
...🌻🌻🌻...
Namun yang di tawari hanya tergelak kecil kala yang menawari menatapnya dengan tatapan jenaka. Luna memang kadang suka ekstrem jika bercanda. Al tahu kelas Luna itu seperti apa. Namun masalahnya, ia hanya menganggap Luna teman yang baik selama ini. No more than that.
" Aku tidak sedang ingin minum Lun. Next time aja kita aja Idho!"
Luna mengangguk menyetujui. Wanita itu menatap dalam-dalam wajah Al yang selalu mengusik hatinya. Segala pesona telah sering ia tebarkan, namun tak satupun ikhtiarnya yang mampu menembus kedalaman hati seorang Al.
" Kau mau kemana?" Luna masih belum puas jika melihat Al pergi.
" Ada sesuatu yang ketinggalan di rumah, aku harus pulang!"
Luna tersenyum getir saat melihat Al yang selalu terlihat tak jenak kala bersama dirinya.
" Apa kurangnya aku Al?"
...----------------...
" Makasih ya bang!"
" Yok sama-sama!"
Dhisti menatap kang ojek itu lalu berjalan masuk saat gelap sudah menelan seluruh aura rumah-rumah reyot yang berjajar di mulut gang perumahannya. Tak terkecuali rumah Mama Ciko.
Bau sampah busuk merebak dari gunungan yang selalunya terlambat di angkut oleh dinas terkait itu. Membuat langkahnya semakin di paksa untuk berlari demi hidung yang kian tersiksa oleh sengatannya.
Langkah yang lemah akhirnya menghantarkannya pula ke rumah sederhana yang selama ini melindunginya dari terik matahari juga hujan yang dingin.
__ADS_1
Ia membuka pintu dan masih mendapati kakek menonton TV yang menayangkan siaran berita sebuah pengadilan kejahatan penegak hukum, yang episode bahkan melebihi web series.
" Belum tidur kek?" Ucapnya usai menutup pintu dengan pelan-pelan agar tak memicu tetangganya untuk terjaga.
" Gimana mau tidur, kamu aja jam segini baru pulang!" Lirih kakek tak lekang menatap televisi kotak yang mungkin sebentar lagi tak akan bisa di nyalakan karena aturan pemerintah soal televisi digital.
Tertegun beberapa saat sebelum melempar tatapan ke jam dinding usang yang menunjukkan waktu yang memang sudah larut.
" Semua ini gara-gara pria empat ratus ribu itu!"
Menyalahkan Al padahal dia sendiri telah berkontribusi membuat jam pulangnya bertambah molor.
" Udah makan? Kakek buatkan teh lagi ya, yang tadi udah dingin. Kalau mau makan itu masih ada lauk."
Menatap iba kakek yang kini tengah beranjak menuju ke dapur dengan langkah selow-nya untuk menyiapkan teh hangat tiap dia pulang bekerja.
Ia membuka sepatu lalu meletakkannya diatas rak sepatu yang di bawahnya penuh dengan rumah laba-laba. Rak itu tidak dapat dikatakan bagus namun sangat tidak adil jika dikatakan jelek.
Suara itu terdengar beberapa saat usai ia juga sempat terpaku pada siaran berita kejahatan, yang beberapa menit kemudian membuatnya tak berniat apalagi berminat untuk melanjutkan menonton karena kisah yang begitu membagongkan.
Entahlah, kapan hukum itu bisa adil dan tak pandang bulu.
Begitulah mereka. Kakek yang sudah tak produktivitas untuk bekerja memilih menggeser tugas sebagai ibu sekaligus bapak untuknya. Membuat setitik air mata itu kembali jatuh tanpa dia undang.
Dhisti makan dalam rasa syukur yang penuh. Menikmati tiap rasa yang ia kecap melalui lidahnya dengan hati yang tentram.
Gadis itu makan dengan cepat lalu menandaskan segelas teh hangat hingga bersendawa. Membuktikan jika lambungnya telah terisi penuh.
__ADS_1
Usai meninggalkan piring kotor beserta gelasnya di wadah biasanya tanpa berniat untuk mencuci, gadis itu menuju kamarnya lalu merebahkan diri untuk sejenak. Menatap langit-langit kamarnya yang menyedihkan macam ditinggalkan zaman.
Pikirannya melesat jauh. Tentang kejadian yang beberapa waktu ini membuatnya tak habis pikir. Tentang kenapa orang seperti dirinya, malah bertemu dengan manusia tenar macam Al. Lebih runyam nya lagi, ia kini juga seolah memiliki hutang kepada Ramdan atas kelangsungan hidupnya.
Sialan!
" CK, apa aku cari alamat perusahaannya saja? Tapi apa aku diterima masuk?"
Bergumam sebab nyatanya urusan Ramdan benar-benar menyumbang energi untuk insomnia. Ditambah lagi, entah mengapa ia kini menjadi takut jika berhadapan dengan Al, kala ia mengetahui jika pria itu bukanlah orang sembarangan.
Teringat akan hasil ekstrimnya beberapa saat yang lalu, Dhisti tampak berjingkat lalu membuka tas ranselnya dengan penuh semangat.
Ia menarik tas hitam dari dalam ransel yang sepertinya jika ia jual hisa ia gunakan untuk membeli sebuah televisi baru atau untuk membayar listrik selama lima tahun.
Dhisti membuka sebuah dompet panjang, lalu melihat rupiah yang begitu tebal terkandung di dalamnya. Yes!
" Gak sia-sia aku nantang adrenalin. Gede juga koceknya!"
Dhisti bergumam dengan wajah berseri sembari meraih kotak di lemari pakaiannya yang keseluruhan isinya merupakan uang hasilnya mencopet keluarga wanita itu.
Ia kini memeriksa kembali isi tas hitam itu dan menemukan beberapa surat-surat lain. Membuatnya sedikit mencibir kala melihat foto kartu identitas milik sang empunya.
" Sampai kapanpun, selama aku hidup, aku gak akan pernah buat hidup kalian tenang. Sama seperti kalian dulu yang membuat hidupku seperti ini"
Bergumam menatap kartu itu dengan perasaan penuh kebencian.
.
__ADS_1
.
.