Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 50. Orang di masa lalu


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Siangnya, Alsaki yang sudah bertolak dari perusahaan nampak tak sabar untuk pulang kerumahnya. Meminta Dante untuk mengurus beberapa perintilan yang ia rasa bisa di wakilkan, demi membuat jam pulangnya tidak molor.


Membuat pria berwajah oriental dengan sikap sedingin es itu menghela napas pasrah. Merasai jika bos-nya itu memang telah berubah aneh.


Lebih konyol lagi, Alsaki bahkan meminta Ari untuk standby di kantor, dan tidak meninggalkannya sedari pagi dengan dalih agar dia tidak terlambat pulang. Sungguh hal yang benar-benar langka.


" Ar, apa kau tahu rasanya jatuh cinta?" tanya Alsaki langsung saat mobil sudah menguasai jalan raya secara stabil. Memecah keheningan yang semula menyeruak dari kabin mobil besar bertuliskan Alphard itu.


Ari yang sibuk mengemudi bagai di tepuk jidatnya demi mendengar pertanyaan konyol dari anak majikannya.


" Ada apa dengan tuan Alsaki? Jatuh cinta?"


"Menurut buku yang pernah saya baca; saat manusia sedang merasa jatuh cinta, orang tersebut akan menjadi bodoh." jawab Ari tanpa tedeng aling-aling dan masih nampak datar.


" Apa katamu?" langsung melirik syok manakala kata bodoh terucap dari bibir sang driver.


" Begitu isi buku yang pernah saya baca tuan. Saya sendiri mendefinisikan kata bodoh itu seperti sebuah kemudahan, atau sikap yang tidak berbelit-belit. Mungkin karena jatuh cinta, kita lebih mudah tersenyum, lebih mudah mengatakan iya dari pada tidak. Atau karena sedang jatuh cinta, kita yang semula kikir, menjadi lebih dermawan. Kurang lebih, seperti itulah tuan gambarannya! Tapi pujangga mengatakan itu, mungkin karena sengaja ingin membuat kita mendefinisikan kata tadi versi kita masing-masing!"


Luar biasa!


Ari berbicara sembari melirik Al yang memang terlihat bodoh saat menyimak seperti ini. Membuat laki-laki dengan lesung pipi itu terkikik dalam hati.


" Anda memang terlihat lebih bodoh dari hari-hari biasanya tuan!" batin Ari yang semakin tekrikik-kikik geli.


" Memangnya buku apa yang kau baca?" tanya Alsaki yang tertarik dengan buku yang di jabarkan oleh Ari.


" Kitab jatuh cinta para fakir cinta volume satu!"


Maka Alsaki seketika mendelik.


...----------------...


Puri nampak lebih fresh usai mandi juga keramas. Gadis itu merasa beruntung karena bisa kenal dengan Dhisti. Sosok yang cukup idealis dan dewasa dalam pola pikir itu, mampu memberikan penghiburan untuknya.


Mungkin, jika dia memiliki saudara perempuan akan lebih baik. Begitu pikir Puri. Bukan tanpa alasan, semua itu terbesit karena jika ia menceritakan soal ini kepada kakak laki-laki satu-satunya itu, ujung-ujungnya yang terjadi pasti baju hantam seperti yang sudah-sudah.


Pernah suatu ketika saat dia kuliah, kakaknya itu mematahkan hidung laki-laki brengsek yang mau melecehkan dirinya. Bahkan, laki-laki tersebut memilih cabut sebab takut akan intimidasi dari Alsaki.


Alsaki sangat tempramental jika berurusan dengannya. Mungkin definisi dari wujud kasih sayang yang nyata dari kakak kepada adik perempuannya.


Nyonya Hapsari yang semula tak mengetahui bila anaknya tengah mengalami persoalan, akhirnya tahu jika anak bungsunya tengah patah hati , pasca ia melihat mata bengkak Puri waktu ingin menemui Dhisti.


Puri tak membeberkan cerita yang detail kepada sang Mama. Hanya mengatakan jika ia dan Wisnu bertengkar. Dhisti pun sama, tak mau terlalu banyak bicara soal itu. Bukan kapasitasnya juga.

__ADS_1


" Berpacaran ya begitu itu. Mama aja yang sudah berpuluh-puluh tahun berumahtangga bersama bersama Papamu masih sering bertengkar, apalagi kalian yang masih pacaran. Selesaikan semuanya dengan kepala dingin!"


Puri hanya mengangguk memuaskan hati sang Mama. Sarannya memang benar, ia tak boleh mengambil keputusan saat sedang emosi. Ia ingin menjernihkan isi hatinya dulu.


Lagipula, ia tak ingin menambah beban sang Mama. Papa yang kondisi kesehatannya sedang naik turun, pasti sudah membuat Mamanya lelah. Ia tak ingin lagi menambah beban kepada wanita nomer satu dalam hidupnya itu.


Puri mengajak Dhisti turun seusai diminta datang ke meja makan oleh sang Mama. Bersamaan dengan itu, suara deru mobil terdengar sayup-sayup dari depan. Menandakan bila Alsaki telah memenuhi janjinya.


Dhisti turun bersama Puri yang nampak lebih akrab. Al yang melihat hal itu benar-benar senang bukan main.


" Wah kayaknya ada yang baru selesai konsultasi nih!" Seloroh Alsaki dari ambang pintu yang di ikuti oleh Ari di belakangnya.


" Apaan sih, mau tau aja!"


" Gitu ya sekarang?" cibir Al bercanda. Membuat Puri senyam-senyum.


" Ternyata, enakan punya kakak perempuan ketimbang kakak laki-laki!"


" Lah apa maksudnya ini?" sahut Al menatap Puri penuh arti.


" Ya enak aja kalau punya kakak perempuan, bisa di ajak curhat, kasih solusi yang solutif, bicaranya heart to heart, pakai bahasa kalbu, gak asal main hajar sana sini kayak..."


Sengaja menggantungkan kalimat sembari mencibir sang kakak.


" Ih tanganmu kotor, aku baru keramas tau!" Puri memprotes seraya tersenyum senang saat rambutnya di acak oleh Al.


Dhisti yang melihat hal itu turut merasakan kehangatan yang menjalar ke relung hatinya. Al merupakan pria yang hangat, perduli dan penyayang. Dilihat cara dia memperlakukan adiknya, Mamanya, laki-laki itu benar-benar manifestasi dari kesempurnaan.


" Duh lagi ngomongin apa sih ini kok seru banget!" seru Mama yang muncul dari arah belakang.


Suara Mama yang datang bersama Papa, sontak membuat kesemuanya menoleh. Di detik itu juga, Dhisti langsung terkejut manakala melihat laki-laki yang berjalan pelan bersama nyonya Hapsari.


Deg


" Orang itu!"


Mendadak membeku demi melihat sesosok orang yang pernah ada di masa lalunya. Sosok yang saat ini sama-sama membulatkan mata kala menatap dirinya.


Tuan Hendra yang melihat Dhisti juga nampak syok namun masih bisa menyembunyikan keterkejutannya.


" Ini lho Pah yang namanya Dhisti, dia ini yang nolongin Mama, udah kenal sama Al, sama Puri juga!" kata Mama memperkenalkan dengan penuh rasa suka.


Namun yang di kenalkan justru mematung dengan hati yang tidak karuan. Bingung harus bagaimana untuk bersikap. Sejujurnya, ia tak nyaman dengan pria yang rupanya adalah papa Alsaki dan Puri itu.


" Dhis, ini Papaku. Pah, kenalkan ini Dhisti temen Al!" seru Alsaki yang mengira kediaman Dhisti karena takut dan sungkan kepada sang Papa.

__ADS_1


Keduanya akhirnya bersalaman dengan canggung. Tak mengira jika mereka akan bertemu lagi di situasi macam ini.


Puri yang melihat Ari ada di belakang Alsaki tampak memperhatikan laki-laki itu. Sorot mata teguh itu sedikit membuatnya terkesan.


" Oh iya Ar, tolong bawakan tasku ke ruang kerjaku di atas ya!" pinta Alsaki menepuk pundak sang driver.


" Baik tuan!"


Puri mengikuti arah gerak pria tampan itu. Pria yang selalu jarang tersenyum, pria yang ia rasa lugu itu benar-benar telah menjadi saksi hidup kemalangannya.


"Malah pada bengong, ayo makan!" cetus sang Mama yang membuat kesemuanya terkesiap dari lamunan masing-masing.


Semua orang akhirnya duduk mengambil posisi. Tuan Hendra berada di ujung dan di sebelahnya ada Nyonya Hapsari. Puri berada di barisan sang Mama bersama Dhisti dan di depan meraka ada Alsaki.


Al nampak begitu senang dengan apa yang terjadi siang ini, dan tuan Hendra bisa melihat jika putranya itu sepertinya menyukai gadis yang kini membuatnya teringat akan masa lalu itu.


" Dhis, makan yang banyak. Papanya Al memang pendiam, kamu gak usah takut. Nanti lama-lama pasti akrab!" seru Nyonya Hapsari yang mengira jika Dhisti diam karena sungkan.


Mereka semua tergelak. Pun dengan Dhisti yang tak ingin menunjukkan kegelisahannya. Gadis itu turut berbaur dengan tawa sebab tak ingin membuat semuanya curiga.


" Dhisti ini kerja di cafenya Ridho temannya Al yang kurus itu dulu Pa. Papa ingat kan?"


Tuan Hendra tampak mengangguk dan bersikap sangat profesional kala sang istri memperkenalkan Dhisti. Membuat Dhisti tertunduk malu sebab pekerjaan itu hanyalah sebuah kedok.


" Kamu kenapa Pur, bengkak gitu matanya?" tanya tuan Hendra mengalihkan pembicaraan saat ia melihat wajah anak bungsunya yang sembab.


" Habis nangis Pah!" jawab Puri jujur.


" Biasa, anak pacaran pasti galau. Kayak gak pernah aja!" sindir Mama Hapsari seraya tergelak. Membuat kesemuanya tertawa.


Saat mereka asik berceloteh dan nampak akrab, dentang bel membuat fokus mereka teralihkan.


Assiten rumah tangga yang mendengar bel itu saat majikannya tengah sibuk makan, nampak tergopoh-gopoh dan berniat membukakan pintu.


" Siapa bik?" tanya Nyonya Hapsari sekembalinya si pembantu dari depan.


" Nganu nyonya, ada nona Luna!"


Membuat Alsaki seketika menatap Dhisti yang juga kontan menatap dirinya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2