
...🌻🌻🌻...
Malam yang masih menurunkan hujan yang mengguyur wilayah itu dengan rata, tak menyurutkan niat Ari untuk menemui pria bajingan itu.
Bukan karena apapun, tapi Desi ia bawa bekerja disana karena rasa kasihan. Dan mendapati Desi yang ternyata di perlakukan seperti itu, jelas membuat darah Ari mendidih.
Seorang penjaga rumah yang melihat Ari datang dengan wajah berang langsung bangun menghadang.
" Woy Ar, mau kemana kamu?" sergah pria penjaga pintu dengan berteriak.
" Minggir pak, jangan ikut campur!" elak Ari yang benar-benar tak memiliki waktu untuk meladeni pria yang pasti tak tahu apa-apa itu.
Namun alih-alih menurut, pria botak itu malah tak mau mundur sebab ia musti menjalankan perintah majikannya, yang memberikan ultimatum untuk tidak menerima Ari.
" Ar kamu gak boleh ma..."
" Tolong jangan mengatakan apapun kali ini pak, sebab aku datang dengan sisa kesabaran yang semakin sedikit!"
Pria botak itu seketika membeku manakala kerah bajunya di cengkeraman kuat oleh Ari yang terlihat sangat marah. Pria itu langsung terlihat ketakutan sebab belum pernah ia melihat Ari dalam keadaan yang sebegitu marah.
Ari sejurus kemudian mendorong tubuh pria yang kini mematung itu lalu dengan cepat berlari kedalam rumah.
Binatang itu harus segera ia beri pelajaran. Apalagi, pria itu bahkan memfitnahnya dan telah menjadikannya kambing hitam
Setibanya Ari di dalam rumah yang sebagian lampunya telah padam, ia yang melihat Hendra Gunawan baru turun dari lantai atas dan hendak menuju ke arah dapur, langsung mendatangi pria itu dan kontan melayangkan pukulan ke arah wajahnya.
BUG!
" Bajingan!
BUG!
" Astaga, tuan!"
Mbok Enok yang kebetulan lewat disana seketika menjerit, manakala melihat Ari yang meninju wajah Hendra hingga membuat pria berperut buncit itu menabrak vas bunga besar dan menciptakan suasana gaduh.
__ADS_1
PRYANG!!
Praktis, teriakan mbok Enok yang histeris seketika membuat nyonya Hapsari dan Puri yang telah berada di kamar masing-masing berhamburan keluar.
Kedua wanita itu pikir papanya jatuh karena sesuatu, namun sesosok pria yang kini berdiri hendak menyerang tubuh Hendra Gunawan membuat keduanya membulatkan mata.
" Ari, apa yang kau lakukan?" pekik Nyonya Hapsari yang melihat mantan supirnya kini meraih kerah baju suaminya dengan kasar dan hendak melayangkan pukulan kembali.
Puri yang bisa melihat dengan jelas bila itu merupakan Ari yang selama ini menghilang, seketika merasa kaget.
" Maaf Bu, tapi saya benar-benar tidak bisa menahan diri atas kelakuan biadab orang ini!" seru Ari dengan suara menggebu-gebu.
BUG!
" Ari!"
Kedua wanita itu seketika berlari manakala Ari tak mengindahkan peringatan mereka. Kini, Hendra Gunawan akhirnya tahu seberapa besar kekuatan seorang Ari.
Pria yang juga baru kembali dari mencari Desi itu, tampak tak mampu memberikan perlawanan. Kepalanya terasa berkunang-kunang, akibat di tempeleng dengan keras oleh mantan supirnya itu.
Ari sedetik tertegun sebab melihat keadaan Puri yang kini sedikit lebih kurus. Namun suara keras yang kini terlontar, berhasil membuatnya tersentak.
" Apa-apaan kau ini Ar? Apa masalahmu hah?" Puri tampak marah kepada Ari.
Tanpa ada angin apalagi hujan, pria itu tiba-tiba datang dan bertingkah brutal. Ari tersadar, tentu saja Puri membela Papanya. Walau bagaimanapun, Hendra Gunawan merupakan orang tuanya, dan Puri pasti belum mengetahui fakta sebenarnya
" Selama ini saya sangat menghormati tuan Hendra karena anda. Saya bahkan sangat sungkan kepada beliau karena kebaikan anda kepada saya. Tapi saya benar-benar tidak menyangka jika pria ini telah tega melakukan hal tak senonoh itu dengan terencana, bahkan beliau telah memfitnah saya!"
Nyonya Hapsari yang tak mengerti arah pembicaraan Ari tentu saja merasa bingung. Pun dengan Puri.
" Apa yang kau kau katakan?" sergah Puri dengan posisi yang masih melindungi papanya dari amukan Ari yang mengerikan.
" Bu Hapsari. Asal anda tahu, beberapa jam yang lalu saya nyaris menabrak Desi yang pingsan di tengah jalan, dengan keadaan memprihatinkan dan tanpa alas kaki!"
Membuat keduanya seketika syok, pun dengan Hendra Gunawan.
__ADS_1
" Sial, kenapa dia bisa bertemu dengan laki-laki ini?" batin Hendra Gunawan yang kini menjadi ketar-ketir.
" Saya cuma ingin memberi tahu, bahwa pria yang telah membuat Desi hamil adalah tuan Hendra!"
DUAR!!!
Hendra Gunawan langsung pucat manakala Ari mengatakan hal itu. Namun Puri yang melihat Ari menunjuk wajah papanya tak sopan seketika tak terima.
PLAK!
Membuat wajah Ari langsung terlempar keras ke arah kiri, dengan rasa pipi yang kini berkedut nyeri.
" Apa yang kau bicara, hah? Aku tahu kau mungkin masih berusaha menyangkal, tapi atas dasar apa kau menuduh papaku?" Puri marah, apa Ari sudah tak waras?
Hendra Gunawan yang terlihat semakin pucat kini hanya berharap kedua keluarganya itu tak mempercayai ucapan Ari.
" Setelah berani menghilang tanpa kabar, kau tiba-tiba datang dan membuat tuduhan tak benar kepada papaku. Apa kau gila?" teriak Puri yang kecewa dengan Ari.
Nyonya Hapsari yang melihat putrinya menampar pria yang sebenarnya dia cintai itu seketika menjadi stres. Ada apa ini?? Kemana perginya kedamaian keluarga yang selama ini ada bersamanya?
" Nona, anda menampar saya?" tanya Ari yang masih tak percaya jika Puri tega berlaku kasar kepadanya.
" Lalu aku harus apa? Memeluk mu setelah dengan beraninya mengucapkan kata-kata ngawur seperti itu, iya?"
Namun saat kedua manusia muda itu terlibat perdebatan sengit. Suara sahutan dari depan membuat kesemuanya kompak membelalak.
"Tunggu!"
Hendra Gunawan yang kini melihat Desi di papah oleh seorang pria asing seketika mendelik dengan perasaan yang begitu syok.
" Biarkan saya mengatakan kebenaran Nyonya!" kata Desi dengan tubuh lemah dan wajah pucat.
DEG
Maka Hendra Gunawan seketika merasa kiamatnya sudah mendekat detik itu juga.
__ADS_1