Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 54. Flashback


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Kendati secara lahiriah Dhisti mati-matian berusaha menolak apa yang terjadi, namun secara batiniah jiwa Dhisti begitu menerima kasih lembut yang diberikan oleh Alsaki. Pria yang ia kenal melalui ketidaksengajaan itu benar-benar mampu menunjukkan keseriusan yang akhirnya membuatnya luluh.


" Aku harus pergi Al!" cetusnya usai ciuman mereka tersudahi dengan wajar.


" Oke, kamu pasti takut dimarahi Idho ya?" sahut Alsaki tersenyum jenaka.


Ya, usai mendapatkan balasan ciuman pria itu yakin jika Dhisti sepakat dengannya untuk fight.


" Apa Alsaki tidak tahu jika bang Ridho memberhentikan aku?" membantin namun tak menyela meski bukan itu keadaannya.


Tapi ya sudahlah, ia lebih baik diam. Mungkin ada alasan lain di balik ini, dan Dhisti tak mau terlalu menerka-nerka. Fokusnya bukan itu saat ini.


" Janji jangan ngindari aku lagi, hm?" Alsaki mengecup kening gadis yang hatinya dipenuhi kegamangan itu.


Dhisti nampak mengangguk agar semua bisa cepat selesai. Pagi ini ia harus bergerak cepat bersama Inka. Setoran sudah menunggu.


Alsaki yang tidak tahu Dhisti telah di PHK, nampak mengantar gadis itu ke cafe Ridho, namun sedikit heran kenapa Dhisti datang saat cafe itu bahkan belum membuka pintu gerbangnya.


" Memang begini setiap hari Al. Aku bawa kunci kok. Kamu buruan pulang. Kasihan Puri!"


Usai berhasil meyakinkan Alsaki jika ia memang datang di cafe Idho tiap pagi, dan memastikan mobil Al telah menghilang dari pandangannya, ia mencegat angkot untuk menuju ke tempat biasa Inka dan Dhisti bertemu.


Ia turun dari angkot lalu menyeret langkahnya untuk masuk lebih dalam di sebuah ruang terbuka hijau yang luasnya tak lebih dari tujuh meter persegi.


Ya, ruang terbuka yang di sekelilingnya di tumbuhi pohon Flamboyan, trembesi, juga satu buah pohon kenitu di tengah-tengahnya, memang menjadi satu-satunya ruang terbuka yang ada di tengah-tengah kota padat itu.


Namun, saat asik menapaki jejak, ia seketika terkejut demi melihat sosok Hendra Gunawan tiba-tiba menghadang langkahnya.


Deg


Keduanya bersitatap beberapa detik dengan sorot mata tajam.


" Tinggalkan anak saya. Kau bisa mencari laki-laki lain!" kata Hendra dengan mimik wajah serius.


Dhisti menarik sebelah bibirnya tersenyum sumbang. " Kenapa, apa anda takut jika anak dan istri anda tahu jika papanya...?"


" Jika kau berani macam-macam, aku tak akan segan meminta polisi untuk mencidukmu!" ancam Hendra mengeraskan rahangnya.


Kini, keduanya saling melempar tatapan permusuhan. Masa lalu yang buruk benar-benar membuat kesemuanya menjadi tidak pas.


" Saya hanya ingin tahu, bagiamana reaksi Alsaki jika tahu papanya seorang penjaja wanita!"


" Diam kamu!"


Hendra menghardik dengan ejaan yang menahan emosi. Membuat Dhisti tersenyum getir.


"Saya tidak akan biarkan kamu berada di kehidupan anak saya. Karena wanita macam kamu tidak pantas berada di dekat Alsaki!"


" Lakukan saja semau anda tuan. Saya tidak peduli. Saya juga tidak meminta di gandrungi anak anda. Tapi anak anda sendiri lah yang mengejar saya!"


Membuat Hendra Gunawan mengepal tangan geram.

__ADS_1


" Permisi, saya sangat sibuk dan tidak ada waktu untuk meladeni hal tidak penting seperti ini!" cetusnya melenggang pergi tanpa menatap.


Dhisti tahu itu adalah orang tua. Tapi kesesakan yang ia rasakan akibat ulah orang itu benar-benar menggerus rasa hormatnya.


Hendra Gunawan menyempatkan diri untuk pergi, saat istrinya sedang sibuk dengan kegiatan ibu-ibu sosialita diluar rumah, menyusul orang kepercayaannya yang ia tugaskan untuk membuntuti Alsaki.


Dan benar dugaannya, Alsaki memang pergi untuk menemui Dhisti.


Pria itu bisa melihat sorot penuh cinta yang ditunjukkan oleh anaknya saat berada bersama Dhisti. Ia yang memiliki kilasan masa lalu tak baik soal gadis bernama Dhisti kontan tak tenang.


Dhisti yang sangat dadanya seolah terbakar, kini akhirnya tiba di tempat mangkalnya dengan sisa napas yang masih memburu.


Benar, ia mendapati Inka tertidur dengan Hoodie yang masih lengkap dikenakan. Merasa bersalah karena selalu membuat sahabatnya itu menunggu.


" Bangun, bangun! Jangan tidur pagi-pagi!" tepukan pelan membuat sang empunya tubuh menggeliat.


" Ehh, sampai juga lo akhirnya, kelamaan nunggu sampai ketiduran gue!" sahut Inka bersuara parau.


" Aku habis dari apartment A!l


" Hah?"


Membuat mata Inka langsung terang benderang.


" Di depan sana tadi ketemu Hendra Gunawan juga!"


" Apa? Yang benar Lo?" bertanya lagi dengan pekikan yang tak percaya.


Dhisti langsung murung kembali usai mengangguk untuk yang kedua kalinya. Baru saja ia berjanji akan fight demi melihat keseriusan Alsaki. Tapi ucapan serta wajah Hendra Gunawan benar-benar terngiang-ngiang di kepalanya.


" Apa lima ratus juta?"


Bola mata Dhisti seakan keluar dari tempatnya begitu mendengar informasi dari kepala bank itu.


Ia benar-benar telah ditipu oleh teman dari kakeknya.


Semua itu berawal dari teman dekat kakek yang meminjam sertifikat rumah, dan berjanji akan di kembalikan dalam waktu sesegera mungkin karena usaha mereka bangkrut dan kini terlilit hutang.


Kakek yang sejatinya merupakan orang yang tidak tegaan dan menjunjung tinggi nilai persahabatan, akhirnya menyetujui. Lagipula, temannya itu merupakan orang yang selama ini baik ke keluarga mereka.


Dhisti sempat melarang tapi kakek yang memiliki pandangan lain terus saja terusik untuk menolong.


" Dia kan juga orang sini. Kita bisa melihat mereka setiap hari Dhis!" ujar kakek mensugesti cucunya agar tak khawatir.


Saat awal-awal, mereka memang bisa di pegang janjinya. Rutin membayar angsuran karena mereka memang memiliki pemasukan lain yang pasti bisa digunakan untuk membayar angsuran.


Naas, di beberapa bulan berikutnya, ternyata teman sang kakek molor dalam membayar dana pinjaman itu. Dan lebih busuknya lagi, mereka ternyata mengatasnamakan pinjaman itu, atas nama Kakek.


Kakek sempat syok dan seperti orang yang mengalami gejala serangan jantung manakala ada petugas penagih yang datang. Di detik itu, Dhisti yang bingung benar-benar ketakutan saat melihat kakek yang mau pingsan.


Kakek yang bodoh dan mudah percaya, kini merasa bersalah karena tak mengindahkan peringatan cucunya. Menghargai persahabatan, tapi malah membuatnya terjerumus kedalam kesulitan hidup yang tak main-main.


Singkat cerita, Inka yang sedari dulu memang sudah terjun lebih dulu ke dunia hitam kehidupan, menawari dirinya untuk menjual diri agar bisa menembus sertifikat rumah.

__ADS_1


Sempat berpikir berkali-kali, namun Dhisti yang saat itu benar-benar gelap mata akhirnya mau menerima tawaran Inka.


" Pokoknya aman lah. Apalagi elo perawan. Dia mau bayar harga mahal!"


Pria itu rupanya adalah Hendra Gunawan. Dhisti yang sudah di gerayangi pahanya benar-benar merasa takut. Nuraninya berontak, ia tak boleh melakukan ini.


Semiskin apapun keadaan, sesulit apapun persoalan, menjual kehormatan bukanlah sesuatu yang tepat. Ia yang merasa jijik dan tentu saja bertolakbelakang dengan nuraninya, mendadak berubah pikiran.


Gadis itu menggigit telinga Hendra Gunawan yang sudah berhasil menindihnya. Lalu kabur dari kamar hotel.


Pria itu seketika marah karena merasa di kecewakan. Tapi Inka berusaha mencarikan ganti lain agar uang yang sudah ia terima tidak hangus. Ya, Inka juga merupakan seorang mucikari kelas kakap dengan metode terselubung.


Hari berganti hari. Tak terhitung jumlahnya petugas yang datang untuk menagih dan menagih. Walau yang di dapat masih jawaban yang sama.


" Saya bersumpah Pak, uang itu bukan saya meminjam!" begitu jawab Kakek dengan mata yang berkaca-kaca karena takut.


" Kami tidak peduli Pak, di administrasi ada KTP serta tanda tangan bapak, belum lagi bukti-bukti lain!"


Sejak saat itu, kakek baru menyadari jika temannya memang berniat menipunya sejak awal.


Beliau memang pernah diminta tanda tangan namun sahabatnya berkata untuk suara partai. Kakek benar-benar melupakan sikap rasional demi sebuah nilai persahabatan.


Inikah yang dia dapat dari sebuah ketulusan? Bahkan temannya itu entah hilang kemana. Hidup ataupun mati, kakek tak pernah tahu kemana rimbanya. Pria bangsat itu pergi Meninggalkan segunung hutang yang kini harus di tanggung oleh kakek dan Dhisti.


Ancaman penjara juga perampasan hak milik tentu menjadi momok yang tak bisa Dhisti juga kakek anggap sepele.


Di awal kerumitan itu, ia sempat dipinjami uang oleh Inka. Namun tenor yang ada ternyata sangatlah panjang dengan jumlah setoran yang tidak sedikit.


Usai bermusyawarah temulah sebuah mufakat jika Dhisti akan berusaha mencicil itu.


Mustahil ia merelakan rumah peninggalan nenek moyang itu dan menjadi gelandang. Banyak tetangga yang menaruh iba kepada Dhisti juga kakek.


Namun nasi sudah menjadi bubur. Sebesar apapun sebuah penyesalan tak akan membuat hutang mereka lunas.


Hari-hari selanjutnya kakek sering sakit-sakitan karena pikiran yang begitu terforsir. Membuat Dhisti sedih. Ia sudah kehilangan semuanya, hanya kakek yang dia miliki.


Dhisti akhirnya berbohong kepada kakek jika ia sudah bisa mengambil sertifikat itu atas bantuan temannya yang memiliki uang. Sebuah sertifikat tembakan membuat kesehatan kakek pilih kembali.


Tak ingin larut dalam masalah tanpa berusaha. Dhisti akhirnya menggunakan segala cara untuk mencari uang angsuran. Ia diajak Inka untuk mencopet.


Awalnya sangat menakutkan. Namun desakan serta tuntas ancaman leasing benar-benar membuat Dhisti menebalkan kuping juga mukanya.


" Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu nak?"


" Gaji Dhisti di mall lumayan kek. Kakek tenang saja!"


Rasa cintanya kepada kepunyaannya satu-satunya itulah yang menjadi cikal bakal sikap berjuang. Ia mencopet keluarga pria yang menipu kakek.


Bukan tanpa alasan dia melakukan itu semua, tak terhitung berapa kali Dhisti datang secara baik-baik ke keluarganya mereka, namun yang di dapat justru cemooh.


Detik itu juga, Dhisti bersumpah tak akan membuat hidup keluarga pria itu tenang. Profokasi Inka juga membuat semangatnya kian membara.


Dari hal itu pula, ia akhirnya mengerti jika tak selamanya kebaikan akan berbuah kebaikan. Dan sebagai manusia yang menunggu ajal tiba, ia harus siap akan itu!

__ADS_1


...Flashback End...


__ADS_2