Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 57. Seratus delapan puluh derajat berubah


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Alsaki yang benar-benar frustasi dan bingung dengan apa yang terjadi, tampak menyendiri di dalam ruang kerjanya. Laki-laki itu terlihat tiada jemu dalam membaca kolom komentar pedas, yang menyudutkan Dhisti jika gadis itu merupakan pemain lama.


Ia terus saja menggulir layar ponselnya dan membaca tiap kecaman, umpatan, hingga pernyataan menyakitkan yang membuat perasaannya seketika berubah menjadi bimbang.


Dalam waktu yang benar-benar cepat, perasaan Alsaki bagai di uji.


" Kenapa kau membohongiku Dhis?" lebih lirihnya dengan hati yang teramat pilu.


Ia bisa terima dengan keadaan Dhisti yang kekurangan. Namun ia tak bisa mentolerir aksi tak terpuji macam itu. Bagaimana bisa, ia telah jatuh cinta kepada seorang pencopet?


TOK TOK TOK


" Kak Al!"


Ia buru-buru menyusut sudut matanya demi mendengar suara Puri di balik pintu kamarnya.


" Masuk aja Pur!" sahutnya sesaat setelah mengembuskan napas panjang. Berusaha menetralisir gejolak dalam batinnya.


Pintu terayun dan menampilkan sosok Puri yang berwajah murung. Gadis itu masuk lalu langsung memeluk kakaknya memberikan kekuatan.


" I'm sorry to hear that!" ucap Puri sembari memeluk sang kakek, memberikan perhatian bagi sang kakak.


Alsaki mengangguk dengan senyum kecut sembari mengusap punggung adik yang ia sayangi. Ia juga merasa hancur saat ini.


" Padahal aku juga udah percaya banget sama dia kak. Ternyata masih banyak orang jahat yang bersembunyi dibalik sikap arif bijaksana!" timpal Puri yang semakin bermuram durja.


Niat hati ingin menghibur, dia sendiri justru larut dalam kesedihan.


Puri sebenarnya juga masih ragu dengan apa yang ia ucapkan. Namun berita yang semakin beraneka ragam soal Dhisti, jelas membuat keyakinannya kian tergerus.


" Kenyataannya ternyata begitu kak. Se's no good for you!" timpal Puri kembali membuka cakrawala kenyataan untuk sang kakak.


Kini, kedua kakak beradik itu saling tercenung demi merasakan patah hati yang sama-sama mengendap dalam lara mereka.


...----------------...


Keesokan harinya, Dhisti yang memang tak bisa lagi mengelak hanya bisa percaya kepada Inka untuk mengusahakan mencari dana talangan bersama Brio, untuk membayar denda atau jaminan agar Dhisti bebas.


Dalam pikirannya, ia kini memikirkan Alsaki yang pasti sudah tahu jika dia adalah pencopet. Mungkin akan jauh lebih baik jika dia mengakui siapa dirinya kepada Alsaki ketimbang harus seperti ini.

__ADS_1


Saat masih larut dalam lamunan, ia tiba-tiba tersentak kala seorang petugas datang dan terlihat berjalan mengantar seseorang.


DEG


" Alsaki?" gumamnya sedikit senang karena Alsaki mau datang. Tak menduga jika laki-laki itu masih mau menemuinya.


" Saya tinggal dulu!" kata petugas berseragam lengkap kepada Alsaki.


Al tampak mengangguk seusai petugas itu pamit untuk undur diri dari hadapannya. Kini, hanya tersisa dua anak manusia yang saling menatap dalam kecanggungan yang begitu menyeruak.


Dhisti diam menatap Alsaki yang juga membeku kala menatap. Suasananya yang semula ia pikir akan hangat, kini berubah menjadi dingin cenderung mencekam.


" Al, aku..."


" Aku cuma mau bilang, kalau apa yang telah terjadi antara kita cukup sampai disini!"


DEG


Wajah yang semula penuh harap itu mendadak kehilangan cahayanya. Menjadi redup, suram, bahkan kini kehilangan cahaya pengharapan.


" Aku tidak membencimu karena status kamu yang seperti ini. Tapi...." Al menghela napasnya resah. Tak sanggup untuk sekedar meneruskan ucapannya. " Aku pamit Dhis!" Alsaki berkata sangat lirih dengan bibir bergetar dan suara tercekat.


Antara hati serta ucapannya sebenarnya sangat bertolakbelakang. Tapi ia sungguh tak mengira jika Dhisti bisa sampai menjadi kriminal macam itu.


" Seharusnya kamu mempercayaiku sejak awal!" jawab Dhisti tersenyum menahan sesak di dada yang semakin membuat suaranya tercekat. " Terimakasih karena sempat membuatku menjadi wanita yang beruntung! Pergilah!" putus Dhisti lalu seketika berpaling menghadap ke belakang.


Entah mengapa, Dhisti merasa malu dan merasa bersalah dalam waktu bersamaan. Biarlah, biarlah ia kini sendiri merasakan sunyi senyap yang menyiksa.


Al tampak menghela napas panjang usai menyeka kedua mata menggunakan punggung tangannya. Ia menatap sosok Dhisti untuk sejenak, lalu sedetik kemudian pergi meninggalkan Dhisti yang kini perasaannya hancur untuk kedua kalinya.


Ia pikir Al datang untuk mendengar secuil kebenaran yang hendak ia jelaskan. Namun sepertinya, ia harus siap dengan keadaan seperti ini. Lagipula, ia memang bukanlah siapa-siapa untuk bisa dimengerti.


Mana mungkin orang besar seperti Alsaki siap untuk menerima nama jelek karena manusia udik macam dirinya. Begitu yang kini ada di benak Dhisti.


Dalam kesunyian hati yang tiada bertepi, ia terisak dalam dada yang semakin terasa pilu. Tak menyadari, jika Alsaki yang masih berdiri di balik lorong juga terlihat menitikkan air matanya.


Pria itu sejurus kemudian pergi dengan membawa perasaan yang hanya ia ketahui bersama Tuhan yang maha mengerti.


...----------------...


Kakek belum tahu jika Dhisti tertangkap. Semua itu terjadi karena Inka berhasil meyakinkan sang kakek terkait ketidakpulangan Dhisti kerumah lantaran Dhisti ada tugas tambahan di cafe bang ridho.

__ADS_1


Pria tua itu sedang asik mengobrol dan bermain catur bersama temannya dirumah. Memburu kebosanan dengan berduel pion dan kawan-kawanya, bersama balanya yang sama-sama pengangguran.


Namun kedua manusia itu terpaksa menghentikan permainan caturnya demi mendengar pintu yang di ketuk.


TOK TOK TOK


Laki-laki tua itu melongok sebentar saat matanya tak saat menangkap objek dengan jelas.


" Permisi!"


" Ya tunggu sebentar!"


Kakek mengayunkan pintu yang sudah setengah terbuka dengan wajah penasaran. Namun ia kini menjadi bingung demi melihat wanita cantik yang kini melepas kacamatanya dengan tatapan sombong.


" Dengan kediaman Adhisti?" tanya sang wanita menatap kakek.


" Iya mbak, mbak siapa?" jawab kakek dengan kebingungan yang makin menjadi.


Siapa wanita cantik dan tampak kaya ini, apa dia adalah teman Dhisti.


" Siapa kang?" tanya teman kakek yang turut menyongsong ke depan. Menatap wanita cantik yang belum pernah dia lihat.


" Saya adalah assisten Pak Alsaki!"


" Oh iya, Alsaki. Tapi...ada apa ya mbak?"" jawab kakek tersenyum ramah manakala bibir wanita itu menyebutkan nama laki-laki yang cukup dia kenal.


" Saya diperintahkan kemari oleh tuan Alsaki untuk memberitahu anda jika Adhisti saat ini berada di dalam penjara karena tertangkap saat mencopet. Pak Alsaki meminta kepada anda untuk jangan membawa-bawa namanya lagi. Anda tau kan Alsaki itu siapa? Dasar keluarga copet!" Luna semakin menekankan intonasi suaranya kepada Kakek yang mendadak pucat lalu sejurus kemudian ia melenggang pergi tanpa berpamitan.


Sepeninggal Luna, kakek yang tubuhnya mendadak mematung tiba-tiba merasakan dadanya begitu nyeri kala sadar akan kabar yang barusan ia terima.


Membuat laki-laki yang menjadi teman kakek bermain catur seketika gelisah demi melihat kakek yang meremas dadanya.


" Kang! Kang kamu kenapa Kang?" ucap teman kakek dengan wajah yang panik.


" Tolong! Tolong!"


Dalam sekejap, suasana yang semula terasa menyenangkan, kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi kacau balau manakala kakek meringis mengeram, sembari memegangi dadanya yang terasa begitu nyeri.


" Cu.. cucu...ku!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2