Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 110. An apology


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


" Emmm tolong jang..." Ari merasakan sesuatu yang bakalan menjadi runyam bila gadis itu tetap bertengger diatasnya. Lebih-lebih, bokong Puri bertahta tepat diatas benda krusial miliknya.


Tapi sayangnya, saat melihat wajah cemas Ari, alih-alih menurut dan pergi, Puri malah semakin bersemangat untuk mengambil alih situasi yang membuatnya cukup senang itu.


" Kenapa memangnya? Kau sudah lama meninggalkan aku tanpa kabar, sekarang aku ingin menghabiskannya waktu denganmu!" kata Puri yang ogah pergi dan semakin merajalela.


Mata Ari semakin melebar manakala Puri malah menggesek-gesekkan bokongnya pada bagian penting Ari yang kini tertindih.


Damned!


Benar-benar kurang ajar.


" Nona!" memekik dengan keresahan yang berkolaborasi dengan ketakutan.


Puri semakin tergelak saat tangan kekar Ari kini mengetat sebab memindahkan tubuh Puri sebelum ada makhluk lain yang bakal bangun sebelum waktunya.


Dalam tawanya, Puri tak menyangka jika Ari begitu berbeda dari pria kebanyakan yang dulu sempat hadir dalam hidupnya. Puri yakin jika ia saat ini bersama Wisnu, pasti kisah mereka akan berakhir di kasur.


Di rumah sakit.


Ari telah mendapat kabar dari Tyo bila janin dalam kandungan Desi tidak terselamatkan. Mungkin ini jalannya, mungkin ini takdirnya. Meski sebenarnya sedih, tapi Ari bersyukur sebab semua itu bakal memudahkan perjalanan Desi meski jejak kelam itu tak akan pernah bisa terhapus oleh apapun.


Desi sendiri juga tidak tahu dengan dirinya saat jni. Entah harus senang, atau harus sedih. Pikiran yang kosong membuat gadis itu kini menatap nanar lantai dimana dia masih di tunggui mbok Enok.

__ADS_1


Ya, hancur sudah mas depan yang terenda dengan apik. Kini ia sadar bila Ari bersikap baik kepadanya hanya sebagai seorang teman. Dan ia yang kini merasa telah di celikkan, tentu tak memiliki harapan lebih kepada pria yang masih sudi untuk menolongnya itu.


" Yang sabar. Yang kuat. Yang terjadi jadikan pelajaran. Mbok doakan kamu cepat sehat. Saya harus kembali kerumah nyonya, itu mas Tyo sudah nyarikan mbok taksi. Besok saya kesini lagi!"


Desi mengangguk meski dengan kesedihan yang masih jelas terlihat, " Terimakasih mbok. Udah bantuin aku!"


Bersyukur, itulah yang bisa Desi lakukan saat ini. Rupanya di tengah kesulitan yang dia terima, rupanya masih ada orang-orang tulus yang mau menolongnya.


Sepeninggal mbok Enok, Tyo yang menunggu Ari datang, kini masuk ke ruangan Desi untuk melihat kondisi gadis itu. Meski belum terlalu kenal, namun gadis itu merupakan teman Ari yang menggerakkan hatinya untuk menolong.


Desi menatap Tyo yang kini berjalan ke arahnya dengan sungkan. Pria itu terlihat masih sedikit pias sebab belum bisa move on dari kejadian mengejutkan tadi.


" Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Tyo murung.


" Janinmu akan di makamkan Ari nanti!"


Desi tertegun untuk beberapa saat manakala Tyo mengatakan hal itu. Tidak tahu kenapa, ia kini menjadi sangat rapuh.


" Terimakasih banyak tuan. Anda sudah menolong saya. Saya janji akan mengganti biaya rumah sakit nanti!" ucap Desi sejurus kemudian yang merasa Tyo sangat baik kepadanya.


Tyo yang melihat kesedihan di mata Desi seketika merasa iba. Gadis yang kondisinya begitu memprihatinkan itu masih sempat-sempatnya memikirkan biaya padahal dia yang membayar saja tak memikirkan hal itu.


" Pikirkan kesembuhanmu dulu, baru pikirkan yang lain nanti!"


Beberapa waktu yang agak lama kemudian, Ari dan Puri datang. Puri agaknya benar-benar kecewa dengan sang papa sebab bukannya pulang dan melihat bagaimana keadaan dirumahnya, gadis itu malah ngeyel untuk bertemu Desi dan sangat ingin tahu keadaannya.

__ADS_1


" Sebaiknya kau jangan menemui dia dulu, aku..."


" Aku janji tidak akan berbuat impulsif lagi. Kumohon!" eyel Puri yang membuat ucapan pria itu langsung menguap.


Ari yang menatap gadis nakal itu dengan tatapan memohon tentu tak bisa menolak. Entah mantra apa yang Puri punya sehingga Ari selalu saja tak bisa menolak permintaan gadis itu.


Setibanya mereka di depan pintu ruangan Desi, Ari sengaja menunggu diluar sebab Puri ingin menemui Desi secara pribadi. Ari menurut, berniat akan memantau pergerakan gadis nakal itu dari luar saja.


Tyo yang sudah dikirimi pesan oleh Ari kini terlihat keluar saat ia melihat Puri masuk. Seperti suda terencana, Tyo bahkan tak mengatakan apapun manakala Puri sudah berada di ruangan itu.


Maka Desi seketika terperanjat demi melihat Puri yang kini berada di ruangannya. Pikiran yang tidak-tidak mendadak muncul di kepala Desi.


Apa gadis yang ia anggap sebagai saingannya itu akan marah sebab ia telah melakukan hal tak senonoh dengan papanya?


Atau di akan di maki-maki habis?


Namun segala teori keraguannya seketika runtuh manakala Puri tiba-tiba memeluk tubuh Desi seraya menangis.


Membuat Tyo dan Ari yang mengintip di celah pintu seketika tercenung.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2