Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 99. Rahasia besar


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Waktu yang berlalu terasa begitu menyenangkan bagi Ari dan Puri yang beberapa Minggu ini kerap bersama. Seperti malam ini, Ari bersama Puri sedang dalam perjalanan pulang dari menyelesaikan project di wilayah pedesaan di sisi barat.


Tince dan team yang lain telah pulang terlebih dahulu sebab mereka mau langsung mengadakan survey lokasi untuk projects syuting mereka selanjutnya . Namun saat di perjalanan, tanpa mereka duga ban mobil mereka ternyata kempes.


Dan lebih sialnya, ban yang tiba-tiba kempes itu di sisi kanan dan juga sisi kiri. Membuat kesialan mereka semakin sempurna.


" Kenapa Ar?" tanya Puri saat Ari mencoba melihat bagian bawah mobil mereka menggunakan senter.


" Bannya bocor nona!" kata Ari dengan wajah penuh sesal.


" Waduh yang bener kamu. Ini jauh banget lagi. Gimana dong?" Puri semakin resah. Mereka masih berada di kawasan yang jauh, dan mobil itu berhenti tepat di area sepi.


" Yah, ponsel ku mati lagi Ar. Pinjam punya kamu gih buat nelpon orang rumah!" kata Puri saat ingat jika sebaiknya ia meminta bantuan kepada kakaknya.


" Punya saya juga sudah mati malah sejak di sana tadi nona!" kata Ari yang terlihat muram.


Saat masih sibuk mencari solusi terbaik yang mungkin bisa di upayakan, hujan tiba-tiba mengguyur lokasi itu dan membuat Puri buru-buru masuk kembali kedalam mobilnya.


" Tidak ada cara lain nona, sepertinya kita harus bermalam di sini. Anda bisa tidur dulu jika sudah mengantuk. Saya akan menjaga disini!" tukas Ari yang memilih cara aman sebab mereka sama seperti orang yang terisolir.


Kawasan itu sebenarnya sudah dekat dengan perumahan warga. Namun jam yang sudah larut, ditambah cuaca yang tiba-tiba hujan deras jelas membuat seluruh penghuni dari tiap-tiap rumah yang ada kini memilih untuk menarik selimut mereka.


CETIAR!!


Puri berlonjak kaget saat petir tiba-tiba menggelegar dan seolah membelah angkasa luas itu. Membuat gadis itu seketika gemetaran karena rasa takut yang luar biasa.


" Nona, anda tidak apa-apa?" bertanya cemas sembari menarik Puri kedalam pelukannya.


" Aku takut banget Ar!"


Ari langsung memeluk Puri guna menenangkan gadis itu. Lama keduanya saling memeluk dan membuat Puri merasa nyaman. Dan jujur, ia berterimakasih kepada petir karena dialah, Puri akhirnya bisa di peluk oleh Ari. Ahay!


Ari yang masih memeluk Puri bahkan tak bisa membohongi diri juga perasaannya, bila ia sedang benar-benar bahagia. Memejamkan mata seraya menghirup aroma rambut Puri dan berharap agar semua ini tidak segera berlalu.


" Ar!" panggil Puri kepada supir tampan namun.


" Hemmm!" menjawab dengan gumaman sebab ia sedang menikmati waktu yang benar-benar langka ini


" Misal aku berkata juju kepada kak Al, soal hubungan kita kamu setuju nggak?"


Ari langsung melepaskan pelukannya lalu menatap Puri dengan tatapan dalam. Ada apa ini, kenapa tiba-tiba menjadi terburu-buru untuk membuka tabir yang masih mereka tutupi?


" Apa anda yakin?" menatap wajah Puri dengan ragu sebab sebelumnya mereka sepakat untuk backstreet.


Puri mengangguk dengan kontan, terlihat sangat yakin dengan apa yang mau dia lakukan.


" Aku nggak bisa lagi lama-lama backstreet dari meraka Ar. Aku mau jalan sama kamu tanpa sembunyi-sembunyi lagi!"


Lama keduanya saling memandang wajah satu sama lain dengan perasaan yang begitu membuncah. Perasaan cinta yang semakin hari semakin membuncah dan menyeruak memenuhi rongga hati mereka, benar-benar tak bisa lagi mereka sembunyikan.


" Aku mencintaimu Ar!"


" Sangat mencintaimu!"


Ari yang mendengar kalimat mendayu itu tampak meraba bibir ranum milik Puri saat mereka berdua saling bertukar pandang.


" Aku gak peduli orang lain mau bilang apa soal kita Ar, aku sayang sama kamu Ar. Kita bisa memulai semuanya bersama-sama!"


Ari yang melihat sorot mata penuh harap yang di tunjukkan Puri, kini mendekatkan wajahnya secara perlahan lalu melumaat bibir wanita itu penuh cinta.


Puri yang merasakan sentuhan bibir hangat Ari, untuk pertama kalinya itu, kini membuat jantungnya seakan hendak meledak.


Ciuman lembut yang telah menyatu dengan bibirnya itu benar-benar terasa sangat damai. Ari benar-benar jago berciuman, Puri yang di bimbing seperti itu benar-benar bisa merasakan sensasi lain dalam berciuman.


Dibawah hujan deras yang mengguyur mobil dua sejoli itu, keduanya semakin larut dalam permainan bibir mereka hingga tak menyadari jika hujan itu semakin deras saja.


...----------------...


Jika Ari dan Puri mengabiskan malam mereka dengan bermesraan, sebuah malapetaka malah terlihat terjadi dirumah keluarga Gunawan.


" Siapa yang berbuat ini sama kamu Des, cepat katakan!"


Desi malam ini menangis sebab dia yang beberapa hari ini sering sakit-sakitan, membuat Nyonya Hapsari mengundang dokter untuk datang kerumahnya guna memberikan kondisi kesehatan gadis itu.


Namun alih-alih mendapatkan pengobatan agar sehat kembali, Desi yang diperiksa oleh dokter senior itu justru menemukan fakta baru jika dirinya sedang hamil.


Praktis, berita mengejutkan itu membuat nyonya Hapsari kalang kabut dengan berbagai macam pemikiran yang tidak-tidak.


Tuan Hendra yang menyaksikan hal itu seketika berang. Pria itu turut mendakwa Desi yang kini bersimpuh memohon ampun di bawah kaki majikannya.

__ADS_1


" Ampun nyonya! Tolong ampuni saya!" seru Desi yang menangis meminta ampun hingga sesegukan.


Mbok Enok yang melihat hal itu seketika menangis sebab tak mengira malapetaka akan menimpa hidup Desi.


Semua itu berawal saat Desi sering muntah, juga kerap merasa tidak enak badan dan membuat pekerjaannya banyak yang terbengkalai.


" Sudah nduk, tidak usah khawatir. Katakan saja siapa bapak dari bayi yang kamu kandung itu!" kata mbok Enok dengan suara lembut di hadapan tuan dan nyonyanya yang saat ini terlihat begitu terpukul.


Desi semakin terisak manakala mbok Enok mengatakan hal itu. Merasa malu dengan kondisinya yang sudah berbadan dua, bahkan sebelum menikah.


" Des, jawab saya dengan jujur. Siapa sebenarnya orang yang telah melakukan semua ini kepadamu?" seru Nyonya Hapsari berusaha membujuk agar ia bisa segera mencarikan solusi terbaik.


" Benar. Aku sendiri yang akan menghukum orang itu nanti. Kau jangan takut. Ayo katakan!" seru tuan Hendra Gunawan dengan wajah berang. Membuat suasana menjadi semakin menegangkan.


Desi yang semula ragu-ragu kini terlihat mulai mengangkat kedua wajahnya.


" Benarkah nyonya. Nyonya tidak akan marah jika mendengar hal ini?" berkata dengan suara bergetar yang bercampur dengan rasa takut juga tangis.


Nyoya Hapsari mengangguk. Sesama wanita tentu ia merasakan hal yang sama.


" Orang itu adalah..."


...----------------...


Ari dan Puri baru tiba dirumah saat siang hari. Bengkel yang cukup jauh serta mereka yang masih kesulitan dalam mencari ban membuat durasi kepulangan mereka mengalami keterlambatan.


Namun sesuatu yang sangat mengejutkan, membuat Puri bagai tersambar petir detik itu juga, manakala Mamanya menampar wajah Ari yang baru turun dari mobilnya dengan begitu keras secara tiba-tiba.


PLAK!


" Kurang ajar kamu Ar!" pekik Nyonya Hapsari yang kini terlihat sangat marah kepada Ari.


" Mama apa-apaan ma?" potong Puri yang tentu saja kaget dengan perlakuan kasar sang Mama.


Bahkan yang di tampar seketika merasa tersengat listrik yang membuat tubuhnya menegang.


" Ibuk, kenapa ibuk menampar saya?" tanya Ari yang benar-benar tidak tahu apa salahnya.


BUG


"Tidak usah pura-pura tidak tahu kau. Kurang ajar kamu ya, setelah berbuat tidak benar sekarang malah berani sok tidak tahu!"


Tak berhenti disitu, Hendra Gunawan juga tiba-tiba datang dan langsung menendang perut Ari hingga membuat pria itu terjerembab.


" Supir tidak tahu diri. Apa yang telah kamu lakukan hah? Puri, si brengsek ini telah menghamili Desi!"


DUAR!


Maka detik itu juga, Puri seketika bagai tersambar petir meski tanpa hujan apalagi mendung manakala mendengar penuturan sang papa.


"Apa yang anda bicarakan tuan?" Ari kontan menyergah ucapan Hendra Gunawan saat apa yang dikatakan jelas tidak ia lakukan.


Tentu saja Ari mengelak, sebab ia memang tak melakukan apapun.


" Kau jangan pura-pura tidak tahu keparat. Cepat usir dia dan jangan biarkan orang seperti dia berada dirumah kita. Sudah berbuat tapi tak berani mengakui!"


Desi yang melihat Ari di gebuki dan di hajar seperti itu langsung menangis seraya membantu Ari untuk bangkit. Membuat Puri semakin percaya dengan apa yang barusan dia lihat.


" Desi apa yang mereka bicarakan, cepat katakan jika aku tidak tahu apapun?" berusaha meminta tolong kepada Desi sebab semua orang mulai menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


Namun alih-alih menjawab, Desi malah hanya menangis dan membuat nyonya Hapsari semakin kesal terhadap Ari.


" Aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Bahkan aku juga tahu kalau kau dan Puri memiliki hubungan selain majikan dan supir. Semua itu bisa aku terima. Tapi aku tidak terima saat kau mengajak anakku pergi berkencan, tapi kau malah menghamili rekan kerjamu sendiri!"


Deg


Desi seketika terperanjat saat mengetahui fakta bila nyonya Hapsari bahkan telah mengerti bila dua manusia beda kasta itu telah memiliki hubungan.


" Apa Mama bilang, berkencan dengan Puri? Kurang ajar kau. Kau ini hanya supir, beraninya kau!"


BUG


" Papa cukup pa!" Puri berteriak sebab meski ia kini masih syok atas apa yang terjadi, namun ia tak rela jika papanya menghina Ari seperti itu.


Nyonya Hapsari yang mendengar hal itu jelas tak bisa berpikir taktis. Ari yang merasa tersudut dengan apa yang bahkan tidak dia lakukan berusaha meyakinkan Puri namun semuanya itu sia-sia.


" Desi, cepat katakan kepada mereka jika aku sama sekali tidak melakukan hal itu kepadamu. Nyonya percayalah kepada saya. Nona Puri, anda harus percaya kepada saya."


Ari bahkan memohon dengan berkali-kali meraih tangan kedua wanita itu secara bergantian namun langsung di tepis.


" Pergi kau dari sini bajingan!"

__ADS_1


Puri yang melihat Desi menangis sembari terus meraba perutnya seketika merasa hancur. Bayangan akan Desi yang suka terhadap Ari tiba-tiba muncul kembali dan semakin memperparah keadaan.


...----------------...


" Apa?"


Alsaki yang kini berada di rumah mamanya hanya menatap tak percaya pengakuan Desi yang mengatakan jika mereka memang melakukannya dirumah ini.


" Kami saling menyukai bahkan sedari kami berada di desa. Tapi saya juga tidak tahu kenapa mas Ari malah tidak mau mengakui bayi yang saya kandung ini Nyonya!"


Nyonya Hapsari turut menitikkan air matanya. Ia percaya sebab Ari juga lah yang mengusulkan Desi untuk bekerja disana. Semakin merasa ditipu sebab selama ini ia bahkan nyaris meminta Alsaki untuk merestui hubungan mereka jika mereka ingin bersama.


" Sekarang dimana Ari?" tanya Alsaki dengan wajah resah.


" Dia sudah papa usir. Berani sekali dia. Di bahkan masih tidak mengakui anak dalam perut Desi ini!" seru tuan Hendra Gunawan yang tampak berang akan sikap pecundang Ari.


Dhisti mengusap perlahan punggung Desi yang bergetar karena tangis saat mereka masih membahas hal ini secara kekeluargaan.


Puri yang benar-benar terpukul tampak mengurung dirinya didalam kamar sebab hatinya benar-benar sakit. Gadis itu bahkan tak ingin mendengar penjelasan Ari dan memilih mematikannya ponselnya.


" Sebaiknya kamu istirahat dulu Des. Kamu jangan memikirkan apapun sebab itu akan berpengaruh terhadap janin kamu. Selama kamu masih disini, kami akan membantumu nanti!"


Nyonya Hapsari membiarkan Ari di usir dari rumah itu sebab laki-laki itu masih saja keukeuh tak mengakui anak dalam perut Desi. Membuat wanita itu geram.


Selama rapat itu, Desi bahkan tak banyak bicara dan hanya terus menangis. Alsaki yang masih syok benar-benar tak bisa berpikir jernih. Bagiamana bisa, pemuda yang memiliki sopan santun yang tinggi keramahannya itu malah menghamili seorang wanita yang notabene merupakan teman dari kampungnya.


Merasa khawatir akan kondisi psikologis adiknya, Alsaki kini menemui adiknya yang hanya diam bahkan tak mau makan dan minum.


Sejurus kemudian, pria itu tampak memeluk tubuh adiknya yang kini semakin bergetar karena kembali menangis. Puri sangat mencintai Ari, dan mengetahui kabar mengejutkan seperti ini, jelas membuat seluruh dunianya hancur.


" Do you trust him?" tanya Alsaki yang ingin menguatkan sang adik dalam melalui masa-masa sulitnya ini.


" Dia sudah dekat dengan Desi sejak di kampung. Bagaimana aku tidak percaya jika hal itu akhirnya terjadi kak?" jawab Puri sembari terisak.


Dadanya sakit, apa dia benar-benar telah di bohongi oleh pria itu?


Alsaki mengusap air mata adiknya yang tak mau berhenti mengalir. Puri sedih, sebab baru saja semalam dia mendapatkan ciuman mesra dari pria itu, namun setibanya ia dirumah oa malah dikejutkan oleh berita itu.


Ari yang kini berada di jalan raya dengan menyeret sebuah koper miliknya benar-benar kehilangan arah tujuannya. Ponsel Puri bahkan mati. Ia sudah berkata jujur soal itu namun mengapa tak satupun dari mereka yang mau percaya.


Lebih heran lagi, kenapa Desi malah mengatakan jika ia yang telah menghamilinya?


" Kenapa kau melakukan semua ini kepadaku Des?" ia terus bergumam dengan pikiran yang tidak-tidak. Apakah ada sebuah konspirasi dibalik semua ini?


Ari benar-benar stres. Pria itu sejurus kemudian memilih memboking hotel sebab ia tak memiliki tujuan saat ini. Mustahil dia pulang. Pulang tanpa mengajak Desi sama saja membeberkan masalah yang ia derita kepada warga kampung.


Dan saat malam menjemput, Desi yang kini kembali di panggil oleh seseorang, kembali menangis dalam diam manakala pria itu kembali menindih tubuhnya guna melampiaskan naf su bejatnya.


Pria itu kembali melucuti pakaian Desi lalu meraup kuncup ranum itu dengan rakusnya. Tak mempedulikan Desi yang tak menikmati namun hanya bisa menangis.


Pria itu menyesap, lalu meraba semua bagian tubuh Desi tanpa ada yang terlewat.


Usai memastikan bagian itu telah lembab, pria itu terlihat menghujam lalu menghentak tubuh dara muda yang kini telah mengandung benih darinya itu dengan penuh naf su.


Pria itu bahkan menyimpan mulut Desi menggunakan kain dan membuat isak tangis itu teredam dengan sempurna. Pria itu dengan tidak tahu malunya terus mengayunkan tubuhnya hingga membuat sekujur tubuh Desi remuk redam.


Benar-benar permainan yang sungguh egois.


Hingga, saat pria itu semakin dekat dengan tujuannya, ia menggerakkan tubuhnya dengan tempo lebih cepat yang membuat Desi begitu kesakitan.


"Ah!"


Hendra Gunawan memekik manakala ia telah mencapai puncak kenikmatan yang selama ini ia dapat dari tubuh mulus Desi.


Pria biadab itulah yang sebenernya telah menghamili Desi dan menjadi ayah dari bayi yang kini di kandung oleh gadis muda itu.


Hendra Gunawan sering mengendap-endap masuk kedalam kamar Desi saat tengah malam. Seringnya waktu nyonya Hapsari yang pergi berkumpul dengan teman-temannya menjadi kesempatan yang pas bagi pria itu untuk menyalurkan hobi bejatnya itu.


Tak berhenti disana, Hendra Gunawan juga telah mengancam Desi akan menyebarkan video mereka yang sedang berhubungan badan jika Desi sampai membocorkan semua ini kepada istrinya.


Lebih-lebih, Hendra Gunawan selalu membawa senjata tajam saat mengajak Desi berhubungan. Membuat gadis itu tak memiliki pilihan lain selain menurut.


" Jika kau berani angkat bicara. Aku akan membuat hidupmu sama dengan Ari, kau mengerti?"


Membuat Desi kini mengangguk seraya menangis tanpa bisa berbuat apa-apa.


Hendra Gunawan sejurus kemudian pergi meninggalkan Desi dengan keadaan yang memprihatikan. Desi benar-benar bingung saat ini. Ari telah di usir karena di fitnah oh pria biadab itu, dan kini dirinya harus mengandung anak dari pria brengsek itu.


Jika dia mengaku, ia juga takut kepada Nyonya Hapsari sebab Hendra Gunawan rupanya sangat pandai bersilat lidah.


" Bagiamana ini? Dimana kamu sekarang mas Ari? Tolong maafkan aku. Aku tidak punya banyak pilihan selain diam!"

__ADS_1


Desi menangis sejadi-jadinya saat merasa hidupnya kini bagai di selama neraka. Bayangan akan wajah Ari yang di hajar tadi semakin membuat hatinya sakit. Sungguh, jika sudah seperti itu, ingin rasanya dia mati saja.


__ADS_2