
...🌻🌻🌻...
Al pasti sudah gila, bagaimana bisa dia malah mencium gadis di depannya itu dengan impulsif. Namun, alih-alih menyesali perbuatannya, senyum tengik malah muncul kala melihat wajah si perempuan kini terlihat memerah.Yeah!
" Kau..."
" Dhis, si Brio udah nungguin di tempat biasa ternyata!"
Saat hendak menekan dada Al untuk melampiaskan kekesalan, Inka tiba-tiba masuk. Membuat Dhisti yang geram dengan Al kini tak bisa berbuat apa-apa.
" Brio? Siapa Brio?" batin Al yang kini turut menatap Inka yang tampak cemas.
" Kamu kenapa? Kenapa wajahmu merah?" tanya Inka yang curiga sebab keduanya berdiri dengan jarak yang cukup dekat.
" Merah karena panas. Banyak setan disini!" ketus Dhisti yang kini ngeloyor pergi menabrak pundak Al yang tampak santai seperti tidak terjadi sesuatu.
Alsaki hanya mengendikkan bahunya kala di tatap oleh Inka yang seolah memintai jawaban ada apa kepada dirinya.
__ADS_1
" Lah, lah Dhis, Alsaki gimana ini?" pekik Inka yang turut menyusul keluar dengan wajah tak enak hati sebab meninggalkan Al.
Namun yang di khawatirkan malah terkekeh-kekeh kala melihat Dhisti yang terlihat malu saat ngeloyor pergi.
" Dia pasti tak akan melupakan hal itu!"
Entahlah, yang jelas Al hanya mengikuti kata hatinya. Laki-laki itu tersugesti untuk melakukan hal itu secara mendadak. Dan sepertinya, ia harus mengakui diri jika ia memang tertarik dengan gadis itu. Ahay!
Al kini duduk seraya menunggu sang kakek datang dengan wajah yang terus saja senyam-senyum. Menikmati rasa yang tidak terdefinisikan itu dengan wajah cerah.
Sementara itu di lain pihak.
" Dhis, elu serius ninggalin dia dirumah sendiri? Seorang Alsaki loh Dhis?" oceh Inka yang belum juga jera.
Karena jengah, Dhisti akhirnya berhenti lalu menatap tajam Inka yang sedari tadi nyerocos tiada henti.
" Kamu nggak capek ya? Udah aku bilang, dia itu kesana mau nemuin kakek. Lagian, dia udah kaya lagi, walau kita tinggalkan dia sendiri, dia gak akan nyuri barang busuk dirumahku!"
__ADS_1
Sosok-sosok yang berkelebat disana sampai-sampai memusatkan perhatiannya kepada Inka juga Dhisti, sebab suara mereka begitu keras. Nampak seperti orang yang sedang bertengkar.
" CK, bukan gitu masalahnya. Semua orang juga tahu kalau dirumah kita itu enggak ada benda yang kayak untuk di curi. Tapi loh Dhis, ya... gak sopan aja gitu. Lu tahu kan, kakek juga belum datang!"
" Dia lebih gak sopan sialan. Dia malah menciumku tanpa izin asal kau tahu. CK!" Menggerutu serta mengumpat dalam hati.
" Bodo amat. Aku gak ngundang dia juga. Udah lah In, ngapain sih ngeributin dia melulu. Percaya deh, orang kayak dia itu enggak akan bingung dimanapun tempat. Udah yuk ah!"
Dhisti merasa begitu kesal. Pria itu sudah menciumnya dengan seenaknya. Harus ia akui, ia begitu malu hingga saat ini. Untung Inka tidak melihat. Sejenak berpikir, apa ini sebuah pelecehan? Tapi kenapa dia deg-degan begini ya?
Aaargggh!
" Elu ini emang aneh. Disaat orang lain mengidolakan laki kayak Al, elu malah jahat banget sama dia!"
" In, udah ya. Kita gak usah bahas itu lagi. Kita harus ketemu Brio buat bahas utang kita!"
Muak dengan Inka sebab gadis itu selalu nyerocos tanpa jeda jika sudah berhubungan dengan Al.
__ADS_1