
...🌻🌻🌻...
Indah kabar dari rupa, sebuah peribahasa yang berarti, berita yang baik namun bukitnya tak memadai. Kalimat ini agaknya cukup relevan dengan keadaan Dhisti. Ia sebenarnya bahagia, namun tak ada saya untuk menunjukkan kepada dunia akan apa yang ia rasa.
Mencintai dan di cintai merupakan sebuah hakikat luhur pemberian sang maha pencipta, yang tiada bisa ditolak jika sudah mulai melanda.
Kendati ia sangat senang dan ingin menunjukkan itu kepada dunia, namun ia yang nameless hanya bisa merasakan kebahagian itu dari dalam hatinya.
" Apa kau senang?" Alsaki bertanya kepada Dhisti sewaktu dia hendak mengantarkan gadis itu pulang.
" Entahlah Al. Rasanya, semua ini seperti mimpi!" menjawab dengan tatapan menerawang lurus.
Alsaki yang masih mengemudi tampak melepas satu tangannya lalu meraih tangan Dhisti untuk kemudian ia kecup. Membuat jalanan hangat itu menelusup ke dalam relung hati Dhisti.
" Kau tahu, di luaran sana mungkin banyak yang mengira hidup dengan ketenaran itu menyenangkan!" Berbicara sambil masih terus menggenggam salah satu tangan Adhisti.
" Dan menemukan keheningan denganmu sudah seperti obat buatku!" kembali mencium punggung tangan gadis itu dengan penuh kasih.
Dhisti masih menatap jalanan lurus itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Apakah ini buah kesabarannya sedari dulu? Hidup melarat, ditipu, di khianati? Semua hal tidak mengenakkan itu kini bermetamorfosa menjadi sebuah kebahagiaan. Meski, kakek tak lagi bisa melihat semua ini.
" Impianmu akan segera terwujud kek. Aku sudah bersama orang yang begitu mencintaiku!"
Namun Alsaki malah salah mengartikan air mata yang jatuh tanpa seizin gadis itu. Membuat Al buru-buru menepikan mobilnya dengan kepanikan yang begitu kentara.
" Dhis, kamu kenapa? Apa ada yang salah dengan kata-kataku barusan?" berucap dengan pikiran yang tidak-tidak.
Yang diajak berbicara hanya menggeleng seraya tersenyum. "Astaga, jadi dia salah pahami?"
" Enggak Al, aku justru ngerasa senang. Kamu tahu kan apa impian kakek sebelum beliau pergi?" menjawab saat mobil itu sudah berhenti dengan sempurna.
Hati Al lega, ia pikir calon istrinya itu telah tersakiti oleh ucapannya. Hati wanita itu benar-benar penuh misteri ya?
Maka pria itu langsung menangkup wajah Dhisti lalu mengatakan perkataan yang begitu menyenangkan.
" Aku juga sudah berjanji pada kakek untuk selalu menjagamu. Berjanjilah untuk selalu percaya kepadaku apapun yang terjadi, hm?"
Dhisti yang masih menitikkan air mata kini mengangguk menyetujui. Ia tercekat sebab terlalu bahagia. Sedetik kemudian, wajah pria itu nampak mendekat dan membuat keduanya semakin tak berjarak.
" Aku mencintaimu Dhis, sangat mencintaimu!"
Alsaki mengecup dalam bibir calon istrinya dengan penuh cinta. Seolah ingin menegaskan sekali lagi, bahagia dia adalah lelakinya.
...ΩΩΩ...
Keesokan harinya.
" Apa kalau Danisa besar nanti juga bisa jadi pramugari?"
Gadis kecil yang kini sedang bercengkrama bersama Ibu dan kakaknya tampak menikmati quality time bersama yang sangat jarang terjadi. Bahkan bisa dibilang langka.
" Kalau terus rajin belajar, dapat nilai bagus, pasti bisa!" seru Ari memberikan semangat.
" Mas Ari Jangan pergi ya, Danisa kangen!" sang bocah kecil tampak memeluk tubuh laki-laki itu dengan wajah murung.
Ibu dan Ari kini saling menatap, andai keadaannya tidak seperti ini, andai permasalahan itu tak menerpa keluarga mereka, pasti Ari tidak perlu susah-susah merantau ke kota.
Puri yang melihat hal itu dari balik pintu kamarnya hanya bisa terdiam. Ia teringat akan sepatu yang telah ia beli tanpa sepengetahuan Ari. Membuatnya ingin nimbrung.
Gadis itu lantas pergi menuju ruang tamu dengan kaki yang masih agak nyeri, sembari membawa goodie bag.
" Wah, lagi pada ngobrolin apa nih?" Puri berseru dan membuat kesemua orang menoleh kepadanya.
Danisa yang melihat Puri datang langsung cemberut. Gadis kecil itu sepertinya cemburu sebab kakaknya lebih sering menghabiskan waktunya bersama Puri ketimbang bersamanya, begitu pikir Danisa polos.
" Nona, anda sudah bangun?" sapa Ari masih dengan sikap hormat.
Puri tersenyum mengangguk, lalu meletakkan goodie bag itu ke lantai. Sejurus kemudian gadis berkulit bersih itu terlihat mengusap lembut puncak kepala Danisa yang bersembunyi dibalik ketiak Ibunya.
__ADS_1
" Kakak punya hadiah buat Danisa!" kata Puri membujuk.
Gadis yang masih malu-malu itu terlihat mengintip sesuatu yang seperti memancing perubahan sikapnya.
" Danisa coba ya, semoga Pas!"
Maka Ari seketika menajamkan pandangannya demi melihat sebuah sepatu yang cukup familiar.
" Sepatu itu kan...?"
" Nona, anda..."
Puri seketika mengedipkan matanya memberikan clue kepada Ari untuk diam. Meski Ari terlihat amat terkejut, tapi laki-laki itu hanya bisa mematuhi titah Puri.
" Nona, apa ini tidak berlebihan?" tutur Ibu Yuli tak enak hati saat melihat sepatu yang pasti harganya tidak murah itu. Ari langsing mengangguk menyetujui kalimat yang di ucapkan oleh ibunya.
" Ini hadiah untuk si gadis cantik yang selalu sabar saat di tinggal Kak Ari!" mengusap lembut pipi Danisa yang kini sudah mulai melunak akibat upeti yang dia dapat.
" Apa aku kelihatan cantik?" bertanya ramah kepada Puri.
Lihatlah, Bahkan rencana wanita cantik dari kota itu telah berhasil. Dan entah mengapa, saat menyenangkan hati orang lain, jiwanya turut merasa damai.
" Very beautiful!" mencubit gemas pipi Danisa.
" Beautiful?" tanya Danisa tak mengerti ke arah Puri.
" Emmm, artinya sangat cantik!" menjaga khas anak-anak yang membuat Danisa seketika gembira.
"Ibu, kata kakak cantik ini, aku juga cantik. Yeee, aku punya sepatu baru. Ibu ayo kita tunjukkan kepada pakde, aku mau pamer!"
Ibu yang sudah di tarik paksa oleh Danisa hanya bisa tersenyum haru. Ari yang melihat hal itu sungguh tak enak hati kepada Puri.
Maka Ibu langsung mengikuti Danisa yang ingin pamer sebuah harta baru kepada pakdenya.
" Kenapa anda membelikan sepatu mahal itu nona, maksud saya...ini terlalu berlebih-lebihan!" kata Ari dengan wajah resah.
Namun alih-alih menjawab, Puri malah membahas topik lain.
Ari semakin mengerutkan dahinya saat melihat Puri mengaduk isi goodie bag nya kembali.
" Apa lagi ini nona, kenapa anda menghamburkan uang hanya untuk hal seperti ini?" membatin tak setuju.
" Anggap saja ini hadiah kecil. Kau tahu Ar, aku saat ini sedang stres. Dan berada disini, aku merasa sangat terhibur dan senang. Aku harap kau menyukainya!" tukas Puri menyodorkan beberapa pakaian yang dia pilihkan untuk Ari.
Ari terlolong tak percaya, anak majikannya itu mau menggelontorkan uang sebanyak ini hanya untuk membeli beberapa lembar baju untuknya.
" Nona, anda tidak perlu melakukan ini. Ibu Hapsari sudah terlalu baik kepada saya, saya..."
" Sssttt, aku gak mau dengar apa-apa lagi, kalau bisa besok kamu pakai pas nganter aku ya?"
Ari sungguh merasa tak enak hati. Namun yang memberi malah senang saat Ari terlihat resah.
" Mas Ari!"
Keduanya langsung menoleh saat Desi tiba-tiba datang dan sudah berdiri di ambang pintu. Gadis itu tampak sedikit kesal saat melihat dua anak manusia itu duduk bersebelahan.
" Desi, ada apa des?" Ari bertanya dengan wajar.
" CK, jangan bilang mas Ari lupa. Kita jadi pergi kan?" bertanya agak kesal.
" Astaga, maafkan aku. Jadi kok, jadi. Maaf barusan aku ngobrol sama Danisa. Nona, saya tinggal dulu ya? Terimakasih banyak untuk semuanya ini!"
Usai mengangguk penuh hormat kepada Puri, Ari langsung bangkit dengan membawa serta beberapa pakaian itu untuk di simpan terlebih dahulu ke kamarnya. Desi yang saling menatap dengan Puri menegasikan jika keduanya tampak tak menyukai satu sama lain.
" Saya pergi dulu nona, ayo Des!"
Entah kenapa Puri merasa kesal tatkala Ari merangkul bahu Desi saat melangkah pergi. Membuat Puri yang kini seorang diri memilih menelpon kakaknya.
__ADS_1
" Halo Pur, gimana?" jawab Alsaki sesaat setelah ponselnya tersambung.
" Kakak lagi apa? Bad mood nih!" berkata kesal seolah-olah Alsaki melihatnya merajuk.
" Katanya disana lagi seneng, kok udah bad mood lagi!"
" Kak, kakak pernah gak sih ngerasain cemburu gak sih pas jatuh cinta sama Dhisti?"
Membuat yang di seberang telepon dilanda kebingungan.
" Cemburu, memangnya kenapa?"
" Jawab aja!"
" Pernah!" terdengar mendengus kesal.
" Oh ya sama siapa?"
" Ada mantan pacarnya, kenapa jadi bahas ini sih?" suara sang kakak mulai tak sabar.
" Kak, kalau aku jatuh cinta gimana?"
Sang kakak terdengar mendecah dan semakin tak mengerti arah pembicaraan adiknya.
" Jatuh cinta? Emangnya udah ada?
" Ya ..belum sih!" menjawab bohong.
" Terus ngapain nanya?" kembali mendengus kesal saat sang adik semakin tidak jelas.
" Jadi rencananya kakak sama Dhisti gimana?"
Mencoba mencari topik lain dulu sebab ragu-ragu untuk mengutarakan maksudnya.
" Aku nunggu kamu pulang baru bahas ini. Rencananya aku mau nikah tapi gak besar. Tahu sendiri papa masih Fifty-Fifty ke aku!"
" Aku mendukung kak. Perlu apaan aja sih?"
" Ya banyak, gak bisa di bahas lewat telepon. Aku juga masih sibuk ngurus administrasi. Lagian si Dhisti nolak aku ajak nikah besar-besaran!"
" Itu baru namannya calon istri baik, gak matre gak gila hormat!"
Hening selama beberapa detik. Puri sebenarnya ingin mengatakan sesuatu kepada sang kakak, namun sepertinya ia tak memiliki cukup nyali untuk melakukannya.
" Kak?"
" Apa?"
" Kalau aku suka sama seseorang dan orangnya juga gak selevel sama aku, apa kakak nyetujuin?"
Terdengar deru napas panjang dari seberang. Puri meyakini jika kakaknya pasti sebal karena sedari tadi ucapannya tidak jelas.
" Memangnya kamu mau? Kan kamu sendiri yang netapin standar kayak gitu dari dulu. Pingin yang ini, itu..."
Puri tertegun. Ia dulu memang berharap memiliki suami yang kaya dan selevel dengan. Dan sosok Wisnu semula adalah dewa cinta untuknya. Namun ternyata...
" Ya, buktinya Wisnu kayak gitu!"
Sang kakak terdengar kembali menghela napas panjang.
" Ya kalau aku sih gak ribet ya Pur, usaha bisa dirintis, rezeki bisa di cari, tapi kalau tabiat, itu susah dirubah!"
Membuat Puri semakin mantap dengan apa yang dia rasa.
.
.
__ADS_1
.
.