Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 37. Kerusuhan


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


" Mama mau kemana?"


Puri yang melihat sang Mama telah rapi kini tentu penasaran, akan kemana induknya itu?


" Ada janji sama teman-teman Mama. Sekalian mau ambil kue di shop nya Luna !" sahut Mama sembari mengangkat tas.


Puri mengangguk. Ibu-ibu banyak sekali ya acaranya. Begitu pikir anak muda itu.


" Papa enggak ikut?"


" Acaranya emak-emak mana mau Papamu. Lagipula, nanti gula darahnya naik lagi kalau ikut. Kamu tau sendiri makanan kalangan ibu-ibu itu macam apa!" tergelak kecil demi mengkelakari si bungsu.


Nyonya Hapsari lantas pergi dengan supirnya usai berpamitan dengan Puri. Wanita yang selalu tampil cantik meski tanpa riasan yang mencolok itu terlihat memasuki mobil dengan elegan.


Melaju membelah jalan raya yang padat merayap. Awal perjalanan, semua terasa normal tak ada kendala apapun. Namun, begitulah hidup yang bisa saja berubah sewaktu-waktu. Seperti kata pepatah, malang tak dapat di tolak, dan untung tak dapat di raih.


Mobil yang semula melaju dengan tenang, mendadak berdecit akibat rem yang di injak mendadak oleh Ari.


" Ada apa Ar?" Nyonya Hapsari bertanya dengan wajah khawatir kepada Ari sang sopir, demi keadaan abnormal itu.


" Sepertinya...ada tawuran Buk. CK, mana gak bisa putar balik ini!" jawab sang supir dengan mendecak. Dari air mukanya, Nyonya Hapsari bisa menyimpulkan jika Ari tengah gusar.


Dengan resah, wanita itu spontan mencoba menghubungi anaknya. Situasi benar-benar kacau dan terlihat banyak sekali pemuda anarkis disana.


Dan tak membutuhkan waktu lama, kengerian itu akhirnya menimpa mereka juga.


BRUAK!


" Keluar!"


Ari sempat menoleh kepada majikannya untuk memberikan tanda agar tenang.


" Ada apa ini?"


Dari dalam mobil, wanita itu mendengar Ari yang tampak berdiplomasi dengan wajar kepada berandal yang tubuhnya hitam berotot. Membuatnya semakin ngeri.


" Mana duit Lo!"


" Kalian ini demo atau pencuri?"


BUG!


Melihat Ari yang di tempeleng oleh laki-laki bertubuh besar itu, Nyonya Hapsari semakin panik.


" Jangan buka pintu Buk! Jangan!"


Ia semakin panik kala Ari terlibat baku hantam demi mempertahankan keselamatannya.


Namun, belum sempat nomor itu tersambungkan, Nyonya Hapsari dibuat terkejut demi melihat Ari yang kini di tarik paksa oleh pria-pria berjaket jeans, yang tampak murka.

__ADS_1


" Astaga, bagaimana ini. Ari! Ar!" berteriak namun masih tetap tak bisa berbuat apa-apa.


Nyonya Hapsari semakin ketakutan kala ia melihat leher baju Ari di cengkeram kasar oleh tiga orang lain, lalu menyeretnya pergi. Seketika, nampaklah situasi yang benar-benar menegangkan.


Dalam keadaan yang sulit di telisik, Nyonya Hapsari benar-benar kaget dan takut, demi melihat seorang pria yang membawa celurit dan mengancamnya hingga membuatnya gemetar.


" Buka!"


Nyonya Hapsari masih tunduk dengan perintah Ari untuk tidak membuka mobilnya.


" Buka atau kubunuh kau!"


Keringat dingin semakin membanjiri keningnya. Tak ada siapapun untuk diminati tolong sebab asap yang mulai membumbung, membuat matanya perih.


Entah asap apa itu. Suasana yang tercipta mendadak seperti malam yang merangkak.


BUG!


BUG!


" Buka atau aku kubunuh kau!"


Melihat hardikan kala kaca mobilnya di pukul oleh benda berat yang entah itu apa, Nyonya Hapsari refleks menekan tombol unlock dan membuat pintu itu terbuka.


" Sini kau brengsek!"


Ia di tarik dengan kasar oleh pria berlengan besar itu. Ia pasti akan mati setelah ini. Sempat memindai sekeliling dan yang nampak hanyalah kekacauan. Ban ban mulai di bakar dan di ujung jalan kerusuhan dengan terjadi.


Alih-alih takut dan menyerah, ia bersikeras mempertahankan tas yang hendak di rampas oleh pria itu, meski tangannya benar-benar gemetar karena rasa takut yang teramat. Sedikit kecewa kenapa polisi tak nampak diantara keriuhan itu.


" Mau mati kamu!"


Ia sudah menangis saat mata pria hitam itu melotot kearahnya dengan sebilah celurit yang teratung keatas.


Namun sejurus kemudian.


BUG!


KLUNTHANG!


BUG!


" Argghh!"


Ia turut terperanjat saat melihat seorang wanita dengan berani menendang lengan pria itu dan membuat sebilah senjata itu terpelanting ke aspal. Lebih dari itu, Nyonya Hapsari juga melihat laki-laki mengerang sakit sebab biji lato- latonya sempat di tendang oleh gadis itu sesaat sebelum mengajaknya kabur


" Kemari Buk, kita lari!" ajak wanita itu dengan cepat meraih tangan Nyonya Hapsari lalu menuntunnya lari.


" Kurang ajar!"


Dalam waktu yang benar-benar mepet, Nyonya Hapsari tampak mengingat-ingat akan sosok yang kini menggeretnya berlari. Siapa dia, kenapa aku pernah melihatmu, tapi dimana?

__ADS_1


Ia bahkan tak lagi mengetahui dimana Ari sebab situasinya benar-benar kacau. Banyak orang menjerit, berteriak, bahkan Nyonya Hapsari sempat melihat baku hantam yang membuat lututnya seketika gemetaran.


" Ayo buk, lebih cepat. Kerusuhan ini benar-benar kerusuhan besar!"


Jantungnya semakin berdegup kencang manakala gadis itu memberikan sedikit gambaran akan apa yang telah terjadi.


Ia masih berlari sekuat tenaga. Walaupun, tenaganya tak bisa mengimbangi perempuan muda yang tiba-tiba menolongnya itu. Mereka masuk ke gang-gang sempit dengan baik comberan yang menyiksa hidung.


Nyonya Hapsari yang kelelahan kini tak mampu lagi melanjutkan aksi larinya.


" Saya gak kuat nak. Saya..."


Dhisti yang melihat pria berjaket jeans masih lari mengejarnya, kini menjadi bingung. Namun di lain pihak, ia tak tega manakala melihat perempuan tua yang terlihat benar-benar kehabisan tenaga.


Dalam keterdesakan, ia terpaksa menghadapai pria itu.


" Mau sok jagoan Lo ya?" cibir pria itu menyeringai sembari merebut tas Nyonya Hapsari dengan tarikan keras. Membuat keduanya ketakutan.


Nyonya Hapsari yang mendengar suara keras itu kembali mendelik dan spontan berlindung di balik punggung Dhisti yang sebenarnya juga ketakutan.


Dhisti tidak jago bela diri namun dia masih cukup berani untuk melawan sebisanya. Gadis itu terlihat merebut kembali tas Nyonya Hapsari dengan sekuat tenaga.


PLAK!


" Nak!"


Nyonya Hapsari yang melihat gadis itu di tempeleng, langsung menjadi gemetar demi melihat darah di sudut bibir gadis itu.


" Tolong!"


Ia menjerit meminta pertolongan namun sepertinya suara gaduh tak akan mampu meloloskan pekikan itu.


Dhisti yang bolak balik terjungkal akibat berkelahi dengan impulsif, terlihat memukul dan menendang sebisanya.


Hingga...


Srriing!


" Aaahhh!!!" jerit Dhisti yang merasakan perih yang teramat di lengannya.


Pria itu rupanya tak segan melukai lengan Dhisti dan membuat gadis itu tak lagi bisa mempertahankan tas Nyonya Hapsari.


Namun sedetik kemudian.


" Jangan bergerak! Polisi!"


Membuat pria itu kini membeku sebab ia telah di kepung.


Ia meringis ngilu saat rasa perih, sakit, juga menusuk itu makin menghujam dagingnya yang kini koyak. Dalam kesadaran yang masih ada, ia membulatkan matanya demi melihat lengannya yang mengeluarkan darah begitu banyak.


.

__ADS_1


.


__ADS_2