Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 62. Keresahan kaum licik


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


"Terima ini dan jangan pernah kembali!"


" Baik nona!"


Luna melempar punggungnya ke sandaran kursi sesaat setelah dua orang yang telah ia sewa jasanya untuk membakar kantor polisi itu enyah dari hadapannya.


Sejurus kemudian, ia menghubungi tuan Hendra dan mengatakan jika rencana mereka telah berhasil. Bukan tanpa alasan tuan Hendra meminta Luna melakukan hal itu, kebutuhan mereka berdua sama. Yakni menyingkirkan Dhisti dari kehidupan Alsaki untuk selamanya.


Mereka menganggap Alsaki mungkin terkena pelet gadis itu. Jika tidak, mustahil seorang Alsaki yang kaya raya malah jatuh cinta kepada gadis pinggiran macam Dhisti. Begitu pikir mereka.


Luna yang menyukai Alsaki sejak lama tentu saja gelap mata akan hal itu, sementara tuan Hendra yang tidak ingin kehidupannya yang nyaman terusik oleh gadis itu, mengupayakan segala bentuk usaha halauan yang bisa saja mengancam kenyamanannya.


Luna pikir semua akan berjalan lancar, tapi ia lupa jika tidak ada kejahatan yang sempurna di dunia ini.


Polisi yang melakukan oleh TKP menemukan barang mencurigakan yang diduga milik pelaku.


...----------------...


Dhisti berada di sebuah ruangan yang di dalamnya terisi oleh enam pasien lain yang kesemuanya merupakan tahanan sementara, dengan kasus yang sama seperti dirinya. Mencuri, menjambret dan kejahatan kelas menengah lainnya.


Ia bisa mendengar kasak- kusuk rintihan kesakitan dari beberapa pasien lain yang kemungkinan sedang di obati. Sepertinya mereka mengalami luka yang lebih parah dari pada dirinya.


Dhisti meringis kala melihat lengannya sedikit melepuh akibat tersenggol bara usuk saat ia di evakuasi.


" Jangan banyak bergerak dulu, infus ini harus habis. Akan ada pihak dari kepolisian yang akan mengurus anda setelah ini!" tutur salah seorang perawat yang kebetulan lewat di dekat ranjangnya.

__ADS_1


Ia langsung tertegun. Ia lupa jika ia masihlah narapidana. Ia mendadak teringat akan Alsaki. Laki-laki itu tadi datang menolongnya kan? Lalu dimana dia?


Membuat benaknya dipenuhi oleh beberapa pertanyaan.


Kenapa Alsaki tadi datang menyelematkannya? Tahu darimana dia?


Sementara itu, di sisi lain, Alsaki terlihat berbincang dengan Inka juga Dante yang baru tiba di jam subuh itu. Nampak berembuk soal hal penting.


" Aku tidak mau tahu Dan, pokoknya Dhisti harus bebas, kau tahu maksudku kan?" kata Alsaki menatap assistenya yang sama tegangnya.


Dante mengangguk tanpa bertanya lagi. " Baik bos! Saya akan lakukan sesuatu perintah anda!"


" Apa yang akan kau lakukan Al?" tanya Inka ragu-ragu.


" Aku akan membalas siapa-siapa saja yang membuat hidup Dhisti menderita seperti itu. Meski apapun yang aku buat tak akan bisa membuat Kakek hidup kembali, tapi setidaknya aku akan menebus kesalahanku sebisanya!*


" Tapi..."


" Tapi apa Al?" tanya Inka kembali.


" Aku tidak tahu apakah Dhisti mau memaafkan aku atau tidak!" Alsaki tersenyum getir. " Aku telah menyakiti perasaannya!"


Inka langsung tertunduk muram. Ia kini juga memikirkan hal yang sama sebab sepertinya kebencian gadis itu terhadap Al benar-benar memuncak.


Di kediaman Keluarga Alsaki, Puri yang baru bangun dan membaca pesan kakaknya langsung mencampakkan badcover lalu berlari menuju kamar mandi.


Gadis itu terlihat buru-buru saat melakukan aktifitasnya. Semua dilakukan dengan cepat. Di bawah ia bertemu dengan Mama yang selalu sudah cantik di jam sepagi itu.

__ADS_1


" Pur, kamu mau kemana?" tanya Mama mengerutkan dahinya.


Ini merupakan kali pertama mereka bertegur sapa sejak kejadian beberapa waktu yang lalu.


" Ma, kantor polisi tempat Dhisti di kurung sementara kebakaran. Kak Al kesana semalaman, aku juga mau kesana ini, aku..."


" Biar saya antar nona, semalam tuan Alsaki terlihat terburu-buru!" sela Ari yang mendadak muncul dengan wajah cemas.


Puri dan Nyonya Hapsari sontak menoleh ke arah Ari yang nampak khawatir. Membuat dua wanita itu mengangguk menyetujui dan langsung menuju ke arah luar.


Tuan Hendra yang mendengar hal itu di balik dinding seketika resah. Laki-laki itu sejurus kemudian menghubungi Luna dengan kekhawatiran yang mulai merajalela.


" Halo Om, ada apa?" jawab Luna dari seberang telepon


" Luna, apa kamu sudah memastikan orangmu itu melakukan semua dengan benar?" tanya tuan Hendra dengan kepanikan yang nampak jelas.


" Tentu saja Om, memangnya ada apa?"


" Dhisti selamat, bahkan Alsaki sudah ada dirumah sakit sejak semalam!"


" Apa?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2