
...🌻🌻🌻...
" Apa? Memangnya kenapa dia?"
Dhisti yang malam itu di hubungi oleh Al perihal adiknya yang tak mau membukakan pintu turut merasa cemas. Pasalnya, Puri merupakan orang yang ektroverts.
" Aku gak mau Mama tau dulu soal ini. Mmmm kamu besok kesini ya, kan kamu yang tau rasanya patah hati. Jadi..."
" Jadi bisa kasih kata-kata bijak gitu?"
Yang di ujung telepon malah tergelak,demi tebakan yang amat jitu dari Dhisti yang kini menunjukkan wajah murung. Ya, meski Al tidak bisa melihatnya juga sih.
Ya, Alsaki benar-benar bertindak layaknya pacar yang saling membagi hal remeh temeh hingga hal krusial kepada gadis itu. Rasanya, tak rela jika ia tak melibatkan Dhisti dalam tiap hari-harinya.
Hingga, keesokan harinya, laki-laki itu benar-benar menjemput Dhisti dan berniat membawanya kerumahnya untuk ia tinggal bersama Puri, saat dia menjelaskan pekerjaan di kantor hari itu.
Al yang pagi itu bercengkerama bersama kakek, tiba-tiba membeku manakala melihat Dhisti yang pagi itu tampak sedikit berdandan dan membuat aura cantiknya begitu terpancar.
Wow amazing!
" Aku gini aja ya?" tanya Dhisti menunjukkannya tampilannya tak yakin.
Namun yang di tanya malah terbengong-bengong.
Kakek menahan tawa sebab ia sebenarnya juga terpesona akan tampilan cucunya yang bisa secantik itu, hanya karena sedikit menambah riasan wajah, dan juga memola model rambutnya. Daebak!
" Al!" panggil Dhisti saat pria itu terlolong.
" Alsaki!"
__ADS_1
Pria itu langsung terkesiap saat Dhisti memanggil namanya dengan oktaf yang tinggi.
Membuat kakek semakin terkikik-kikik.
" Kamu kenapa sih? Aku gak cocok ya pakai make up? Aku hapus ya?" bertanya resah karena salah mengartikan ekspresi Alsaki.
" Ja- jangan. Kamu cantik banget!" jawab Al gagap.
Membuat kakek tersenyum-senyum saat melihat cucunya yang wajahnya sudah seperti tomat karena di puji.
Saat di dalam mobil, Al benar-benar suka akan perubahan Dhisti. Harus dia akui, wanita itu memang cantik walau tanpa alis palsu, atau bulu mata anti badai seperti yang lazim di pakai para wanita zaman sekarang.
" Mama pasti senang karena kamu mau datang!" cetus Al senang.
" Kamu belum bilang sama Bu Hapsari?"
Al menggeleng. " Surprise!"
Namun yang di ajak berbicaralah lagi-lagi menunjukkan ekspresi tenang dan seolah tidak akan ada masalah.
" Tenang aja, Papa orangnya juga baik kok. Oh iya Puri udah aku kasih tau kalau kamu mau kesana, dia akhirnya mau bukain pintu waktu aku bilang gitu!"
" Jadi kamu belum tahu dia begitu karena apa?" menoleh tak percaya.
Al menggeleng pelan seraya menghembuskan napas panjang. " Supir aku yang ngasih tau kalau Wisnu sama Puri bertengkar! Tapi itu masih sebatas tebakan. Aku selalu bingung kalau Puri lagi sedih. Anak itu jarang sedih tapi tiap nangis aku malah bingung harus bagaimana!"
Dhisti mendadak tertegun demi teringat jika ia melihat sendiri keharmonisan pasangan yang menurutnya sangat pas itu.
" Aku nanti bakal cepet-cepet pulang kalau kerjaanku udah beres. Kamu mulai masuk lusa kan?"
__ADS_1
Dhisti mengangguk, ia benar-benar masih tak percaya jika ia tengah berada di dalam mobil bersama Alsaki.
" Kalau kamu sibuk aku bisa pulang pesen taksi nanti!"
" Jangan. Jangan sampai kamu pulang sebelum aku datang!"
Dhisti menatap Al lalu sejurus kemudian mereka tergelak bersama. Entahlah, makin kesini keduanya makin merasa happy. Walau, mereka berdua belum memiliki status apapun selain berteman baik.
Setibanya mereka dirumah, jantung Dhisti benar-benar seperti sedang mengikuti audisi sebuah perlombaan. Ia mendadak merasa deg-degan demi melihat rumah Alsaki yang luar biasa besar dengan pilar-pilar setinggi colloseum.
" Gila, bahkan pos di depan rumah orang ini lebih besar ketimbang ukuran kamarku!"
" Ayo masuk, Mama pasti happy!" seru Al seusai menutup pintu mobilnya. Membuat lamunan Dhisti seketika bubrah.
Harap-harap cemas dia melangkahkan kakinya. Ia hanyalah seorang pencopet berkedok pelayan cafe, dan memasuki rumah orang terhormat dengan sadari diri seperti ini, jelas membuat Dhisti merasa tak tenang, risau dan resah.
Bagaimana nanti jika Alsaki tahu?
Al yang pagi itu benar-benar terlihat senang, tampak tak sungkan menggeret lengan Dhisti masuk kedalam. Lagi dan lagi, cara sederhana itu tiba-tiba membuat Dhisti merasa nyaman.
Biarlah, biarlah ia egois merasakan hal indah ini untuk sementara waktu. Sudah sangat lama ia tak memperdulikan dirinya dan lebih fokus kepada urusan keluarganya.
" Ma, Mama!" teriaknya penuh antusias kala tiba di sebuah ruangan luas, yang berisikan perabot futuristik dan bernilai fantastis. Membuat Dhisti meneguk ludah karena semuanya itu, membuat batas kelas sosial diantara mereka semakin jelas.
" Ma, lihat siapa yang Al bawa Ma!" ucap Al lagi tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya.
.
.
__ADS_1
.