Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 25. Bertemu rival


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


" Nih buat kamu!"


Inka menerima sebuah tas yang dilempar oleh Dhisti ke arahnya, saat mereka berdua bertemu di tempat biasa.


Ya, di jam sepagi itu, Dhisti yang masih masuk sift siang menggunakan waktunya untuk melakukan aksi bersama Inka. Meski Brio sempat memperingati, namun desakan jatuh tempo benar-benar membuat keduanya musti melawan aral.


" Apaan nih?" membolak-balikan tas mahal dengan wajah heran. Dari mana Dhisti mendadak barang ciamik seperti itu?


" Sisa operasi semalam!" Sahut Dhisti seraya mendaratkan bokong keatas dudukan dari jalinan bambu itu.


" Apa? Sendirian?" Terlonjak kaget manakala mendengar sebuah penuturan luar biasa itu.


Dhisti menggerakkan alisnya mewakili jawaban 'ya' kala ia sibuk meneguk air putih saat Inka melempar keterkejutan ke arahnya.


" Jual aja ke purel - purel yang biasanya doyan begituan. Kalau kamu....aku gak yakin kamu mau dengan tas yang modelan begitu!" Tukas Dhisti sembari menutup botol yang telah ia teguk isinya setengah.


" Kenapa gak lu pakai aja sendiri?" Tanya balik Inka.

__ADS_1


" Ogah banget, gengsi lah aku pakai bekas tuh keluarga brengsek. Mending kamu jual buat tambahan kamu beli tembakau!"


Mendengar ocehan Dhisti, ingin sekali rasanya Inka melempar sepatu ke kepala sahabatnya itu. Bagaimana bisa tas semahal itu dipersandingkan dengan tembakau. Ada-ada saja.


" Masih kurang dikit lagi In untuk bulan ini. Makanya hari ini mau aku tuntasin. Gak tau deh deh bulan depan!" Menerawang jauh sembari menyuguhkan segurat rasa capek akan kehidupan yang di kejar oleh cicilan yang membuatnya tak tidur nyenyak.


Membuat Inka menghela napas.


" Hidup hanya sekali Dhis, cincailah. Aku bakal bantu! Kita sarapan dulu yuk, biar kuat lari nanti!"


Inka tergelak menghibur sahabatnya yang mulai murung. Melempar senyum tengik dan sorot mata penuh godaan. Membuat kesedihan Dhisti seketika teralihkan dengan sosok idealis yang ada di sampingnya itu.


Hari itu, Inka dan Dhisti mencopet dalam kahati- hatian. Sebab keluarga si target, sudah mulai mengendus kecurigaan.


" Ramdan di pecat In!" Seru Dhisti kembali dengan wajah tak semangat mengunyah. Bukan karena rasa makanan yang tak enak, namun memiliki janji yang belum bisa di tepati itu merisaukan juga ternyata rasanya.


" Di pecat? Kamu ngadu ke Pak Fery?" Inka bertanya sudah seperti penodong saja. Membuat Dhisti berdecak.


Dhisti menggeleng di sela makan paginya. Menatap murung rempeyek udang gerago yang bersanding manja dengan sambal pecel pedas yang menggiurkan.

__ADS_1


" Pria bernama Al itu yang mengadu!" Serunya sembari memijat kepalanya yang mendadak pening.


" Lah kok bisa?"


Saat Inka masih sibuk melempar pertanyaan soal keterkejutannya, mereka berdua tak sengaja melihat Aris bersama Gabby yang juga hendak membeli sarapan disana.


What?


Kini, baik Aris maupun Dhisti spontan saling bersitatap dengan rasa canggung. Namun, Inka bisa melihat sorot mata syok Aris, yang terlihat memindai tampilan rambut Dhisti yang tampak beda.


" Udah jelalatan aja tuh mata. Ayo Dhis, jangan sampai elu kelihatan lemah di hadapan dia. Balas sampai mereka nangis darah!"


Inka berbisik dengan nada penuh penekanan, dan sorot mata gemas akan kemunculan dua manusia yang tidak tahu malu itu. Membuat Dhisti menelan ludahnya demi rasa gugup.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2