Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 51. Papa Egois


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


" Bik, ajak Luna makan siang sekalian. Bilang saya yang minta!" tukas Nyonya Hapsari saat semua orang diam dengan ekspresi masing-masing.


Puri yang masih cuek karena masih sumpek dengan problematikanya, kemudian tuan Hendra yang sedikit menengadah karena tertarik, Alsaki yang langsung berubah raut wajahnya, sementara Dhisti nampak tertunduk diam.


Sang assiten rumah tangga akhirnya kembali ke depan untuk melaksanakan titah sang majikan. Alsaki yang mendengar hal itu mendadak kehilangan selera makannya.


" Selamat siang Om, Tante, semuanya!" sapa Luna humble yang siang itu tampak begitu cantik.


" Siang Lun, kamu sendiri? Ayo sini gabung, kebetulan kita lagi makan siang. Ayo, ambil kursi di sebelahnya Al!" sahut Papa Hendra sumringah.


Mama kontan tersenyum normal saat mendengar sang papa menyapa akrab Luna. Pun dengan Puri yang memang belum tahu bila Luna sebenarnya merasa tersaingi oleh Dhisti.


Dhisti yang memang sejatinya merasa tak memiliki masalah apapun dengan Luna tampak biasa saja. Gadis itu nampak melanjutkan makannya dengan rapi.


"Lho Dhisti, kamu disini juga?" bertanya dengan nada normal padahal di dalam hatinya sedang terjadi kebakaran hebat.


" Iya!" sahutnya singkat padat dan jelas. Ia tersenyum ramah kepada wanita yang tampak bersinar itu.


" Ayo Lun jangan sungkan, kita baru mulai kok!" seru Nyonya Hapsari kembali kala Luna menyempatkan diri untuk menatap Alsaki yang ada di sampingnya.


Luna sudah akrab dengan kedua orang tua Alsaki. Wanita itu terlihat makan dan tampak mendominasi perbincangan akhirnya. Saling sahut dengan tuan Hendra yang nampak ingin menenggelamkan Dhisti dari perbincangan mereka.


" Bagaimana bisnis kamu Lun?" tanya tuan Hendra yang ingin memperlihatkan jika Luna ini lebih unggul dan hebat di hadapan Dhisti.


" Lancar Om, ini mau buka cabang baru di dua kota, sama rencananya mau buka franchise di mall-mall besar. Doakan ya Om!"


" Ini yang Om suka dari kamu, selalu mau berkembang. Pasti banyak merekrut tenaga kerja baru nantinya kan? Al, lihat Luna, dia ini benar-benar perfect!" mengatakan kata perfect sembari tergelak.


Membuat Dhisti yang sudah selesai dengan makannya tampak terdiam usai meneguk segelas air putih. Ia tahu jika tuan Hendra tengah mempermalukan dirinya yang hanya seorang pencopet.


Maka, Dhisti langsung merasa kecil, kerdil dan tau diri. Jika ia hanyalah debu yang berada di antara berlian yang berkilau. Kontras dan jelas berbeda.


Alsaki yang mendengar serta melihat sang Papa begitu memuja Luna, kini menatap cemas ke arah Dhisti yang takut tersinggung. Pria itu sontak ketar-ketir demi melihat wajah tak nyaman yang di tunjukkan oleh Dhisti.


Meski benar, namun gadis itu bisa menguasai dirinya. Saat ia baru meletakkan gelas bekas air putih miliknya, ponselnya bergetar.


" Maaf, permisi, saya mau angkat telepon dulu!" pamit Dhisti menatap nyonya Hapsari yang membalasnya dengan anggukan ramah.


Gadis itu menyingkir sejenak mencari lokasi yang aman untuk menjawab telepon dari Inka.


" Halo In, ada apa?"


" Eh keong racun, elo dimana sih baru bisa di hubungi? Jadi oprasi nggak nih kita?"

__ADS_1


Dhisti menepuk jidatnya. Ia lupa jika ia telah memiliki janji dengan Inka siang ini. Kecemasannya akan Puri benar-benar membuat fokusnya teralihkan. Damned!


" Tunggu aku di tempat biasa. Aku pulang setelah ini!" sahutnya gusar.


" Ya udah!"


Dhisti menghembuskan napas panjang karena Inka tak merajuk. Kenyataannya sebagai pencopet harus tetap dilakukan. Mana mungkin ia bisa membayar setoran jika ia tidak mencopet.


Ia lantas kembali ke meja dengan ekspresi yang sudah berubah. Sebisa mungkin tak menunjukkan keresahannya meski ia tahu jika tuan Hendra sedari tadi sebenarnya telah menyerangnya dengan kata-kata.


" Emmm Pak, Bu, terimakasih atas makan siangnya. Tapi saya harus pamit, ada... keperluan mendadak!"


Tuan Hendra yang di pamiti nampak tak kaget. Namun raut muram kini nampak di wajah Nyonya Hapsari juga Puri. Sementara Al langsung berpikiran yang tidak-tidak. Apa Dhisti kesal karena kedatangan Luna serta ucapan Papanya tadi?


" Kok mendadak banget. Ada sesuatu yang urgent?" tanya Nyonya Hapsari cemas.


" Tidak Bu, saya lupa kalau ada janji dengan teman!"


" Aku antar!" cetus Al yang seketika meletakkan sendok juga garpunya.


"Al!" sergah tuan Hendra dengan nada memerintah tidak.


Kini, baik Nyonya Hapsari, Puri, Dhisti bahkan Luna, seketika terkejut saat suara bernada larangan tiba-tiba terdengar dari bibir tuan Hendra.


" Tapi Pa, Al mau..."


Mama menyentuh lengan Alsaki dengan kode untuk tak menjawab ucapan sang papa. Membuat Luna tersenyum penuh kemenangan sementara Alsaki tampak langsung berwajah resah, kecewa dan murung kala menatap Dhisti yang kini meneguk ludahnya.


" Ari, Ar!" panggil Nyonya Hapsari kepada sang driver dan membuat laki-laki itu langsung datang.


" Saya Bu?" jawab Ari sopan yang kini sudah standby di muka.


" Tolong kamu antar Dhisti ya. Pastikan dia sampai dengan selamat!" kata Nyonya Hapsari dengan suara lembut. Membuat Alsaki mengeraskan rahangnya demi menahan gumpalan emosi yang membuncah.


" Baik Bu, mari nona!"


" Saya pamit dulu semuanya. Selamat siang!"


...----------------...


Di dalam mobil, Dhisti membuang pandangannya ke arah luar dengan tatapan kosong, ia tekun menatap nanar gerak semu jalanan yang seolah-olah berlari meninggalkannya.


Pikirannya mendadak melayang saat tuan Hendra melarang Alsaki untuk mengantarnya. Dan dari hal itu, entah kenapa perasaannya langsung berubah sedih dan merasa begitu cemburu.


Ia yakin jika Hendra tak akan berani mengutarakan siapa dirinya kepada Al sebab ia juga memegang kartu As pria itu.

__ADS_1


Ari yang melihat wajah sedih Dhisti dari kaca kecil di depannya mendadak tertegun. Ia bisa menangkap guratan kekecewaan yang mendalam di mata gadis pemberani itu.


" Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa reaksinya sangat berbeda dengan tuan Al?"


Membuatnya memilih diam dan melajukan kendaraannya dengan fokus yang semakin ia tingkatkan.


Sementara itu, Alsaki yang kini tengah berada di ruang kerjanya bersama Papa dan Mamanya tampak meluapkan kekesalannya. Laki-laki itu bahkan tak sungkan menjawab Papanya dengan nada kesal. Meninggal Puri yang ngobrol dengan Luna di lantai dasar.


" Papa kok gitu sih sama Dhisti, Al yang ngajak dia Pa, Al dong yang harusnya tanggung jawab buat ngantar dia!" seru Alsaki dengan napas yang memburu.


" Dia tidak pantas Al!"


Nyonya Hapsari seketika mengernyit heran saat suaminya mengatakan hal itu. Pun dengan Alsaki. Laki-laki itu bahkan mulutnya kini ternganga.


" Gak pantas papa bilang? Pah, Al yang ngejalanin, Al yang tahu siapa yang pantas buat Al pah!"


" Luna orang yang tepat buat kamu. Tidakkah kamu lihat dia itu cantik, pintar, memiliki karir yang bagus. Papa heran sama kamu Al, kamu ini kalau di ingatkan kenapa bawaannya malah marah-marah? Kamu ini gak peduli sama Papa?"


Membuat intonasi suaranya seketika turun.


" Bukan gitu Pah...Dhisti itu anaknya baik, papa belom kenal aja sama dia!" seru Alsaki dengan keresahan yang kian kentara.


Tuan Hendra tampak tertegun sejenak lalu menarik napas. Mustahil jika ia menceritakan siapa Dhisti sebenarnya karena apa yang ia ketahui ini seperti pedang bermata dua.


" Papa minta kamu segera pikirkan rencana pertunangan kamu dengan Luna kalau kamu masih sayang sama Papa!"


" Apa? Papa gak bisa begitu dong. Egois kalau begini cara Pa?" protes Alsaki dengan wajah yang sama sekali tidak setuju.


Nyonya Hapsari yang melihat keduanya berdebat tampak menunjukkan raut murung. Sungguh, bukan ini yang ia harapkan. Ia hanya ingin apapun keputusan yang di ambil, hendaknya dilakukan dengan sukarela dan tanpa paksaan.


" Papa gak bisa seenaknya gini dong, papa juga harus mikirin perasaan Al!"


" Al tenang dulu!" seru Mama berusaha meredam anaknya yang terpancing emosi.


" Gimana Al bisa tenang Ma, Al suka sama Dhisti bahkan sayang sama dia. Tapi lihat Papa..."


" Alsaki!" Hardik sang Papa yang sudah sangat geram dan membuat suasana langsung hening.


Pria itu terlihat maju tepat di depan anak sulungnya dengan mata melotot.


" Turuti kata Papa atau kamu bakal menyesal!"


.


.

__ADS_1


__ADS_2