Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 89. Jatuh cinta berjuta rasanya


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Dua sejoli yang bergelar pengantin baru itu tekena insomnia di dalam kamarnya, padahal sejak tadi mereka lah yang selalu sering menguap saat sedang berada di ruang keluarga.


" Jangan karena aku, lantas sikap kamu ke papa berubah!" Dhisti memiringkan tubuhnya menatap sang suaminya yang juga menatapnya.


" Aku jadi gak enak sama kamu sayang. Harusnya kita bisa sama-sama bahagia. Tapi masih ada saja ganjalan!"


" Aku bahagia kok. Bahagia banget! Bahagia karena ada orang yang mencintai aku dengan sungguh-sungguh!" mengusap lembut rahang kokoh suaminya yang terlihat dua kali lebih tampan sebab mengenakan kaos hitam.


" Berapa lama?" merubah posisi menjadi menelungkup.


" Apanya?" menjawab bingung.


" Anunya!"


" Anunya apa sih?"


" Palang merah kamu!"


Dhisti langsung terkekeh. Astaga, ia menjadi kasihan dengan suaminya itu.


" Pingin banget ya?" goda Dhisti nakal.


" Emang kamu gak pingin?" Sela Alsaki mendengus. Membuat Dhisti semakin tergelak.


" Aku takut. Soalnya, katanya sakit!"


" Kata siapa?"


" Kata Inka!"


Alsaki langsung menyebikkan bibirnya. Lagi-lagi gadis bar-bar itu yang menjadi biang kerok segala keonaran.


" Emang dia pernah?"


" Mungkin!"


Alsaki tampak beranjak lalu meraih sebuah kotak lalu membukanya tepat di hadapan Dhisti.


" Ini kamu yang bawa. Mulai sekarang, semua keperluannya kamu yang atur. Aku sama Dante masih nyari rumah yang pas buat kita. Aku pingin saat kamu udah hamil nanti, kita udah nemuin rumah yang pas!"


" Kenapa musti beli. Kita kan bisa tinggal di apartemen kamu. Gak perlu boros!" jawab Dhisti tak enak hati.


Alsaki terkekeh, " Bukan boros sayang. Tapi memiliki rumah itu jauh lebih nyaman ketimbang apartemen. Unit itu biarkan tetap ada. Buat investasi. Katanya kamu pingin punya taman bunga?"


Dhisti tersenyum senang. Suaminya benar-benar penuh persiapan.


" Yang ini pakai buat belanja. Aku jarang bawa uang cash. Kamu juga bisa pakai sekarang. Pin nya tanggal lahir kamu, ATM yang ini juga!"


" Kapan kamu ngerubahnya mas?" bertanya takjub.


" Bukan aku, si Dante yang merubah! menjawab sembari terkekeh.


" Apa orang seperti Dante punya pacar? Dia benar-benar galak terhadap wanita!"


" Kenapa kamu malah membicarakan Dante. Kamu hanya boleh membicarakan suamimu saja!" seketika merajuk.


" Aku kan cuma bertanya. Kan kamu yang ngomongin dia dulu. Aku juga penasaran berapa gaji orang itu!" hanya berani membatin.


" Iya sudah, aku minta maaf!" Lebih baik mengalah sebab suaminya memang rada gesrek.


Alsaki masih mengusap lembut pipi Dhisti dan menatapnya tak jemu. Larut dalam obrolan ringan namun mengasyikkan.


" Oh iya, uang mahar kemarin?"


" Terserah kamu. Itu udah milik kamu!"


Merasa sangat beruntung sebab mahar yang diberikan benar-benar bernilai fantastis. Barang itu terlihat ia pakai. Sebuah liontin berlian bermata blue sapphire, juga giwang yang cantik yang merupakan wujud dari logam mulia itu membuat tampilannya menjadi lebih elegan.


" Aku pingin kamu jangan pakai alat kontrasepsi apapun. Mau dikasih cepat atau enggak, tapi kamu udah siap kan jika kita di kasih kepercayaan sama Tuhan buat jadi orang tua nanti?" menciumi kening istrinya yang kini meringkuk di bawah dada bidangnya.


" Tujuan kita menikah adalah membentuk sebuah keluarga. Dan memiliki anak akan membuat keluarga kita semakin lengkap!"


Alsaki senang. Ia begitu mencintai Dhisti dengan segala sikap sederhananya. Pria itu memiliki istrinya erat dan seolah tak ingin melepaskan wanita itu.


Sementara itu, Ari yang beberapa detik yang lalu di kecup oleh Puri benar-benar tak bisa tidur. Bahkan sepertinya ia mendadak sembuh dari sakitnya.


Oh sialan betul. Ini adalah kali pertamanya bagi Ari di cium oleh wanita secara terang-terangan seperti tadi.


Apa itu tadi? Kenapa Puri menciumnya tanpa kata-kata selain kata pamit dan sebuah perintah untuk dia harus sehat?


" Kenapa anda malah membuat rasa ini semakin menggila nona? Kenapa?" bergumam resah sebab jelas ia takut. Takut jika ia juga tak bisa menghalau perasaannya.


Jika Ari sedang resah dan gelisah, namun tidak dengan gadis pembuat onar itu. Puri malah berguling-guling di atas kasurnya seraya belingsatan tak karuan.

__ADS_1


Astaga, kenapa rasanya menyenangkan sekali?


" Aku benar-benar sudah gila!" ia berteriak-teriak memendam wajahnya kedalam bantal. Banyak sekali kupu-kupu yang seolah menari didalam perutnya. Membuat semuanya terasa lebih berwarna.


Tak bisa ia sangkal lagi bila dia benar-benar telah jatuh cinta kepada supir tampan bertubuh atletis itu. Ia yang masih hanyut dalam kebahagiaan konyolnya, mendadak kaget saat ponselnya mengeluarkan bunyi notifikasi.


πŸ“±Nona, kenapa anda melakukan semua ini?


Puri yang membaca pesan dari nomer supirnya itu langsung bertambah senang. Oh kenapa aku sesenang ini hanya karena dikirimi pesan bernada protes itu.


Namun alih-alih meminta maaf, gadis itu malah semakin gencar mengerjai Ari.


πŸ“± Memangnya apa yang aku lakukan?


Sengaja membalas hal itu dan menunggu balasan dengan tidak sabar. Oh ya ampun, andai Alsaki tahu semua ini.


πŸ“± Istirahatlah nona. Ini sudah hampir jam dua pagi.


Puri tampak antusias membalas. Rasanya, ini sangat menyenangkan. Ia benar-benar senyam-senyum sendiri manakala membalas pesan yang sebenarnya bisa saja itu.


πŸ“± Tidak mau. Aku mau begadang!


Balasnya kembali yang sengaja ingin membuat Ari terus membalas pesannya.


Namun Puri akhirnya memanyunkan bibirnya kala balasan Ari menjadi sangat lama. Bahkan tulisan diatas yang semula online, kini hilang.


" CK, kemana sih?" menggerutu sendiri.


Membuat Puri akhirnya mengetik sebuah pesan kembali demi memastikan.


πŸ“±Udah tidur?


Ia mengirimkan pesan itu kepada Ari karena tak juga di balas. Membuatnya menjadi gelisah tak tenang.


πŸ“± Apa kau benar-benar sudah tidur?


Ia nyaris menyerah sebab menunggu balasan itu terlalu lama. Membuatnya kehilangan kembali keceriaan yang semula luber itu.


Namun saat ia hendak meletakkan ponselnya dengan wajah manyun, sebuah notifikasi membuat dirinya kembali tersenyum senang.


πŸ“± Bagaimana saya bisa tidur karena anda bahkan menjadi penyebab saya tak bisa tidur malam ini nona!


Puri kini sudah mirip dengan orang tak waras. Ia begitu senang hanya dengan saling berbalas pesan singkat melalui WhatsApp. Jatuh cinta memang aneh ya. Bisa membuat suasana yang sepi, menjadi ramai.


πŸ“± Kau harus sehat, ada banyak tugas untukmu setelah ini.


πŸ“± Siap!


Puri menatap ringkasan chat itu dengan wajah yang terus menyunggingkan senyum. Terlihat ia sangat merasa lega karena ia telah menunjukkan perasaannya secara terang-terangan kepada Ari.


Namun di dalam benak pria itu, ini merupakan suatu ujian untuknya. Apakah anak majikannya itu hanya kesepian lalu menjadikannya pelampiasan? Apa benar wanita secantik dan secerdas Puri menyukai pria yang bahkan hanya seorang supir?


Lama Ari termenung menatap langit-langit kamarnya. Ia bahkan juga tidak tahu sejak kapan ia juga memiliki perasaan lain terhadap anak majikannya itu.


" Apa yang yang harus aku lakukan ya Tuhan?"


...----------------...


" Pantau terus dia Dan. Jangan sampai dia mendapatkan keringanan hukuman. Satu lagi, tolong perintah orangmu untuk mengamankan Lukman!"


Alsaki benar-benar berang mamak mendengar laporan Dante. Ia tak akan membiarkan Luna bebas.


Dhisti yang baru keluar dari kamar mandi tak sengaja mendengar percakapan suaminya bersama seseorang yang ia yakini merupakan assiten kaku itu.


" Ada apa? Kusut banget wajahnya?" bertanya saat menyongsong suaminya yang terlihat resah.


Alsaki tampak memijat keningnya usai melempar tubuhnya ke atas sofa di dalam kamarnya.


" Luna kayaknya mau mengajukan banding di persidangan nanti. Wanita itu benar-benar tidak tahu malu!"


" Apa bisa?" meski syok namun Dhisti masih bisa mengontrol nada suaranya.


" Untuk itulah beberapa pengacara dibayar. Tapi kamu tenang saja. Dante bisa kita andalkan!"


Dhisti mengangguk. Ia percaya bila suaminya pasti memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan permasalahan ini.


" Kita sarapan dulu. Habis itu kita pamit, hari ini aku ada acara talk show di TV !"


" Jam berapa?"


" Siang nanti. Kamu di apartment aja ya. Panggil Inka buat temenin kamu bentar!"


" Gak lama kan?"


" Enggak, kenapa mulai gak bisa jauh-jauh dari aku ya?" bertanya menggoda seraya menaik-turunkan alisnya.

__ADS_1


" Dasar!"


Membuat Alsaki tergelak keras.


Mereka akhirnya turun dan mendapati Nyonya Hapsari serta tuan Hendra telah duduk di kursi mereka masing-masing. Membuat Dhisti harus menguatkan mentalnya.


" Morning Ma!"


" Hey, gimana tidur kalian, nyenyak?"


Nyonya Hapsari benar-benar seorang yang bijak. Wanita itu bisa dengan cepat menguasai kecanggungan.


Dhisti mengangguk tersenyum. Lebih memilih untuk mengurangi mengeluarkan suara.


" Ayo sini kita sarapan bareng !"


Namun Alsaki heran, ia tak mendapati adiknya diantara keluarganya.


" Puri mana ma?"


" Tau tu, tumben belum mucul. Biasanya dah bertengger duluan dia!"


" Papa selesai. Papa kedalam dulu!"


Alsaki tak menyahut. Pria itu terlihat diam dan membuat dinding tebal itu makin menjulang. Namun karena ia akan pergi, mau tidak mau Alsaki harus berpamitan kepada papanya.


" Aku dan Dhisti setelah ini pulang Pa!"


Membuat langkah laki-laki itu seketika terhenti.


" Pulanglah. Bukankah itu yang kau mau!" menjawab tanpa menoleh dan langsung melenggang


Nyonya Hapsari langsung menahan anaknya yang hendak beranjak untuk menjawab. Membuat Dhisti langsung tertunduk.


" Ingat kata Mama. Yang waras ngalah!"


Wajah Alsaki tampak begitu kesal dibuatnya.


" Kalau yang waras terus menerus ngalah ma, lama-lama dunia ini penuh dengan orang gila!"


Tepat di jam sembilan, Inka sudah datang ke apartemen bersama Brio yang dimintai tolong Alsaki untuk menjadi supirnya sehari ini.


Dante sedang mengurusi urusan hukum, dan dia tak mau berkendara sendiri ke gedung TV Z.


" Gak usah masak. Aku udah pesankan kalian makanan buat makan siang nanti. Tunggu aja ya!"


Alsaki berkata sembari menggulung kemeja denim nya sebatas siku. Membuat tampilannya semakin tampan.


" Pak bos ini memang top markotop. Laki ane jangan lupa di kasih makan juga ya Pak!" cetus Inka terkekeh-kekeh.


" Aman. Dia gak selicik betinanya kok. Ya gak Bri?" menoleh kepada Brio yang menahan tawa.


" Nyesel aku muji ente pak!"


Keduanya seketika terbahak-bahak saat melihat Inka yang kesal.


Sepeninggal dua pria itu, Inka mulai melakukan kebiasaannya yang merupakan juara bertahan dalam urusan gali menggali informasi.


" Gimana, udah jebol Lo?" menyenggol bahu Dhisti yang mulai menyalakan remote untuk menonton drama Korea.


" Jebol apaan?" melirik sahabatnya.


" CK, malam pertama, belah duren!" menaikturunkan kedua alisnya dengan tatapan cabul.


Dasar Inka!


" Gak ada belah belahan. Pas habis selesai keramas karena gerah, keluar itu tamu bulanan ku!"


" What, jadi elu belum buka segel? Hahahah!" malah tergelak semakin kencang dan membuat Dhisti mendengus.


" Mumet mumet dan itu kepala suamimu! Hahahaha!"


" Berbahagia diatas penderitaan orang lain!" sahut Dhisti mulai sebal.


" Tapi gapapa, tenang. Itu suami kamu masuk tahap uji kesabaran. Lagipula, pas elu pakek nanti pasti cepet jadi. Langsung masuk masa subur. Losss!"


Dhisti menggeleng tak percaya demi melihat Inka yang selalu berminat akan hal seronok macam itu.


" Eh iya, tadi kita disuruh mutar televisi buat apaan? Ngelihat suamimu di tanya jawab? males banget!" mengomel sambil mencomot snack dengan bumbu micin yang bejibun.


" Iya ya, kenapa aku tadi nggak nanya?"


Membuat keduanya semakin heran.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2