik Ari yang sibuk mengetik pesan dengan tatapan berbinar.
" Eh nek, tuh bodyguard oke juga kalau dilihat-lihat. Elu tawarin deh. Ini kita udah kontrak sama dinas pariwisata lo soalnya. Dia dari Jawa kan? Pasti bisa ngomong Jawa halus!" cetus Tince dengan penuh nada antusias.
" Nah, bener. Kenapa gue gak kepikiran!" timpal salah satu team Tince yang juga menyetujui ide brilian bencong genit itu.
Puri seketika turut tersenyum. Tince benar. Ari tampan, bernada bicara halus, dan fasih berbahasa Jawa kromo.
Sadar akan situasi yang mendadak sunyi, Ari langsung menoleh dan bertapa terkejutnya dia saat keenam orang itu menatap ke arahnya secara bersamaan.
" Ada apa ini?"
...----------------...
Sementara itu, Hendra Gunawan yang kini berada dirumah usai menyelesaikan beberapa pekerjaannya, tak sengaja melihat Desi sedang sibuk mengelap meja-meja, serta beberapa perabot di rumahnya.
" Apa kau tahu kemana perginya semua orang?" bertanya tiba-tiba dan membuat Desi berjingkat kaget lalu mengangguk penuh hormat.
" Maaf tuan, tadi mas Ari berkata jika dia mengantar Ibu dan nona Puri pergi tapi saya tidak tahu kemana." menjawab penuh kesopanan.
Hendra menatap Desi dengan tatapan lain. Pria itu bahkan memindai tampilan Desi mulai dari atas hingga ke bawah. Sangat menggiurkan.
__ADS_1
" Bawakan aku kopi ke ruang kerjaku!"
Desi melakukan perintah majikannya dengan sigap tanpa ada kecurigaan. Tak ingin melakukan kesalahan sebab ia memang sedang butuh banyak uang. Sejurus kemudian gadis itu mengetuk pintu ruangan kerja majikannya dengan sangat hati-hati.
TOK TOK TOK
" Saya Desi tuan!" ucapnya pelan.
" Masuk!"
Gadis itu akhirnya masuk dengan hati-hati saat sahutan dari dalam telah terdengar. Hendra adalah tuan besar di rumah itu, jangan sampai dia melakukan kesalahan yang membuat dirinya berpotensi untuk di pecat.
" Silahkan tuan!" menghidangkan secangkir kopi dengan penuh kehati-hatian.
" Terimakasih!"
Desi langsung tersentak saat tangannya seperti sengaja di sentuh oleh pria itu. Membuat Desi ketakutan.
" Wanita secantik kamu kenapa mau bekerja jadi pembantu, hm?" menatap Desi yang terus saja menundukkan kepalanya.
" Maaf tuan, kalau sudah selesai dan tidak ada yang diperlukan lagi, saya izin kembali ke belakang karena masih ada pekerjaan lain!" ucapnya setengah takut sebab Hendra terus saja menatapnya dengan tatapan penuh arti.
Desi seketika takut dan memilih untuk pergi. Ia langsung berjalan menuju dapur dan langsung di sambut oleh mbok Enok.
" Kamu kenapa pucet begitu, kamu gak enak badan?" tanya wanita tua itu yang menatap cemas anak buah barunya.
Desi langsung kaget. Ia buru-buru menggeleng cepat.
" Saya tidak apa-apa mbok. Mungkin belum sarapan saja. mau ke belakang dulu mbok, mau sarapan!"
Mbok Enok menatap aneh Desi yang terlihat ketakutan. Namun sejurus kemudian wanita tua itu kembali melakukan pekerjaannya meski sebenarnya terlihat tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Desi barusan.
...----------------...
Hari berganti dengan cepat. Ari akhirnya di dapuk menjadi model pengganti yang akhirnya berhasil membuat semua orang kagum. Pria itu memiliki wajah tampan yang sangat mendukung untuk menjadi seorang model.
Tak hanya itu, Ari bahkan bisa mengimplementasikan tiap ilmu yang di ajarkan Tince saat ia harus berperan.
" Aduh nek, kalau ye terus ikutan kita, ye bakal jadi terkenal!" seru Tince gemas sebab video yang mereka buat mendapat tanggapan positif dari para masyarakat terlebih dinas terkait.
Ya, secara tak langsung Ari telah menjadi pahlawan untuk Tince dan management mereka.
" Makasih ya Ar, karena kamu, kita akhirnya kelar nyelesain projects itu!" kata Puri saat mereka baru saja keluar dari dinas dan kebudayaan.
" Sama-sama nona! Saya juga senang management anda mendapatkan apresiasi!"
" Itu karena kamu!"
Saat masih berbincang, ponsel Puri terlihat bergetar. Membuat obrolan mereka terinterupsi.
" Kak Al?" gumamnya kala membaca nama di layar ponselnya.
" Sebentar ya, aku angkat telepon dulu!"
Ari mengangguk saat Puri pamit.
" Halo kak?"
" Kamu lagi sama Ari?"
" Iya ini aku lagi sama dia, ada apa?"
" Bilang sama dia, aku udah transfer bonus yang aku janjikan ke rekening dia. Tanda terimakasih karena udah bantuin acaraku kemarin. Aku udah kirim pesan ke dia tapi belum di baca!"
Puri langsung menatap Ari senang dan membuat laki-laki itu seketika bingung. Ada apa?
" Makasih ya kak, kakak udah baik banget sama Ari!"
" Kenapa kamu yang berterimakasih?"
" Ya ga apa-apa. Aku seneng aja!"
__ADS_1
" Kakak iparmu masak banyak hari ini. Kalau kau tak sibuk, kau diminta datang!"
" Oke kak!"
Hah, senang sekali rasanya jika seperti ini. Puri senang bukan tanpa alasan. Reward yang diberikan kakaknya itu memang sangat sepadan dengan kerja keras yang dilakukan oleh Ari.
" Ada apa nona?" bertanya risau saat Puri telah kembali.
" Pokoknya aku minta traktiran. Bonus kamu dari kak Al udah keluar. Buruan cek!" pekik Puri menyentuh lengan kekar Ari dengan gemas.
" Hah bonus, yang bener nek?" Tince bahkan kaget saat Puri mengatakan hal itu.
Puri langsung mengangguk senang mengiyakan pertanyaan Tince. Alsaki malah terlolong sebab ia tak tahu bonus apa yang dibicarakan.
" Bonus, bonus apa nona?"
" Bonus karena kamu udah bantuin menyelesaikan acara kak Al dengan sukses. Habis ini kita mampir ke apartemen kak Al ya. Tapi kamu harus traktir aku dulu, ayo!"
" Loh nek, ye mau kemana? Eike gimana?" tanya Tince memanyunkan bibirnya.
" Lo cari aja mangsa baru sana ce. Cari yang gede!" seru Puri seraya tergelak.
Ari sangat tak menduga jika ia diberikan bonus yang begitu banyak oleh bosnya itu. Ia juga merasa tak enak hati karena Tince juga memberinya uang upah atas pekerjaannya tadi.
" Sebenernya saya tidak usah diberi nona. Saya ikhlas menolong anda!"
" Ya gak boleh gitu. Management ku untung banyak karena kamu bantu! Kamu juga harus kecipratan. Katanya mau beliin Ibu motor. Itu bisa buat beli tiga motor!"
Ari tersenyum. Meski gadis itu manja, tidak tahu kenapa Ari malah suka. Puri lucu meski kerap semaunya sendiri dan keras kepala.
" Terimakasih banyak nona. Anda sangat baik kepada saya. Uang ini bisa saya gunakan untuk tabungan sekolah adik saya nanti!"
Puri tertegun. Sosok laki-laki bertanggung jawab itu semakin membuatnya jatuh cinta. Ia bukan tak mampu membeli semua barang saat meminta di traktir, namun ia hanya ingin menghabiskan waktu berdua bersama Ari.
" Anda ingin saya belikan apa nona?" bertanya saat mereka telah sampai di mall elit.
" Aku ingin kau yang memilihkan sesuatu untukku. Terserah apa saja. Yang penting itu murni inisatif dari kamu!"
Ari bingung. Selera wanita itu jelas sangat tinggi. Namun ia juga tak mau menjadi orang lain. Ari memutuskan untuk menuju ke sebuah stand toko perhiasan dan memilihkan liontin bermata hijau botol yang begitu menarik perhatiannya.
Namun saat ia hendak, membayar, ia melihat cincin yang begitu cantik.
" Yang ini berapa?"
" Ini sangat bagus tuan. Hanya ada satu!"
Cincin yang jika di satukan konturnya mirip dengan bentuk hati itu, ia pilih. Ari membayarnya lalu menyimpan cincin itu.
" Kau dapat apa untukku?" bertanya tak sabar.
" Saya bingung harus membelikan apa. Karena tanpa dibelikan pun, anda pasti bisa membeli dengan harga yang jauh dari kemampuan saya. Tapi semoga ini bisa menjadi kenang-kenangan untuk anda nona!"
Puri terharu saat melihat sebuah kalung bermata hijau yang begitu cantik. Pilihan yang begitu bagus. Puri suka dengan batu berwarna hijau botol macam itu.
" Kalau begitu tolong pakaikan!" kata Puri tak sabar.
Ari dengan senang hati memasangkan kalung cantik itu. Ukuran juga panjangnya pas dan membuat Puri semakin cantik.
" Anda terlihat cantik sekali nona!" puji Ari penuh kejujuran
Puri tentu saja langsung senang akan hal itu. Entah kenapa, hatinya selalu berbunga-bunga tiap berada di dekat Ari.
" Makasih ya Ar. Ini kalung tercantik yang pernah aku punya!"
" Sama-sama nona!"
Ari terpaku menatap Puri yang masih senyam-senyum sendiri saat mematut lehernya di depan kaca. Ini adalah kali pertamanya Ari berhadapan dengan gadis nakal yang impulsif seperti Puri.
" Anda selalu cantik meski menamai pakaian sederhana sekalipun nona!"
.
__ADS_1
.