
...🌻🌻🌻...
" Papa lagi telepon siapa?"
Tuan Hendra seketika mematikan sambungan teleponnya yang belum sepenuhnya selesai sewaktu suara istrinya menggema di ruangan itu.
" Ada nomor baru, gak tau siapa. Mama dari mana?" bersikap santai sehingga meyakinkan sang istri.
" Dari depan ngantar Puri mau bareng Ari ngurus project!" balas nyonya Hapsari melenggang masuk mengambil sesuatu.
" Kemana Ma? Kok Papa gak di pamiti?" pasal tuan Hendra tak terima.
Namun yang di ajak berbicara malah melenggang. Ya, Nyonya Hapsari masih belum sepenuhnya memaafkannya suaminya sebab pria itu enggan meminta maaf kepada Dhisti. Membuat wanita itu enggan berkomentar banyak.
Tuan Hendra yang merasa istirnya masih mendiamkannya kini semakin cemas. Posisinya benar-benar sedang terpojok, namun ia benar-benar tak sudi jika gadis pencopet itu harus bersama dengan putranya.
...----------------...
" Maaf cuma ada ini!"
Dhisti menghidangkan satu secangkir kopi susu buatan Delta food milik. Salah satu perusahaan manufaktur terbesar milik Abimanyu Aryasatya.
" Makasih Dhis!"
Mengucapkan terimakasih sesaat sebelum menyeruput kopi buatan Dhisti.
" Puri pergi?"
Alsaki mengangguk sembari meletakkan kembali cangkirnya. " Masih galau. Mau lanjut atau udahan gitu aja!"
Dhisti paham akan hal itu. Memuaskan sebuah hubungan memang tidak semudah saat kita jatuh cinta.
" Aku kesini karena mau kasih tau kamu. Aku, mau pindahin anak-anak ke yayasan. Kamu bantuin bicara ya?"
Dhisti yang memang sedikit melupakan Sauki and friends selama ia tersandung kasus, kini bagai menemukan kekuatan baru saat mendengar Alsaki membahas hal itu.
" Kau masih mengingat mereka?" menatap Alsaki antusias.
Alsaki kembali mengangguk. " Mana mungkin aku lupa!"
__ADS_1
Dhisti tersenyum. Bagiamana ia tak memaafkan Alsaki jika pria itu terlihat bersungguh-sungguh menebus kesalahan-kesalahannya.
" Mmmm Dhis, aku mau bicara beberapa hal penting sama kamu!"
Beralih ke mode serius manakala Alsaki mengubah intonasi suaranya.
"Terlepas gimana papaku bersikap sama kamu, aku... cuman mau bilang kalau aku akan tetap serius sama kamu!"
Gadis itu kontan tertegun.
" Aku pingin kamu nikah sama aku!"
What?
" Tapi Al aku..." hendak menyergah namun ucapannya mendadak menguap percuma ke udara.
" Sssttt!" mendesis tak ingin mendengar penolakan Dhisti. Membuat seraut wajah yang muram ini semakin resah.
Dhisti hanya berdiam saat Alsaki tampak sibuk mengeluarkan sebuah kotak beludru dari dalam sakunya.
" Give me your hand!" meminta tangan Dhisti.
" Buat?"
Berbicara sembari memasukkan sebentuk cincin berlian dengan batu indah bermodel simpel yang cantik di jemari Dhisti. Membuat gadis itu menatap tak percaya.
" Sebenernya, aku udah lama mau kasih ini. Tapi karena kita kemarin seperti itu...ya begitulah. Intinya aku pingin hidup bareng sama kamu Dhis!" menatap wajah gadis itu dengan tatapan mendalam.
Mata Dhisti langsung berkaca-kaca dibuatnya. Jadi laki-laki itu benar-benar serius? Inikah rasanya dilamar?
Kok aneh ya?
" Lihat kan, kau menjadi paling cantik saat mengenakan cincin itu!"
Dhisti menyebikkan bibirnya manakala mendengar Alsaki menggombal.
" Berteman dengan Inka dan Ridho membuatku mewarisi ilmu gombal!"
Keduanya langsung tergelak manakala mengingat dua sosok anti-mainstream itu.
__ADS_1
...----------------...
" Aku kebelet banget Ar. Gimana ini?"
Yang di mintai pendapat langsung panik saat melihat tangan yang mengganjal bagian bawah perut gadis itu. Bepergian bersama wanita memang menjadikan keadaan lebih runyam ya?
" Beberapa meter lagi akan ada SPBU Nona. Nona bisa tahan?" menjawab gelisah.
" Duh, cepetan kalau gitu!"
Ari tentu saja ketar-ketir saat melihat Puri mendesis menahan rasa sengkil. Pria itu akhirnya tancap gas lalu ngebut demi kebutuhan majikannya.
Setibanya ia di area SPBU, ia yang menunggu Puri mengosongkan kandung kemihnya, tampak menelpon ibunya dan mengabari jika ia datang bersama anak majikannya.
" Ya sudah, ibuk siapkan kamar dulu. Kamu nanti tidur dirumah paklikmu aja. Ibuk tak bilang pak RT kalau ada tamu yang mau nginep sini!"
" Danisa mana buk?"
" Dia sedang beres-beres kamarnya. Dengar kamu mau pulang dia langsung rajin!"
Membuat Ari tersenyum senang. Ia yang melihat Puri sudah berjalan kembali ke arahnya buru-buru memungkasi sambungan teleponnya.
" Siapa?" tanya Puri yang kini telah tiba di depannya.
" Ngabarin ibuk kalau udah sampai sini!" menjawab tersenyum.
" Kamu capek nggak. Atau mau aku gantiin?" menawarkan diri dengan wajah kasihan.
Ari terkekeh. " Saya ini sopir Nona. Jangan khawatirkan itu!"
" Tapi dari berangkat tadi kamu belum istirahat!"
" Rasa rindu kepada orang yang kita sayang itu melebihi rasa lelah kita nona. Anda akan tahu, jika anda mengalaminya nanti. Mari!"
Puri seketika tertegun. Ia seolah tertampar dengan kata-kata Ari. Ia tak pernah berada jauh dari keluarganya selama ini, jadi dia memang tidak tahu rasanya rindu dengan orang-orang terdekatnya.
Mendadak merasa iba dengan keadaan Ari.
.
__ADS_1
.
.