
...🌻🌻🌻...
Malam harinya, Inka yang merasa geram dengan Alsaki kini nekat pergi seorang diri dan tampak tak bisa lagi menunda niatnya untuk melabrak laki-laki itu.
" Wanita itu cantik, dan dia mengatakan kepada kakek untuk tidak membawa nama Alsaki pada kasus Dhisti In, saya juga tidak kenal siapa wanita itu, saya juga tidak tau Alsaki siapa yang di maksud, tapi begitu selesai mengatakan hal itu, wanita itu langsung pergi bahkan tak menoleh saat saat kebingungan!"
Inka terlihat sesekali mengusap matanya yang terus basah manakala teringat akan ucapan Lukman beberapa waktu yang lalu. Kini, Dhisti tak ubahnya seperti dirinya yang hidup sebatang kara berteman debu dan angin.
Ia terus saja menguatkan diri meski Brio telah melarangnya untuk menemui Alsaki. Ia harus melampiaskan kekesalannya demi sahabatnya yang kini terpuruk di dalam penjara.
" Stop Pak!"
Inka berucap kepada supir angkot yang ia tumpangi, untuk menurunkannya di dekat jalan raya. Sejurus kemudian, ia terlihat berjalan menuju ke arah rumah Alsaki. Ya, gadis itu nekat menyatroni rumah pria tenar itu dengan berbekal alamat yang ia Googling dari internet.
Namun, saat hendak masuk ke arah pintu gerbang, gadis bertindik banyak itu seketika menunda langkahnya manakala ia melihat Alsaki yang mengendarai mobil dan berbelok ke arah kanan.
" CK, brengsek!" ia mengumpat karena kesal sebab target yang hendak ia temui malah pergi entah kemana.
Ia lantas kembali ke jalan raya lalu memberhentikan taksi konvensional dan meminta sang supir untuk mengejar mobil yang ada di depan mereka.
" Mau kemana mbak?"
" Ikuti saja mobil yang itu Pak, ya ...yang tu!"
Inka tak memperdulikan lagi siapa Alsaki. Pun dengan rasa kagumnya selama ini. Ia harus mengeluarkan bongkahan kekesalan yang begitu menyesakkan dadanya kepada laki-laki yang ia kira baik itu.
Namun tanpa di nyana, Alsaki rupanya datang menuju ke cafe milik Ridho. Membuat Inka keheranan.
" Stop disini saja Pak!" tukasnya memberi jarak aman antara dirinya dengan Al.
Usai membayar ongkos dan meminta sang supir untuk mengambil kembaliannya, Inka bergegas masuk saat melihat Alsaki sudah mulai melangkah kedalam lebih dulu.
Entah apa yang akan di lakukan oleh laki-laki itu di dalam sana, namun melihat cafe yang agak sepi, jelas membuat urusannya semakin lancar.
Alsaki benar-benar masih belum percaya akan apa yang sudah di lakukan oleh Dhisti. Hatinya sudah tertambat pada gadis itu, tapi kenapa gadis itu harus memiliki kebiasaan yang cela seperti mencopet?
" Mau minum apa?" tawar Ridho kepada Alsaki yang datang dengan wajah kusut.
" Terserah. Gue pusing banget Dho!" jawabnya dengan wajah yang kehilangan gairah hidup.
Ridho mengangguk lalu masuk mengambilkan secangkir kopi espresso untuk Alsaki. Berharap bisa membuat pikiran sahabatnya sedikit lebih baik.
" Nih minum dulu, lo kenapa sih Al, kelihatan kacau banget tau nggak!" tanya Ridho sembari menarik kursi yang ada di depan Alsaki.
Usai menyesap sedikit kopi yang di hidangkan oleh Ridho, Alsaki terlihat membasuh wajahnya kasar. Semakin menegaskan jika laki-laki itu tengah gusar oleh suatu hal.
__ADS_1
" Gue masih kepikiran Dhisti Dho, hati gue sakit ngelihat dia mendekam di penjara. Tapi..." menghela napas guna menetralisir kegundahan. Sungguh, ia benar-benar kehilangan kendali atas dirinya.
" Tapi apa?" tanya Ridho tak sabar.
" Tapi kenapa dia harus jadi copet?"
" Pria brengsek!"
PLAK!
Mata Ridho seketika terbelalak saat Inka dengan cepatnya melayangkan tampar ke wajah Alsaki usai menarik pakaiannya dalam sekali tarikan. Membuat wajah Alsaki seketika terasa pedih.
" Inka! Apa maksud kamu nampar aku kayak gini?" tukas Al dengan mata melebar dan keterkejutan yang begitu kentara.
" Puas lo udah bikin Kakek meninggal, hah?"
DUAR!
" Kakek? Me- meninggal?" ulang Alsaki dengan muka pias sebab syok.
" Dengar ya brengsek, orang-orang kayak kalian itu gak akan pernah tau rasanya jadi manusia yang hidup kere kayak gue sama Dhisti. Dan asal elo tahu, gue yang ngajakin Dhisti nyopet, bukan dia yang mau jadi pencopet! Kenapa emang kalau kita nyopet, hah?"
Dengan napas terengah-engah dan suara menggebu-gebu, Inka tampak meluapkan apa yang menjadi ganjalan hatinya. Matanya bahkan sudah mulai memanas saat ia menyebutkan nama Dhisti.
" Jangan pura-pura nggak tau lo brengsek, gue tau elo malu dan mungkin kecewa sama Dhisti, tapi kenapa elo nyuruh orang buat ngasih tahu kakek soal Dhisti hah, kenapa?" seru Inka kecewa sembari mendorong tubuh Alsaki yang terlihat terkejut.
Di detik itu, Inka spontan menangis demi mengingat kakek yang telah tiada karena syok akan kabar cucunya yang mendekam di dalam penjara.
" Gue kira elo baik Al, elo peduli sama kaum bawah kayak kita, tapi ternyata elo lebih jahat dari yang gue bayangin. Puas lo udah bikin hidup Dhisti menderita kayak gini, brengsek!"
Alsaki langsung menarik lengan Inka yang hendak pergi usai melontarkan pernyataan yang membuat tubuh Alsaki bergetar.
" Inka tunggu dulu, jangan pergi dulu!"
" Lepas brengsek!" Inka melempar tangan Alsaki dan membuat cekalannya terlepas.
" Tunggu dulu In, tolong lo jelasin ke gue apa yang telah terjadi, kakek meninggal? Gue gak tau apapun soal gadis yang datang kerumah Dhisti, gue serius!" ucap Alsaki berusaha meyakinkan Inka sebab ia memang telah jujur.
Inka tertawa getir, terlihat tak percaya dengan apa yang barusaja di ucapkan oleh Alsaki. " Orang kaya memang bebas ya. Usai menghilangkan nyawa orang dengan dalih tidak sengaja, sekarang dia berbicara seperti ini. Oh ya, gue lupa kalau elo artis. Pasti gampang banget buat akting kan?" ketus Inka yang benar-benar kehilangan rasa kagumnya akan sosok Alsaki.
Gadis itu nampak muak, ia menatap benci Alsaki dan langsung mencabut tangannya kasar lalu pergi dengan wajah yang teramat membenci Alsaki.
" Inka, tunggu! Ini ada kesalahpahaman, aku benar-benar nggak ngerti dengan apa yang kamu katakan!"
Ridho bahkan turut berjalan maju saat Alsaki berusaha menahan langkah Inka kembali. Beruntung, pengunjung di cafe tengah sepi, hanya ada beberapa pengunjung di depan serta karyawan yang syok lalu dimintai untuk masuk kembali oleh Ridho.
__ADS_1
" Lepas gue brengsek!" elak Inka lagi yang kini nampak benci kepada Alsaki.
Alsaki menatap murung ke arah Inka yang baru saja mendorongnya dengan keras. Al tidak mempedulikan rasa sakit itu. Ia hanya fokus dan ingin mencari tahu apa yang barusan dikatakan oleh Inka.
" In, please jelasin ke gue apa yang terjadi! Sumpah gue gak tau apa-apa soal gadis yang datang kerumah kakek!"
Alsaki bahkan tak lagi mengatakan kamu aku kepada Inka.
Inka yang napasnya masih kembang-kempis terlihat menatap Al yang memohon kepadanya dengan raut murung. Membuat Inka melempar tatapan ke arah lain sebab entah mengapa ia menjadi tak tega.
Kini, dengan terpaksa Inka duduk. Ia melihat sinar penuh harap dari dua bola mata Alsaki. Laki-laki sepertinya tak bohong soal gadis itu. Tapi jika Al tidak melakukannya, lalu siapa?
" Kata Pak Lukman, ada wanita yang datang dan mengatakan jika dia adalah assistenmu...Dia..."
Inka lantas menjelaskan secara gamblang, soal apa yang di saksikan oleh Lukman sebelum kakek meninggal. Mulai dari kata demi kata yang terlontar, bahkan sikap acuh tak acuh saat lukaman berteriak meminta pertolongan.
Al yang mendengar hal itu nampak terkejut dan merasa geram. Siapa yang berani melakukan hal itu? Ia sama sekali tak memiliki pikiran untuk datang kepada kakek mengingat ia juga mengasihi laki-laki tua itu.
" Tadi lo bilang elo yang ngajak Dhisti nyopet, tapi kenapa?" tanya Alsaki yang benar-benar penasaran akan hal itu.
Inka masih menatap sinis Alsaki yang tampak mulai gelisah karena sepertinya ia salah mengambil keputusan.
" Kakek di tipu sama temannya, sertifikat rumah+ tanah mereka di sekolahkan di bank dengan tenor panjang dan angsuran yang mencekik. Kakek sakit-sakitan setelah itu. Mengkhawatirkan nasib mereka yang bakal jadi gelandang jika tidak bisa membayar angsuran tiap bulannya. Dhisti yang nggak mau kakek sakit-sakitan terpaksa berbohong soal sertifikat itu. Aku buat sertifikat palsu buat bukti agar kakek tenang."
" Dhisti kerja apapun, tapi gaji yang di dapat kadang gak cukup buat ngecover hidup mereka. Sempat aku tawari untuk jual diri tapi gagal!"
" Apa, jual diri?" Alsaki seketika mendelik saat mendengar Inka mengatakan hal itu dengan santainya.
" Gue ngajak dia nyopet karena desakan. Dhisti orang baik. Cuman dia yang gue punya. Mau bantu pakai duit halal juga gak pernah lebih. Gue juga miskin dan yatim piatu, dia nyopet juga kadang tebang pilih. Fokus ke keturunan orang yang nipu itu tadi. Yang aku dan Dhisti sika sikat kemarin, juga anaknya orang yang udah nipu Dhisti. Kita gak nyolong sebenarnya, cuman ngambil hak lewat jalur lain!"
Alsaki seketika merasa kosong demi mendengar penuturan Inka. Ia telah salah mengambil keputusan. Ia terlalu larut dalam vonis orang-orang. Segumpal rasa sesal mendadak muncul memenuhi relung sanubarinya demi sekelumit kisah yang begitu memilukan.
" Tunggu dulu, Lo tadi bilang kalau Dhisti mau jual diri, maksud Lo...?" tanya Alsaki tampak tegang dan ketar-ketir dengan keadaan Dhisti yang sebenarnya.
Inka mengangguk. " Tapi gak jadi, Dhisti ketakutan saat ini. Makanya terus aku ajak nyopet karena dia lebih memilih jalan ini ketimbang jual diri. Dan Lo tau siapa yang mau ngebeli keperawanan Dhisti?"
Membuat Alsaki menatap lekat wajah Inka yang menyeringai.
" Siapa?"
" Tuan Hendra Gunawan!"
.
.
__ADS_1