Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 112. Akhir kisah END


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Puri merasa tubuhnya tersulut sesuatu yang panas. Meski kesadarannya tak penuh, tapi dia bisa melihat Ari yang dua kali lipat lebih tampan di hari biasa.


Ari yang merasa ini tidak benar seketika melepaskan dirinya. Puri mabuk dan membuat gairah gadis itu menebal.


" Ari!"


Puri merintih dengan tatapan sendu namun Ari sama sekali tak terpengaruh. Ia adalah pria normal yang bisa saja terseret gelora panas itu. Tapi sebagai pria sejati, Ari tentu tak akan melakukan hal itu dengan cara pecundang seperti ini.


Ari membetulkan posisi Puri lalu sejurus kemudian ia pergi meninggalkan gadis itu di kamarnya. Itu jauh lebih baik. Menjaga martabat wanita baginya adalah sebuah keharusan. Karena selain ibunya, ia juga ingin Danisa kelak di perlakukan baik seperti dia memperlakukan lawan jenisnya.


Dan laki-laki sejati tak akan memanfaatkan kelemahan seorang gadis yang mabuk. Hanya pecundang lah yang mau melakukan hal kotor seperti itu. Ari menyayangi gadis manja itu, dan ia tak akan menyentuh Puri sebelum waktunya tiba.


.


.


Lima bulan berlalu.


Nyonya Hapsari kini sudah resmi menjadi janda. Alsaki juga perlahan-lahan keluar dari masalah demi masalah yang dia hadapi sedikit demi sedikit.


Dhisti yang kini semakin gemuk karena kehamilannya justru mendapat rezeki dari sebuah produk susu kehamilan yang di produksi oleh Delta Group. Perusahaan mereka bekerjasama dengan sangat baik hingga terwujudlah satu korelasi yang signifikan.


Desi kini jauh lebih pendiam selama dia bekerja di rumah Tyo. Wanita itu tak menyadarinya bila diam-diam Tyo menaruh rasa yang lebih dari sekedar kasihan juga lebih dari rasa empati.


Dan sejak kejadian dimana Puri mabuk, Ari yang melaporkan hal itu kepada Alsaki membuat Puri berada dalam pengawasan ketat kakaknya. Lebih-lebih mereka masih dalam pemantauan netizen, salah bertingkah sedikit saja, maka itu akan menjadi hal yang tak baik bagi mereka.


Dan selama lima bulan ini, Puri merasa Ari semakin jauh. Pria itu Bahkan lagi-lagi hilang tanpa berpamitan.


Apakah semua itu karena tingkah yang nakal? Atau karena Ari sudah memiliki wanita lain saat dia kini sudah memiliki karir yang lebih bagus?


Namun siapa sangka, setelah lima bulan terombang-ambing dalam ketidakpastian, sebuah hal tampak muncul dan membuat segalanya kini jelas dan terang benderang.


Ketukan dari luar membuat mbok Enok buru-buru menuju ke pintu. Sudah sangat lama semenjak majikannya bercerai, jarang ada yang datang selain Alsaki dan istrinya.


CEKLEK


Dan saat pintu itu telah terbuka, terkejutlah mboke Enok dengan sosok yang kini hadir di depan sana.


" Lho mas Ari?" teriak mbok Enok yang terkejut bukan main sebab Ari datang tak hanya sendiri, tapi bersama wanita paruh baya yang bersahaja, juga anak kecil yang terlihat ceria.


Membuat wanita tua itu merasakan haru karena lama sekali tak melihat wajah Ari.


" Apa ibu sama Puri ada mbok?" tanya Ari tersenyum menatap wanita yang dulu pernah menjadi rekan kerjanya itu.


" Ada mas, ada. Sebentar ya, kebetulan Den Al juga menginap disini, mari masuk, saya panggilkan. Aduh mas Ari, saya kira kemana soalnya lama gak ada kabar!"


Wanita tua itu terus berbicara saat mempersilahkan masuk, sebab masih tak percaya jika Ari datang kemari setelah ia mendapatkan kabar jika laki-laki itu pergi tanpa berpamitan kepada Puri.


" Sebentar ya mas, saya panggilkan Ibuk dulu!"


Ari mengangguk lalu masuk bersama ibunya juga Danisa dengan perasaan tak sabar.


" Jadi Mas Ari dulu kerja disini?" tanya Danisa menatap takjub rumah besar itu.


Ari mengangguk, " Besar kan rumahnya?"


" Aku kalau udah besar juga mau kerja di kota, biar bisa beliin ibuk rumah seperti ini!"


Ibu dan Ari terlihat tergelak kecil, mengamini tiap niatan luhur yang terucap dari bibir mungil Danisa.


Dan tak berselang lama usai mereka duduk, Alsaki bersama Dhisti yang perutnya sudah besar terlihat turun dengan wajah terkaget-kaget.

__ADS_1


" Ari, kau kah itu?" sapa Dhisti yang terkejut, pun dengan Alsaki.


Ari menatap wanita yang perutnya sudah membuncit itu dengan wajah bahagia. Ia meyakini jika Alsaki dan Dhisti saat ini pasti sedang dalam fase bahagia sebab sedang menantikan kelahiran calon buah hati mereka.


" Aku kira kau sudah lupa dengan kami karena kau sepertinya sudah punya management sendiri!" kata Alsaki yang kini saling berpelukan bersama Ari, lalu bersalaman dengan ibu dan juga si kecil Danisa.


"Ini ibu sama adik kamu?" tanya Dhisti menatap senang. Membuat Ari mengangguk.


Dhisti lantas bersalaman lalu memeluk tubuh wanita itu dengan penuh keramahan.


" Wah ini siapa namanya?" tanya Dhisti kepada Danisa.


" Danisa Tante!"


" Wah pintarnya, ayo sini duduk sini..." Dhisti sangat menyukai anak kecil, dan dalam waktu singkat saja, ia dan Danisa sudah langsung akrab.


Sedetik kemudian, saat mereka hendak duduk ke sofa, Ari terlolong saat melihat nyonya Hapsari yang kini datang dan duduk di atas kursi roda sembari di dorong oleh seorang pengasuh.


" Ibuk?" kata Ari yang terkejut dengan kondisi kesehatan wanita naik itu! Memberikan kesembuhan menoleh.


" Tekanan darah mama tinggi, mama kena stroke ringan. Sudah aku ingatkan untuk tidak perlu memikirkan yang tidak perlu, tapi tetap saja!" kata Alsaki menjelaskan dengan wajah yang penuh kesedihan.


Ada rasa sesal yang kini terpancar di wajah Ari. Ia pergi sebab menyelesaikan pekerjaannya bersama Tyo. Dan saat ini dia datang kembali sebab ingin melamar Puri dalam keadaan yang sudah lebih pantas.


" Ari, kau datang nak?" nyonya Hapsari berkata seraya merentangkan tangan manakala melihat wajah Ari. Membuat pria itu langsung bangkit dan menyongsong Nyonya Hapsari lalu memeluknya erat.


" Puri sedih karena kau pergi tanpa sebab. Aku ikut memikirkannya. Kupikir kalian ada masalah!" kata nyonya Hapsari dengan suara bergetar sebab sambil menangis.


Dan mendengar hal itu, membuat hati Ari seketika merasa bersalah.


" Puri ada di belakang. Setiap hari dia menyibukkan diri memberi makan ikan-ikan dan melamun. Temuilah dia. Semenjak kau pergi, dia kehilangan dunianya!"


Maka Ari langsung pergi menuju ke belakang dan melihat sesosok gadis yang terlihat lebih kurus dengan wajah tanpa make up. Puri yang masih belum menyadari kedatangan Ari kini terlihat melempar pakan ikan dengan tatapan kosong.


Hanya kekosongan.


" Ehem... selamat pagi Nona!"


Deg!


Puri yang mendengar sebuah gelombang suara yang cukup familiar seketika tertegun. Dan melihat Puri yang seperti belum menyadari kehadirannya, membuat Ari makin mengencangkan suaranya.


" Selamat pagi nona!"


Dan suara kedua yang semakin nyata itu membuat Puri seketika menoleh.


What?


Dan di detik itu, Puri merasa tak dapat berkata-kata demi melihat sosok Ari yang kini tersenyum menatapnya dengan sorot mata penuh kerinduan.


Ari merentangkan tangannya dan bersiap memeluk Puri yang pasti mengira jika Puri akan berlari ke arahnya. Terlalu percaya diri.


Namun tanpa di duga, alih-alih memeluk, gadis itu malah memukul dada Ari dengan brutal. Membuat Ari tersentak.


" Beraninya kau pergi lagi tanpa pamit!"


" Katamu kau tidak akan meninggalkan aku tapi kenapa kau malah pergi, hah?"


" Apa karena aku mabuk? Aku bahkan sudah tidak pernah minum lagi, apa kau tahu itu?"


Ari yang di pukuli diam saja sembari menahan tawa dan membiarkan Puri meluapkan kekesalannya. Bahkan meski Puri yang gencar memukul, tapi justru tangan gadis itu lah yang terasa sakit.


Sialan!

__ADS_1


Puri kini menangis saat ia tak lagi sanggup untuk memukul karena dada bidang Ari yang sangat keras. Rasanya benar-benar campur aduk.


" Sudah? Apa nona sudah lega?" tanya Ari yang tersenyum melihat Puri yang ngos-ngosan.


" Berhenti memanggilku nona sialan!" ketus Puri yang emosinya belum lega.


Ari makin tergelak saat melihat gadis cerewetnya itu marah-marah. Inilah yang dia rindukan. Kecerewetan Puri.


Dan sejurus kemudian


" Maaf!" kata Ari yang kini menarik tubuh Puri kedalam pelukannya. Meresapi aroma kerinduan yang kini telah terlebur oleh pertemuan.


Membuat Puri semakin menangis tak berdaya sebab ia tengah di peluk dengan erat oleh pria yang juga sangat dia rindukan.


" Aku pergi untuk mempersiapkan semuanya. Semua yang akan kita butuhkan!" lirih Ari yang kini berubah menjadi sangat serius.


Puri masih tak sanggup untuk sekedar menjawab, air matanya semakin deras bahkan membanjiri kaos Ari.


Ari kini melepaskan pelukannya lalu menatap dalam mata basah Puri yang sesegukan. Ia tahu ia telah membuat Puri lama menunggu.


" Maafkan aku karena terlalu lama!" lirihnya kini mengusap lembut pipi Puri dengan wajah muram.


Namun gadis itu semakin tak berdaya dan hanyut dalam isak tangis yang semakin menjadi.


Sedetik kemudian, di tatapannya Ari yang mengeluarkan sebuah kota beludru warna hitam dari balik sakunya. Membuat mata Puri membelalak karena terpana akan keindahannya.


" Will you marry me, nona?" kata Ari yang terdengar sangat romantis. Ini benar-benar diluar ekspektasinya. Ari benar-benar romantis.


Puri semakin menggigit bibir bawahnya sebab perasaannya kali ini benar-benar di aduk oleh Ari. Ia masih kesal, tapi ia kini juga sangat bahagia.


" Terima, terima, terima!"


Dan koor dari para manusia heboh itu membuat keduanya seketika kaget.


Astaga! Rupanya para manusia yang kini bersorak itu membuntuti Ari dan bersembunyi di balik pintu. Membuat Puri semakin mendengus kesal.


Jadi mereka sudah tahu kalau Ari datang?


Ari menatap Puri dan menunggu jawaban. Semakin dag dig dug sebab menunggu bibir Puri terbuka. Takut kalau-kalau Ari di tolak sebab ini memang mundur dari deadline.


Tapi sejurus kemudian, gadis itu mengangguk dengan tangis yang semakin pecah. Membuat kesemuanya bersorak-sorai.


" Wuuu akhirnya!"


" Cieee yang bakal jadi istri!"


Ari yang hatinya kini diliputi kebahagiaan, langsung menyematkan sebentuk cincin indah itu ke jari manis Puri dengan penuh kebanggaan. Bangga karena akhirnya ia bisa melamar wanita yang ia cintai melalui jerih lelahnya.


" Aku mencintaimu!"


Puri yang kini bibirnya di cium mesra oleh Ari, terlihat meresapi dalam-dalam ciuman hangat itu.


Ia masih ingat betul saat pertama kali ia jatuh hati dengan pria manis itu. Sebuah takdir yang tak ia ketahui, bahwa jika Tuhan sudah berkehendak, maka yang tak mungkin akan terjadi.


" Woy, ingat ada anak kecil nih!" seru Alsaki yang kini menutupi mata Danisa seraya tertawa demi melihat adiknya yang kini memunggungi mereka dengan posisi saling mencium.


Membuat Puri seketika malu.


Nyonya Hapsari menatap bahagia kedua anaknya dengan mata berkaca-kaca. Alsaki yang kini sudah bahagia bersama wanita luar biasa yang sebentar lagi akan resmi menjadi orang tua, melahirkan generasi baru yang ia harapkan menjadi anak-anak yang cerdas dan baik.


Dan Puri yang kini juga sudah menemukan pria yang menurutnya sangat tepat. Ari ia yakini mampu melindungi Puri. Walau ia pernah mengalami hal pahit, tapi melihat kedua anaknya yang kini bahagia, semua itu menjadi penawar dan menjadi obat segala kepahitannya.


Berbahagia anak- anakku, doaku selalu menyertai kalian!

__ADS_1


TCPC TAMAT.


__ADS_2