Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 44. Terimakasih Alsaki


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


 


Hari berganti hari. Detik, menit laksana berlari tiada henti mengejar matahari.


Semenjak tangannya terkena luka beberapa hari yang lalu, Ridho memang mengizinkan Dhisti untuk tidak masuk bekerja. Selain atas permintaan Alsaki, ia juga merasa prihatin atas musibah yang di alami oleh karyawannya itu.


Dan sore hari ini, Ridho baru bisa menjenguk.


" Maaf baru bisa jenguk kamu hari ini, cafe lagi rame banget kemarin Dhis!" tutur Ridho dengan wajah muram.


" Tidak apa-apa bang. Saya malah gak enak hati karena bang Ridho kesini malah bawa-bawa bungkusan sebanyak ini!" tutur Dhisti yang sungkan demi melihat banyak sekali bingkisan untuknya.


" Sedikit, semoga bermanfaat. Oh ya, ngomong-ngomong... kakek kamu dimana, kok gak kelihatan dari tadi?" tanya Ridho seraya celingak-celinguk.


" Kakek lagi dirumah temennya di ujung gang. Gak tau lagi apa, semenjak sakit pinggangnya agak berkurang, gak bisa di setop dia!" tergelak kecil di depan Ridho.


Dan semua itu berkat Al yang memberikan obat dengan harga mahal tanpa sepengatahuan Dhisti.


" Oh ya Dhis, soal Alsaki..."


" Kenapa dengan Alsaki bang?" tanya Dhisti ragu.


" Dia sepertinya suka deh sama kamu!" jawab Ridho menatap serius Dhisti.


Dhisti tergelak demi mendengar ucapan bosnya itu, " Bang Ridho jangan ngaco deh! Mana ada bang. Dia sering nemuin aku katanya karena hutang budi. Aku juga enggak tahu apa salah budi sampai di bawa-bawa ke ranah hutang!" ucapnya malah tergelak.


" Aku serius Dhis. Dia malah pernah nanyain hal ini ke aku!"


Langsung berubah murung. " Aku gak mau bahas soal ini bang. Aku tahu siapa aku!"


" Ya...meski dia sendiri pernah bilang hal itu ke aku!"


" Apa, dia gak pernah bilang ke kamu?"


Dhisti terdiam, namun sejurus kemudian mulutnya terbuka untuk angkat suara. " Tapi mbak Luna udah pernah cerita ke aku. Kalau dia...."


" Si anjing, ngapain lu disini?"


Mereka berdua sontak tergeragap demi melihat Al yang masih mengenakan jas kantornya, berada di ambang pintu dengan wajah kesal.


" Al, ngapain lo kesini?" bukannya menjawab, Idho malah balik bertanya dengan wajah kaget.


" Suka-suka gue dong!" sahutnya dengan wajah cuek. " Kamu!" menunjuk Dhisti menggunakan dagunya. "Cepat siap-siap, hari ini jadwal mu kontrol!"


Membuat Dhisti sontak membulatkan matanya.


"Oh tidak. Aku bahkan lupa jadwal kontrolku sendiri!"


.


.


Beberapa menit kemudian, Dhisti yang sudah meminta maaf kepada Ridho soal kepergiannya yang mendadak, kini berada didalam mobil pria berbibir pedas itu dengan wajah bersungut-sungut.


" Kenapa tidak memberitahuku dulu sih? Aku kan jadi tidak enak dengan bang Ridho tau!" protes Dhisti dengan bibir manyunnya.


" Kau tidak enak dengan Ridho tapi biasa saja denganku. Kau ini benar-benar ya?"


Dhisti akhirnya benar-benar menyerah. Al itu sulit sekali di sela jika begini.


Keduanya akhirnya diam saat mobil itu lekas merajai jalanan. Dhisti yang sebenarnya juga lupa jika ia hari ini harus kontrol, tak menyangka jika Al akan seperhatian ini.


" Apa obatmu rutin kau minum?"


Dhisti mengangguk meski kedua alisnya kini bertaut karena masih sedikit merasa sebal.


" Bagus, jangan sampai aku di tuntut karena melakukan unsur pembiaran!"


Membuat Dhisti langsung melengos.

__ADS_1


Setibanya dirumah sakit, Al mengabaikan tatapan penuh sukacita dari para manusia yang mengenali dirinya. Ia fokus berjalan angkuh di depan Dhisti yang malu-malu.


"Pssst, bisakah kau ramah sedikit kepada mereka?" bisik Dhisti saat Al benar-benar terlihat sombong.


" Aku datang kemari bukan untuk beramah tamah!"


" Apa?"


Membuat Dhisti mendecak. Orang ini!


" Progres lukanya bagus. Seiring berjalannya waktu benang yang ini nanti akan putus dengan sendirinya. Teruskan makan makanan yang tinggi protein ya, agar jaringan kulit lebih cepat tumbuh!"


" Apa perlu perawatan lain agar tangannya bisa pulih? Maksudku...warna serta kontur kulitnya apa tidak bermasalah?"


Ia terkesima saat Al benar-benar terlihat bertanggung jawab penuh atas luka yang dia derita. Dhisti bahkan tak sadar mengagumi ketampanan Al yang naik seratus kali lipat, saat dalam mode serius seperti saat ini.


" Aku pasti sudah gila!"


Usai membayar administrasi, Al berjalan dengan wajah cool dan membuat para manusia dari kaum Hawa disana belingsatan.


" Hey, sapalah mereka sedikit. Kau ini benar-benar sombong sekali ya?" mencibir dengan langkah tersuruk- suruk.


" Baru tahu kalau aku sombong. Sepertinya kau harus belajar!"


Lagi-lagi mendecak demi mendengar mulut Al yang tak kehabisan jawaban.


Saat dalam perjalanan pulang, Dhisti tiba-tiba merasa rindu kepada Sauki dan teman-temannya terutama Dani. Ia sudah lama tidak menjenguk mereka. Membuat Dhisti memberanikan diri untuk meminta izin kepada Al.


" Mmmm, bisa tidak kau turunkan aku di depan sana?" tanya Dhisti dengan ragu. Melirik Al yang wajahnya datar.


" Untuk apa?" sahutnya tanpa menoleh.


" Aku..ada perlu!"


" Perlu apa?"


" CK, orang ini susah sekali sih tinggal bilang iya aja!"


" Penting apa"


" Astaga brengsek. Bisa tidak langsung bilang iya gitu aja?" mendengus kesal dalam hati.


" Aku ingin menemui anak-anak sebentar!"


Al diam dan tampak tak menjawab. Pria itu memberhentikan mobilnya di sebuah parkiran yang startegis dan membuat Dhisti mengajukan banding.


" Sudah kubilang turunkan aku disana, kenapa malah disini? Ya sudahlah, kau pulanglah, aku bisa sendiri!" cecar Dhisti yang mesin mobilnya baru saja di matikan oleh Al.


" Siapa kau beraninya memerintah Alsaki. Turun, aku ikut!"


" Apa?"


Dhisti melongo saat Al melepaskan jasnya dan kini tampak menggulung kemeja birunya sebatas siku. Membuatnya pria itu tampak ganteng maksimal.


" Malah diam. Kau mau kita kemalaman di jalan?"


Sumpah demi apapun yang ada di dunia ini, Dhisti benar-benar ingin mencekik pria itu. Tidak bisa apa bersikap lembut?


Al berjalan berdampingan dengan Dhisti meski yang di dampingi terlihat kesulitan mensejajari langkah. Oh ya ampun!


Mereka berjalan melewati gang sempit di tengah-tengah kota besar itu. Sebuah kawasan yang sama sekali tiada Al duga, berasa di kawasan perkotaan besar seperti oti. Bahkan, suara hilir mudik kendaraan bertonase besar masih terdengar jelas dari sana.


Langkah yang terjangkau membawa mereka ke sebua bangunan suram, se suram masa depan penghuninya.


" Kak Dhisti!"


Pekik salah satu anak laki-laki yang paling kecil diantara kerumunan bocah berwajah kuyu. Dialah Dani.


Alsaki yang melihat pemandangan menyedihkan itu benar-benar syok di buatnya. Bagaimana bisa, ada sekitar delapan anak berbaju lusuh dan kumal kini mengerubungi Dhisti.


" Kalian apa kabar? Maaf ya Kakak jarang jenguk kalian!" Dhisti mengusap satu persatu kepala bocah dengan baju ndomble sebab kancingnya tak lengkap.

__ADS_1


Al yang menyaksikan interaksi menyedihkan itu seketika trenyuh. Luar biasa, jadi Dhisti selama ini dekat dengan anak-anak kurang beruntung seperti itu.


" Maaf ya kakak gak bawa apa-apa. Kakak tadi habis dari rumah sakit soalnya!" tersenyum menatap satu persatu anak-anak yang telah ia kenal itu.


" Kakak sakit? Kakak kena apa ini?" tanya Dani dengan suara cadelnya.


" Gak sengaja jatuh. Udah sehat kok, makanya kakak lama gak kesini. Kalian udah pada makan? Kalau ngamen jangan larut - larut ya? Acong CS masih sering malak kalian?"


Alsaki yang melihat potret nyata kehidupan kelas bawah itu seketika merasa dadanya sesak. Membuatnya sejurus kemudian merogoh ponsel di dalam sakunya lalu menghubungi Dante.


Seusai mengunjungi anak jalanan yang kerap di sambangi oleh Inka dan Dhisti itu, mereka berdua akhirnya pulang. Namun Dhisti tak tahu jika Al barusaja menghubungi Dante dan terlihat memerintahkan sesuatu.


Saat telah berada di dalam mobil, Dhisti tampak bingung manakala Al tak segera menyalakan mesin mobilnya.


" Ada apa? Mobilnya rusak?" tanya Dhisti polos.


" Sudah berapa lama?"


Dhisti mengernyit" Apanya yang lama?"


Al menoleh menatap Dhisti dengan tatapan dalam. Tampak ingin tahu apa yang selama ini dilakukan oleh Dhisti.


" Sudah berapa lama kamu selalu peduli dengan orang lain seperti ini?"


Dhisti yang di tatap lembut oleh Alsaki tampak membalas tatapan itu dengan senyuman tipis.


" Sejak aku mengerti bahwa hidup yang memiliki arti adalah hidup yang berguna buat orang lain!"


Al menatap Dhisti lekat-lekat. Setia menunggu kata demi kata yang barangkali akan di lanjutkan oleh wanita berparas manis itu.


" Aku mungkin gak se kaya kamu. Gak setenar kamu, gak seberuntung kamu lah. Tapi apa kau tau Al, bahwa seni memberi, seni peduli, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar sudah bahagia dalam arti sebenarnya!"


Al semakin terpukau dengan gaya bicara Dhisti yang menyentuh nuraninya. Sungguh, Al semakin tertarik dengan kepribadian luhur yang tersembunyi dalam sisi ketus Dhisti.


"Karena dalam memberi, kau akan merasakan betapa damainya hatimu, betapa tentramnya jiwamu. Meski kau sendiri belum bisa dikatakan berlebih!"


Luar biasa. Bagaimana Al tidak semakin jatuh cinta dengan sosok bersahaja di dekatnya itu jika begini.


" Hanya saja!" Wajah Dhisti murung kala ia melempar tatapan matanya ke arah lain. Membuat Al semakin penasaran.


" Aku tidak selalu bisa dan selalu ada buat mereka. Aku sadar, kapasitasku untuk menolong mereka lebih belumlah cukup!" jawab Dhisti tersenyum getir demi teringat akan persoalan hidupnya.


" Aku bisa menolong mereka?" tutur Al lirih namun bernada serius.


Membuat Dhisti kontan menoleh menatap wajah tampan yang kini membuatnya berdebar itu.


" Maksud kamu?" bertanya bingung.


" Kamu pernah ingat kan saat aku mengajakmu pergi bersama Dante?" berusaha menggiring ingatan Dhisti pada sebuah tempat besar miliknya.


"Itu adalah yayasan milikku. Kalau kau mau, kita bisa bawa mereka tinggal disana!" ucap Al menatap Dhisti penuh kesungguhan.


" Apa kau serius?" timpal Dhisti antusias.


Al mengangguk. Mengiyakan pertanyaan Dhisti lewat mimik wajahnya.


Melihat Alsaki yang tersenyum meyakinkan, membuat Dhisti langsung reflek memeluk Alsaki saking bahagianya." Terimakasih Al. Terimakasih. Mereka pasti akan sangat senang!" seru Dhisti seraya memeluk Al dengan erat. Terlalu bahagia sampai tak menyadari tingkah konyolnya.


" Apa yang kau lakukan? Kau sedang merayuku ya? Cepat lepas!"


" Tidak mau. Aku senang Al. Aku sangat senang karena kau mau membantu mereka!"


Membuat pria itu tersenyum-senyum demi reaksi luar biasa Dhisti.


Alsaki yang mendengar hal itu hanya bisa menahan tawa, dengan hati yang kini meledak-ledak karena bahagia.


" Aku senang karena kau mau memelukku Dhis!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2