Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 45. Antara aku, kau dan dia


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Semenjak kejadian itu, hari-hari selanjutnya terasa lebih mudah berwarna. Meski tak ada kata penegas apapun, tapi keduanya semakin terbiasa dengan berbalas pesan, atau sekedar menelpon untuk menanyakan hal-hal yang kurang penting.


Bisa dikatakan, mereka tengah menikmati indahnya masa PDKT alias pendekatan.


Dhisti akhirnya tahu soal Luna yang berbohong soal hubungan mereka, saat suatu hari mereka menghabiskan malam untuk mengobrol ngalor ngidul tak jelas.


Meski begitu, Al tidak terlalu mengambil pusing soal apa yang terjadi. Baginya, yang terpenting saat ini adalah berusaha membuat orangtuanya mengerti bila Dhisti pantas untuknya.


Entahlah. yang jelas, rasa yang Dhisti alami kini semacam menemukan sahabat baru selain Inka. Selama itu pula, Dhisti masih melakukan aksinya bersama Inka demi memburu kebutuhan setoran tanpa sepengetahuan Alsaki.


Ada sejumput ketakutan manakala Dhisti melakukan aksinya. Bukan karena di tangkap polisi, melainkan jika Al tahu soal siapa dirinya sebenarnya. Dan jujur saja, ia tak siap jika harus mengatakan siapa dirinya saat ini kepada Al.


Mood Alsaki pun menjadi sangat baik. Pria itu bahkan mau menerima tawaran Puri untuk menjadi brand ambassador usaha teman-temannya. Bahkan, dia melakukan endorse usaha Ridho secara cuma-cuma.


Dhisti yang melihat Alsaki di kerubungi oleh kawula muda di dalam televisi, hanya terlihat menyunggingkan senyum yang tiada henti. Tampak tak percaya jika pria tampan dalam layar kaca itu pernah menciumnya sebanyak dua kali.


" Alsaki memang tampan. Tapi lebih tampan kalau ketemu langsung. Hah, kakek juga gak nyangka kalau dia benar-benar orang yang baik!" tutur Kakek yang baru saja tiba bergunjing dan bermain catur dirumah sekutunya.


Dhisti termangu mendengar ucapan sang kakek. Andai kakeknya tahu bahkan dia telah dua kali di cium oleh Alsaki, entah apa yang akan di katakan oleh pria tua itu kepadanya.


" Tidak berharap lebih. Tapi dikenal orang penting seperti dia itu sudah seperti mimpi yang menjadi kenyataan nak. Tinggal satu impian kakek sebelum kakek mati nanti!"


Membuat Dhisti langsung bangun dan memanyunkan bibirnya." Kakek! Kakek jangan bilang begitu!" serunya tak setuju.


Kakek tergelak manakala melihat Dhisti yang merajuk. Namun sejurus kemudian, kakek tampak menepuk pundak cucunya dengan tatapan serius.


" Umur kakek ini sudah sangat tua. Kakek berharap kamu segera menemukan jodoh kamu sebelum kakek mati. Hanya itu harapan kakek saat ini!"


.


.


" Argghh!"


Luna tampak mengatur napasnya saat ia barusaja melempar bertumpuk-tumpuk kertas desain cake, demi meluapkan kekesalannya.


Ia benar-benar tak menyangka jika Al bahkan semakin dekat dengan Dhisti.

__ADS_1


" Wanita itu benar-benar tidak mengindahkan peringatan dariku rupanya!" gumamnya seraya mencengkeram kertas dengan dada bergemuruh. Sama sekali tak terima dengan berita yang baru ia dapat.


Sejurus kemudian, ia melesatkan mobilnya menuju ketempat Ridho. Wanita itu benar-benar tak terima jika ia harus kalah saing dengan Dhisti.


Setibanya ia di cafe milik Ridho, Luna yang panas hati mengajak Ridho untuk berbicara empat mata.


" Apa maksud kamu Lun? Kamu gila? Aku gak bisa main mecat orang tanpa mereka melakukan kesalahan!"


Ridho yang diminta untuk memecat Dhisti oleh Luna tentu menolak ide gila sahabatnya itu.


Ya, Luna sengaja datang kesana karena mengira jika Ridho mau menjadi anteknya.


" Jadi kau lebih memilih gadis itu ketimbang sahabat kamu sendiri?" ucap Luna dengan emosi yang meledak-ledak.


" Lun, kamu emang sahabat aku, tapi Dhisti juga karyawanku. Dia sakit karena tangannya masih dalam masa pemulihan, dan itu bukan main-main!" sergah Ridho mencoba memberi penegerian.


Luna tampak geram saat melihat Ridho yang menolak permintaannya. Wanita itu benar-benar merasa tersudutkan.


"Gue gak nyangka, elu malah milih orang lain ketimbang sahabat elo sendiri!" Ketus Luna dengan nada penuh kekecewaan saat ia melesat pergi tanpa basa-basi.


" Luna!"


" Luna!"


" CK!" Ridho mendecak resah saat Luna melenggang pergi dengan kemarahan yang begitu berkobar.


...----------------...


Sementara itu di sisi lain, Puri yang akan melakukan dinner bersama Wisnu malam ini nampak bersiap dengan balutan dress berpunggung terbuka yang cukup sexy.


Membuat Mama Hapsari tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya kemana gadis itu akan pergi.


" Kamu mau pergi lagi?"


Puri mengangguk semangat " Hari ini ada birthday party temanku Ma. Wisnu juga bakal datang nanti!"


" Biar Ari antar kamu!" tukas Mama sembari memindai tampilan anak bungsunya.


" Apa? Enggak lah, masa pakai sopir sih? Temen-temenku pada datang sendiri lho Ma!" rengek Puri yang tak setuju dengan keputusan sang Mama.

__ADS_1


" Kalau Wisnu gak jemput ya jangan bawa mobil sendiri. Mama gak ada kompromi sama urusan safety!"


Ya, semenjak kejadian beberapa waktu lalu, Nyonya Hapsari memang tak ingin coba-coba soal urusan keselamatan anggota keluarganya. Apalagi Puri yang notabene merupakan seorang perempuan.


Saat sibuk berdebat, Ari yang terlihat segar sebab baru saja mandi tampak datang dengan wajah tegang.


"Selamat malam Buk, tadi Ibuk nelpon saya?"


Puri mendecak kesal demi melihat Ari yang sudah datang dengan tampilan yang selalu tampan. Pria yang gemar fitness itu benar-benar memiliki postur bak bodyguard.


" Kamu udah siap. Kamu antar Puri ya? Tungguin dia sampai pulang!" titah Nyonya Hapsari tak memperdulikan protes Puri yang wajahnya sudah nampak kesal.


" Apa? Mama nih apa-apaan sih, Puri ada Wisnu kali ma disana!" protes Puri yang merasa Mamanya sangat keterlaluan. Ia kan sudah dewasa dan akan ada Wisnu yang menjaganya nanti, untuk apa harus meminta Ari menungguinya?


" Udah hati-hati ya Ar, kabari saya kalau ada apa-apa!" cetus Nyonya Hapsari tanpa memandang Puri yang kesal bukan main.


" Baik Bu!" jawab Ari seraya membungkuk hormat. Melirik sejenak Puri yang wajahnya sudah manyun.


" Mama harap kamu menuruti ucapan Mama!"


Membuat Puri menghentakkan kakinya kesal.


" Mari Nona!"


Puri masuk dengan wajah keruh saat Ari membukakan pintu belakang mobil mewahnya. Puri bukannya tidak suka dengan Ari, tapi jika dia terus di ikuti, tentu dia tidak akan bisa bebas disana.


Pesta itu di gelar disebuah villa dengan tajuk outdoor party. Dan para tamu undangan, kebanyakan mengenakan pakaian terbuka dan membuat Ari tak bisa berjalan normal.


" Astaga, kenapa mereka memakai pakaian yang belum jadi?" gumam Ari menunduk dengan rasa yang tak nyaman sama sekali.


Melihat Ari yang tampak rikuh dengan pemandangan vulgar seperti itu, membuat Puri tersenyum menyeringai.


" Akan aku buat kau tidak kerasan disini!" batin Puri tersenyum smirk.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2