Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 11. Mengantar ke salon


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Dhisti menatap aneh pria yang mahir mengemudikan sebuah mobil bagus. Ekor matanya menelisik tampilan pria yang ia ketahui bernama Saki itu.


" Orang ini terlihat mahir sekali. Apa benar jika dia..."


" Kau tegang sekali. Kau pasti sakit hati ya karena di tinggal anak itu!"


Gumamam dalam hati itu seketika lenyap saat suara Al terdengar memecah keheningan.


" Apa? Dia mencibirku ya?"


Dhisti termangu demi mendengar pertanyaan itu. Tentu saja hatinya sakit. Ia dan Aris bukan hanya sehari dua hari berpacaran.


" Aku tidak ada kewajiban untuk menjawab itu kepadamu!"


Dan kenyamanannya di sekitar perlahan memudar, manakala Dhisti menjawab kesal pertanyaan Al. Membuat pria itu menahan tawanya.


" Kau ini galak, tapi diputus oleh cowok begitu saja menangis!"


" Diam kau, kalau kau terus saja nyerocos begini, lebih baik turunkan aku. Aku mau pulang!"


Al menghela nafasnya sesaat, niat hati ingin memberikan semangat masih yang di dapat justru kemarahan. Tunggu dulu, kenapa dia sepeduli ini?


Mereka berdua akhirnya terdiam. Dhisti yang masih berusaha menguatkan hati akibat kelakuan Aris tadi, sementara Al tampak fokus melajukan mobilnya.


Sejurus kemudian, dua manusia beda gender itu akhirnya sampai juga di sebuah salon besar berlantai tiga, usai menghabiskan waktu sebanyak tiga puluh menit.


Dari tempatnya duduk, ekor mata Dhisti sempat melirik Al yang kini membuka topinya dan langsung membuatnya terpana sebab pria itu sangat tampan jika membuka topi.


" Sial, kenapa dia ganteng jika membuka topi begitu!"

__ADS_1


" Hey mau sampai kapan kau disini, cepat turun!"


Dengan gelagapan Dhisti yang kesadarannya baru kembali itu, kini dengan terburu-buru membuka pintu mobil.


" Hey tunggu, CK!"


Al menarik senyuman yang tak dilihat oleh Dhisti kala ia berjalan cepat meninggalkan Dhisti yang tak mampu mengejar langkahnya yang panjang.


Entahlah, Al sangat suka dengan sikap alami wanita itu. Mengingat dia selama ini sudah sangat biasa di gandrungi banyak wanita yang menurutnya sangat membosankan.


Dia pasti memang sudah gila. Sebab dengan sadarnya, ia membawa wanita itu ke salon langganan adik dan Mamanya.


Saat Al sudah menginjakkan kakinya di meja resepsionis salon yang memang buka 24 jam itu, tampaklah seorang karyawan senior yang terkejut dengan kedatangan pria yang menjadi salah satu pelanggan VIP mereka.


" Tua-tuan..."


"Sssttt! Tolong jangan panggil aku tuan selama kalian melayani wanita di belakang ku itu. Tolong kalian ubah tampilannya yang amburadul itu. Terserah mau kalian apakan. Dan satu lagi, Jangan terlalu lama, karena aku sudah sedikit mengantuk!"


Bagaimana bisa tuan Alsaki datang tanpa ada info, dan meminta mereka untuk tak menyebut kata Tuan selama mereka bekerja.


Memangnya ada apa?


" Heh brengsek, kau ini gila atau apa, kau meninggalkanku seenaknya. Kau ini setan atau apa? Jalanmu cepat sekali!"


Tiga wanita berseragam elegan berwarna merah itu langsung terkejut dengan mata mendelik, manakala mendengar serta melihat Dhisti yang mengumpat ke arah Al yang tampak datar-datar saja.


Apa wanita itu sudah tidak waras? Bagaimanapun bisa mengumpat ke arah Alsaki yang tenar dan begitu terhormat?


" Layani dia!"


Dhisti menatap tak percaya kepada Al yang berucap dengan santai kepada tiga wanita cantik itu. Ia semakin mencibir demi melihat Al yang bertindak seperti seorang bos yang bertitah kepada anak buahnya saja.

__ADS_1


" Emmm selamat malam mbak. Saya Jeni, mari mbak silahkan. Kita mulai perawatnya!"


Suara lembut seorang wanita itu membuat Dhisti tersentak dari lamunannya kala menatap punggung Al yang menghilang dari balik pintu. Sedikit heran, kenapa Al terlihat sudah sangat terbiasa dengan tempat mewah itu.


Apa saudaranya sering mengajak pria itu kemari? Begitu batin Dhisti menebak.


Ia terperangah menatap interior mewah di setiap penjuru ruangan itu. Lagi-lagi terheran, kenapa pria seperti Saki membawanya ke salon seperti itu. Apa bedanya dengan salon yang ada di mulut gang rumahnya?


Dhisti yang mendapat pijatan lembut seketika merasa nyaman. Belum pernah ia merasakan pijatan tangan lembut seorang pegawai salon.


" Apa begini rasanya creambath?" Terkikik-kikik dalam hati.


Wanita itu mendapat perawatan full. Mulai dari rambut, hingga wajah. Sedikit memuji Al yang idenya rupanya menyenangkan juga.


Proses yang njelimet, ditambah takutnya para karyawan akan kedatangan Alsaki, membuat penanganan itu berlangsung lama. Membuat pria tampan itu terkantuk-kantuk dibuatnya.


" CK, andai aku tahu rasanya menunggu sebosan ini lebih baik aku tadi tidak menawarinya make over tadi!" Bergumam kesal sebab ia memang tak pernah menunggui siapapun.


Telah lebih dari dua jam ia menunggu di ruangan khusus. Telah banyak pula layanan yang ia dapat seperti makanan, minuman juga tontonan di rumah tunggu khusus itu.


Namun, lama berdiam diri dengan tidak melakukan apa-apa membuat Al kesal juga.


Pria itu akhirnya bangun dan berniat menuju ke depan tempat dimana Dhisti sedang di tangani. Ingin melihat sejauh apa proses yang masih dijalani.


Hingga, saat ia yang baru membuka pintu dan nyaris menabrak sesosok yang membuatnya pangling itu, bisu lah seluruh makhluknya yang ada disana.


" Sial, cantik sekali dia!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2