Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 21. Kebingungan Dhisti


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Demi seluruh isi alam raya ini, Dhisti yang berjingkat itu nyaris saja menjerit demi melihat sosok asing berwajah datar yang tiba-tiba berdiri menyongsongnya.


" Si- siapa kau?" Gagap untuk sementara waktu, sebab pria yang semula duduk di sofa lantai dasar itu terlihat lebih menakutkan ketimbang Al. Meski wajahnya rupawan, tapi pria itu sungguh memiliki air muka yang kaku.


" Saya assiten tuan Al. Saya ditugaskan untuk mengantar anda!" Jawab Dante lugas.


" Apa? Tidak, aku bisa berangkat sendiri!"


" Apa-apaan orang itu!"


" Ini sudah hampir schedule masuk jam kerja anda. Saya tidak yakin jika anda menolak, anda tidak datang terlambat!"


Membuat Dhisti reflek melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sial!


" Aku sangat lelah. Tolong kau antarkan wanita ini ( mengirimkan sebuah foto kepada Dante). Gadis itu pasti akan pulang tanpa pamit kepadaku. Pastikan dia tidak terlambat"


Begitulah titah Al kepada Dante melalui pesan singkat. Dante yang tahu bagaimana sifat Al, lebih memilih diam dan tak menanyakan hal-hal berbau pribadi yang berpotensi membuat dirinya terancam.


Alhasil, Dhisti memilih untuk mengikuti Dante yang bahkan menatapnya tanpa ekspresi.


" Apa dia ini benar-benar assiten pria empat ratus ribu itu? Kenapa datar sekali?"


Di perjalanan, Dhisti yang duduk rapi sembari memangku tas ranselnya di jok belakang, tak hentinya menatap Dante yang masih diam seribu bahasa.


Pria itu benar-benar menakutkan. Membuat aura yang ada seketika berubah menjadi mencekam.


" Kenapa dia meminta assistenya mengantarku? Kapan dia ngomong, dia kan tidur tadi?"


Bertanya-tanya dalam hati sembari terus melirik laki-laki yang fokus ke kemudi yang dia pegang. Sama sekali tak menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan.


Mobil melesat membelah jalanan terik kota besar itu. Tak memberikan kesempatan kepada penghuninya untuk sekedar saling berbicara, sebab mimik wajah si supir lebih bisa mewakili.


" Sudah sampai nona!"


Dhisti tak percaya jika ia telah tiba di tempat itu tepat waktu. Cleaning service yang berangkat kerja di antar oleh pria kaku itu pasti saat ini menjadi pusat pergunjingan kaum gibah.


" Terimakasih banyak!" Ucapnya sesaat sebelum ia turun. Namun yang di sapa hanya mengangguk tanpa suara. Membuat Dhisti merinding.


" Apa pria ini sakit gigi? Benar-benar irit bicara!"


Sejurus kemudian, Dhisti menatap nanar mobil yang kini melesat entah hendak kemana itu. Sedikit merasa aneh sebab tak mengira jika seorang Alsaki yang terkenal, kenapa mendadak terlibat dengan hidupnya.


Ia masuk menuju gedung itu dengan hati ketar-ketir. Pasalnya, kejadian semalam jelas akan membuat dirinya menjadi bahan gunjingan para karyawan yang menjaga stand baju.


Namun kekhawatirannya tak terbukti. Ia malah dibuat heran dengan orang-orang yang sibuk meski pelanggan agak sepi. Terlihat seperti sengaja menghindarinya.


" Kenapa mereka? Ada apa ini? Kenapa suasananya canggung sekali?"


Dhisti menarik napas dalam-dalam sebelum ia melangkah menuju ruangan huose keeping. Berniat meletakkan tas juga jaket kedalam loker pegawai walau hatinya benar-benar kepo dengan kebungkaman rekan kerjanya.

__ADS_1


Saat berada di dalam, ia lagi-lagi di buat heran saat tak seorangpun membahas kejadian semalam. Biasanya, mereka pasti akan heboh seperti ayam yang hendak bertelur.


" Ada apa sih sebenarnya?"


Membatin dan membuatnya takut sendiri.


Di sisi lain, Dante yang akan kembali ke apartemen bosnya, merasa bertanya-tanya dalam hati. Siapa wanita asing tadi? Kenapa dia diminta untuk mengantarkan ke mall?


Namun semua itu hanya sebatas pertanyaan yang bisa ia ajukan untuk dirinya sendiri. Dante tentu tak memiliki keberanian untuk sekedar menyangkal perintah sang baginda raja.


Setibanya di unit apartemen milik Al. Ia mendengar suara gemericik di kamar mandi. Sepertinya, Al sedang mandi. Membuatnya memilih untuk menuju ke meja kerja, untuk melihat progres pekerjaannya.


Dan beberapa saat kemudian.


" Apa dia sudah kau pastikan tidak terlambat?"


Dante yang di tanyai langsung menoleh kepada pria yang kini berdiri di ambang pintu kamarnya. Terlihat segar dengan rambut basah yang baru tersurai.


" Sudah bos!"


Al mengangguk. Pria itu langsung menuju ke arah meja makan, tempat dimana masakan lezat terlihat merayu- rayu untuk di santap.


Wow!


Al mencomot ayam asam manis yang ternyata sangat enak. Terlihat berselera untuk makan saat cicipan rasa itu rupanya lezat.


" Dan, kemarilah!"


" Duduk, temani aku makan!"


Tertegun selama beberapa saat sebelum akhirnya Dante menarik kursi untuk bergabung.


" Apa yang sebenarnya terjadi bos? Anda terlihat sangat bahagia sekali ."


Dante membatin saat ekor matanya menelisik Al yang terlihat sangat senang. Tak biasa-biasanya wajah bosnya terlihat secerah itu.


Mereka makan siang dalam diam.


" Enak juga. Pantas anda memanggil saya. Terimakasih bos, anda selalu ingat kepada saya!"


Dante tampak memuji rasa masakan itu dalam hati, meski wajahnya nampak tak bereaksi.


" Beraninya dia berbohong jika tak bisa memasak. Aku bahkan malas makan sayur dirumah. Bagaimana menurutmu ini Dan?"


Membuat lamunan Dante buyar.


" Benar bos!"


" CK, benar apanya maksudnya?"


" Rasanya benar-benar enak." Memuji namun tak berbanding lurus dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh si pemuji.

__ADS_1


Al senang akan hal itu. Dua pria gila yang sedang menikmati masakan seorang pencopet.


" Bagaimana dia menurutmu?"


Lagi, Al tampak tak bisa menahan euforia serta ledakan aneh dalam hatinya.


" Apalagi ini bos? Kenapa anda terlihat aneh beberapa hari ini?"


" Dia...?"


" CK, yang kau antar tadi!" Mendecak demi melihat raut wajah Dante yang bingung


" Saya ....tidak tahu bos!"


" CK, kau ini!" Mendecak kembali demi jawaban Dante yang Benar-benar tidak sesuai harapan.


Huh!


...----------------...


" Terimakasih banyak!"


Luna yang barusaja selesai menghandle pelanggan-pelanggan sultannya kini kembali ke meja kerjanya. Sebagai owner cake yang terkenal, ia selalu bisa berkomunikasi dan bertindak- tanduk dengan baik.


Karena jujur saja, pembeli kue di shop nya, merupakan orang-orang yang berkelas.


Perhatiannya mendadak teralihkan manakala sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Wanita itu tekun membaca pesan, dan membuatnya langsung menyuguhkan raut wajah resah usai membaca seluruh isinya.


Merasa perlu menindaklanjuti informasi berharga itu, ia sejurus kemudian mengambil tasnya lalu beranjak dari singgasana nya.


" Hel, saya mau pergi dulu. Nanti kalau ada Bu Sriwedari yang datang buat take pesanan, kamu handle ya?"


" Baik Nona!"


Usai melempar senyum penuh keanggunan kepada pegawainya, wanita cantik itu berjalan tegap menuju mobilnya. Berniat menemui seseorang yang barusan mengirimkannya sebuah pesan.


Wanita itu membelokkan mobilnya ke sebuah restoran kenamaan untuk menemui seseorang.


" Saya tidak yakin. Tapi laki-laki ini pergi berdua dengan seorang wanita ke pantai hingga dini hari. Dan barusan, saya juga melihat wanita itu pergi diantar bekerja oleh assiten tuan Al!"


Luna mengambil foto-foto yang di tunjukkan oleh seorang pria dalam layar ponsel. Raut wajah Luna terlihat tenang dan tak menunjukkan reaksi apapun meski hatinya mendadak beriak.


" Apa kau tidak salah orang?" Bertanya tanpa menatap pria muda itu. Memfokuskan meneliti wajah wanita yang sepertinya ia kenali.


" Kalau anda zoom, wajahnya sama. Tapi kalau saya lihat dari tampilannya, saya tidak yakin jika..."


" Ini bayaran mu. Kabari aku kalau ada hal lain lagi!"


Pria itu tak lagi meneruskan ucapannya, sebab perhatian juga senyumannya kini teralihkan kepada sebuah amplop yang ia duga berisikan jutaan rupiah yang akan menjadi haknya.


" Aku tidak akan melepaskanmu Al!"

__ADS_1


__ADS_2