Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 70. Meminta izin Mama


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Luna malam ini pergi bersama teman-temannya dan tak disangka malah bertemu dengan Ridho di sebuah bar kelas kakap di ibu kota yang tiada pernah sepi itu.


" Loh Lun, kamu disini? Sama siapa?" bertanya langsung saat ia mengenali seseorang yang duduk sendiri di sebuah meja.


Yang ditanya sedikit kaget namun sejurus kemudian tampak kembali menguasai keadaan.


" Hy Dho, aku... sama Stela!" menjawab dengan setengah berpikir. Tak mungkin ia menjelaskan jika ia disana karena sedang stres.


" Stela? Dimana dia?" tertarik untuk menggali lebih dalam.


" Biasa, lagi di room!" menjawab dengan alasan yang tak mungkin lagi di tanyakan oleh mantan berandal itu.


Ridho mengangguk paham. Cinta, kehidupan dan se ks merupakan tiga unsur yang tidak bisa terpisahkan dari kaum kawula muda yang berjiwa bebas.


Ridho kesana karena akan menemui relasi bisnisnya. Mengepakkan sayap bisnis terkadang membuat beberapa orang gak bisa melawan arus kehidupan.


" Lo, ngapain disini?" balik bertanya sembari melihat apakah Ridho datang bersama seseorang.


" Lagi nunggu Doni!"


Luna yang tahu jika Ridho kesana karena ada satu hal seketika bernapas lega. Tak ada Alsaki atau siapapun. Ia masih belum siap akan hal itu.


" Lama gak kelihatan kemana aja?"


" Aku dari luar kota. Baru bukan cabang baru!" menjawab dengan begitu meyakinkan.


" Oh ya? Selamat ya?"


Luna mengangguk, berbohong jauh lebih baik saat ini. Karena meski Ridho sering membelanya, namun pria itu terkadang bersikap tak memihak dalam kondisi tertentu.


" Alsaki gimana kabarnya?"


Akhirnya bertanya karena dia memang sangat memikirkan pria itu.


" Dia baik, barusan ngelamar si Dhisti dia!"


" Apa?"


Luna tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Membuat gadis tampak gusar.


" Kenapa?" tanya Ridho menaikkan sebelah alisnya.


" Lo bercanda kan?" mengkonfirmasi dengan wajah tak percaya.


"Gue serius. Udahlah Lun, gak ada gunanya elo itu ngejar Alsaki, dia gak akan bisa merubah pikirannya!"

__ADS_1


Ridho memperingati Luna yang terlihat tidak terima. Namun tanpa Ridho ketahui, hati Luna yang terbakar membuat wanita itu mencengkeram gelas kuat-kuat dan membuat gelas itu pecah.


"Lun?" pekik Ridho yang panik manakala gelas itu pecah dan melukai tangan Luna.


" Tak akan kubiarkan kalian bahagia!"


-


-


Kediaman nyonya Hapsari terasa sedikit senyap manakala Puri tak berada di sana. Gadis manja itu juga sudah berkirim pesan jika ia baru tiba malam ini sebab terjebak kemacetan.


Alsaki yang malam ini berniat makan malam bersama sang Mama terkejut karena mendapati bangku sang papa kosong.


" Malam Ma!" sapa laki-laki itu hangat


" Malam Al!" jawab Mama dengan suara lembut.


Alsaki mencium kening sang Mama karena moodnya sedang baik. Lagipula, ia begitu karena sedang ada maunya.


" Ada apa ini kok kayaknya kamu seneng banget?" melirik sang sulung sebab tak biasanya Alsaki bersikap seperti itu.


Namun alih-alih menjawab, yang ditanya justru ganti bertanya dengan topik lain.


" Mah?" tanya Alsaki memperhatikan sang Mama yang sibuk mengambilkan makanan untuknya.


" Al pingin nikahin Dhisti secepatnya Ma. Dhisti sebatang kara dan aku gak bisa ngelihat dia kayak gitu!"


Mama langsung terdiam lalu meletakkan sendok serta garpunya ke atas piring. Menatap dalam putra sulungnya yang kini terlihat mengiba.


" Apa kamu sudah yakin?" bertanya dengan sikap keibuan yang begitu kentara.


" Alsaki gak tega lihat dia Ma. Kakek Dhisti meninggal juga gara-gara Al. Al gak becus jaga dia!"


Mama terlihat menghela napas. Wanita itu tersenyum sembari mengusap lembut tenaga anaknya.


" Kalau iya, Mama cuma bisa doain kamu yang terbaik. Mama tidak keberatan kamu menikah sama Dhisti. Ini sudah pilihan kamu. Apapun resiko Mama harap kamu udah tahu dari awal nak. Ajak dia ketemu Mama nanti.


Tapi, kamu tetap harus bicarakan hal ini sama papa kamu Al. Walau bagiamanapun, dia tetap papa kamu!"


...----------------...


Adik dari Alsaki itu menempati kamar dengan ukuran sedang yang sangat berbeda jauh keadaannya dari kamar miliknya di kota.


Keterbatasan kamar membuat Ari diminta oleh ibunya, untuk tidur di rumah yang berada di sebelah rumah ibunya. Rumah mendiang keluarganya yang kosong. Lagipula, itu akan lebih baik mengingat Puri merupakan orang lain disana.


Puri memindai kamar Ari yang kini ia tempati selama dia disana itu dengan senyuman yang tak luntur. Kamar dengan cat monokromatik khas pria itu, terlihat sangat rapi meski yang memiliki jarang menempati.

__ADS_1


Ia melihat lemari dari kayu jati dengan plitur mengkilat terisi dengan pakaian milik laki-laki itu yang tersusun rapi. Membuatnya berdecak kagum.


Di dinding dekat pintu, ia melihat foto Ari yang begitu tampan. Harus Puri akui, Ari memang lebih tampan ketimbang Wisnu.


"Non, airnya sudah siap ini. Mau mandi sekarang?"


Suara ibu Ari di balik pintu membuat Puri mengakhiri kekagumannya pada bingkai foto besar itu.


" Ya buk, sebentar saya ambil baju dulu ya?" menjawab ramah usai membuka pintu.


Ibu Ari tampak mengangguk. Sedikit sungkan karena kamar mandi dirumah mereka hanya ada satu dan digunakan secara komunal.


Beberapa saat kemudian, Puri yang barusaja mandi menggunakan air hangat yang telah di siapkan oleh Ibu dari Ari tampak menggigil karena hawa di desa begitu dingin. Ia kini keluar kamar dan mendapati Ibu dan adik Ari sedang menyiapkan makanan. Membuatnya tersenyum.


" Non Puri sudah selesai? Mari makan, ini Ibu ada ikan, tadi budenya Ari ngasih banyak, mari non!" tutur Bu Yuli senang manakala melihat Puri yang sudah mengenakan piyamanya.


Puri berjalan dengan tatapan tergiur sebab hidungnya mencium aroma yang menggugah selera. Masakan itu sederhana tapi membuatnya tergugah untuk mencicipi. Lagipula, ia memang sudah sangat lapar.


" Ari mana Buk?" bertanya sambil menarik sebuah kursi di depan meja makan.


" Ada di depan, lagi bersihin mobil!" jawab Bu Yuli yang sibuk menuangkan segelas susu hangat ke gelas Puri.


Ia tertegun, dia saja yang hanya duduk dan masih bisa tidur sangat merasa lelah, namun Ari yang sebelas jam mengemudi masih menyempatkan diri untuk membersihkan mobilnya.


Oh ya ampun!


" Dia sudah makan Buk?" tiba-tiba menanyakan hal itu dengan wajah khawatir.


Ibuk menggeleng sembari tersenyum, " Nona diminta makan dulu, dia belum mandi soalnya. Gapapa nona makan dulu, ibuk mau nganter Danisa ke kamar dulu ya. Besok mau di ajak jalan-jalan kakaknya makanya dia mau tidur dulu, ibuk permisi dulu. Jangan sungkan-sungkan ya?"


Puri mengangguk membalas senyuman wanita bersahaja itu. Sedetik kemudian, ia yang sudah duduk di depan sajian lezat itu menajamkan pandangannya, demi melihat sosok yang begitu berbeda.


Puri membeku saat matanya tak sengaja melihat Ari yang mengenakan celana pendek dengan baju yang dibuka sambil menggosok body mobilnya.


Terlihat begitu tampan.


" CK, mikir apa sih aku, ngeres aja nih otak!"


Menggelengkan kepalanya guna menggugurkan pikiran kotor akibat melihat enam cetakan otot perut milik Ari.


Damned!


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2