Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 40. Sebuah keresahan


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Dhisti memalingkan wajahnya menatap lantai rumah sakit dengan perasaan aneh saat Alsaki mengajukan banding terhadap sikapnya. Tapi jauh dari kesemuanya itu, ia pun merasa bingung dengan dirinya sendiri, kenapa ia menyukai apa yang di perbuat oleh laki-laki bertubuh harum itu?


" Istirahatlah, setalah ini aku akan mengantarmu pulang!" cetus Alsaki melenggang pergi.


Tak ada waktu untuk sekedar menjawab bahkan menolak, sebab yang barusan berkata telah langsung pergi. Dan Dhisti tidak tahu, bila kepergian laki - laki itu adalah untuk mengurus administrasi rumah sakit.


Sepeninggal laki-laki itu, Dhisti menghela napas risau. Pria itu memperlakukannya dengan tak pasti. Sebentar bersikap lembut dan sebentar berbuat tidak menyenangkan. Dan satu lagi, apa tadi dia bilang? Al menyukai Dhisti? Rasa-rasanya tidak mungkin. Kenapa dari sekian banyak wanita di muka bumi ini, pria semacam Al harus memilih dirinya?


Begitu pikirnya tak sampai.


...------...


" Bye!"


" Bye!"


Puri melambaikan tangan saat mobil sedan kekasihnya telah melesat pergi. Rasanya sulit dipercaya, baru juga bisa berduaan sebentar, kekasihnya itu harus berjibaku kembali ke rutinitas kantor lagi.


Hah, apa mau dikata. Semenjak mengemban tugas menjadi CEO di perusahaan orang tuanya, Wisnu semakin sibuk saja.


Saat Puri telah berbalik, ia melihat Ari yang berdiri di sudut bangunan. Laki-laki itu terlihat sibuk berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.


Puri mendekat dan akhirnya diam menunggu saat pria itu belum menyadari kedatangannya. Berniat akan mengucapkan rasa terimakasih atas penjagaannya terhadap sang Mama.


" Iya Buk, Ibuk tunggu sebentar dulu ya, nanti Ari kirim uangnya. Ari masih dirumah sakit. Enggak, enggak Ari gak kenapa-kenapa. Ari disini karena ngantar majikan Ari. Ya udah Buk nanti Ari telpon lagi ya!"


Saat membalikkan tubuhnya usai memungkasi panggilan, Ari kontan terkejut demi melihat Puri yang berdiri bersedekap tepat di belakanganya.

__ADS_1


" Nona, anda disini?" kejut Ari dengan tiada menduga.


" Kau berbohong ya?" vonis Puri.


Ari spontan mengerutkan keningnya. Pria tampan yang kini menjadi tulang punggung keluarganya itu bingung dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir Puri.


" Bohong? Bohong apa ya nona? Saya...tidak mengerti maksud anda!"Jawab Ari yang membuat Puri menghela napas panjang.


" Tadi aku gak sengaja dengar kamu ngobrol sama ibu kamu. Kamu luka cukup parah kayak gini, tapi kamu gak ngasih tahu ibu kamu soal keadaan kamu!"


Membuat Ari terdiam beberapa saat. Jadi majikannya itu menguping pembicaraannya?


" Kenapa kamu gak ngasih tau yang sebenarnya ke keluargamu kalau kamu ken..."


" Kadang ketidaktahuan itu lebih menenangkan nona!" Potong Ari tersenyum.


Membuat Puri sontak terkesima dengan jawaban bijak Ari. Laki-laki yang sejatinya tampan itu terlihat dewasa dalam pemikiran.


" Dia dewasa juga ternyata!" batin Puri memuji.


" Aku mau ucapin terima ke kamu karena udah jaga Mama Ar!" tutur Puri sembari tersenyum tulus penuh keramahan.


Untuk pertama kalinya, kedua manusia ini mau berbicara normal. Padahal, Puri biasanya jutek sebab sebenarnya tak suka dengan pilihan Mamanya yang merekrut sopir muda itu.


" Jangan terimakasih ke saya nona. Saya memang di bayar untuk itu. Mbak Dhisti jugalah yang berkontribusi banyak disini!"


Puri menatap wajah tampan itu dengan tatapan iba. Merasa bersalah karena dulu ia sering tak menggubris Ari.


" Apa ini sakit?" tanya Puri yang tangannya reflek terulur menyentuh mata lebam Ari.

__ADS_1


Ari yang bagian bawah matanya di sentuh Puri kini menatap wajah ayu itu dengan perasaan berdebar. Sama sekali tak menduga jika tangan cantik itu sudi menyentuh kulitnya yang koyak.


" Nona, awas!"


Sebuah troli besar yang memuat makanan juga obat-obatan untuk pasien tengah lewat dan nyaris saja mengenai tubuh Puri yang berdiri ditengah jalan. Membuat Ari seketika merengkuh pinggang ramping Puri demi menyelamatkan gadis itu.


" Maaf maaf, saya tidak lihat tadi mbak. Maaf ya!"


Bahkan permintaan maaf sang petugas tak masuk kedalam telinga mereka berdua karena kini mereka saling bersipandang.


Deg


Deg


Deg


Ari meneguk ludahnya demi menatap wajah cantik Puri, pun dengan Puri yang tak sengaja bersitatap dengan si pemilik alis tebal itu, merasakan keanehan yang tak terdefinisikan.


" Maaf, maafkan saya karena telah lancang menyentuh anda nona. Saya permisi!"


Ari yang gelagapan seketika melepaskan tubuh Puri karena ia takut Puri akan marah kepadanya. Laki-laki itu melesat pergi dengan langkah gugup sesaat setelah membungkukkan badannya, sembari berulang kali membasuh wajahnya karena perasaan tegang.


Puri yang juga malu kini menatap punggung yang semakin menjauh itu dengan tersenyum demi perasaan aneh.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2