
...🌻🌻🌻...
Hari ini merupakan jadwal Dhisti libur di mall, sore nanti ia akan berkerja di cafe bang ridho secara part time. Artinya, dia tidak bekerja full disana.
Definisi dari wanita gigih dan pekerja keras dalam arti yang sebenarnya. Walau, ad sedikit catatan buruk, tentang hal lain yang di lakukan wanita itu secara terselubung.
Namun seperti biasa, pagi ini ia akan menjalankan operasi ke sebuah tempat. Tempat dimana ia bisa mendapatkan uang dengan cepat.
Ia mengenakan sepatu sneaker, jeans yang bisa membuat langkahnya flexibel, jaket boomber navy, topi, masker, serta sebuah waist bag yang membuat penampilannya trendy.
" Kemana lagi Dhis?"
Kakek yang pagi itu menyeduh wedang jahe mengagetkan cucunya yang tengah berbalas pesan dengan sahabatnya.
" Mau kerumah temen ada urusan!"
" Jangan lama-lama!"
" Belum juga berangkat!"
Kakek terkekeh saat melihat kerlingan mata sebal dari cucunya.
" Hari ini gk usah masak, nanti siang Dhisti beli makanan, sore juga mau ke bang Ridho. Biar gak mubasir!"
Kakek mengangguk seraya menyeruput minuman kaya manfaat itu. Kakek merupakan pribadi yang selalu menurut dengan apa yang di katakan oleh cucunya itu. Apalagi, kalau mendengar kata mubazir.
Dhisti berjalan damai seperti biasanya, ia datang ke tempat dimana sahabatnya selama tiga tahun ini telah menunggunya, sebagai partner aksi gelapnya.
" Gimana?" Sapa Dhisti yang melihat Inka telah menunggunya.
" Aman, sesuai yang lo targetkan!" Jawab Inka seraya mengunyah buble gum rasa stroberi dengan wajah meyakinkan.
Mereka berdua kini menjalankan aksi mereka di sebuah jalan yang sempit dengan target wanita yang tengah sibuk menelpon.
__ADS_1
" Si anjing enak-enakan telponan dia!" Bisik Dhisti menatap geram seorang wanita yang bakal menjadi targetnya.
" Pakai klasik atau campuran nih?" Tanya Inka seraya membidik sasaran dengan tatapan penuh saya pikir.
" Campuran aja, kalau sama anak itu bawaannya gemes aku!"
Inka mengangguk paham, gadis garis keras itu terlihat berjalan maju bersama Dhisti, dan pura-pura menabrakkan diri mereka pada wanita berambut pirang yang tampak tak fokus itu.
Sejurus kemudian , tangan Dhisti dengan cepat masuk kedalam tas yang kebetulan tengah terbuka. Tak membutuhkan waktu lama, benda berwarna coklat yang semula berada di dalam tas kempit terbuka itu, kini telah berpindah tangan kepada Dhisti dengan mulus.
" Maaf-maaf!"
Wanita berambut pirang tadi mengangguk tanpa menyadari jika barangnya telah berpindah kepada Dhisti. Wanita pirang itu tak mengenali mereka sebab baik Inka maupun Dhisti selalu mengenakan masker. Memanfaatkan kebijakan pemerintah soal kesehatan akibat virus.
Kini, mereka berdua yang telah berhasil melakukan aksinya tampak tersenyum penuh kepuasan.
.
.
Dhisti terdiam menatap dedaunan yang berterbangan di tiup angin. Sebenarnya ia tak ingin seperti ini. Namun kepincangan keadilan nyatanya telah memaksanya untuk bertindak seperti itu.
" Bapaknya bakal ada kampanye nanti jam sepuluh di lapangan. Sikat atau enggak?" Tanya Dhisti tanpa menoleh ke arah Inka yang tampak sumringah.
" Sikat aja lah, elu gak salah emang kalau milih target. Hah, puas banget aku Dhis. Eh... kita ke markas dulu yuk!"
Kini, kedua wanita itu tampak berjalan usai membagi hasil copetan mereka secara rata. Inka tampak membeli beberapa makanan, minuman, juga beberapa obat-obatan.
" Kenapa beli obat?" Tanya Dhisti muram kepada Inka.
" Dani sakit. Kemarin aku kesana dia tidur aja!"
" Apa? Kenapa nggak bilang?"
__ADS_1
" Kan udah barusan!"
" CK!" Dengus Dhisti demi jawaban kurang ajar Inka.
And now, dengan tangan yang membawa penuh jinjingan berisi makanan serta obat, mereka datang ke sebuah tempat lusuh di pinggiran sungai dengan bau menyengat, dimana banyak anak jalanan yang mereka kenali tinggal berkumpul disana.
Sebuah potret nyata keironisan, saat gedung-gedung pencakar langit berdiri tegak di dekatnya, di sela - sela meriah kota itu terdapat manusia mungil yang sama dekil, nampak berlindung dari cuaca yang tak menentu.
Ada sekitar sepuluh anak yang kini berduyun-duyun menyambut kedatangan dua wanita yang mereka kenali itu. Dari pancaran wajah mereka, anak-anak itu gembira sebab perut mereka pagi ini akan terpuaskan.
Inka san Dhisti sangat senang dengan wajah-wajah sumringah, yang di tunjukkan oleh anak-anak tak bertuan itu.
" Nih makan jangan berebut. Dani mana, suruh dia makan terus minum obat!"
Adalah Dani, bocah delapan tahun dengan usia yang paling kecil itu akhirnya bangun dengan wajah pucat.
" Makan Dan, ayok kakak bantu!"
Dhisti yang melihat anak-anak yatim piatu itu kini makan dengan lahap, hatinya seketika merasa damai.
Entahlah, ia selalu merasa bahagia kala bisa berbagi dengan orang lain, walau ia sendiri berada dalam garis kekurangan.
" Kamu kenapa kok bisa sakit?" Tanya Dhisti menatap Dani yang kini lekas duduk bersila di depannya dengan wajah menunggu antrian makanan.
" Kehujanan pas ngamen kemarin kak!" Sahutnya dengan suara serak. Sepertinya anak itu mengalami batuk.
" CK, ngamen gak akan merubah hidup kita jadi kaya Dan. Kalau hujan ya nepi, laba gak seberapa, sakit badan malah menyiksa. Kamu jangan lupa, kita ini harus terus sehat, sebab orang miskin itu dilarang sakit karena apa? Karena rumah sakit itu mahal Dan!"
Dani mengangguk dengan wajah mengerti seusai menerima suapan sekaligus omelan dari Dhisti. Walau wanita itu kerap berbicara sadis, tapi perbuatan wanita itu jauh lebih bisa ia rasakan ketimbang ocehannya.
Dani sangat senang akan kedatangan Inka dan Dhisti. Yang bocah itu tahu, kedua wanita itulah yang selama ini memberikan sumbangsih besar, untuk ia dan teman-temannya.
.
__ADS_1
.
.