Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 63. Menyingkirkan kutu busuk


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Luna yang kalang kabut terlihat menghubungi orang-orang yang tadi dia minta pergi namun tidak bisa. Ia kini sangat cemas. Ia percaya diri melakukan hal itu lantaran calon mertua laki-lakinya nya lah yang memintanya.


" Jangan sampai orang-orang tadi ceroboh. Kuharap mereka sudah pergi jauh!" seru Luna gelisah sembari menggigit kukunya. Tampak tidak bisa tenang sama sekali.


Tuan Hendra yang sama resahnya dengan Luna kini terlihat gencar berpikir dan mencari cara lain. Gadis miskin itu benar-benar sulit di singkirkan, membuatnya merasa pusing sendiri.


Sementara itu, Ari yang kini telah membelokkan mobilnya dirumah sakit Bhayangkara, membuat Nyonya Hapsari bersiap untuk mencari Dhisti.


Hubungannya dengan tuan Hendra sedang tidak baik-baik saja saat ini, namun dia yang merasa bersalah kepada Dhisti berniat meminta maaf.


Mereka bertiga berduyun-duyun memasuki lobi lalu mencari keberadaan gadis itu. Tanpa di duga, mereka bertemu dengan Dante yang hendak pergi ke suatu tempat.


" Mana kak Al?" tanya Puri menghadang langkah Dante yang telah berada persis di depannya.


Pria itu sempat terkesiap, namun sejurus kemudian membungkuk hormat kepada Nyonya Hapsari.


" Selamat pagi Nyonya besar. Bos ada di dalam, maaf saya permisi dulu!" tutur Dante dengan rasa hormat.


Nyonya Hapsari mengangguk. Ia tak pernah bicara banyak dengan laki-lakinya yang irit bicara itu. Lagipula, sepertinya Dante terlihat buru-buru.


Ketiganya lantas masuk dan mendapati Alsaki sibuk bertelepon entah dengan siapa. Puri yang terlihat cemas nampak tak sabar untuk menanyai kakaknya.


" Lakukan saja, saya ingin segera menemuinya juga jika orang itu tertangkap. Baik, terimakasih!"


Alsaki buru-buru memungkasi sambungan teleponnya manakala ia melihat adik dan Mamanya ada di rumah sakit.


" Mama?" kata Al sesaat setelah memasukkan ponsel kedalam sakunya.


Al sebenarnya terkejut dan tidak menyangka jika Mamanya mau datang ke rumah sakit. Ini sungguh diluar dugaannya.


" Bagaimana keadaan Dhisti? Dimana dia sekarang?" tanya Nyonya Hapsari cemas.


" Aku belum tahu Ma, baru Inka yang di izinkan masuk. Pur, aku harus membereskan sesuatu, kau tahu apa yang harus kau lakukan saat bertemu Dhisti kan?" timpal Alsaki dengan wajah tak tenang


Puri kontan mengangguk cemas demi mengetahui jika kakaknya pasti telah melakukan sesuatu.


" Bagus, Ar bisa kau antarkan aku sekarang ke suatu acara?" balas Alsaki mengusap lembut puncak kepala adiknya.


Ari yang ada di barisan paling belakang spontan mengangguk demi menyanggupi permintaan Alsaki.


" Siap tuan!"


" Kau mau kemana Al?" tanya Mama Hapsari resah yang tidak tahu menahu soal rencana Alsaki.


" Mama tunggu sebentar. Al harusembereskan beberapa hal yang harus Al lakukan Ma. Meski terlambat, tapi ini yang bisa lakukan buat menebus kesalahanku kepada Dhisti!" pungkas Alsaki tampak murung.


Nyonya Hapsari menatap muram wajah putranya yang tampak bersedih. Ia bersyukur Alsaki benar-benar memiliki jiwa seperti seorang ksatria.


" Aku pergi!"

__ADS_1


Puri yang melihat Ari turut berlalu dari pandangannya, merasa aneh. Entah mengapa ia juga merasa aman jika di dekat laki-laki itu.


Sejurus kemudian, keduanya tampak masuk ke sebuah ruangan yang lumayan padat. Keduanya terkejut saat melihat Dhisti yang lengannya tengah di obati.


" Dhisti!" sapa Puri dengan tatapan terkejut. Ini adalah pertama kalinya mereka bertemu saat Dhisti telah menjadi tahanan Polsek.


Yang di sapa tak kalah terlonjak kaget manakala melihat Nyonya Hapsari serta Puri yang datang dengan wajah sedih.


" Bu Hapsari?" jawab Dhisti terlihat sungkan. Gadis itu merasa sungkan serta malu akan kondisinya saat ini.


Inka yang ada di sana seketika membeku lantaran belum pernah bertemu dengan wanita cantik itu.


" Bagaimana keadaan kamu? Apa kamu terluka?"


DEG


Dhisti yang di peluk oleh wanita ramah itu seketika membeku seraya menatap Inka yang kini belingsatan. Merasa terharu sebab setiap dipeluk oleh wanita berumur, ia merasa itu seperti ibunya.


" Tante sudah tau semua dari Al kalau kamu..."


Dhisti nampak terkejut saat mendengar ucapan dari Nyonya Hapsari. Gadis itu langsung menatap Inka seolah menuding jika dialah pelakunya.


" Sory Dhis, gue terpaksa bilang semua ke Alsaki karena gue gak tahan dengan vonis orang-orang ke elo yang seenaknya itu!"


See! Bahkan Inka kini telah mengakui tanpa Dhisti bertanya kepadanya.


Dhisti kini tertegun, apa karena itu Alsaki mendadak perduli dengannya lagi? Tapi berani juga Inka melakukan hal itu.


" Tante turut berdukacita atas kepergian kakek kamu. Tapi percayalah, Alsaki sungguh tidak melakukan apa yang kamu sangkakan nak!" seru Nyonya Hapsari mengusap punggung Dhisti dengan lembut.


" Dhis, kamu tenang aja. Kak Al pasti sedang berusaha buat bebasin kamu!"


Dalam diamnya, Dhisti sebenarnya ingin tahu dimana Al saat ini. Apa laki-laki itu baik-baik saja?


" Bu Hapsari saya... saya minta maaf karena suami anda..."


Nyonya Hapsari telah tahu jika Dhisti dan suami nyaris saja melakukan sebuah transaksi terselubung itu. Tapi cerita yang di beberkan oleh Alsaki membuat wanita itu bisa menimbang dengan benar.


" Saya sudah tahu semuanya . Sudah jangan di bahas. Masa lalu biarlah berlalu nak. Itu biar jadi urusan saya. Kamu fokus pada diri kamu ya!"


...----------------...


Al membanting pintu mobilnya manakala ia telah tiba di suatu tempat yang cukup sunyap dan terpencil. Ari yang tak tahu apa tujuan Alsaki datang ke tempat itu, terlihat berjalan lurus mengikuti langkah sang majikan sembari memindai sekelilingnya.


" Tempat apa ini, kenapa tuan Alsaki datang kemari?" Ari membantin sebab ini merupakan pertama kalinya dia berkunjung ke tempat suram itu. Menegaskan jika seorang Alsaki benar-benar memiliki sisi lain dalam hidupnya.


Dante terlihat telah datang disana lebih dulu dan nampak berbincang dengan seseorang yang wajahnya garang. Tampak seperti preman.


" Dimana mereka?" tanya Alsaki dingin. Membuat obrolan dua manusia itu terinterupsi.


" Anda sudah datang bis. Mereka ada di dalam!" balas Dante masih datar. Membuat Ari tampak mengeraskan rahangnya.

__ADS_1


" Ada apa sebenarnya, kenapa aku tiba-tiba merinding begini?" batin Ari semakin penasaran.


Al berjalan angkuh menuju kesebuah ruangan tempat dimana ada tiga orang yang meringkuk ketakutan. Membuat Ari turut mengikuti langkah pria itu.


Ya, usai mendengar cerita tentang alasan Dhisti mencopet, Alsaki mengerahkan anak buahnya untuk mencari pria yang telah menipu kakek hingga ke lobang semut sekalipun.


Kekuatan uang dan kuasa yang dimiliki Al, sudah pasti bisa dengan mudah membuatnya menemukan cecunguk brengsek itu.


" Jadi kau yang bernama Arif, hah?" Alsaki menunjuk satu pria yang sudah terlihat tua yang kini tampak ketakutan. Membuat Ari semakin siaga.


" Ampuni saya tuan, tolong jangan sakiti saya!"


Orang itu merengek-rengek seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri mangga.


Al tersenyum sinis melihat segurat wajah yang kini terlihat panik. Alih-alih kasih, Alsaki seketika melayangkan tinju ke wajah pria itu.


BUG!


Membuat Ari mendelik.


" Jika dirimu bukanlah orang tua, sudah dipastikan kau akan ku gantung hidup-hidup!" seru Alsaki menakut-nakuti Arif yang wajahnya semakin pucat.


Menelusuri keberadaan Arif rupanya tidak mudah, ia bahkan melibatkan beberapa pemangku kepentingan terkait guna meringkus belut jahanam itu.


" Kenapa kau menipu kakek Dhisti?"


DEG


Arif seketika membelalakkan matanya demi mendengar pertanyaan itu. Pun dengan Ari. Kini, sang supir tampan itu akhirnya tahu siapa pria yang kini berlutut di hadapan Alsaki itu.


" Dhisti, ba-bagaimana anda mengenal..."


" Jawab!" hardik Alsaki menggebrak meja itu hingga menggema. Membuat jantung Arif bagai terlepas dari tempatnya.


" Sa- saya terpaksa karena bangkrut tuan. Saya akan melunasi hutang saya jika usaha saya sudah berjalan!" jawab pria itu tergagap. Ia benar-benar ketakutan sebab bagaimana bisa pria tampan yang nampak marah itu mengetahui jika dia menipu kakek Dhisti.


" Berjalan kau bilang? Bukankah kau sudah memiliki toko baru, hah?" pekik Alsaki kembali mencengkeram kerah pria itu.


Arif kembali menelan ludah manakala ia di sindir oleh Alsaki. Tamat sudah riwayatnya.


" Ampuni saya tuan, tolong ampuni saya! Saya akan mengembalikan sertifikat itu dengan segera. Saya janji!"


" Menyingkir kau!"


Alsaki menendang pria kurang ajar itu hingga tubuhnya gemetaran. Sejurus kemudian, Alsaki dengan wajah bengisnya mencengkeram rahang pria licik itu dengan tatapan membunuh.


" Buat klarifikasi di media soal kelakuanmu. Bersihkan nama Dhisti dan kakek atau aku yang akan mengirimmu ke neraka sekarang juga!!"


Membuat Arif mendelik ketakutan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2