
...🌻🌻🌻...
Suara tawa lepas milik seseorang membuat gadis yang masih membalut tubuhnya dengan selimut tebal itu terbangun.
" Eughh!"
Puri terlihat menggeliat sebab ingin meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Tunggu dulu, kenapa ini? kenapa rasa badannya tak enak. Dan aw! Lututnya terasa kaku dan nyeri.
Puri dengan segera terlihat mengikat rambutnya asal, dan dengan terburu-buru hendak menuju kamar mandi sebab matahari telah menyingsing cukup tinggi.
Namun ia buru-buru menepuk jidatnya manakala teringat jika kamar mandi berada di belakang. Masih belum sepenuhnya sadar jika ia tengah berada di desa.
" Pantesan aku hubungi Mas Ari gak bisa, ternyata ganti nomer ya?"
Puri yang tengah menyambar handuk tiba-tiba mendengar suara seorang wanita lain, dan terlihat sedang berbicara asyik dengan seseorang. Gadis itu bahkan langsung menajamkan pendengarannya karena kepo.
" Siapa itu? Sepertinya bukan suara Bu Yuli?" bergumam sambil berjalan terpincang-pincang.
Membuat kakinya yang nyeri itu, ia paksa untuk melangkahkan pelan-pelan sebab Puri tahu bila pagi ini temannya akan melakukan gladi resik lokasi syuting.
Namun, saat baru keluar dari pintu kamarnya, ia malah sangsi akan rasa tubuhnya yang tidak seperti biasanya. Apa dia sedang sakit?
" Nona anda sudah bangun?"
Ia kontan menoleh saat suara Ari sepertinya ditujukan kepada dirinya.
Namun bukannya menjawab, ia syok karena malah melihat gadis cantik berambut panjang yang terlihat lebih dewasa daripada dirinya, terlihat duduk sangat dekat dengan Ari.
" Siapa dia?" membatin dengan lirikan penuh selidik.
Puri terlihat mengangguk mengiyakan pertanyaan supir tampan itu. " Maaf, aku kesiangan!" imbuhnya malu.
Sejurus kemudian, ia kembali berjalan dengan terpincang-pincang sebab ia tak percaya diri akan keadaannya yang kacau di pagi itu. Rambut berantakan, wajah berminyak, napas yang mungkin saja meracuni, dan tentu saja keringat yang mengganggu. Oh sungguh ia tak ingin Ari melihat dirinya yang seperti itu.
Namun yang diajak ngobrol terlihat semakin cemas saat melihat langkah yang tak sempurna itu.
" Nona, anda tidak apa-apa?"
Puri menggeleng.
" Memangnya aku kenapa? Aku mau mandi dulu!"
Ari balas mengangguk seraya terlihat khawatir. Namun saat melihat Puri yang hendak jatuh, Pria itu langsung meletakkan pisau yang ia pegang, lalu dengan wajah cemas menyongsong Puri.
" Nona!"
Sang wanita yang berada di antara keduanya menatap tak suka interaksi Ari dan Puri.
" Apa anda masih merasakan nyeri? Tunggu dulu, wajah anda pucat, astaga nona anda demam. Sebaiknya kita kerumah sakit saja!"
Gadis yang masih membantu mengupas buah itu makin terlihat tak suka melihat Ari yang begitu memperhatikan Puri.
" Aku tidak apa-apa Ar. Kau hari ini akan mengajak Danisa pergi kan?"
__ADS_1
" Saya harus mengantar anda dulu nona, saya masih memiliki waktu beberapa hari disini!"
Puri sempat melirik gadis yang duduk itu dan terlihat wajah yang begitu benci terhadapnya.
" Kalau begitu aku mau mandi dulu!"
" Saya akan siapkan mobil dulu!"
Saat Puri telah masuk kedalam kamar mandi, ia malah termenung demi teringat dengan tatapan tak ramah perempuan yang kini berada di luar itu.
" Siapa dia, kenapa begitu sekali saat melihatku?" bergumam kesal.
Ia lantas mandi sembari menahan perih di lututnya, dan saat suasana menjadi hening manakala ia menuangkan sabun, ia mendengar suara pembicara yang membuatnya kesal.
" Siapa yang mandi?"
Suara lain yang terdengar asing , lagi-lagi terdengar samar- samar namun masih bisa Puri dengar dari dalam mandi yang berdekatan dengan dapur.
" Majikannya Mas Ari. Orang kota emang gitu ya? Bangunnya siang-siang, pasti mereka juga gak bisa masak! Gak malu apa tidur dirumah orang bangun-bangun makan!"
" Jangan ngawur kamu, dia kan majikan, lagian kata bapak semalam dia jatuh!"
" Gak berperasaan banget dia, mas Ari kan jarang pulang, masa pas mau ngajak adiknya jalan-jalan masih harus ngurusin dia. Lagian, kenapa dia gak tidur di hotel aja sih?"
" Mbak Desi kok gitu sih ngomongnya!"
Puri bahkan langsung menghentikan kegiatan mandinya demi mendengar kasak-kusuk diluar yang membuatnya tercenung itu. Ya, Puri tahu jika dirinya menjadi bahan pergunjingan dua wanita di luar sana.
Keduanya langsung diam saat suara Bu Yuli terdengar mendominasi.
" Sepertinya iya bulik, ini mbak Desi yang tahu!"
Beberapa saat kemudian, Puri yang telah menyelesaikan mandinya tampak keluar dan mendapati dapur telah kosong. Ia sedikit terkejut kala melihat Ari yang tertawa bersama wanita ketus tadi. Keduanya terlihat terpingkal-pingkal saat menonton sebuah video.
" Siapa sih dia, sok dekat banget sama Ari!" menggerutu kesal.
" Ah nona, anda sudah selesai?"
Puri yang kaget akan pertanyaan itu, akhirnya mengangguk bloon dan melirik kembali gadis itu dengan tatapan tak suka.
" Kita periksakan luka nona Puri dulu. Takutnya infeksi!"
Puri kontan mengangguk dan ingin melihat reaksi gadis itu. " Saya ganti baju sebentar!"
Dan dugaannya, wanita itu tampak melemparkan tatapan sinis dan penuh kebencian. Puri masa bodo dengan tatapan itu, lagipula ia yang merasa kakinya semakin nyeri malah menjadi takut akan apa yang barusan di ucapkan oleh Ari, takut jika terkena infeksi.
Saat sudah siap, Puri yang baru keluar dari kamarnya terkejut demi melihat Desi yang berdiri tepat di depannya. Perempuan itu tampak sengaja menunggu Puri disana.
" Jadi orang egois banget sih. Danisa nangis gara-gara jadwal jalan-jalannya batal karena kamu!"
Puri spontan terhenyak. Apa-apaan gadis ini, tanpa menyapa tiba-tiba melabrak.
" Apa maksud kamu?"
__ADS_1
Desi tertawa sumbang, " Pikir aja sendiri, punya otak kan?"
What? Tidak ada orang yang berani kepadanya. Dan lihatlah, memangnya siapa gadis tadi, seenaknya berlaku kasar.
Saat diluar, ia memang melihat Danisa yang tengah di tenangkan oleh Bu Yuli. Membuatnya merasa bersalah. Apa dia menelpon temannya saja?
" Nona mari!"
Ia melihat Desi yang menatapnya tak suka dari kejauhan, tampak berdiri di jajaran keluarga Ari yang tampak datang karena kedatangan pria tampan itu.
" Ar aku nggak apa-apa, kamu bisa jalan sama Danisa aku.."
" Kita periksa dulu, nanti setelah ini kita tetap berangkat. Ayo!"
Puri sangka mereka batal jalan-jalan, rupanya Ari hanya memundurkan jadwal mereka. Membuat Puri sedikit lega. Ari lantas membawa Puri ke fasilitas kesehatan tingkat satu yang terdekat dari mereka, sebab Puri menolak untuk di bawa kerumah sakit yang lokasinya lumayan jauh.
" Yang pakai baju merah tadi siapa Ar?" menanyakan Desi.
" Oh, itu Desi. Teman saya nona!"
" Teman apa teman?" ia sengaja menggoda sebab sebenarnya kepo.
Ari terkekeh, dan saat pria itu terlihat tersenyum seperti itu, entah mengapa hati Puri terasa damai.
" Saya sedari dulu menganggap dia teman, tapi sepertinya dia tidak. Gimana ya non kalau seperti itu?"
Puri mencoba tersenyum saat Ari mengajaknya tertawa. Alih-alih turut tertawa, hati Puri malah tidak senang mendengar hal itu. What wrong with you Pur?
Setibanya dirumah sakit.
" Untung cepat dibawa kemari. Ini ada indikasi infeksi. Mungkin paku yang mengenai sudah berkarat. Saya beri obat dan akan saya beri suntikan dulu ya?"
Puri yang telah berbaring terlihat tak henti memperhatikan Ari yang duduk berhadapan dengan sang dokter yang baru memeriksanya. Entah mengapa, dalam beberapa situasi, ia merasa terlindungi saat bersama Ari yang selalu sigap.
" Permisi ya nona, saya ganti dulu perbannya!"
Puri semakin merasa aneh saat laki-laki terus saja mencemaskan kondisinya. Ada sesuatu yang tak beres, manakala pria itu menanyakan hal seputar kondisinya kepada sang dokter. Pria itu laksana kakaknya Alsaki yang senantiasa mencemaskan kondisinya.
Saat Puri hendak bangun dan mengalami kesulitan, Ari yang sigap menolong nyaris saja menyentuh wajah Puri karena gadis itu kaget.
Membuat jarak pandang mereka begitu dekat.
DEG
DEG
DEG
" Astaga, ada apa denganku, kenapa akhir-akhir ini jantungku sering berdegup kencang saat di dekat laki-laki ini?"
.
.
__ADS_1