Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 19. Head Of Nusa Bahana Corp?


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Al yang semula mengekor di belakang wanita yang tampak gemetar usia ia hardik itu, mencoba mengetuk pintu bercat putih usai si pengantar pergi.


Nomor Fery tidak bisa ia hubungi. Dari kasak-kusuk yang ia dengar, sepertinya Dhisti sedang di panggil untuk mempertanggung jawabkan kesalahan.


Namun yang membuatnya terkejut bukanlah Ramdan yang hanya berdua dengan Dhisti dalam satu ruangan, melainkan wajah ketakutan, rambut berantakan, serta kancing baju atas Dhisti yang terlepas.


" Sekali lagi kutanya, apa yang kau lakukan ?" Menghardik Ramdan dengan isi pikiran yang tidak-tidak.


" Hey, apa kau sudah gila. Pelankan suaramu!" Timpal Dhisti yang khawatir Saki akan membuat managernya semakin berang.


Namun yang di teriaki nampak tak merespon. Pria itu semakin menatap Ramdan yang kini ketakutan dengan tatapan menuntut jawaban. Sama sekali tak menghiraukan Dhisti yang melihatnya tak setuju.


" Aku bertanya untuk terakhir kalinya, kenapa baju wanita itu seperti itu?" Berucap dengan intonasi penuh penekanan, seraya menatap tajam Ramdan yang sepertinya masih syok karena melihat Al ada di mulut pintu kantornya.


Dhisti yang masih kaget saat melihat pria empat ratus ribu mengapa bisa ada di ruangan manager cabul itu, berniat mengusir Al karena merasa telah lancang dan kurang ajar kepada managernya. Membuatnya takut jika dia akan mendapat masalah lagi.


" Masalah mbak Nita aja belum beres. Kenapa orang ini muncul sih?"


" Kenapa kau disini? Kau bisa membuatku dalam masalah jika mulutmu terus kurang ajar seperti itu. Cepat keluar!"


Mendorong Al dengan impulsif namun yang di dorong tampak tak bergerak satu inci pun.


Ramdan yang melihat Dhisti bertanya dengan nada kasar, serta mendorong tubuh Al dengan bebasnya, kini semakin dibuat syok.


Bukannya menjawab, Al terlihat kesal saat melihat Dhisti yang justru melemparinya dengan tatapan tak suka, serta perlakuan menolak.


" Kemari kau!"


Mata Ramdan seperti mau copot saat dengan gerakan cepat Al menarik tangan Dhisti menuju arah luar.


" Hey lepaskan aku, hey!"


Tak mempedulikan pukulan tangan wanita itu. Entah mengapa Al benar-benar tak terima kala melihat Dhisti yang ia duga mendapat pelecehan.


Para karyawan dan karyawati yang berdiri berjajar melihat Dhisti di geret paksa oleh Al, kini nampak terlolong dengan isi kepala yang menebak-nebak.


" Kenapa Tuan Alsaki terlihat marah?"


" Apa anak itu membuat kesalahan?"


" Pasti si Dhisti buat masalah sama tuan Alsaki, kalau enggak untuk apa pria itu malam-malam datang kesini dengan wajah marah!"


" Bener, tuh lihat. Mampus dia di seret- seret kayak gitu!"


Saling bergunjing demi melihat Dhisti yang di seret entah kemana itu. Alih-alih membantu, para manusia unfaedah itu tampak merasai Dhisti.


" Heh brengsek, sakit tau lepasin!"


Al masih diam seribu bahasa dengan wajah keruh meski Dhisti terus memberontak dan ya segan menyakiti lengannya. Pria itu terlihat terus menyeret Dhisti menuju ke arah mobilnya.


" Kau ini gila atau apa? Lepaskan brengsek!"


Dua orang satpam yang melihat hal itu, kini mencoba melerai hal yang mereka sinyalir merupakan sebuah pertengkaran.


" Maaf Pak, ada ap..."


Namun satpam yang melihat arti tatapan Al benar-benar menjadi ciut nyali. Satpam itu tahu siapa Al. Melihat Al memberikan kode melalui bahasa mata, satpam itu akhirnya mengerti.

__ADS_1


" Pak kenapa malah pergi sih, tolongin!"


Dhisti yang melihat satpam itu berhenti semakin merasa bingung dan putus asa. Kenapa semua orang tidak ada yang menolongnya dari kelakuan pria edan ini?


CEKLEK!


" Masuk dan diam disini!"


BRAK!


Dhisti terbengong-bengong dengan tawa yang begitu sumbang, usai Al menjebloskan dia kedalaman mobil yang tempo hari mereka gunakan menuju ke pantai.


" Apa dia sudah gila? Ada apa dengan pria itu? Kenapa juga dia bisa datang kemari?" Menggeleng tak percaya atas apa yang barusan ia terima.


Dan sejurus kemudian.


"Hah, mobil ini dikunci? Brengsek si Saki. Woy! Buka!"


Namun semua yang dilakukan Dhisti percuma. Al telah mengunci pintu mobilnya dan kini tampak berjalan masuk kembali kedalam mall itu.


Ia masuk dengan wajah yang benar-benar tak bersahabat. Membuat karyawan yang masih ada disana kembali dibuat sibuk berpikir.


Ada apa sebenarnya?


Al harus meminta klarifikasi mengapa Dhisti berada di ruangan itu. Apa mereka baru melakukan sesuatu? Atau kasak-kusuk bernada gunjingan itu benar adanya?


Dhisti dihukum?


BRAK!


Suara pintu yang terjeblak membuat Ramdan yang duduk diatas singgasana terlonjak kaget.


" Apa yang kau lakukan dengan gadis itu?"


DEG


Menelan ludah sebab tatapan Al begitu mengiris selapis demi lapis keberaniannya. Membuat Ramdan tak memiliki keberanian bahkan hanya untuk menatap dua manik matanya.


" Apa yang anda katakan Tuan, saya..."


" Jawab!"


Gebrakan diatas meja itu sukses membuat Ramdan tak memiliki pilihan selain mengaku. Tapi tunggu dulu, kenapa Al bisa tahu jika dia dan Dhisti ada di ruangan itu? Dan apa urusannya Al dengan Dhisti?


" Kau benar-benar menguji kesabaranku. Katakan atau aku akan..."


" Ampun- ampun saya akan jelaskan. Tenang dulu!" Meringis takut sembari menurunkan tangan Al yang sudah melayang di depan wajahnya.


" Sa- saya memberinya pelajaran karena anak itu seenaknya memberi izin karyawan lain untuk pulang tanpa sepengetahuan saya!"


" Saya hanya ingin memberikan efek jera kepada karyawan yang tidak taat aturan!" Menjawab dengan wajah muram.


Membuat Al mendecah tak percaya.


Dilain pihak, Dhisti yang masih terlihat kesal dan bersungut-sungut di dalam mobil berbau wangi itu tampak menyerah. Percuma ia menggedor pintu mobil itu, tangannya bahkan sampai memerah namun pintu itu tak bergerak satu inci pun.


"Ada apa dengan pria itu? Sebentar muncul, sebentar datang. Kenapa dia sering muncul tiba-tiba sih?"


Menggerutu mengeluarkan kekesalan yang bersarang di dalam hatinya. Hingga, ia yang kini diam seraya membunuh rasa kesal, merasa teralihkan demi melihat setumpuk berkas yang ada di dalam mobil pria itu.

__ADS_1


" Apaan ini?"


Tangan Dhisti reflek terulur meraih kertas tebal itu. Sedikit penasaran dengan tumpukan benda yang cukup menonjol itu.


...Alsaki Danadyaksa...


...Head of Nusa Bahana Corp....


Mata gadis itu langsung membulat demi melihat nama timbul yang tercetak pada lembar kedua sebuah buku, yang di sampingnya terdapat foto Alsaki yang terlihat tampan penuh wibawa kala mengenakan jas.


" Hah?"


Ia sampai terbengong demi melihat sederet penjelasan yang terperinci, tentang siapa orang yang bernama Alsaki Danadyaksa itu.


Membuatnya spontan membuka hape, demi mencari tahu nama Alsaki, yang selama ini tak pernah ia gubris ketenarannya.


DEG


Dhisti langsung lemas demi mengetahui jika pria empat ratus ribu itu benar-benar Alsaki yang sering bertemu dengannya belakangan ini.


" Ja- jadi di- dia..." Tergagap- gagap demi rasa tak percaya jika pria bernama Saki itu merupakan Alsaki si pria tenar yang kekayaannya terkenal di penjuru negeri.


" Astaga, bodohnya aku!" Merutuki diri karena selama ini ia memang kurang aware kepada tampilan wajah-wajah manusia tenar. Bahkan wajah jajaran menteri di susuan kabinet yang ada saja ia tidak tahu.


Jelas mengindikasikan jika Dhisti bukanlah pecinta entertainment.


Jarang menonton TV dan malas berselancar di media sosial serta lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencopet membuat Dhisti tak pernah tertarik dengan kehebohan diluar sana.


Lagipula, fatamorgana semacam itu tak ada untungnya untuk dia yang hidup dibawah garis keras hidup sulit.


CEKLEK


BRAK!


Suara pintu mobil yang terbuka lalu terbanting itu membuat dunianya serasa runtuh. Dia telah kembali. Tapi kenapa? Kenapa pria itu juga menipunya?


" Apa yang sakit?"


Belum juga ia bisa meredam rasa syok atas pengetahuannya soal siapa sebenarnya Alsaki, kini tubuhnya terasa adem panas saat melihat tangan Al yang menyentuh keningnya.


DEG


" Kenapa orang ini? Aku bisa mati kalau dia begini. Duh kenapa setelah tahu kalau dia itu orang berpengaruh kok aku jadi takut ya. Mana kemarin aku sempat ngata- ngatain lagi. Duh In, kayaknya kata-katamu bener deh. Seringkali ketidaktahuan itu lebih menenangkan."


Bermonolog dalam hati dengan wajah yang ia buang ke arah luar. Sama sekali tak berani menatap Al yang nampak cemas kala melihatmu.


Al yang melihat tubuh Dhisti gemetar dan tak berani menatap, kini menarik seulas senyum demi melihat sisa resume serta biodatanya yang tadi ia berikan kepada pihak kampus berada dalam genggamannya.


" Jadi kau sudah tahu siapa aku?" Tanya Al dengan senyum menyeringai.


DEG


Membuat Dhisti semakin membeku.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2