
...🌻🌻🌻...
Pagi harinya, Agatha tampak kebingungan karena bayi itu poop dan ia bingung sebab diapers yang digunakan jelas tak bisa digunakan lagi.
Saat membuka pintu, ia yang kaget nyaris saja meninju wajah Dante yang ternyata juga hendak mengetukkan pintu kamar Agatha.
" Ada apa?" tanya Dante dengan wajah yang datar. Sama sekali tak memiliki mimik wajah.
" Anak itu buang air besar. Kenapa kau semalam tidak membelikannya Pampers sekalian sih?"
Menyalahkan Dante padahal ia sendiri juga lupa soal itu.
" Kenapa kau juga tidak mengingatkan aku semalam?" tak mau lagi di salahkan dan melirik bayi yang kini telanjang bulat.
" Ya mana aku tahu kalau aku bakal ada disini dan ngurusin anak itu!" menyela seraya mendengus sebab ia tak mau di salahkan.
Saat mereka sedang sibuk bertengkar, datanglah seorang wanita paruh baya dengan tergopoh-gopoh.
" Tuan!"
Sapa seorang wanita yang notabene merupakan pekerja tidak tetap yang biasanya membersihkan rumah Dante jika di perlukan.
Wanita itu sedikit syok sebab melihat seorang wanita cantik yang berdiri di dalam pintu kamar Dante, yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
" Astaga, siapa dia? Apa dia kekasih tuan Dante? Tapi kenapa dandanannya begitu?" sibuk merasai Agatha yang kini hanya mengenakan jeans dengan lutut jebol dan tengtop yukensi ( you can see) berwarna hitam.
" Emmm Bu Ami, Bu Ami bisa disini sebentar?"
Agatha melirik Dante yang bermetamorfosa menjadi manusia normal kala berbicara dengan wanita bernama Ami itu.
" Memangnya tuan mau kemana? Tumben saya pagi-pagi sekali diminta datang?" balas Bu Ami dengan suara yang lemah lembut.
" Begini Bu, nanti saya jelaskan lagi. Sekarang saya minta tolong sama ibu buat jaga bayi di kamar itu sebentar saja!"
" Apa bayi?" Bu Ami sontak terkejut bukan main manakala Dante membicarakan soal bayi.
" Pokoknya ibu jaga dulu. Saya mau beli popok sama perlengkapan sebentar. Ayo cepat ikut aku!"
Menggeret lengan Agatha dengan gerakan terburu-buru.
" Ehh ehh sebentar. Aku ambil kemeja aku dulu!" sergah Agatha yang mengambil kemeja flanelnya lalu pergi bersama Dante.
Di dalam mobil, Agatha yang melihat luka di lengan Dante akibat perbuatannya kini terdiam sejenak. Pria itu masih mengenakan kaos polo hitam dengan bawahan celana chinos berwarna cream.
__ADS_1
Dante terlihat keren. Berbeda dengan Agatha yang masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang dia gunakan semalam.
" Aku tidak ada waktu banyak. Setelah ini aku ada urusan. Kita belanja seperlunya saja dulu, kau wanita, kau pasti sedikit banyak tahu apa yang di butuhkan oleh bayi!"
Dante mendecah dalam hati sebab rupanya berbicara lebih dari sepuluh kata itu melelahkan.
" Apa kau bilang? Heh dengar ya, aku memang wanita, tapi tidak semua wanita mengerti kebutuhan bayi sialan! Memangnya aku ibunya?"
Menggerutu dengan kesal sebab Agatha tak suka di perintah.
" Tolong jangan mengajakku berdebat kali ini!"
Agatha seketika terdiam saat dirinya benar-benar lelah. Berada di dalam mobil calon sekaligus mantan korbannya malah membuatnya kesal. Keadaan yang sungguh sial bukan?
Mereka akhirnya membelokkan mobilnya ke sebuah retail yang tidak terlalu besar namun dinilai cukup lengkap sebab memburu waktu. Dante ada pertemuan dan kini ia harus repot soal urusan bayi.
" Pakai ini, dan cepat beli apa yang dibutuhkan anak itu!"
Agatha melongo saat Dante mengeluarkan sebuah kartu hitam ajaib dari dalam dompetnya.
" Buset, black card unlimited!"
Agatha buru-buru masuk sebab ia juga kepikiran dengan bayi yang bahkan tak ia ketahui siapa namanya itu.
Agatha dengan cepat mengambil troli lalu memasukkan bubur untuk anak bayi sebanyak lima box, diapers berukuran paling besar besar, lalu ia mengambil bedak, minyak telon, hair lotion, sabun, sampo, parfum untuk bayi.
" Aku tidak tahu apakah ini cukup atau tidak, tapi setidaknya baju busuk isuk harus segera di ganti!" gumamnya di hadapan Dante yang menunggu di depan kasir.
Dante melongo sebab Agatha rupanya cukup cekatan saat berbelanja. Sedikit memuji inisiatif Agatha yang membelikan pakaian bayi sebab bayi itu memang memerlukannya.
Setelah merasa cukup, mereka buru-buru masuk kembali kedalam mobil dengan pikiran yang sama-sama lega.
" Kita panggil siapa anak itu?" tanya Agatha yang kesulitan saat hendak memanggilnya.
" Raina! Kita panggil dia dengan nama Raina!" kata Dante spontan.
" Raina?" mengenyit menata Dante.
Pria itu mengangguk.
" ya, Raina berarti hujan. Pas dengan keadaan saat kita menemukannya di waktu hujan!"
...----------------...
__ADS_1
Adhisti terlambat bangun sebab semalaman dia benar-benar meladeni gelora suaminya dengan tanpa henti. Pria itu benar-benar tak membiarkannya beristirahat. Huft!
" Diamlah. Aku sengaja tidak bekerja hari ini. Dante pasti saat ini sudah berada di tempat dimana dia seharusnya berada!" berseru tepat di depan telinga istrinya dengan suara parau.
Berbicara jumawa padahal yang dibicarakannya sedang ribut dengan urusan ee'k bayi.
" Badanku sakit semua!" timpal Dhisti setengah kesal sebab tubuhnya bagai remuk tak bertulang.
Alih-alih kasihan, Alsaki malah tergelak saat melihat ekspresi wajah istrinya.
" Aku menyesal nikah sama kamu sekarang dis!"
Al berucap dengan wajah murung yang berhasil membuat Adhisti langsung bangkit dengan wajah syok.
" Menyesal?"
Pria itu mengangguk.
" Hemmm, aku benar-menyesal!"
Semakin membuat Dhisti muram. Apa maksud suaminya itu?
" Aku menyesal karena kenapa gak dari dulu aku nikahin kamu!" jawab Alsaki selanjutnya seraya tergelak kencang. Membuat Dhisti langsung memukul dada suaminya kesal.
" Hiihh dasar!" kesal Dhisti kepada suaminya yang malah mengerjai dirinya di jam sepagi itu.
"Kalau nikah itu rasanya enak begini, tau gitu dari dulu aku nikah!"
" Sembarangan!"
Begitulah keadaan mereka saat ini. Yang ada hanya kebahagiaan dan kebahagian. Buah dari kesabaran atas semua kesulitan hidup yang mereka alami selama ini.
Sangat berbeda dengan sang adik yang masih tidak jelas kemana arahnya. Puri yang pagi ini sibuk di depan laptopnya, tak sengaja melihat Ari dan Desi yang berada di depan mencuci mobil berdua.
Puri termenung saat melihat Ari menggosok body mobil miliknya. Ia sangat menyukai pria itu bahkan mulai menyayangi. Tapi secara sadar pula, ia tahu siapa Ari dan siapa dirinya.
Apakah jika keluarganya nanti tahu bila dia menyukai Ari akan semulus seperti kakaknya yang memperjuangkan Dhisti? Membuatnya semakin gelisah.
" Apa aku curhat sama kak Dhisti aja ya?" mulai membiasakan diri untuk memanggil dengan sebutan yang benar.
Dan sejurus kemudian, Puri memilih untuk mandi dan berniat menemui Dhisti untuk curhat.
.
__ADS_1
.
.