Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 27. Senyum tengik sang raja tega


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Barangkali, uap hujan deras yang subuh tadi sempat mengguyur kawasan kota X menjadikan cuaca terik di kota itu, kini gerah tak nyaman. Namun semua itu bukan menjadi masalah apalagi ancaman bagi Dhisti juga Inka.


Jangankan hawa gerah, jilatan terik matahari pun sudah sangat karib dengan mereka berdua.


Inka masih cekikikan kala Dhisti menata sejumlah uang yang detik itu juga akan mereka gunakan untuk tambahan setor ke bank sebagai angsuran ke sekian kalinya.


Uang yang sempat berteduh di bawah jalan lahir.🤣


" Mabok- mabok tuh karyawan bank Dhis. Duit bekas i'il !" Berbicara menirukan gaya orang yang berbibir sumbing kala menyebut ii'l seraya tergelak.


Sekonyong-konyong membuat Dhisti menghela napas yang terhembus kesal.


Punggung mereka berdua basah oleh keringat, namun anehnya, itu merupakan hal yang biasa. Berteman terik matahari, berpacu dengan adrenalin, dengan secuil harapan bisa menguntit sebagian harta milik orang-orang durjana itu.


Sama sekali tak terpikir untuk menyerah, apalagi pasrah.


" Ini udah cukup, malah lebih dikit!" Menyerahkan rupiah yang nominalnya tak sedikit itu dengan air muka penuh kelegaan.


Inka menerima uang itu lalu menjejalkannya ke dalam tas pinggangnya. Menepuk bahu Dhisti yang kini menyuguhkan wajah muram.


" Jangan dulu merasa jadi orang brengsek Dhis. Jangan pedulikan itu. Yang maha tinggi lebih mengetahui segalanya. Yok lah kita pergi. Elu bilang...elu mau ke kantornya orang itu. Gue Googling alamatnya habis ini!"


...----------------...


Al yang sudah berada di sebuah universitas ternama di kota itu, menatap takjub gelanggang yang kini padat dengan riuh rendah peserta seminar.


Jajaran kursi yang ditata mirip terasering sawah itu terlihat di penuh oleh muda-mudi yang siap menerima ilmu juga motivasi dari sosok terkenal.


Pria itu sudah terbiasa dengan gelaran spektakuler macam ini. Tak ayal, semua peserta yang hadir, laksana tersihir dengan kepiawaian seorang Alsaki dalam berkicau.


Tak hanya soal isi materi yang memukau, sang pemilik wajah ngganteng itu bahkan sukses membuat para kaum hawa disana salah fokus dan belingsatan dalam waktu bersamaan.

__ADS_1


" Yang paling penting disini adalah mental. Jualan tidak laku jangan langsung hopeless, terus gak mau dagang. Itu yang harus di perhatikan!"


Memberikan sebuah contoh jika dia dan keluarganya terdahulu, juga memulai bisnis dari jual beli dalam skala dan partai kecil, yang akhirnya merambat kemana-mana.


Semua mata menatap lekat sosok tampan berkharisma yang jika berbicara selalu sukses menyihir para anak muda yang bakal menjadi generasi penerus bangsa itu.


" Sesuatu yang besar selalunya dimulai dari yang kecil. Mental pengusaha adalah mental yang tidak mudah menyerah dan tidak malu untuk gagal. Sebab apa? Sebab gagal adalah step bagi kita untuk lebih dekat dengan kesuksesan kita!"


" Karena siapapun pasti memiliki stok gagal dalam hidupnya!"


Tak hanya seminar, Alsaki juga menginformasikan akan memberikan kesempatan bagi lulusan terbaik untuk bergabung bersama PT. Nusa Bahana Corp bagi mereka yang berminat.


Al mengatakan, tiap-tiap manusia pasti diberikan kelebihan yang di persandingkan dengan kekurangan mereka, tinggal bagaimana kita mau menggalinya potensi diri yang ada.


Namun siapa sangka, dibalik kesibukan Al yang tak bisa di ganggu gugat itu, rupanya ada seorang wanita yang kini mendebatkan namanya bersama seorang resepsionis wanita.


" Saya harus ketemu Alsaki mbak. Mak- maksud saya pak Alsaki!" Dhisti meralat ucapannya.


Dengan sangat terpaksa, gadis itu akhirnya menyeret langkahnya menuju ke perusahaan Alsaki sebab ia harus memberitahukan soal Ramdan kepada laki-laki itu per segera.


Sorot mata yang terpasang dari mata resepsionis beremblem nama Ida Ayu itu jelas bisa Dhisti artikan sebagai reaksi jengkel atas kengeyelannya.


Huft!


Ia sudah hampir terlambat untuk bekerja gara-gara aksi copetnya tadi, dan sekarang resepsionis itu sama sekali tak bisa di ajak bekerja sama.


Me -reka perbendaharaan kosakata paling ramah sekalipun, nyatanya tak bisa membuat resepsionis itu merubah keputusannya. Mau mengubah bagaimana, yang dibicarakan saja memang tengah tidak berada disana.


" Apa saya boleh minta nomernya Pak Al?" Pintanya memelas.


" Maaf mbak, jika ada apa-apa bisa di sampaikan ke saya saja, nanti saya akan teruskan ke beliau!"


" CK, sombong sekali sih. Gini nih malesnya berurusan sama orang penting!"

__ADS_1


Ia memupus harapannya dengan derak langkah yang pilu menuju pintu keluar. Kenapa jika ia membutuhkan pria itu, yang bersangkutan sangat susah di temui. Tapi kenapa jika dia tidak membutuhkan orang itu, yang bersangkutan justru muncul dimana-mana. Merebak, merajalela, serta bertumbuh di mana-mana.


Sial!


Ketika dia sudah berlalu dari meja Ida Ayu, Dante yang baru keluar dari lift tak sengaja melihat sosok yang cukup familiar tengah berjalan menjauh dari tempat itu.


" Siapa yang baru datang? Dante bertanya dengan arah pandang yang masih berpusat kepada gadis yang ada di depan lobi.


" Oh, mbak itu tadi minta bertemu Pak Al Pak Dante, saya sudah beritahu jika beliau ada giat penting di tempat lain. Sudah saya sampaikan jika ingin menemui beliau untuk membuat janji terlebih dahulu!"


" Kau tidak bertanya namanya tadi?"


" Namanya Adhisti!"


Dante langsung menatap kembali sesosok wanita yang kini lekas masuk kedalam taksi konvensional itu.


...----------------...


" Apa kau serius?"


Dante yang memastikan jika gadis yang datang ke resepsionis merupakan gadis yang sama dengan saat dia diminta Al untuk mengantarkan seseorang ke mall itu, seketika kembali dengan cepat sebab sepertinya informasi itu lebih penting dari berkas yang ia bawa.


" Ida tadi menginformasikan kepada saya!" Jawab Dante datar.


" Pasti dia mau protes soal manager itu. Sesuai perkiraanku, gadis itu benar-benar bodoh!"


"Kita langsung pulang. Aku ada tugas untukmu!"


Dante yang melihat bosnya tersenyum senang semakin mengira-ngira dan penasaran akan senyum tengik itu.


" Kenapa anda sesenang ini bos?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2