
...🌻🌻🌻...
Inka pamit pulang sebab ada beberapa urusan yang hendak ia urus, sementara Nyonya Hapsari terlihat berbincang diluar dengan seorang kenalannya yang bertugas sebagai dokter forensik di rumah sakit Bhayangkara itu. Mereka seperti sedang bernostalgia.
Alhasil, Puri dan Dhisti kini berada dalam satu ruangan bersama beberapa pasien dari tahanan lain yang menunggu di mutasi ke tempat lain selama kantor Polsek kota masih menjalani pemeriksaan.
" Aku...mau minta maaf Dhis!"
Dhisti menoleh kala suara Puri tiba-tiba terdengar sendu.
" Aku minta maaf karena aku sempat salah paham sama kamu. Aku juga turut berbelasungkawa atas kepergian kakek kamu. Tapi...kamu percaya kan kalau bukan kak Al yang memerintah wanita itu?" timpal Puri dengan muka ragu-ragu manakala melihat ke arah Dhisti.
Dhisti tersenyum sekilas walau isi hatinya menjerit. Ia bersyukur kesalahpahaman ini akhirnya sedikit melonggar, namun entah mengapa, ia kini malah menjadi tahu diri jika antara dirinya dan Alsaki benar-benar terdapat jarak yang jauh, bagai langit dan bumi.
" Kau tidak perlu meminta maaf Pur. Aku memanglah seorang pencopet!" jawabnya tersenyum sumbang," Lagipula, aku tidak pernah menganggap kamu bersalah kepadaku!" tukasnya tersenyum.
" Ya tetap saja aku merasa jahat kepadamu" membalas murung tak enak hati.
"Tapi..." memegang tangan Dhisti tiba-tiba. " Kak Al benar-benar terpukul saat mengetahui jika kamu..."
" Aku sudah tahu Pur. Bahkan dia mendatangiku dan memutuskan sesuatu yang sebenarnya sangat malu untuk ku sebut sebagai sebuah hubungan!" kembali tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa padahal hatinya begitu merasa sedih.
"Tapi... entah kenapa juga, aku sekarang malah merasa lega!" Tersenyum kecut kembali.
__ADS_1
" Dhis, percayalah kak Al tidak seperti yang kamu pikirkan. Kau lihat sendiri seberapa panik dia saat mengetahui kantor polisi kebakaran. Apa aku tahu, kau adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuatnya panik!" terang Puri bagai tim sukses yang di bayar mahal untuk sebuah pemilihan kepala daerah.
" Apa benar yang kau katakan Pur? Jika iya, kenapa dia tidak datang menemuiku sekarang? membatin gundah.
" Jangan membahas hal ini lagi Pur. Karena saat masa hukumanku sudah selesai, aku..."
Saat mereka berdua sibuk berbincang, sebuah televisi di ruangan kelas tiga yang semula menayangkan gosip selebriti, mendadak menayangkan breaking news dengan volume yang sangat besar dan membuat ucapan Dhisti menguap percuma ke udara.
" Pemirsa, seorang pria berinisial AR mendatangi kantor polisi metro kota dan mengaku telah melakukan penipuan terhadap seorang keluarga yang belakangan ini viral karena aksi copetnya. Dari keterangan pelaku, keluarganya mendapat teror aksi pencopetan itu lantaran AR telah menggondol sebuah sertifikat dan memalsukan keterangan."
Kedua wanita itu bahkan seluruh penghuni ruangan disana kontan membuka mulutnya lantaran terkejut dengan berita itu. Dalam tayangannya, orang itu mendatangi kantor polisi metro kota dengan wajah penuh penyesalan.
" Untuk Dhisti dimanapun kamu berada. Saya meminta maaf atas perbuatan saya selama ini. Saya bersedia bertanggung jawab atas segala bentuk tanggungan yang musti saya bayar!"
" Kini, AR di jerat dengan pasal berlapis yakni penipuan dan juga pencemaran nama baik. Tersangka juga berjanji akan mencabut tuntutan kepada tersangka kasus pencopetan yang viral beberapa hari ini, dimana gadis tersebut merupakan cucu dari korban yang diketahui telah meninggal dunia."
Air mata Dhisti seketika menggeleng di kedua pelupuk matanya. Bagaimana bisa Arif muncul di layar televisi dengan keadaan seperti itu? Selama ini ia bahkan sudah mencari kemana-mana?
Puri yang tahu jika hal itu pasti adalah perbuatan kakaknya, seketika merasa bangga.
" Bagus kak Al, kakak sudah melakukan lebih dari yang aku khayalkan!" batin Puri terkikik-kikik dalam hati.
Sementara itu, Inka yang kini baru tiba di markas Brio tampak melongo manakala menyaksikan berita heboh itu. Ia yang semula tak berminat dengan tayangan di televisi seketika menatap layar datar itu dengan tatapan nanar.
__ADS_1
" Apa aku tidak salah lihat Bri. Bagiamana bisa kampret itu nongol di TV dan mengakui kesalahannya?"
Brio yang sedang membuka sebuah kaleng bir tampak terkekeh manakala melihat Inka yang wajahnya tampak bodoh.
" Sepertinya Dhisti sebentar lagi akan bebas!" sahut Brio sembari membawa dua kaleng bir untuk ia teguk bersama gadis yang ia sukai itu.
Inka yang mendengar perkataan itu tentu saja langsung bangkit dengan hati luar biasa senang.
" Apa kau serius, darimana kau tahu?" seru Inka yang berjalan maju menyongsong Brio.
" Kau tidak dengar poin terakhir yang dibicarakan pembaca berita tadi? dia akan mencabut tuntutan kepada Dhisti!" seru Brio mendengus kesal.
" Aaa benarkah Brio, aku senang sekali Brio!"
Brio yang sekonyong-konyong di peluk oleh Inka hanya bisa meringis sebab kedua tangannya masih berusaha menyeimbangkan dua kaleng bir yang sudah ia buka dengan wajah ketar-ketir.
Inka yang melihat wajah cemas Brio akan nasib dua kaleng bir itu langsung tergelak.
" Saatnya berpesta!"
CUP
Brio kontan membelalakkan matanya tatkala Inka tiba-tiba mencium bibirnya dengan begitu panas.
__ADS_1
Damned!