Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 12. Berdua


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


"Sial, dia cantik banget!"


Sebuah pujian alamiah muncul tiba-tiba dalam sanubari Al demi melihat Dhisti yang terlihat berbeda hanya dengan di ubah model rambutnya.


Untung saja liur laki-laki itu tidak menetes saat melihat Dhisti. Ya, wanita yang sudah selesai di rombak penampilannya itu, terlihat kaget saat nyaris saja bertabrakan dengan Al.


Lihatlah tuan Al, pekerjaan kita sepertinya akan mendapatkan pujian. Dia sampai tak bisa berkata-kata!


Beberapa karyawan saling memandang. Merasa reaksi sang pejantan lebih dari cukup untuk sebuah pengakuan.


"Kenapa kau menatapku begitu? Tidak bagus?"


Dhisti yang memekis membuat lamunan Al buyar. Wanita itu mengartikan lain kebengongan Al yang semula naik pitam, karena terlalu lama menunggu.


" Ya... mending sih!" Tukasnya seraya meraba leher untuk membunuh rasa canggung.


" Apa? Aku sudah di uleni selama hampir dua jam dan kau bilang mending?"


Kesemua karyawan yang ada disana benar-benar terheran-heran dengan sosok wanita yang sangat berani kepada Al itu. Wanita yang bahkan pakaiannya tadi, jelas berharga lebih murah dari milik mereka.


" Yang jelas tampilanmu sekarang lebih bagus dari yang tadi. Aku penasaran bagiamana reaksi pacarmu!"


Mendengar Al menyinggung soal Aris, Dhisti pun merasa kembali berdebar. Apa benar jika keputusannya ini tepat? Membuatnya melupakan sikap Al yang sebenarnya telah terpesona.


Namun yang barusan berkata malah merasa tidak rela. Entah kenapa, melihat Dhisti yang sangat cocok dengan rambut barunya, serta gaya pakaian yang lebih baik, membuat laki-laki itu merasakan getaran lain dalam dirinya.


Sesuatu yang aneh, sesuatu yang sangat sulit ia jelaskan. Sesuatu yang membuat Al senang kala berdebat dengan wanita itu.


Tapi apa?


Beberapa detik kemudian, Dhisti terlihat menunggu di luar saat Al nampak memasukkan sesuatu kedalam dompetnya.


" Sepertinya baru membayar. Tapi kok pakai kartu. Dia.. bukannya?"


Dhisti memandang sosok tinggi tegap itu dengan hati bertanya-tanya. Kenapa juga dia di pertemukan dengan orang itu. Orang aneh yang diawal perjumpaan memberinya empat ratus ribu, dan sialnya turut ia belanjakan untuk mentraktir makan siang pria yang memberinya itu. Huft!


" Yuk pulang!"


Dhisti menatap muram Al yang bersemangat untuk kembali ke rumahnya. Ia sudah sangat mengantuk saat ini.


" Apa...kau berkenan jika kita tidak pulang dulu?"


Al tertegun sembari menatap dua bola mata yang tampak berkaca-kaca itu.


" Sial, dia imut sekali jika memohon seperti ini!"


Membatin dengan debaran aneh yang kini lagi-lagi muncul tanpa dia undang. Membuat jakun sebesar biji ketapang itu bergerak.


...----------------...


Al hanya masih berdiam diri saat mereka kini kembali berada dalam satu mobil di bawah gempuran kebisuan yang mendominasi. Kantuk sudah menyerangnya sebenarnya. Tapi rengekan Dhisti, sungguh membuatnya tak tega.

__ADS_1


Yang ada dalam otak Dhisti saat ini adalah tak ingin sendiri. Ia tak mau membuat kakek melihat dia bersedih. Wanita itu ingin menghabiskan stok kesedihannya malam ini juga.


Ia begitu menyukai Aris. Pria yang semula pengangguran namun membuatnya berbunga-bunga setiap hari. Tapi kenapa kata putus terlontar juga akhirnya dari mulut kurang ajar pria itu.


Antara bodoh atau sayang. Bedanya sungguh tipis sekali. Dan nyatanya, Dhisti sepertinya memang bodoh untuk melihat sifat Aris yang sebenarnya.


" Kita kemana?" Al melirik Dhisti yang menatap ke arah luar kaca mobil. Ia bertanya resah dalam hati. Jangan-jangan Dhisti masih galau.


" Terserahmu saja. Aku tidak pernah kemana-mana. Yang jelas, aku belum ingin pulang!"


Al kembali tertegun saat Dhisti menjawab dengan wajah murung. Ia pikir wanita segalak Dhisti tak akan mudah timbang oleh perasaan. Namun sepertinya, prasangkanya keliru. Al lupa jika di dunia ini, tiada yang pernah tahu kedalaman hati seseorang.


Melihat wajah murung Dhisti yang tak hentinya mengeluarkan kristal bening itu, Al teringat satu tempat yang mungkin bisa membuatnya sedikit tenang.


Hah astaga, ini benar-benar sudah gila. Bagaimana bisa Al berdua bersama wanita bar-bar yang tengah patah hati, di jam menjelang midnight seperti ini.


Suara deru mobil perlahan tergantikan dengan bunyi sebuah deburan. Dhisti yang telah terlelap tak menyadari jika mereka sudah sampai di sebuah pantai.


Al menatap wajah cantik yang kini terlelap miring di dalam mobilnya. Lagi dan lagi, debaran yang selalu datang tanpa di undang itu semakin membuat Al merasa aneh.


"Kenapa aku ini?"


" Ehem, Dhis...Dhis!"


Yang di tepuk lengannya hanya menggeliat. Membuat pria itu sekali lagi menyentuh lengan Dhisti yang telah tertidur.


" Dhis, Dhisti bangun!"


Al mendecak sebal demi melihat Dhisti yang menggeliat seraya menguap. Dia yang sedari tadi mengantuk, namun malah wanita itu yang merem. Sialan!


" Kita dimana?" Tanya Dhisti dengan suara parau. Tampak mulai membetulkan posisi duduknya.


" Di pantai!"


" Apa?"


...----------------...


Dhisti duduk termenung diatas pasir dan matanya nyalang menatap lautan lepas di malam hari itu. Semilir angin malam membuat pikirannya yang sumpek turut terbawa.


Ya, ide pria itu lumayan juga.


Satelit bumi itu sedang dalam fase purnama, dan di pesisir pantai itu ada banyak juga rupanya orang yang datang untuk bercengkrama dengan pasangan mereka. Namun sayangnya, dua manusia yang ada itu bukan untuk bercengkrama, melainkan untuk melebur kesedihan.


" Sekarang kau mau apa?" Tanya Al menatap Dhisti yang rambutnya berterbangan di terpa oleh angin.


" Kau sungguh gila, mengajak ku ke tempat ini!" Ucap Dhisti dengan sedikit terkekeh. Membuat Al terpaku demi melihat senyum manis itu.


" Kau sendiri tidak mau pulang dan tidak tahu mau kemana. Rugi sekali aku mendandanimu secantik ini tapi kau malah terus saja merengek!"


Dhisti tumben tak menyahut kala Al menggerutu seperti itu. Wanita itu sejurus kemudian malah merebahkan tubuhnya keatas pasir, lalu menatap bintang di langit, yang seperti ketombe beterbangan.


Membuat Al terperanjat.

__ADS_1


" Tapi aku senang. Walau aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya, tapi anehnya aku tidak merasa takut!"


" Kau malah menolongku lebih banyak dari yang aku lakukan kepadamu!"


Hati Al tersentuh saat mendengar ucapan Dhisti baru saja. Sebenarnya ia juga heran, kenapa ada juga manusia yang tidak mengenali dirinya.


Pria itu sedetik kemudian turut membaringkan tubuhnya mengikuti Dhisti. Menatap luas angkasa yang tampak jauh tiada tergapai.


Dhisti melirik Al yang kini juga merebahkan tubuhnya keatas pasir yang terasa dingin itu, lalu menatap langit yang memang terlihat indah karena taburan bintang.


" Kau tahu, dulu dia sangat baik. Dia membuatku bahagia setiap hari. Meski aku ini...tidak pernah memakai riasan seperti wanita lain!"


Al masih setia mendengarkan cerita Dhisti yang sungguh membuatnya merasa iba. Padahal, Dhisti juga tidak jelek-jelek amat sedari awal. Wanita itu memiliki inner beauty yang luar biasa menurutnya. Dan itu nyata dari tindakan Dhisti yang beberapa kali Al lihat.


" Kenapa kau tidak takut denganku?" Tanya Al tanpa menoleh ke arah Dhisti. Lebih berminat menanyakan hal itu, ketimbang membahas soal Aris.


" Karena pria yang tidak terlalu punya duit akan berpikir dua kali untuk melakukan hal yang bakal berkaitan dengan hukum. Lu tau kan, di negara kita ini, justice belum menyentuh lapisan bawah!"


" Jadi dia benar-benar mengira jika aku ini miskin. Wow, kau sangat unik!"


Ini merupakan pengalaman pertama Al berada di tempat seperti itu bersama wanita. Dan sialnya, bersama wanita bar-bar.


" Apa kau masih merasa sedih?" Tanya Al dan lagi-lagi mengganti topik.


" Aku tidak tahu Sak!" Al melirik saat Dhisti menyebut namanya. Wajah wanita itu tampak ayu saat dilihat dari jarak dekat. " Ternyata benar. Kisah Cinderella itu hanya ada di negeri dongeng, atau dalam film Disney!" Jawab Dhisti dengan tersenyum sumbang.


Al masih tekun menatap Dhisti yang kini mulai melow. Ia bisa melihat segurat kekecewaan dari wajah Dhisti.


" Seseorang pernah berkata kepadaku!" Suara berat Al terdengar bersahutan dengan deburan ombak yang menggulung.


" Kau lihat bulan itu!" Tunjuk Al ke arah bulan yang sedang dalam fase terbaiknya. Membuat Dhisti memfokuskan perhatiannya kepada benda langit itu.


" Saat ini...mungkin kau bisa melihat seluruh cahayanya. Tapi esok hari, kau mungkin akan melihat sabitnya!"


Dhisti termenung dengan perumpamaan yang di ucapkan oleh Al barusan.


" Itu artinya, semua hal yang terjadi tidak ada yang kekal. Semua bakal berlalu bersama waktu yang terus berjalan. Pun dengan kesedihan!"


Dhisti menatap wajah Al begitupun laki-laki itu. Membuat pandangan mereka saling bertemu.


Sedetik


Dua detik


Tiga detik


" Sial! Kenapa wanita ini benar-benar membuat jantungku mau meledak saat aku melihat kedua matanya?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2